VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 43

2016-04-09 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
280 views | 26 komentar | nilai: 9 (4 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


Mendengar sedikit kisah masa lalu Lina membuat Ruki juga teringat akan segelintir kisah hidupnya yang lalu. Seberkas memori lama yang sempat terpikir saat di ruang makan Asrama Stella, kini mulai muncul kembali. Namun Ruki mencoba sesegera mungkin melupakan seberkas ingatan itu, yang baginya hanya berisi kekelaman di masa lalu yang ingin ia buang segera.

"Ada apa Tuan? Apa cerita saya terlalu menyakitkan untuk Tuan dengar?" tanya Lina yang bingung melihat Ruki yang menunduk sambil menutup matanya.


Sekolah/Neraka Chapter 43 - Kembali ke Masa Lalu?
Penulis : Whiti Intheforest

"Hufftt... tidak ada apa-apa Lina, aku hanya terpikirkan sesuatu yang bodoh yang ingin segera aku lupakan. Lagipula ceritamu benar-benar membuatku turut berduka. Aku sungguh prihatin dengan keadaan hidupmu" kata Ruki yang bingung harus bersikap apa.

"Ehh.. tidak apa-apa Tuan. Seperti cerita saya tadi, saya akan tetap bersyukur apapun keadaan yang akan menimpa saya. Saya akan terima semua kekesalan siapapun, kemarahan siapapun, saya akan menerimanya. Saya pantas menerima itu. Semua itu adalah hukuman yang Tuhan berikan kepada saya karena memaksa lahir padahal seharusnya saya mati dalam kandungan Ibu saya" ucap Lina berbinar.

"Anak ini masih saja...." pikir Ruki sedikit kesal walaupun paham dengan apa yang tengah dirasakannya.

"Sudahlah...., tidak usah memikirkan itu dulu, sebaiknya kita tunggu saja Yori dan Yuki yang sedang mencari makanan. Aku harap mereka menemukan sesuatu yang bisa dimakan di hutan ini. Aku sudah sangat lapar. Yang lebih penting, semoga mereka berdua tidak bertemu dengan anggota kelompok lain. Hal itu akan membuat situasi kita menjadi lebih genting. Begitupula dengan kita, sebaiknya kita berdua tidak usah membuat banyak keributan dan menunggu mereka berdua kembali" usul Ruki yang sebenarnya sangat binggung dengan situasi yang mereka hadapi. Saat ini tak ada satupun rencana yang masuk akal yang bisa diterapkan untuk segera lepas dari situasi saat ini.

"Ba-baik Tuan. Tapi saya mohon... jangan beri makan saya..." ulang Lina.

"Kau masih saja.... keras kepala sekali..." kesal Ruki.

"Tidak apa-apa Tuan. Ini semua demi kebaikan Tuan. Tuan-tuan semua harus menambah poin. Ini juga demi kebaikan kita bersama" ulang Lina.

"Sudahlah... jangan bahas itu dulu. Jika bukan karena sistem gila ini, kita ini sebenarnya sama. Baik aku atau kau, kita ini sederajat. Kita ini sama-sama manusia....." jelas Ruki.

"Namun... sekarang semuanya ditentukan oleh poin yang ada pada jam ini!!!!" kesal Ruki sambil menunjuk jam yang ada di lengannya.

Namun tiba-tiba.....

Baik Ruki dan Lina diam terhenyak....

"Tu-tuan.... bu-bukankah..." ucap Lina terputus.

"Ba-bagaimana.... bi-bisa..." balas Ruki yang ikut terbata.

Bagaimana tidak, poin berbeda jelas tampak di jam tangan yang ditunjuk Ruki. Poin yang semula 8, kini tiba-tiba berubah menjadi 15!!!!!

"Kenapa tiba-tiba poinku jadi 15?!" bingung Ruki.

"Oi Lina, poinku tadi masih 8 kan? Bagimana bisa bertambah?" bingung Ruki yang merasa heran dan terkejut.

"Se-seharusnya poin anda masih 8 Tuan...." jawab Lina yang ikut terheran-heran.

"Kenapa bisa bertambah? Apa aku melakukan sesuatu? Poin yang bertambah cukup lumayan, aku mendapatkan tambahan 7 poin. Tapi, darimana itu berasal? Seingatku aku tidak melakukan apa-apa?" bingung Ruki sambil mengingat-ingat kejadian yang baru terjadi.

"Aku mendapat 8 poin karena berhasil menjawab atau mengetahui teka-teki Dewi Fortuna, selain itu seharusnya aku tidak mendapat poin" pikir Ruki.

"Tunggu... saat kak Alice membacakan peraturan tentang Cinderella tadi.... poinku pasti masih 8. Saat itu Kak Alice memuji Yori dan Yuki, itu artinya poinku tidak cukup besar dari mereka berdua sehingga tidak mendapat perhatian lebih dari kak Alice. Setelah itu....."

"Pada saat Tuan dari Klub Sepakbola...." potong Lina.

"Be-benar juga..." ingat Ruki.

"Bahkan setelah kita bertemu dengan anak-anak dari Klub Sepakbola, poinku juga masih 8. Aku sekarang ingat ketika kami bertiga menunjukkan poin kami yang akhirnya ditertawakan anak itu. Aku ingat betul bahwa dia meneriakkan poinku yang berjumlah 8 sambil tertawa" jelas Ruki sambil mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.

"Lalu setelah itu apa? Aku tidak melakukan apapun.... kenapa poinku bisa tiba-tiba bertambah. Sejujurnya aku tidak melakukan apapun dari tadi. satu-satunya yang kulakukan hanyalah meredam rasa panik" bingung Ruki.

Ruki mencoba berpikir apakah kira-kira ada sesuatu yang bisa menambah poinnya. Ia mencoba memandangi jamnya sambil melihat angka 15 yang jelas terpampang disitu.

"Tu-tuan.... itu...." kata Lina mencoba bersuara.

"Ada apa?" kaget Ruki.

"Itu.... bukannya saya terlalu percaya diri, tapi mungkin poin Tuan bertambah karena saya..." balas Lina.

"Ehh..? memangnya kenapa? Seingatku aku tidak pernah melakukan hal kasar padamu?" bingung Ruki.

"Ehh.. seperti kata saya katakan tadi. Maaf kalau saya terlalu percaya diri...... tapi mungkin saja karena kisah masa lalu saya" terang Lina.

"Ba-bagaimana bisa?" heran Ruki.

"Mungkin karena Tuan memaksa saya menceritakan kisah masa lalu saya yang kelam" terang Lina.

"Aku memaksamu? Bukankah aku menyuruhmu bercerita jika kau tidak keberatan?" kata Ruki.

"I-iya.. tapi saya sejujurnya keberatan Tuan..." Aku Lina.

"Apa?" kaget Ruki.

"Lalu kenapa kau masih menceritakannya padaku? Apa ini memang rencanmu?" kesal Ruki.

"Ti-tidak Tuan.. saya juga tidak tahu bahwa ini dapat menambah poin?" aku Lina.

"Huffft.. tapi kenapa cerita masa lalu saja bisa menambah poin. Aku tahu ceritamu menyedihkan, tapi aku tak menyangka bisa begini."

"Atau jangan-jangan...." pikir Ruki.

"Hei Lina, apakah kau pernah menceritakan masa lalumu pada orang lain?" tanya Ruki.

"Emmm... tidak. Selain Tuan, tidak ada yang tahu soal masa lalu saya. Ini pertama kalinya saya bercerita pada orang lain yang tidak terlibat."

Perkataan Lina jelas mengejutkan Ruki.

"Ti-tidak mungkin, jadi benar karena ini...." kata Ruki yang tersadar.

Namun Ruki kemudian sadar akan sesuatu.

"Tu-tunggu dulu. Kenapa jadi begini? Jika ini bisa menambah poin, berarti teoriku soal itu dari awal sudah tidak berlaku. Apa ada kemungkinan lain?" pikir Ruki akan sesuatu yang sudah ia pikirkan dari awal.

"Tapi... seharusnya anda senang Tuan. Sekarang poin Tuan sudah bertambah. Aku yakin Tuan Yuki dan Tuan Yori juga akan senang mendengar kabar ini" kata Lina sambil tersenyum yang memotong piiran Ruki.

"Yahh... entahlah.. mungkin mereka juga akan terkejut saat meli......" Ruki berhenti meneruskan perkataanya saat melihat poinnya lagi.

"A-ada apa tuan?" tanya Lina.

"Aku baru sadar po-poinku sekarang 15. Ini artinya poinku berada diantara mereka berdua. Poinku lebih rendah 1 poin dibawah Yori namun lebih tinggi daripada Yuki" sadar Ruki.

"Lalu kenapa?" tanya Lina yang bingung.

"Itu artinya posisiku lebih tinggi daripada Yuki. Jika begini pasti menimbulkan ketidakpercayaan. Kini Yori akan curiga jika aku akan melukai adikknya. Dan mereka mungkin juga tidak akan percaya padaku lagi karena tiba-tiba bertambah poinku. Mereka pasti mengira aku melakukan kekerasan padamu hingga bisa menambah poin. Mereka pasti tidak percaya dengan ceritaku. Kepercayaan kelompok ini akan runtuh" sadar Ruki yang kini mulai panik.

"Tidak Tuann... Tuan Yori dan Tuan Yuki pasti akan percaya. Jangan dulu panik seperti ini" ujar Ruki menenangkan.

Namun Ruki yang berpikir seperti pikirannya sendiri, tidak mendengarkan perkataan Lina.

"Apa yang harus kulakukan sekarang. Tenanglah Ruki.... pikirkan sesuatu" pikir Ruki sambil melihat sekeliling.

"Apa aku harus berubah lagi seperti dulu? Tidakkkk!!!" kesal Ruki sambil memukul dadanya.

"Aku ingin berubah, tapi kenapa begini" sesal Ruki.

"Srek!!... Srekkk!.." tiba-tiba suara langkah seseorang terdengar.

"A-apa itu mereka? Sial... apa yang harus aku lakukan?" panik Ruki.

"Tuan.. jangan panik seperti itu? Tidak ada apa-apa, mereka pasti percaya. Saya yang akan bilang" ujar Lina yang masih mencoba menenangkan Ruki yang bercucuran keringat.

Namun Ruki seperti mendapatkan sesuatu setelah melihat tas ransel yang berada di sampingnya.

"Lina ikut aku..." bisik Ruki sambil menarik tangan Lina pergi menjauh.

"Ma-mau kemana Tuan? Kita harus menunggu disini?" ingat Lina.

"DIAM!" teriak Ruki tiba-tiba.

Tentu saja, hal itu mengagetkan Lina.

Mereka berdua segera menjauh dari tempat awal dan mencoba mencari tempat yang aman.

"Baiklah disini saja" ucap Ruki.

Ruki kemudian mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.

"Ini..." Ruki kemudian menunjukkan Onigiri semalam yang ada di ranselnya.

"Onigiri?" kaget Lina yang terkejut.

"Baiklah sekarang...., buka bajumu dan dengarkan aku" kata Ruki memberi perintah.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 44

Iqbal Kurniawan
2017-03-26 17:19:33
"Baiklah sekarang...., buka bajumu dan dengarkan aku" kata Ruki memberi perintah. Apakah isi perintah tersebut sepetinya fulg*r
Bocah Redoks
2017-01-18 16:22:14
apalagi yg akan d lakukan ruuki ? penasaran nih
Anique HyuUzumaki
2016-08-12 20:15:57
Ada typo tuh...
Aerilyn Shilaexs
2016-08-11 08:00:26
next read
LaZiEsT SiLeNt DiZzY
2016-08-10 21:44:20
menyakiti perasaan atopun fisik sengaja atau tdk, dpat tmbhan poin. next
Fujioka nagisa
2016-07-11 12:44:46
Intinya, memaksa adalah sesuatu yg wajib dilakukan.. Dan sudah menjadi kebiasaan manusia untuk 'memaksa' manusia yg lain..
Racharion
2016-06-02 08:17:22
B-buka baju??
Kikko Y Azukiela
2016-05-17 16:20:46
Poinnya Ruki Nambah. . . Lnjut cp 44
Davies Wryngearspeed
2016-05-13 13:54:10
Bingung dengan chapter ini, kok bisa dapat poin hanya karena bicara masa lalu
Rocky Si Tampan
2016-05-06 06:45:46
wah. mau ikeh ikeh nih
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook