VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 38

2016-03-06 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
296 views | 33 komentar | nilai: 8 (3 user)

"Ru-ruki..." kata Yori mencoba memanggil Ruki.

Namun Ruki masih tetap dengan wajah pucatnya dan nampak tak mendengar panggilan Yori.

"Ruki!!..." seru Yori dengan suara yang lebih keras.

"E-eh.. eh.. iya..." jawab Ruki yang gelagapan akibat tersadar dari pikirannya.

"A-apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu jadi panik seperti itu?" tanya Yori yang semakin heran.

"Ahh.... anu... eh... tidak... tidak-tidak ada apa-apa, Yori?" kata Ruki yang jelas-jelas seperti menutupi sesuatu.

"Baiklah... aku pikir sudah tidak ada yang perlu aku lakukan disini" kata anak dari klub Sepak Bola yang masih menunggangi anak gawangnya memecah kebingungan Yori.


Sekolah/Neraka Chapter 38 - Skakmat !!!
Penulis : Whiti Intheforest

"Jika aku menghabiskan waktuku hanya untuk berbicara dengan kalian, maka akan habis waktu satu jamku yang berharga" lanjut anak itu.

"La-lalu.. kalian akan pergi kemana?" timpal Yuki.

"Hahhh..? apa kau bodoh? Tentu saja menuju lapangan 8" dengus anak itu kesal.

"Ehh? Kalian sudah tahu lokasinya?" tanya Yuki sedikit terkejut.

"Belum" jawabnya datar.

"Apa-apaan itu? Kau sendiri juga belum tahu? sebenarnya siapa yang bodoh" kata Yuki yang kini kesal.

"Sudahlah, kami pergi dulu" balasnya lagi.

Yori yang melihat gelagat orang-orang itu, mencoba bertanya sesuatu sebelum mereka benar-benar melangkah pergi.

"Sepertinya kalian tidak peduli atau terlalu niat menemukan lapangan 8?" tanya Yori.

Enam orang anak dari klub Sepak Bola itu, mencoba berbalik kembali dan mengurungkan langkah mereka setelah mendengar pertanyaan dari Yori.

"Yah.... benar..." jawabnya enteng.

"Jadi.. kalian memang sudah tahu lokasi lapangan 8?" ulang Yori.

"Tidak.... kami memang tidak tahu" ulangnya pula.

"Hmmm... lalu apa rencana kalian? Mengapa kalian menganggap remeh dalam hal menemukan lapangan 8? Bukankah kita semua akan mengikuti Prosedur F, jika gagal menemukannya hingga esok hari sebelum matahari terbit? Tidak ada artinya kalian menyiksa anak ini, jika akhirnya kalian tidak berhasil menemukan lapangan 8?" tanya Yori penasaran.

"Yah... kami tahu dan sadar itu..."

"Ahh... atau jangan-jangan..... kalian tahu apa itu Prosedur F? Apa itu sesuatu yang tidak bermasalah jika kita mengalaminya? Apakah karena itu pula, kalian sampai tidak terlalu fokus untuk menemukan lapangan 8?" tanya Yori menduga.

"Plok... plok... plok...." suara anak itu bertepuk tangan.

"Wohooo... pemikiran yang bagus. Aku saja sampai tidak berpikir tentang apa yang aku lakukan. Anak-anak Klub Novel dan Sastra memang benar-benar menarik" senyum anak itu.

"Alasan kami tidak terlalu peduli mengenai lapangan 8 adalah karena kami dari awal memang tidak berencana mencarinya...." senyum anak itu.

"A-apa maksudmu?" tanya Yori agak sedikit terkejut.

"Seperti katamu... benar bahwa kami pun akan mengikuti Prosedur F jika sampai gagal menemukan lapangan 8. Kami pun juga tidak tahu apa itu Prosedur F, tapi kelihatannya itu bukanlah sesuatu yang menyenagkan. Tapi kami semua tidak peduli itu untuk saat ini. karena tujuan kami yang utama memang bukanlah itu" jelasnya.

"La-lalu apa tu-tujuan kalian?" timpal Yuki.

"Ah... tujuan kami yang utama adalah ini..." tunjuknya pada anak gawang yang tengah ia tunggangi itu.

"A-apa maksudnya?" tanya Yuki yang bingung.

"Ini...., tujuan kami yang utama adalah menyiksa anak gawang ini dan mendapatkan poin sebanyak-banyaknya. Perkara akhirnya kami menemukan lapangan 8 atau tidak.... itu hanya kami anggap sebagai bonus saja" katanya percaya diri.

"Pemikiran apa itu? Bodoh sekali" kesal Yuki.

"Tunggu dulu Yuki, jangan bersikap seperti itu... coba kita dengarkan dahulu apa alasan mereka melakukan hal itu" timpal Yori menengahi.

"Benar sekali dengarkan kami dahulu..."

"Kami berlima setuju dan menganggap poin adalah segala-galanya. Seperti yang telah terjadi, murid yang memiliki poin tinggi dapat melakukan apapun pada murid yang berpoin rendah. Apa gunanya kalian berhasil menemukan lapangan 8 jika poin yang kalian kumpulkan tidak bertambah? Mungkin kalian akan merasakan kesenangan sesaat, namun sesungguhnya setelah itu.... tidak ada yang tahu" jelasnya.

"Hmmmnn.... sepertinya kalian kurang paham tentang apa yang kami maksudkan" katanya berpendapat.

Anak itu kemudian melirik ke arah keempat teman lainnya dan seolah mengisyaratakan sesuatu.

"Baiklah... akan kutunjukkan pada kalian..." serunya.

Tiba-tiba kelima anak itu menarik lengan seragamnya dan menunjukan poin mereka masing-masing.

"Ti-tidak..." seru Yuki terkejut.

"I-itu...." kaget Yori.

"Me..mereka..." pikir Ruki yang turut terkejut melihat apa yang anak-anak itu tunjukkan.

Bagaimana tidak, tampak di jam tangan mereka berlima menunjukkan poin yang cukup besar. Kelima anak-anak itu memiliki poin diatas 30!!!!!

"34!"

"31!"

"37!"

"34!"

"Dan poinku... 41!!!!!!!" senyumnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ini benar-benar poin terbesar yang pernah akau lihat dimiliki oleh anak kelas satu!" kata Yuki terkejut.

"O-orang-orang ini bahkan poinnya lebih besar dari Hiroshi" pikir Ruki yang tak kalah terkejutnya.

"Hohohohohoho... aku sempat melihat sedikit poin kalian tadi. Bukankah kalian bertiga ini adalah Ibu peri alias berperan sebagai tuan..., coba ayo tunjukkan poin kalian..., jangan malu-mau" tawanya.

Yori, Yuki, dan Ruki akhirnya terpaksa menunjukkan poin mereka.

"16"

"9"

"8"

"Wkwkwkwkwk.... jangan membuatku tambah tertawa...." tawa kelima anak dari klub sepak bola itu terpingkal-pingkal.

"Hahahhahahah.... benar-benar lucu sobat. Kalian memang benar-benar menghibur kami" katanya sambil mencoba menyudahi tawanya.

"Lalu......, apa kalian sudah menyadari sesuatu sekarang?" kata anak itu berubah tajam.

Yori, Yuki, dan Ruki tiba-tiba menyadari sesuatu yang belum sempat terpikirkan oleh mereka.

"Lihat poin kalian... poin kalian jelas-jelas lebih kecil dari kami. Apa artinya itu? Artinya kami berliama dapat melakukan apapun yang kami inginkan pada kalian semua. Kalian bertiga mungkin berstatus tuan dari gadis ini di kelompok kalian, tapi sejatinya kalian semua adalah budak kami jika bertemu dengan orang lain yang memiliki poin yang lebih besar di luar kelompok kalian."

"Itulah aku bilang mengapa permainan ini tidak penting. Permainan anak gawang kami, atau permainan Cinderella kalian itu tidak penting. Toh akhirnya siapapun yang memiliki poin tinggilah yang akan berkuasa."

"Ingatkah saat bertemu pertama dengan kalian tadi, aku sempat kesal dan bilang..... inilah akibatnya kalau kalian hanya diam disini dan tidak mulai bergerak. Aku bilang begitu karena kalian belum melihat kelompok lain. Sesungguhnya banyak dari kelompok lain yang melakukan sesuatu yang lebih kejam daripada kami" terangnya.

"Ini misalkan aku beri contoh.... kalian berhasil menemukan lapangan 8. Kalian berkumpul dengan anak-anak yang berhasil lainnya. Ternyata poin mereka semua besar-besar. Mungkin ada yang 50, 70 atau bahkan 100. Lalu kalian akan sampai di lapangan itu dengan poin yang tidak lebih dari 20. Kira-kira.... apa yang akan terjadi dengan kalian selanjutnya?"

"Sebenarnya semuanya itu sangat simpel sekali.... kumpulkan poinmu sebanyak mungkin.... apapun yang akan terjadi.... jika poinmu besar... kamu akan tetap berada diposisi teraman. Menjadi pemangsa atau dimangsa... itu saja" jelasnya panjang lebar.

Yori, Yuki dan Ruki seolah tertampar keras mendengar penjelasa anak itu, apa yang ia sampaikan 1000% benar. Jika poin mereka kecil mereka tidak bisa apa-apa. Bagaimana kalau mereka bertemu dengan anak-anak dari kelompok lain yang poinnya lebih besar dari mereka. Mungkin status mereka di kelompok adalah sebagai tuan, tapi di kelompok lain mereka bisa jadi budak karena poin mereka yang lebih kecil.

"Hohohoho... sudah sadar sekarang" kata anak itu tersenyum dan berjalan mendekati mereka berempat.

"Sial... kenapa hal ini tidak terpikirkan dari awal" pikir Yuki.

"Kenapa jadi begini?" panik Yori dalam hati .

"Jika begini, bisa saja mereka berlima menyiksa kami habis-habisan setelah ini. Kalau begitu, bukan hanya kita yang akan tersiksa, namun hilang kesempatan kita untuk mencari lapangan 8 karena harus menjadi budak mereka."

"Padahal baru beberapa saat yang lalu aku bilang ke Ruki bahwa kita betiga ini ibarat tikus dan Ayane adalah kejunya. Sekarang.... semuanya berubah drastis. Sekarang... tidak hanya Ayane, namun kita berempat menjadi keju empuk bagi mereka berlima, anak-anak Klub Sepak Bola...." pikir Yori putus asa setelah merasa ter- skakmat.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 39

Bocah Redoks
2017-01-17 16:52:10
jangan malu mau atau jangan malu malu ???
Al Onepc
2016-10-04 20:08:33
selalu poin yang jadi permasalahnya..susah amat sih hidup disana..
Kei Takashima
2016-09-28 12:24:33
Hmhhh
Aerilyn Chan Kawai
2016-08-10 20:39:05
poin mereka lumayan besar untuk kelas 1
ThE LaSt EnD
2016-08-10 16:50:09
kau rendah hati ya, minta maaf brkali2..pd pembaca krn ksalahan sebuah nama.. aku salut.
ThE LaSt EnD
2016-08-10 16:06:57
sbentar. walau peratran poin sperti itu, tpi itukn bukan perintah senior..? hmm,.
Akane Hagiwara
2016-07-15 09:32:28
eh itu bukan e lina ya bukan ayane thor dimana-mana peraturannya sama, menyebalkan -3-
Fujioka nagisa
2016-07-09 17:52:54
Typo tuh.. Bukan ayane, tp lina..
Rinularo
2016-03-19 13:38:31
Huft aku bisa berkata apa . . .lanjut aja
Imajinasi0
2016-03-13 00:28:50
Lalu, bagaimnakah nasib ruki? Dan apakah yg selanjutnya akan dilakukan oleh merekah(klompok cinderrela)? Apa anda penasaran? Apa anda ingin tau? Benar benar ingin tau?? Dan, . . . . . . . .
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook