VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 41

2016-03-26 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
325 views | 40 komentar | nilai: 9.33 (6 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


Ruki mencoba menenangkan dirinya lagi. Setelah semua yang telah terjadi, kejutan seolah tidak pernah berhenti menghampirinya. Seolah kejutan dan masalah hadir bersamaan dengan setiap langkah yang kini ditempuhnya. Kita hidup bersama masalah, begitulah seharusnya. Di tempat ini, sudah bukan waktunya lagi terkejut untuk hal-hal yang belum disangkakan sebelumnya.

Ruki mengusap pelan wajahnya. Ruki mencoba melepasakan segala beban yang mencekat bersamaan dengan sapuan tangannya yang baru selesai bergetar beberapa saat yang lalu. Ia mencoba memandangi Lina, gadis yang saat ini masih bersimpuh di hadapannya.

Gadis cantik berambut pendek merah itu masih saja mencoba meyakinkan Ruki, bahwa dia sanggup menjadi budak melalui tatapan matanya. Seolah tatapannya memberi pesan bahwa dirinya mempunyai luka yang lebih dalam dari apa yang telah ditunjukannya saat ini.


Sekolah/Neraka Chapter 41 - Lina Suzuki
Penulis : Whiti Intheforest

"Huffffft.... apa maksudmu?" tanya Ruki pelan sambil menghembuskan nafas panjang.

"A-apa maksud anda Tuan?" tanya Lina mencoba membalas.

"Apa maksudmu dengan sudah terbiasa menjadi budak bahkan sebelum bersekolah disini?" tanya Ruki.

Lina mencoba memandangi Ruki. Ada sedikit keraguan kecil yang menyengat di hatinya saat mendengar pertanyaan itu. Ia tidak ingin menjawabnya, begitu kata hati Lina. Tapi sepotong kata sudah ia keluarkan tadi. Kini ia merasa tidak patut untuk menyembunyikan jawaban itu.

"Apa... tuan tahu, ba-bahwa nama Lina itu bukan pemberian orang tua saya?" kata Lina sambil sedikit terbersit keraguan.

"Be-benarkah?" kata Ruki sedikit terkejut.

"Se-sejujurnya saya juga tidak tahu siapa ayah Saya..." kata Lina pelan mencoba sedikit terbuka akan kisah hidupnya.

"Lalu apa yang sebenarnya terjadi, ceritakanlah padaku kalau kau tidak keberatan?" tanya Ruki penasaran.

Lina kembali melirik ke arah Ruki.

"Huffftt... mungkin.... kisah Saya sedikit mengejutkan untuk di dengar...." ujar Lina pelan memulai cerita.

"Ibu Saya adalah seorang..... budak pelacur" terang Lina pelan.

"Apaaa?!" seru Ruki terkejut.

"Ma-mafkan aku...." lanjut Ruki setelah mengetahui reaksinya yang sedikit berlebihan.

"Tidak apa-apa tuan....., memang begitulah faktanya" kata Lina mencoba tersenyum.

"Ibu Saya adalah seorang budak pelacur. Budak pelacur berbeda dengan seorang pelacur biasa. Apa bedanya?... Mungkin sebagian orang akan bertanya seperti itu."

"Bedanya, budak pelacur tidak hanya harus melayani pria-pria namun juga harus bertindak sebagai budak untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar" terang Lina.

"A-apa yang sebenarnya terjadi?" bingung Ruki yang heran.

"Sejujurnya Ibu Saya bukanlah wanita yang berasal dari negara ini. Ibu Saya berasal dari daerah konflik yang sedang berperang merebut kemerdekaanya. Negara asal Ibu Saya adalah daerah terjajah yang sangat sulit untuk melawan. Akibatnya beberapa warganya banyak yang menjadi tawanan dan budak para penjajah tersebut."

"Kita semua tahu bahwa negara ini tidak sedang menjajah negara lain. Tapi negara ini menjadi sekutu beberapa negara penjajah yang mencoba mengusai daerah konflik."

"Ibu Saya adalah seorang warga sipil biasa yang harus menjadi tawanan di kamp militer tentara negara ini. Ibu Saya yang saat itu masih muda dan cantik, dipaksa menjadi budak pelacur. Tidak hanya harus melayani para tentara-tentara bejat itu, tapi Ibu Saya juga masih harus melakukan pekerjaan kasar seperti membangun beberapa infrastruktur yang dibutuhkan."

"Lalu tuan tahu sendiri apa resiko menjadi seorang pelacur. Ya.... Ibu Saya akhirnya hamil. Ibu Saya hamil dan mengandung diri Saya saat itu. Siapa yang menghamili Ibu Saya? Tidak ada yang tahu..... Lalu siapa ayah Saya pun, Saya juga tidak tahu. Saat itu para tentara menyuruh Ibu Saya untuk menggugurkan kandungannya. Semua pelacur yang hamil memang dipaksa untuk menggugurkan kandungannya. Bila tidak mau, mereka dengan kejamnya akan membunuh para pelacur itu."

"Ibu Saya terus bersikeras untuk mempertahankan kandungannya. Tentu saja melihat sikap itu, para tentara itu sudah menyiapkan timah panas yang siap melubangi kepala Ibu saya. Namun tiba-tiba... seorang jendral yang baru ditugaskan di daerah itu beberapa hari yang lalu menghampiri Ibu Saya dan membuat kesepakatan. Tuan Jendral itu mengatakan akan membiarkan Ibu saya hidup begitupula dengan bayinya bila yang lahir adalah perempuan. Selain itu Tuan jendral tersebut meminta anak perempuan itu untuknya bila sudah berusia 7 tahun."

"Lalu.... seperti yang Tuan tahu... Akhirnya Ibu Saya melahirkan Saya. Dan sesuai kesepakatan juga, setelah berusia 7 tahun, Ibu saya melerakan saya untuk diberikan kepada Tuan Jendral" terang Lina.

"Tu-tunggu dulu, memangnya apa yang diinginkan Jendral itu, apa dia juga membutuhkanmu sebagai budak, bukankah kau masih kecil?" tanya Ruki.

"Tidak hanya menjadikan aku sebagai budak yang harus bekerja, tapi Tuan Jendral juga menginginginkan..... tubuh kecil Saya" jawab Lina.

"A-apa?! Maksudmu dia melakukan 'itu' kepadamu saat kau masih berusia 7 tahun?" kaget Ruki setengah mati.

"I-iya Tuan..." jawab Lina tersenyum.

"Tentara macam apa ini? Bejat dan biadab sekali? Aku tidak tahu kegelapan Negara ini!" marah Ruki.

"Apa kau masih waras, mengatakan aib sendiri sambil tersenyum seperti itu?" heran Ruki mencoba mengontrol emosinya.

"Tuan tidak tahu apa-apa!" teriak Lina tiba-tiba.

"Tuan Jendral itu yang memberi nama padaku. Nama adalah sesuatu yang sangat berarti bagi budak tawanan seperti kami. Semua warga yang menjadi budak sudah dicabut namanya. Bahkan Ibuku sendiri sudah tidak memiliki nama lagi. Mereka semua memanggil Ibuku dengan sebutan Budak 078. Semua budak yang ada, diberi nomor yang disematkan. Mereka sudah tidak mempunyai nama lagi.

"Tapi... Tuan Jendral ini.... Tuan Suzuki... memberi Saya nama. Dia memberi Saya nama Lina. Saya sungguh bahagia sekali. Tentu saja sangat menyakitkan. Selain harus melayani Tuan Suzuki dengan tubuh kecil Saya, saya juga masih harus mengerjakan tugas-tugas lain. Memasak, menyapu, membersihkan tempat-tempat, sampai ikut membantu pekerjaan kasar tetap masih saya lakukan. Tendangan, pukulan, dan hinaan jelas saya dapatkan setiap hari. Semua siksaaan baik itu fisik maupun verbal jelas Saya rasakan. Tapi saat ini saya masih bisa tersenyum karena saya memiliki nama. Hanya budak yang patuh dan penurutlah yang bisa dan diberi nama. Saya senang sekali...." seru Lina sambil menangis meneteskan air mata.

"Tuan Suzuki? Karena itu pula kah..... kau memiliki nama belakang yang sama?" tanya Ruki pelan. Ia mencoba mendalami perasaan Lina.

"Untuk mendapatkan Nama Lina Suzuki seperti nama saya sekarang ini bukanlah sesuatu yang mudah" kata Lina sambil mencoba menahan air matanya agar tidak semakin deras keluar.

"Patuh, hanya itu kuncinya untuk bisa bertahan di tempat itu. Semakin patuh dan penurut maka kesempatan untuk menjadi budak terhormat akan semakin besar."

"Dari sekian banyak budak yang menjadi budak Tuan Suzuki, hanya 1 orang yang berhasil diangkat menjadi budak terhormat. Budak terhormat adalah budak yang sangat disukai Tuan Suzuki. Beliau akan memberikan nama belakangnya pada budak yang sangat disukai."

"Dan 1 orang itu bernama Nona Kyra Suzuki. Dia adalah anak yang cantik dan penurut. Selalu siap melayani Tuan Suzuki kapanpun dibutuhkan. Tidak pernah berbuat salah dan selalu mengerjakan tugas dengan benar. Semua budak-budak yang lain sangat menghormati Nona Kyra. Tidak hanya budak yang lebih tua, namun budak laki-laki pun sangat segan dengan Nona Kyra."

"Namun, dengan seiring berjalannya waktu, Nona Kyra beranjak dewasa. Tuan Suzuki yang hanya menyukai tubuh anak kecil, mulai mencari budak lain yang bisa mendampingi tuan Suzuki layaknya Nona Kyra. Saat itu, usiaku yang tidak terpaut terlalu jauh dengan Nona Kyra, menjadi salah satu kandidatnya."

"Sepertinya hubunganmu dengannya tidak akan berjalan dengan baik?" potong Ruki.

"Yahh.. kami jadi terlibat persaingan untuk merebut hati Tuan Suzuki. Nona Kyra semakin mengangap diriku sebagai lalat penggangu yang akan meruntuhkan posisinya" jelas Lina.

"Owhh.. sepertinya semakin memburuk" balas Ruki.

"Yahh hidup saya memang semakin berat setelah itu Tuan."

"Melihat masa lalu mu yang seperti itu? Bagaimana kau bisa sampai bersekolah di sekolah terbaik seperti saat ini?" heran Ruki.

"Ceritanya masih panjang tuan, akan saya ceritakan. Semua tentunya karena Tuan Suzuki. Apapun yang telah dilakukan Tuan Suzuki atau tentara-tentara lain pada saya itu saya terima dengan Ikhlas. Kalau bukan karena Tuan Suzuki, mungkin kami masih menjadi budak tidak jelas di tanah kelahiran saya. Atau munggkin kami sudah menjadi seonggok mayat yang sudah termakan belatung. Sungguh saya beruntung kami bisa mencapai posisi ini dan kami bisa bersekolah di SMA Hoshi" terang Lina.

"Kami? Apa maksud 'Kami'?" pikir Ruki.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 42

Bocah Redoks
2017-01-18 16:02:36
pengungkapan sisi gelap sebuah negara. apa mungkin lina adalah org indonesia ? sayangnya nggak ada pendeskripsian fisik jadi kita nggak tahu negara asalnya d mna
Dalreba
2016-10-08 12:15:17
Apa ibunya lina orang Indonesia
Kei Takashima
2016-09-28 19:56:29
Hmhhh
Anique HyuUzumaki
2016-08-12 17:52:27
Entah knapa pas bca chap ini jdi inget novel 'Jembatan Sang Samurai'.
Aerilyn Chan Kawai
2016-08-11 07:17:15
penjajah itu memang kejam
ThE LaSt EnD
2016-08-10 20:57:24
kami!? jd ada yg lain selain lina. jd ingat film jepang apa ya namannya.. hnm Geisha, Geisya.. ah lupa. ow ya, permainan zerif jg mengingatkn film hungger game..hung,. ah lupa lagi.
Akane Hagiwara
2016-07-15 09:57:52
lina kasian, sedih bacanya :"
Fujioka nagisa
2016-07-11 11:48:19
Kisahnya ironis amat si Lina
Kaburagi Kazeo
2016-06-07 16:19:48
Kamvret jendralnya pedofil
Anas Arif
2016-05-07 20:11:47
Up
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook