VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 40

2016-03-18 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
321 views | 33 komentar | nilai: 8.33 (3 user)

Klik daftar cerita Sekolah/Neraka untuk membaca chapter-chapter Sekolah/Neraka sebelumnya
Buat pembaca silakan membaca cerita ini sebagai pembaca terdaftar dan share cerita ini untuk terus mendukung penulisnya tetap berkarya
Yang belum daftar silakan bergabung di grup FB Versiteks kemudian ikuti petunjuk yg ada pada postingan tersemat
Jangan lupa ikuti cerita ini untuk mendapat pemberitahuan updatenya


"A-apa yang kalian lakukan?" kata anak itu terkejut melihat tingkah kedua anak kembar itu. Dia sendiri tak menyangka Yori akan bersikap seperti itu hingga bersujud kepadanya.

"Ka-kalian....." katanya yang masih bingung hendak bersikap apa.

Jujur, tingkah Yori tidak hanya mengejutkan pihak Ruki dan kawan-kawan, namun juga mengejutkan anak-anak Klub Sepak Bola. Mereka sadar posisi mereka jelas lebih tinggi dari anak-anak Klub Novel dan Sastra, namun mereka sendiri juga cukup tercengang dengan tindakan Yori.


Sekolah/Neraka Chapter 40 - 2 Buah Kejutan
Penulis : Whiti Intheforest

"Saya mohon Tuan.... ampuni kami...."

"Silakan bawa saya sebagai gantinya....."

"Tapi tolong bebaskan adik saya dan kedua orang teman saya...."

"Saya mohon....." ungkap Yori yang masih bersujud bersimpuh di depan kaki anak itu.

Anak itu cukup bingung dengan situasi yang sedang terjadi. Ia mencoba mengalihkan pandangan kepada teman-temannya untuk meminta saran tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan. Tingkah Yori jelas-jelas di luar perhitungan mereka.

"Ba-bagaimana ini?" tanya anak itu setengah berbisik ke arah teman-temanya yang lain.

Namun, teman-temanya hanya menggelengkan kepala, tanda tidak tahu hendak bersikap seperti apa untuk mengatasi situasi seperti ini.

Anak itu kemudian mencoba mengalihkan pandangannya pada Lina yang sedang terduduk di tanah dan Ruki yang tampak berdiri dengan wajah pucat.

"Apa yang harus...." pikirnya terputus setelah memandang Ruki.

Anak itu seperti memikirkan sesuatu setelah memandangi Ruki. Ia seperti merencanakan sesuatu.

"Hmmm... itu bagus juga..." gumamnya pelan.

"Hahahahaha......." tawanya tiba-tiba mengagetkan semua orang.

"Plok... plok... plokkk.."

"Kalian benar-benar luar biasa, sungguh sesuatu yang tidak terpikirkan olehku" katanya sambil bertepuk tangan.

"Hehehehe... kalian semua, terutama anak ini, sungguh mengerti dan belajar situasi dengan cepat" tunjuknya pada Yori.

"Setelah mengetahui bahwa poin kalian lebih rendah dari kami, kalian tahu bagaimana cara bersikap dan menempatkan diri. Aku suka itu, terutama kau. Sungguh patut diapresiasi. Sebaiknya kalian semua bisa belajar seperti dia. Aku salut padamu" katanya sedikit memuji Yori.

"Kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Anak itu.

"Yori Kimura.. Tuan" jawab Yori.

"Ohhh..., sikapmu membuatku tersentuh" balas anak itu.

"Kalau begitu sekarang.... berdirilah kalian berdua!" perintah anak itu tiba-tiba.

"Eh.." ucap Yori terkejut.

"Berdirilah, apa kalian tak dengar?" ulang anak itu.

Yori dan Yuki kemudian bangkit dari sujudnya.

Sejurus dengan hal itu, tiba-tiba anak itu berjalan mendekati Ruki dan memeluknya.

"Berterima kasihlah pada anak ini" kata anak itu sambil memegang kedua pundak Ruki.

"Aku akan membebaskan kalian semua. Berterima kasihlah pada Ruki. Semua itu karena Ruki adalah teman sekelasku, aku akan memberikan pengecualian untuk kalian semua. Aku tidak akan menyiksa kalian walaupun poin kalian lebih rendah daripada kami" jelas anak itu.

"Ehh.." ucap duo kembar itu terkejut, termasuk Ruki sendiri maupun Lina.

Namun tiba-tiba anak itu mendekatkan wajahnya pada Ruki dan membisikkan sesuatu pada Ruki.

Tiba-tiba wajah Ruki berubah terkaget saat mendengar pesan bisikan dari anak itu.

"Sebenarnya, apa yang sedang dibisikkan anak itu pada Ruki? Apa dia benar-benar akan membebaskan kami? Apa dia meminta syarat khusus pada Ruki? Apa yang sebenarnya direncankannya?" pikir Yori bertanya tanya dan merasa tak tenang.

"Hehehehhe... begitulah...." kata anak itu setelah selesai membisikkan sesuatu dan menepuk pundak Ruki.

"Hehehe ingat ya Ruki..." senyumnya lagi.

Anak itu kemudian beralih dan kembali menunggangi anak gawangnya yang sedari tadi masih menungging disitu.

"Sudahlah, seperti kataku tadi, aku tidak mau menghabiskan waktu 1 jam ku untuk melayani kalian. Oleh karena itu, kalian semua akan kami bebaskan. Apalagi Ruki ini adalah teman sekelasku. Tidak mungkin aku akan berbuat jahat pada teman yang akan menjadi temanku nanti. Heheheheh......"

"Anggap saja, kehadiranku kali ini sebagai pembelajaran untuk kalian. Setelah ini kalian mungkin akan bertemu dengan kelompok-kelompok lain yang lebih sadis daripada kami. Oleh karena itu, bersiaplah. Mungkin mereka tidak akan berbaik hati seperti kami. Anggap saja kehadiranku ini sebagai penyadar kalian saja" kata anak itu sambil melangkah pergi bersama rekan-rekannya.

Beberapa detik kemudian, sekelompok anak-anak Klub Sepakbola itu akhirnya lenyap dari pandangan Ruki dan teman-temannya.

Setelah mereka berlalu, kondisi canggung kembali menyelimuti kelompok Ruki. Semua mungkin berpikir macam-macam. Ada yang berpikir, kira-kira apa yang dibisikkan anak itu pada Ruki. Atau ada yang bersyukur karena anak itu membebaskan mereka semua. Ini ibarat para pemotong ternak yang tiba-tiba melepaskan ayam potongnya begitu saja.

"A-ayo.... cepat kita bersembunyi di dalam hutan di balik pohon-pohon itu" seru Yuki tiba-tiba memecah keheningan.

"Eh..?" kaget Ruki.

"Anak tadi benar, bagaimana jika kita terlihat oleh kelompok-kelompok lain. Poin kita belum cukup untuk berhadapan dengan anak-anak yang lain. Lebih baik jangan berada di lapangan terbuka seperti ini. ayo lekas bersembunyi" teriak Yuki yang panik. Sepertinya, peristiwa barusan benar-benar mengangkat emosi hatinya.

Mereka semua akhirnya menuju ke semak-semak pepohonan hutan yang berada di sekitar lapangan mereka berkumpul tadi.

"Semoga kita aman, untuk saat ini dulu.... hufttttt....." kata Yuki sambil menghela nafas panjang.

Namun tiba-tiba, terjadi kembali peristiwa yang menggoyahkan hati. Tiba-tiba Lina yang dari tadi diam saja, bergerak dan bersujud di hadapan Ruki, Yuki dan Yori.

Lina tiba-tiba sedikit menangis. Ia kemudian berbicara sambil setengah berteriak.

"Maafkan aku tuan-tuan sekalian......"

"Dengan peristiwa barusan, apakah tuan-tuan semua sekarang sudah sadar!" suara Lina parau sambil sedikit berteriak.

"Itulah akibatnya jika tidak mau menyiksa budak seperti saya. Poin tuan-tuan semua tidak akan bertambah. Lihat tuan-tuan dari klub Sepak Bola tadi, mereka mau menyiksa budaknya sehingga memiliki poin yang besar. Bagaimana jika kita bertemu dengan kelompok lain yang memiliki poin yang besar, kita akan tersikasa oleh mereka. Akan gagal semua rencana kita, tuan"

"Oleh karena itu... kumohon.... siksa saja saya.... kumohon tuan.... lakukan apapun pada saya....."

"Saya lebih ikhlas dan rela tuan-tuan yang menyiksa saya ketimbang tuan- tuan dari kelompok atau klub lain yang menyiksa saya. Tolong siksa saya... ini semua demi kebaikan kita bersama. Saya tidak akan merasa tersakiti...." parau Lina sambil menangis.

"Apa yang kau katakan?" teriak Yuki yang masih labil emosinya. Setelah melihat kakaknya tadi, kini dia harus melihat Lina berprilaku serupa.

"Kruyukkkk...." tiba-tiba suara perut Yori berbunyi.

"Ma-maaf... sepertinya perutku tidak mau berkompromi setelah tidak diberi makan" senyum Yori yang sekaligus memecah sedikit keributan barusan.

"Benar juga, dari pagi ini kami semua belum makan. Berangkat ORGAKU saja jam 6. Oh.. iya... aku masih menyimpan sisa onigiri kemarin malam di dalam tasku" pikir Ruki teringat.

"Teman-teman, soal makanan aku punya...." ujar Ruki tiba-tiba tepikir sesuatu.

"Punya apa Ruki? Apa kau punya makanan?" tanya Yori.

"Ehh tidak... maksudku aku punya penyakit maag" kilah Ruki.

Ruki teringat bahwa dirinya belum mempercayai duo kembar itu sepenuhnya. Belum lagi poin mereka berdua lebih tinggi dari Ruki. Bagaimana kalau tiba-tiba dia yang menjadi sasaran penyiksaan?

"Lalu bagaimana denganmu Lina, kamu juga kelaparan kan?" tanya Yori sembari mencairkan suasana.

"Tidak apa-apa. Tidak usah beri makan saya tuan... saya tidak apa-apa walaupun belum makan dari semalam" kata Lina yang masih bersujud.

"A-apa katamu? Ga-gawat sekali... kalau begitu aku akan mencoba mencari makanan..." kata Yuki mencoba melangkah pergi.

"Tidak tuan... kumohon jangan beri makan saya.... biarkan saya kelaparan... dengan begitu tuan akan mendapat poin" kata Lina sambil memegangi kaki Yuki.

"Apa katamu? Aku tidak peduli!" marah Yuki.

"Tuan, saya mohon... buat saya kelaparan... apa tuan-tuan masih tidak mengerti setelah peristiwa tadi...."ucap Lina sambil menangis.

Yuki yang masih labil, mencoba mengindahkan hal itu dan bergegas pergi dan melepaskan diri dari cengkraman Lina.

"Tidakk!!!" teriak Lina.

"Yuki tunggu.. mau kemana kamu?" susul Yori.

"Ruki, Lina tunggu disini jangan kemana-mana. Aku akan menyusul Yuki. Usahakan kalian tidak sampai terlihat kelompok lain" kata Yori.

Setelah mereka pergi..

"Ternyata Yuki hampir mirip Neo kalau soal perasaan" pikir Ruki.

Ruki kemudian mengalihkan pandangannya kepada Lina yang masih tergeletak di tanah.

"Kenapa kamu berkata seperti itu? Mengatakan ingin disiksa? Mengatakan biarkan saja kelaparan?" keluh Ruki.

"Tenang saja tuan... saya benar-benar tidak-apa apa" kata Lina yang kini mendekati Ruki.

"Jangan mengatakan ingin menjadi budak semudah itu...." sesal Ruki.

"Tidak apa-apa tuan... saya sudah terbiasa menjadi budak.... bahkan sebelum masuk SMA Hoshi" senyum Lina.

"A-apa??!!"

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 41

Bocah Redoks
2017-01-17 17:18:54
apakah akan ada flashback ?
Kei Takashima
2016-09-28 19:49:35
Hmmm
Anique HyuUzumaki
2016-08-12 15:50:22
Aku masih curiga sama motif Yori pas sujud di dpn anak klub sepak bola.
Princes Alien Kawai
2016-08-10 21:02:56
eh ruki ko ngga tersengat listrik? Dia berbohong loh
ThE LaSt EnD
2016-08-10 20:19:43
selalu dgn ending chapter yg mencengangkan.. dn pnuh pertanyaan. next
Fujioka nagisa
2016-07-09 18:10:44
Tragis amat tu cewek
Clint Mobile Legend
2016-03-30 07:31:56
Lina-chan pernah di ikkeh ikkeh mungkin apalagi dia pernah jadi budak sebelum masuk Hoshi, paling di smp dulu jadi budak seks
dragon slayer
2016-03-22 18:44:38
Kapan rilisnya tak sabar nih...
Kiosuke
2016-03-19 20:18:43
apa yg dibilangnya??
Imajinasi0
2016-03-19 16:58:59
Hmmm.. Gw jdi penasaran
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook