VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 36

2016-02-22 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
317 views | 28 komentar | nilai: 9.25 (4 user)

"Bagaimana, Ruki?" kata Yori mengulangi pertanyaannya.

Ruki tampak makin tak tenang mendengar pertanyaan itu lagi.

"Apa yang harus kulakukan. Aku belum menceritakan misiku pada mereka berdua. Tapi jika aku menceritakannya..... mungkin bisa berbahaya buatku. Mereka berdua adalah orang yang cerdas. Jika mereka bisa menjadi temanku hingga nanti, itu pasti akan sangat membantu. Namun, jika ternyata mereka menjadi musuh, mereka berdua akan menjadi musuh yang sangat susah dikalahkan. Mungkin mereka terlihat baik sekarang, namun aku tidak tahu apa tujuan mereka yang sebenarnya. Lihat saja poin Yori yang berjumlah 16 poin, kira-kira darimana itu berasal?" pikir Ruki makin menjadi-jadi.


Sekolah/Neraka Chapter 36 - Tikus dan Keju
Penulis : Whiti Intheforest

"Apa berat bagimu untuk menentukan?" tanya Yuki ikut menimpali.

"Eh..." kata Ruki gugup.

"Sudahlah Yuki, jangan memaksa Ruki seperti itu..." kata Yori.

"Tapi kak..... aku cuma bertanya saja..." terang Yuki.

"Iya aku paham, tapi cobalah memikirkan perasaan Ruki."

"Aku paham maksudmu Ruki. Aku tahu kamu orang baik. Tapi melihat keraguan mu barusan, sepertinya kamu kurang setuju dengan ideku" kata Yori.

"Eh.. eh.. bu-bukan begitu... hanya saja..." kata Ruki tak mampu melanjutkan perkataanya.

"A-aku tentu saja tidak ingin menyakiti Lina, tapi...." ungkap Ruki.

"Tapi apa?" tanya Yuki.

"Ta-tapi..... aku kurang setuju dengan kesepakatan tidak boleh menambah poin" jelas Ruki.

"Hmmm... aku paham..., jadi pada dasarnya kamu tetap ingin kita boleh menambah poin, tapi sepakat untuk tidak menggangu Lina, begitu?" tanya Yori.

Mendengar pertanyaan Yori, tiba-tiba terlintas ide dipikiran Ruki.

"Be-benar... ini supaya adil kan?" balas Ruki.

"Apa maksudmu?" tanya Yori kembali.

"Dengan tetap boleh menambah poin, itu artinya kita bertiga tetap bertanding untuk banyak-banyakan poin. Sehingga tidak seperti idemu tadi, ideku lebih menekankan bahawa kita tetap harus bertanding untuk menentukan siapa yang mendapat poin terkecil. Ini menguntungkan karena sesuai dengan peraturan."

"Jika kita pakai idemu, maka kita tidak tahu apakah itu menguntungkan atau tidak. Karena jika kita sama-sama tidak menambah poin, dan ternyata kita bertiga dihukum semua oleh Kak Alice, maka akan menimbulkan penyesalan."

"Mungkin salah satu dari kita akan berpikir, kenapa aku harus mengikuti ide itu kalau ujung-ujungnya tetap dihukum bahkan kita sama sekali tidak mendapat poin."

"Nah.. oleh karena itu, aku mengusulkan agar kita tetap bertanding untuk menambah poin kita. Dengan begitu dihukum atau tidaknya kita nanti, itu tergantung usaha kita sendiri dalam menambah poin sebelum esok pagi."

"Lalu, yang perlu kita buat kesepakatan adalah tidak boleh menyakiti Lina. Dengan begitu kita akan dapat 3 keuntungan."

"Pertama, kita tidak akan menyesal jika dihukum nanti, karena banyak atau sedikitnya poin yang kita dapatkan, akan sesuai dengan usaha yang kita lakukan. Kedua, kita tetap akan mendapat tambahan poin walaupun kalah dalam pertandingan ini. Dan yang terakhir dan yang utama, Lina tidak tersakiti dalam lomba kali ini" ujar Ruki panjang lebar yang kini balik tersenyum.

"Uuuu..Wahhhh... kerennn... kau benar-benar pintar Ruki. Aku setuju, ide Ruki benar-benar bagus kak" kata Yuki yang kini mendukung ide Ruki.

"Hmmm... tapi apa?" tanya Yori.

"A-apanya yang apa?" bingung Ruki.

"Apa yang harus kita lakukan untuk menambah poin di tempat seperti ini?" tanya Yori.

"So-soal.. itu..." balas Ruki yang bingung.

"Tentu akan sangat membingungkan bagaimana mendapatkan poin tanpa 'menyakiti' Lina" kata Yori mulai menerangkan.

"Aku mengibaratkan kasus kita ini, dengan tikus dan keju" lanjut Yori.

"Tikus dan keju?" tanya Ruki yang penasaran.

"Benar, kita anggap diri kita bertiga ini sebagai tikus, lalu Lina sebagai keju. Kak Alice adalah orang yang memberikan kita bertiga keju. Ayo kalian bertiga silakan makan keju banyak-banyak dan segera mencari sarang kalian. Barangsiapa yang paling sedikit makan keju akan dihukum walaupun berhasil menemukan sarang kalian, mungkin begitu ibarat perkataan kak Alice."

"Nah... jika kita ikuti idemu maka itu sama saja.... kamu menyuruh kita untuk tetap bertanding banyak-banyakan makan keju, namun tanpa boleh menyentuh 'Lina' sang keju besar yang sudah dipersiapkan Kak Alice, begitu kan?" tanya Yori sambil mengutarakan pemikirannya.

Mendengar itu, Ruki sedikit tersinggung.

"Ja-jadi maksudmu, kita harus menyakiti Lina dulu untuk bisa bertanding poin. Kalau begitu, buat apa pembicaraan kita ini dari awal?! Tanya Ruki dengan suara agak meninggi.

"Hei.. hei.. jangan berteriak seperti itu, aku hanya menjelaskan idemu saja" balas Yori.

"Su-sudah... hentikan tuan.." seru Lina yang tiba-tiba memecah perseteruan mereka.

"Tuan tidak perlu bertengkar hanya karena saya. Tuan-tuan tetap berlombalah seperti biasa. Lakukanlah apa yang tuan-tuan inginkan kepada saya. Lagipula dari awal ini adalah kesalahan saya. Karena kebodohan saya yang tidak mengerti akan tugas yang diberikan, menyebabkan saya harus menjadi Cinderella dalam permainan ini. oleh karena itu, tetaplah berlomba seperti biasa, tidak perlu mengkhawatirkan saya" ungkap Lina sambil menunduk.

"E-ehh.." ujar Ruki bingung.

"Daripada berdebat soal itu, kalau saya boleh memberi saran, sebaiknya tuan-tuan memikirkan saja mengenai lapangan 8" kata Lina.

"So-soal itu..." kata Ruki.

"Ahh.. maafkan saya tuan. Maafkan hamba yang lancang ini tuan" ujar Lina meminta maaf setelah sadar akan posisinya.

"Ti-tidak masalah, malah idemu bagus sekali" kata Yuki menengahi.

"Kak Yori, Ruki, apa yang dikatakan Lina ini ada benarnya. Bukankah kita harusnya lebih fokus untuk membahas bagaimana cara menemukan lapangan 8? Bukankah kalau hingga matahari terbit besok pagi kita gagal menemukannya, kita akan menjalani prosedur F?" ingat Yuki.

"Be-benar.." gumam Ruki.

"Tidak ada artinya kita dapat poin banyak, dapat poin sedikit ataupun tidak dapat poin sama sekali, jika kita tida berhasil menemukan lapangan 8. Ada hal yang lebih penting...." jelas Yuki.

"Yah... itu jelas penting sekali, namun kita juga tidak bisa membiarkan masalah poin ini..." terang Yori.

"Iya tapi ini yang utama" balas Yuki.

"Ngomong-ngomong, mengesampingkan masalah itu, aku penasaran dengan prosedur F" kata Ruki mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Benar juga, kira-kira apa ya prosedur F itu? Kita harus menjalaninya jika gagal menemukan lapangan 8" jelas Yuki.

"Apapun itu, aku yakin Prosedur F bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Jika kita diberi tugas kemudian jika gagal akan diberi sesuatu, maka sesuatu itu pastilah hukuman. Tidak ada kegagalan yang diberi hadiah" terang Yori.

"Be-benar, tapi.. F itu kira-kira apa ya?" bingung Ruki.

"F... F... apa ya? Hmmm.. F.. kalau kak Yori tadi bilang gagal, mungkin F ini adalah singkatan dari 'Failure' yang berarti 'gagal' dalam bahasa inggris" kata Yuki menerangkan pendapatnya.

"Hmm... mungkin bisa juga seperti itu.." balas Ruki.

"Sudahlah, tidak perlu membahas itu, lebih penting kita membahas lapangan 8 serta masalah poin yang belum kita selesaikan tadi" ingat Yori.

Mendengar perkataan Yori, mereka semua terdiam dan mencoba memikirkan mengenai lapangan 8 yang harus mereka temukan sebelum matahari terbit besok pagi.

Saat sedang berpikir, tiba-tiba terdegar suara sekelompok anak yang lewat di depan lapangan mereka.

"HEIII!! BADANMU SUDAH SEBESAR BABI SEPERTI INI, KENAPA JALANYA NGOS-NGOSAN!!" teriak seorang anak.

A-apa itu?" tanya Ruki yang tak percaya melihat sesuatu yang ada di hadapannya.

Bagaimana tidak, tampak dihadapan mereka, anak yang berteriak tadi sedang menunggangi seorang anak lainnya yang berbadan besar yang kini tengah jalan merangkak.

"He-hei, a-apa ma-maksudnya ini?" kata Yori ikut terkejut hingga peluh yang ada di wajahnya tiba-tiba menetes.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 37

Bocah Redoks
2017-01-17 16:39:44
mereka sudah mengerti situasi yg d hadapi tapi masih aja suka kaget
Dalreba
2016-10-07 16:01:30
Penyiksaan akan segera dimulai
Al Onepc
2016-10-04 19:58:33
gimana caranya dapet poin tanpa kekerasan..mmmm
Kei Takashima
2016-09-28 12:17:03
Hmm
Princes Alien Kawai
2016-08-10 20:25:42
penindasan telah dimulai kembali
ThE LaSt EnD
2016-08-10 15:04:34
apa itu kelas satu juga? yah main kuda2an,. lanjut saja dulu.
Akane Hagiwara
2016-07-15 09:14:28
wow wow wow apa maksud semua itu ><
Fujioka nagisa
2016-07-09 17:37:33
......
Rinularo
2016-03-19 13:19:42
Lanjut baca aja
gIN taka
2016-03-18 22:28:57
lanjut baca sampe akhir . . . ! ! !
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook