VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 19

2015-11-25 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
421 views | 27 komentar | nilai: 9 (4 user)

Ruki, Neo dan Ayane sedang berjalan menuju ke Asrama. Mereka bertiga hanya saling terdiam satu sama lain. Mereka berkutat dengan pikiranya masing masing tentang masalah yang membelit. Namun, keheningan itu akhirnya terpecah saat Neo bertanya.

"Ehhh... Apa kalian tahu, di mana tempat makan nya?"

"Ya tentu saja ada di ruang makan." jawab Ruki seadanya.

"Ya aku tahu itu, maksudku di mana letak pastinya?" tanya Neo kesal sambil melewati gerbang perak Asrama Stella.

"Sudah tidak usah ribut terus, aku tahu tempatnya, ikuti aku saja." jawab Ayane melerai mereka.


Sekolah/Neraka Chapter 19 - Ruang Makan Asrama Stella
Penulis : Whiti Intheforest

"Kamu sudah tahu banyak tentang tempat ini ya Ayane, tadi kamu tahu Rumah sakit dan sekarang tahu ruang makan?" tanya Ruki penasaran.

"Aku sempat berkeliling di sekitar Asrama Stella, setelah mendaftar Klub tadi." balas Ayane.

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju tempat yang dimaksud dengan dipandu oleh Ayane.

"Sama seperti yang ada di gedung sekolah, di asrama ini juga terdapat peta atau denah lokasi yang dapat membantumu mencari lokasi yang ada di asrama ini." ujar Ayane menjelaskan.

"Gedung utama asrama Stella dibagi menjadi 4 lantai, lantai 1 sampai 3 berisi kamar-kamar siswa-siswi SMA Hoshi, sementara di lantai paling atas terdapat ruang makan, ball room, serta beberapa ruang lain yang aku juga belum tahu untuk apa." lanjut Ayane menerangkan.

Ruki dan Neo kemudian mengikuti Ayane hingga mereka sudah tiba lantai 4 Asrama Stella. Namun, saat berjalan di lorong jalan itu, Ayane menghentikan langkahnya.

"Ada apa Ayane, apa kamu lupa tempatnya?" tanya Neo.

"Ehhhh... Sebenarnya ruang makannya ada di depan sana." tunjuk Ayane pada pintu sebuah ruangan yang cukup besar.

"Kalau begitu ayo." ajak Ruki.

"Aku takut Ruki, setelah mengetahui apa yang terjadi pada Rumah sakit Asrama, ataupun pada kamar mandi yang ada di sekolah kita, aku jadi takut jika ingin memasuki suatu ruangan." khawatir Ayane.

"Tenang saja, ada aku dan Neo di sini." kata Ruki mencoba menenangkan Ayane untuk kesekian kalianya.

Mereka kemudian berjalan menuju ruanagn yang ditunjuk Ayane tadi. Namun saat mereka mendekat, terlihat beberapa anak yang baru keluar dari tempat itu.

"Hahahahhah, menarik sekali melihat wajah anak-anak baru itu." kata salah satu anak yang baru keluar itu.

"Muka mereka terlihat melongo, seperti orang bodoh, wkwkwkwkw." balas anak di sebelahnya.

"Kau dulu juga seperti itu kan saat masih kelas 1?"

"Enak saja, aku tidak seperti mereka dulu" kata anak itu berlalu bersama teman temannya.

Ayane dan Neo yang mendengar itu hanya terdiam di depan pintu.

"A-ayane, Neo, apa kalian baik-baik saja." tanya Ruki.

"A-aapa kamu tidak mendengar mereka Ruki, mereka bilang anak kelas 1 saja sampai melongo." ujar Neo.

"Jangan-jangan benar bahwa kita tidak bisa makan bila tidak mempunyai poin." panik Ayane.

Ruki melihat wajah kedua temannya yang pucat itu dengan senyuman.

"Sudahlah, tidak perlu khawatir berlebihan, kita tahu dari awal tempat ini tidak berjalan sebagai mana mestinya. Oleh karena itu hadapi saja dengan senyuman. Pilih mana, menghadapi masalah dengan senyuman, atau menghadapi masalah dengan ketakutan. Masalah itu pasti datang teman teman, lalu kenapa kita tidak mencoba tersenyum, toh mereka akan selalu datang menghantui." ujar Ruki mencoba mengembalikan semangat mereka berdua yang terlihat mulai redup.

"Sudahlah, tetap senyum dan hadapi."

"Krakkk" Ruki membuka pintu ruang itu.

"Ahhh, pintunya bisa dibuka, tidak seperti kamar mandi Sekolah." pikir Ayane terkejut.

"Cahaya terang dari ruang itu menyinari mereka bertiga hingga membuat mereka sadar betapa mewahnya tempat itu.

"Wahhh, besarrr sekali..." gumam Neo takjub.

"Tidak... Tapi ini mewah... Sekali..." gumam Ayane yang tak kalah terkejutnya.

Namun, Ruki mencoba mengamati secara sekilas segala hal yang ada di tempat itu.

"Teman-teman lihatlah..." bisik Ruki pada mereka berdua.

Ayane dan Neo kemudian juga melihat secara seksama apa yang ada di hadapan mereka.

Dilihat secara sekilas, tidak banyak orang yang memenuhi ruang makan itu, maklum ini sudah jam 3 sore. Sudah cukup larut untuk sebuah santap siang. Namun ruangan yang ada di hadapan mereka ini terlihat cukup sempit dari pada luasan yang seharusnya. Sebabnya adalah, adanya partisi yang membagi-bagi ruang makan itu.

"Bukankah ruangan ini terbagi." ujar Neo terkejut.

Ruangan itu di bagi bagi menjadi beberapa tempat. Yang membuat mereka terkejut adalah adanya perbedaan di setiap tempat itu. Ruangan itu dibagi menjadi 4 tempat.

Keempat ruangan itu masing masing berbeda beda. Ada yang tidak ada meja dan kursi, hingga ada tempat yang mewah sekali. Makanan yang tersedia pun tentu berbeda dari keempat tempat itu, ada yang biasa, hingga makanan yang terlihat enak dan mewah.

"Kalian pasti tahu kan apa maksudnya?" tanya Ruki pada Ayane dan Neo.

"Yaaah." jawab Neo pendek.

Mereka bertiga kemudian berjalan menuju tempat terjelek dari ketiga tempat lainnya. Tempat itu tidak ada meja ataupun kursi. Makanan yang ada hanya di geletakkan di tengah tempat itu. Beberapa anak yang ada di ruangan itu sebagian besar adalah anak anak kelas 1, namun beberapa anak kelas 2 pun ada di situ.

"Bolehkah kami masuk ke sini?" tanya Ruki pada anak yang ada di tempat itu.

"Silahkan saja, ini tempat orang berpoin terendah." kata anak itu.

Mereka bertiga kemudian masuk ke tempat itu dan kemudian duduk.

"Silahkan saja ambil makanan yang ada." kata anak itu lagi.

Tampak banyak onigiri yang berhamburan ada di tengah lantai.

Ayane yang sudah sangat kelaparan segera mengambil onigiri itu dan memakannya.

"Kenyapa kwalian tidak mawkan?" tanya Ayane sambil mengunyah onigiri itu.

"So-soal itu." kata Neo agak sedikit bingung.

"Sudahlah Neo, sebaiknya kita makan saja, untung kita masih bisa makan walaupun tidak mempunyai poin." ujar Ruki.

Akhirnya Neo dan Ruki juga memakan makanan itu. Untuk Ruki sendiri, memakan onigiri yang digeletakkan di lantai bukanlah sesuatu yang mudah, mengingat latar belakang keluarganya yang kaya.

Ruki mengamati anak anak yang ada di tempatnya itu terlihat cukup lesu. Memakan onigiri mereka dengan perasaan sedih. Sementara sebagian anak lainnya yang ada di tempat itu, mengamati dan melihat anak anak di tempat lain yang makan dengan makanan yang lebih enak serta makan makanan di meja dan di kursi dengan perasaan iri. Bagaikan seorang pengemis yang makan di jalanan melihat dan mengamati dengan takjub seseorang yang dengan bahagianya sedang makan di sebuah restauran keluarga.

Neo juga mengamati beberapa anak yang ada di tempat yang lebih bagus di sebelahnya.

"Ruki, teorimu memang terbukti tepat." kata Neo.

"Teori apa?" tanya Ruki heran.

"Lihatlah beberapa anak itu." tunjuk Neo kepada anak anak kelas 1 yang berada di tempat mewah di sebelah mereka.

"Kenapa dengan mereka?"

"Ingatkah ketika kamu berkata cara untuk bertahan dan mendapat poin adalah dengan menjadi seorang anjing yang akan selalu menuruti apa yang dikatakan tuannya. Karena katamu cara menaklukkan musuh paling mudah adalah dengan menjadi budaknya. Lihatlah anak baru yang makan bersama mereka di tempat yang mewah itu bersama tuan mereka. Bahkan mereka sudah diberi tulang berupa poin yang ada di jam tangan mereka." ejek Neo.

"Berhentilah bersikap seperti itu, mereka juga melakukan semua itu karena terpaksa. Mereka tidak mau makan di tempat seperti kita, mereka mencari cara untuk aman dan bertahan dari tempat ini. Ini cara mereka untuk bertahan hidup. Jangan salahkan mereka, salahkanlah sistemnya. Oleh karena itu, dari awal aku mengajakmu merubah sekolah ini dengan merubah sistemnya." jelas Ruki.

"Tapi itu tidak benar Ruki, menghancurkan harga dirimu sendiri. Bahkan lebih baik aku makan makanan seperti ini daripada menjadi budak seperti mereka." kukuh Neo.

"Jadi... Apakah kamu menentangku... Seandainya aku bersujud pada orang orang berpoin tinggi dan menjadi anjing bagi mereka untuk membuat mereka membantu Ayane jika kita gagal mendapatkan 100 poin dalam 10 hari lagi?" ujar Ruki serius.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 20

Yukki Amatsu
2017-08-24 22:13:51
Kasihan, kaya ******
Bocah Redoks
2017-01-17 09:25:11
demi sahabat walaupun harus jadi sampah
Ahmadi D Killer
2016-11-09 18:06:36
kali ini gak pake poin
Dalreba
2016-10-02 16:57:05
Aku harap ruki tidak akan jadi budak
ThE LaSt EnD
2016-08-09 22:52:52
eh, kok langsung makan? itu sisa atau memang sdah dsediakn? jd gak bayar atau pake poin? next chapter mungkin.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-09 09:28:55
no coment, just next reading
Fujioka nagisa
2016-07-08 21:18:41
Apa yg salah dari itu?
Akane Hagiwara
2016-06-29 06:25:25
kata terakhir ruki mencengangkan '-'
GO KILL
2016-06-19 20:56:00
*pingu
Rita En
2016-03-19 10:10:07
Hm2 ngenes pisan nyah,, lanjt baelah
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook