VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 33

2016-02-06 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
353 views | 31 komentar | nilai: 9 (5 user)

"Tapi sungguh...... Hutan ini benar-benar luas" pikir Ruki lagi.

"Apa benar, ada Kawasan seperti ini sebelumnya?" lanjut Ruki lagi.

Sementara itu, bis-bis masih saja melaju di jalanan menuju lapangan masing-masing Klub.

"Lapangan berikutnya adalah klub Bulu tangkis" kata kakak kelas lagi.

"Jika luas lapangan satu klub saja hampir setengah lapangan sepak bola, maka untuk total lapangan-lapangan ini saja, tentu akan luas sekali, mengingat banyaknya klub yang ada di SMA Hoshi. Belum lagi, luasan hutan yang sepertinya sangat luas sekali. Apa benar tempat ini real? Mungkin luasnya hampir satu kota" pikir Ruki yang masih terkejut dengan kawasan yang asing baginya.


Sekolah/Neraka Chapter 33 - Memalukan
Penulis : Whiti Intheforest

Beberapa detik kemudian, anak-anak klub Bulu tangkis mulai keluar dari bis masing-masing. Kondisi bis juga mulai sepi.

Ruki kemudian mengalihkan pandangannya pada Hiroshi yang ada di sampingnya.

"Ikut Klub apa ya anak ini? sepertinya kurang pas kalau kutanyai sekarang. Dia sepertinya sangat depresi berat" pikir Ruki setelah melihat Hiroshi yang masih tertunduk. Semangat dan sikap kerasnya tadi sudah berganti menjadi keputusasaan yang tinggi.

Bis kelas itu kemudian kembali berhenti beberapa saat kemudian.

"Di lapangan ini, yang turun adalah klub karate" seru kakak kelas tadi untuk kesekian kalinya.

Setelah mendengar itu, Hiroshi kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan gontai menuju pintu bis.

"Ehh... jangan-jangan kau anggota klub karate?" tanya Ruki sedikit terkaget.

Hiroshi tidak menganggap perkataan Ruki, dan melanjutkan langkahnya keluar menuju bis.

"Hmmmm... tu-tunggu dulu..." pikir Ruki kemudian mencoba memikirkan sesuatu.

"Jadi, Hiroshi ikut Klub Karate..... hmnnn.. apa karena itu, dia mendapat poin besar, sampai sebesar 30 poin."

"Kalau tidak salah... dia bilang dia mendapatlan poin besar itu melalui kekerasan yang benar.." pikir Ruki.

"Apa kekerasan yang benar itu maksudnya adalah pertandingan karate? Apakah Hiroshi ikut pertandingan karate dan menang, sehingga poinnya besar?" lanjut Ruki lagi.

Saat sedang memikirkan itu, Ruki kembali dikejutkan oleh sesuatu yang benar-benar ia lupakan.

"Yang turun di lapangan ini adalah Klub Seni" kata kakak kelas.

"K-klub Seni...." pikir Ruki terkaget dan menyadari sesuatu yang sudah dilupakannya.

"A-ayane... Ayane sekelas denganku kan!!!!" panik Ruki dalam hatinya.

Ruki segera berdiri dari kursinya dan bergegas melihat ke seluruh ruangan bis itu.

"Ayane...." Seru Ruki setelah melihat Ayane di kursi belakang dan hendak turun.

Beberapa anak yang ada di bis itu hanya memandangi Ruki dengan heran.

Ayane kemudian bergegas menuju pintu bis.

"Ayane apa kamu baik-baik saja?" teriak Ruki.

Namun Ayane tidak mendengarkan itu dan segera turun dari bis kelas 1-B.

"A-apa maksudnya itu? Kenapa dia tidak membalasku?, kenapa dia mengacuhkan aku? Apa Ayane marah padaku?" bingung Ruki kemudian duduk tertunduk.

"Si-sial kenapa aku bisa melupakan Ayane yang sekelas denganku. Aku terlalu fokus dengan pingsannya Neo. Belum lagi dengan soal Bu Furukawa yang membuatku lupa akan Ayane. Tapi tunggu.... berarti dia bukanlah anak dari klub seni yang pingsan. Lagipula... Bu Furukawa hanya menyebutkan hanya ada 2 anak yang tidak bisa ikut pre-test, yaitu Neo dan Hiroshi. Itu artinya, Ayane ada di bis ini dari awal... kenapa aku sampai lupa..." pikir Ruki sambil memukul kepalanya sendiri.

"La-lalu, kenapa Ayane tidak menganggapku tadi, apa dia benar-benar marah? Tapi kalaupun iya, kenapa Ayane harus marah? Apa karena aku membahayakan diri untuk ikut ujian lisan demi Neo? Atau karena apa?" bingung Ruki.

"Tapi paling tidak... Ayane selamat untuk saat ini..." sukur Ruki.

Ruki mencoba membuang sejenak pikiran-pikiran yang membebaninya karena ia tahu sesaat lagi, ia akan menghadapi sesuatu yang lebih besar.

"Aku tidak tahu apa alasan Ayane bersikap seperti itu tadi. Tapi yang jelas, aku harus fokus dulu tentang apa yang akan terjadi di lapangan nanti" ungkap Ruki dalam hatinya.

Akhirnya setelah beberapa pemberhentian berikutnya, giliran untuk Ruki tiba.

"Di lapangan ini, yang turun adalah Klub Novel dan Sastra" seru kakak kelas.

Ruki kemudian berdiri dari tempat duduknya, memakai tas ranselnya dan bergegas turun dari bis.

"S-sepertinya, tidak ada anggota Klub Novel dan sastra selain aku dan Neo di kelas ini" pikir Ruki setelah melihat tidak ada satupun anak kelas 1-B yang ikut turun bersamanya.

Setelah turun dari bis, Ruki segera melihat lapangan yang akan dia tuju.

"Jadi mereka ada disana...." gumam Ruki pelan setelah melihat Kak Alice, kak Danish, dan beberapa senior Klub Novel dan sastra lainnya.

Ruki segera mendekat masuk ke area lapangan itu, mendekati para senior Klub Novel dan sastra. Semua anak baru klub Novel dan sastra tampak tegang. Begitu pula dengan duo kembar yang juga sudah turun dari bis mereka.

"Ayo-ayo segera berbaris!!" kata Kak Alice datar. Nadanya tidak marah ataupun berteriak. Tapi sikap datarnya jelas berbeda dengan sifat ceria yang ditunjukkannya saat kemarin pertama bertemu.

Ruki dan anak-anak anggota Klub Novel dan Sastra yang baru, segera berbaris rapi. Rasa cemas jelas menghantui mereka.

"Memalukan!" umpat kak Alice tiba-tiba.

Anak-anak kelas satu yang mendengar itupun terkejut dan menunduk.

"Belum apa-apa saja sudah memalukan klub ini" ujar Kak Alice yang kali ini dengan suara meninggi.

"Baru satu hari setelah mendaftar, salah satu dari kalian sudah benar-benar memalukan Klub kita!"

"Bayangkan... baru kemarin mendaftar, sudah membuat masalah saja" marah Kak Alice.

"Kalian TAU TIDAK?!" teriaknya.

Ruki dan anak anak yang lain hanya terdiam menunduk.

"KENAPA DIAM?, KAGET AKU BISA MARAH..... BISAAAA" teriak Kak Alice.

"Kakak memang baik dan ceria, juga suka bercanda. Tapi, kalau ada yang berbuat memalukan klub ini, KAKAK TIDAK TERIMA!!" Marahnya menggebu sambil berputar mengelilingi barisan anak-anak itu.

"Ke-kenapa dia marah? Sikapnya kali ini benar-benar berkebalikan dengan yang ditunjukannya kemarin" bingung Ruki yang ikut panik.

"KALIAN TAHU APA YANG SALAH" teriak kak Alice lagi.

Para anggota baru itu kembali tertunduk dan tidak berani melihat ke depan. Intimidasi yang terjadi benar benar menyiutkan mental mereka.

"DENGAR TIDAK SIH?" ulang Kak Alice.

Namun, kembali anak-anak itu hanya diam.

Saking kesalanya, Kak Alice kemudian menarik salah satu anggota baru dan mencengkaram lengannya.

"Kamu tahu tidak, ada yang salah?" tanyanya sambil berbicara dekat sekali di telinga anak itu.

"Ti-tidak kak..." jawabnya pelan sambil gemetaran.

"ITU KARENA KALIAN APATISSSS" teriak nya sambil mendorong anak itu kembali ke dalam barisan.

"Kalian semua ini tidak peduli satu sama lain..... dan membiarkan salah satu teman kalian memalukan nama klub ini.

"NEO...." teriak Kak Alice.

Sontak saja, Ruki jadi sangat terkejut mendengar Kak Alice meneriakkan nama itu.

"NEO.... anak itu sudah pingsan saja saat acara bahkan belum sepenuhnya dimulai!!"

"Saat Panitia mengumumkan ada 4 anak yang pingsan dan salah satunya dari Klub kita, itu benar-benar mencoreng nama klub kita. Benar-benar memalukan.... Klub ini tidak menerima orang lemah dan bermasalah" ungkap Kak Alice.

Mendengar itu, Ruki benar-benar terkejut. Termasuk duo kembar yang ikut melihat pingsannya Neo.

"Kalian tahu, saat ini Klub kita, Klub Seni dan Klub science menjadi bahan olok-olokan karena mempunyai anggota yang lemah dan sudah pingsan bahkan sebelum kita berangkat ke sini" jelas Kak Alice berapi-api.

Anak-anak itu hanya bisa kembali tertunduk.

"Aku tidak bisa menerima orang-orang lemah yang berada di Klub ini. Kalian perlu dididik agar menjadi kuat. Kalian benar-benar membuat kakak-kakak di sini kesal. Kakak-kakak di sini harus menanggung malu akibat perbuatan adik-adiknya yang bodoh. Apalagi, Poin kalian jelas-jelas di bawah kami" ujar Kak Alice sambil memamerkan poinnya yang masih menunjukkan 756 poin.

Ruki sudah tidak terkejut melihat poin besar itu untuk kedua kalinya. Dia justru penasaran bahwa poin kak Alice tidak bertambah sejak kemarin bertemu.

"Kalian benar-benar sudah membuat kami kesal....... Sekarang coba kita lihat tugas yang kami berikan. Apa kalian masih akan menambah kekesalan kami" tajam Kak Alice yang kembali membuat pucat seluruh anak baru itu.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 34

Bocah Redoks
2017-01-17 16:21:08
kayak pramuka aja
Kei Takashima
2016-09-28 10:45:49
Hmm
ThE LaSt EnD
2016-08-10 11:27:53
tentang poin Alice yg tetap.. spertinya akn menjdi sampel ruki..mungkin
Aerilyn Chan Kawai
2016-08-10 07:47:47
oh itu alasannya kenapa neo tidak ada dihutan dichap terbaru, kukira neo akan menyusul,
Akane Hagiwara
2016-07-15 08:51:27
kak alice bisa marah?? ku tercengang ternyata sama saja dengan senior yg lain -3-)/
Fujioka nagisa
2016-07-09 16:33:32
Hyuu~
Racharion
2016-04-06 22:11:24
pressingannya bikin baper :'v
revival
2016-03-29 17:56:04
lebay banget ka alice,,
Rinularo
2016-03-19 12:32:20
Hm2.. Lanjut baca aja
gIN taka
2016-03-18 21:51:55
alice . . . ! ! ! klo ruki setampan cavendish, apa yg terjadi . . . ? ? ? hahaha gk nyambung komentarku
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook