VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 37

2016-02-27 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
309 views | 33 komentar | nilai: 9 (2 user)

"Apa-apaan mereka itu?" kata Ruki akhirnya bicara.

"Si-siapa mereka?" timpal Yuki.

"Mungkin saja mereka kakak senior yang tengah menyiksa anak kelas 1, atau bisa juga mereka semua adalah anak kelas 1, sama seperti kita" kata Yori sambil mengelap keringatnya.

Merasa keempat anak itu memperhatikan mereka, sekolompok anak itu akhirnya menghampiri Ruki dan ketiga temannya.

"Ayo babiku, belok ke kiri, ayo kita kunjungi teman kita!" perintah seseorang yang sedang menunggangi anak lainnya yang sedang berjalan merangkak.


Sekolah/Neraka Chapter 37 - Anak Gawang
Penulis : Whiti Intheforest

"A-aku tidak te-tega...." kata Ruki pelan sambil melihat anak yang tengah jalan merangkak dan sedang ditunggangi itu menuju ke arahnya.

Bagaimana tidak, anak itu tampak mengenaskan. Telapak tangan dan dengkulnya sudah sangat lecet dan mengeluarkan darah. Bahkan darahnya cukup banyak untuk membuat jejak langkah. Telapak tangan dan dengkulnya jelas tampak hancur. Belum lagi peluh keringatnya yang menetes deras, serta lidahnya yang tampak menjulur keluar akibat kelelahan yang amat sangat berat.

"Wohooo.... kalian masih saja bersantai disini" kata anak yang menunggangi itu sambil tersenyum.

"Si-siapa kalian?" tanya Ruki.

"Ohh.. aku anak kelas 1-B sama denganmu kan, bukankah kau Ruki, anak yang dapat soal lisan dari Bu Furukawa?" tanya anak itu balik bertanya setelah melihat Ruki lebih dekat.

"Ja-jadi... kau sekelas denganku ya..." kata Ruki sedikit terkejut.

"Benarkah kau murid kelas 1?" tanya Yori masih sedikit curiga.

"Sepertinya begitu...." balas Ruki.

"Apa kamu yakin Ruki? Kamu mengenal anak ini?" tanya Yori.

"Yahh.. aku belum mengenal dia. Aku juga tidak tahu pasti dia anak kelasku atau bukan, tapi... kalau dia mengetahui peristiwa yang ada di dalam bis kelasku tadi.... sepertinya dia juga anak kelasku" jawab Ruki.

"Peristiwa apa?" pikir Yori sambil sedikit melirik Ruki.

"Iya, apa yang dikatakan Ruki benar.... aku memang anak kelas 1-B, lagi pula apa untungnya aku berbohong" balas anak itu masih sambil tersenyum.

"La-lu apa maksudnya ini?" kata Yuki bersuara sambil menunjuk anak yang tengah ditunggangi.

"Apa? Apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Tentu saja dia adalah anak gawangku..." jawab anak itu.

"A-anak gawang? Apa maksudnya itu?" tanya Ruki ikut penasaran.

"Tapi... sebelum kau menjelaskan itu pada kami..... sebaiknya segeralah turun, apa kau tidak kasihan dengannya" potong Yori memberikan saran.

"KASIHAN?.... APA KATAMU? Dia ini adalah anak gawang, terserah aku mau melakukan apapun padanya. Kau tidak memiliki hak untuk ikut campur!" marah anak itu.

"E-eh sudah-sudah.... kami tidak ingin memancing keributan, jangan marah seperti itu.... jadi, bisa tolong jelaskan pada kami?" kata Ruki menengahi.

"Huhh... ini karena kalian hanya diam disini dan tidak mulai bergerak" dengus anak itu.

"Bukankah kalian disuruh mencari lapangan 8?" tanya anak itu lagi.

"Ehh.. iya... jangan jangan...." kaget Ruki.

"Yah.. tentu saja kami juga disuruh mencari lapangan 8" jawab anak itu.

"Hmmmm jadi kak Alice benar.... dia tidak bohong. Kak Alice mengatakan bahwa tugas mencari lapangan 8 itu berasal dari kak Zeriff. Jika begitu pasti semua klub juga disuruh mencari lapangan 8. Dengan hadirnya kau, berarti itu mengkonfirmasi kebenaraan perkataan kak Alice" ulang Yori.

"Yahh.. ketua klubku juga bilang bahwa tugas itu adalah pemberian dari kak Zeriff" balas anak itu.

"Me-memangnya kau dari Klub apa?" timpal Yuki.

"Dari Klub Sepak Bola" jawab anak itu singkat.

"Lalu hubungannya dengan anak gawang?" tanya Yuki lagi.

"Baiklah, akan aku ceritakan. Sama seperti kalian dan Klub-Klub lain, Klub Sepak Bola juga dikumpulkan di sebuah lapangan. Kemudian kami dihadapkan dengan para senior kami. Mereka bertanya mengenai tugas yang harus kami kumpulkan hari ini, kemudian mereka memeriksanya satu persatu."

"Setelah memeriksa tugas kami, para senior kemudian memisahkan kami. Mereka memisahkan kami berdasarkan keberhasilan kami mengerjakan tugas. Ada yang gagal dan yang berhasil."

"Kemudian ketua Klub kami mengatakan bahwa akan diadakan sebuah permainan. Kemudian dia menceritakan tentang anak gawang. Dalam permainan sepak bola, anak gawang atau yang dalam bahasa inggris disebut ball boy adalah orang yang memungut dan mengambil bola yang keluar dari lapangan. Anak gawang adalah orang yang bertangung jawab untuk berlarian mengambil bola yang keluar dari lapangan untuk mengembalikannya lagi ke lapangan permainan."

"Anak gawang adalah sesorang yang bersusah payah dan bersedia capek dan bertanggung jawab untuk mengambil bola yang keluar lapangan, namun anak gawang tidak boleh masuk dan bermain sepak bola."

"Setelah mengisahkan itu, ketua Klub kami kemudian membagi peran kami. Anak yang gagal mengerjakan tugas akan menjadi anak gawang sementara yang berhasil akan menjadi pemain bola. Lalu ketua juga menjelaskan aturan mainnya. Kami semua disuruh untuk mencari lapangan 8 sebelum matahari terbit esok pagi. Selain itu kami juga disuruh untuk berlomba banyak-banyakan poin. Kami dibagi beberapa kelompok, dengan 1 kelompok terdiri dari.... 5 orang pemain dan 1 orang anak gawang. Jika salah seorang diantara anggota kelompok mendapatkan tambahan poin paling sedikit, maka anak itu akan tetap dihukum walaupun berhasil menemukan lapangan 8."

"Kami boleh melakukan apapun pada anak gawang ini untuk membantu kami menemukan lapangan 8 sebelum esok pagi" senyum anak itu menjelaskan dengan panjang lebar.

"Persis sekali...." kata Yori.

"Apa yang diperintahkan ketua klub mereka, hampir sama dengan yang terjadi pada kita. Sepertinya pada dasarnya......... semua anggota baru klub melakukan 3 permainan ini. Permainan Tuan-Budak, permainan banyak-banyakan poin dan juga permainan menemukan lapangan 8 sebelum matahari terbit besok pagi" jelas Yori mengutarakan pemikirannya.

"Yahh.. kau benar sekali. Aku sempat bertemu dengan beberapa kelompok anggota klub lain, dan hebatnya.... mereka juga memainkan hal yang sama" balas anak itu.

"Ya.. apapun cerita yang melatarbelakangi, namun permainannya tetap mengarah pada tujuan yang sama seperti yang kusebutkan barusan" jelas Yori lagi.


"Kalau kami memainkan permainan anak gawang dan pemain sepak bola, kalau klub kalian memainkan permainan apa?" tanya anak itu.

"Kami Klub Novel dan Sastra memainkan permainan Cinderella dan Ibu tiri. Peraturannya persis seperti kalian, hanya cerita yang melatarbelakanginya saja yang beda" jelas Yori.

Yuki kemudian memikirkan sesuatu setelah melihat keenam anak dari klub sepakbola itu.

"La-lu kenapa hanya kau yang menyiksa anak gawang ini?" tanya Yuki.

"Hehehehe... soal itu kami sudah mendiskusikannya" kata anak itu lagi.

"Kami berlima kemudian membuat peraturan dan kesepakatan sendiri. Kami berlima mengundi keberuntungan kami dengan koin. Ini sama dengan saat wasit sepak bola mengundi sebelum pertandingan sepak bola dimulai. Kami menentukan pilihan kami, misal gambar atau angka. Jika yang keluar adalah yang kita pilih maka kita akan menang. Karena kami ada berlima, kami lakukan undian itu berulang kali hingga menemukan satu pemenang. Nah pemenang itu boleh melakukan apapun pada si anak gawang selama 1 jam. Kemudian 1 jam berikutnya kita adakan undian lagi. Dengan begini... jumlah poin yang didapatkan akan tergantung dengan keberuntungan dan kemampuan dalam memanfaatkan anak gawang dalam 1 jam, hehehehehe" tawanya menjelaskan.

"O-orang orang ini, moralnya sudah benar-benar rusak. Mereka benar-benar tidak memikirkan perasaan anak yang menjadi anak gawang. Namun diluar itu, mereka cukup cerdas untuk membuat kesepakatan yang jitu" pikir Yori menyadari kebidaban serta kecerdasan mereka.

"Kalau kami tidak memikirkan Lina, mungkin aku tidak perlu berdebat dengan Ruki seperti barusan" pikir Yori sambil melirik ke arah Ruki.

Namun saat melirik, Yori jadi sangat terkejut.

"Ke-ke..napa dia?" kaget Yori dalam pikirannya setelah melihat Ruki.

Bagaimana tidak, saat itu kondisi Ruki terlihat sangat berkeringat dengan tatapan mata yang panik luar biasa.

"Si-sial kenapa jadi begini. Jika semua Klub memainkan permainan seperti ini, berarti Ayane....."

"Ji-jika Ayane gagal dalam mengerjakan tugas yang diberikan Klubnya, kemudian bermain peran menjadi seorang
budak seperti Lina ataupun anak yang ditunggangi ini, dia pasti akan...."

"Si-sial.... padahal baru beberapa saat yang lalu aku sedikit lega karena Ayane bukan termasuk anak yang pingsan, tapi sekarang bisa saja...." pikir Ruki panik luar biasa sambil memegangi keningnya.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 38

Bocah Redoks
2017-01-17 16:45:35
keberuntungan yg salah
Dalreba
2016-10-07 16:07:52
Andai saja anak gawangnya cewek pasti seru ditunggangi
Kei Takashima
2016-09-28 12:21:16
Hmm
Aerilyn Shilaexs
2016-08-10 20:32:44
ruki malah teringat dengan ayane
ThE LaSt EnD
2016-08-10 15:44:23
pengarang yang hebat.. sbenarnya apa yan. kau makan.? hmm,. next
Akane Hagiwara
2016-07-15 09:25:41
sadisnya anak sepak bola -3- iya, gimana dengan ayane?
Fujioka nagisa
2016-07-09 17:45:21
...keren.. Tp sadisnya kelewatan yak
Rinularo
2016-03-19 13:28:51
Ck2.. Benar2.. Hhh.. Lanjut ajalah
gIN taka
2016-03-18 22:40:40
ayane
Anique HyuUzumaki
2016-03-07 23:01:31
Entah knapa aku suka tokoh utama sedang terpojok.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook