VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Sekolah/Neraka Chapter 16

2015-11-15 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
371 views | 29 komentar | nilai: 8.33 (3 user)

"Ru-Ruki... Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ayane yang sangat khawatir.

"Ahhh..." jawab Ruki seadanya karena tubuhnya yang sangat lemas.

"Ruki!!!!" teriak Ayane sambil mencoba mengoyang goyangkan tubuh Ruki.

"A-ayane..." kata Ruki terbata.

"Ba.. Bagai mana Ruki, aku sangat khawatir padamu, apa kamu baik-baik saja, bagai mana ini?" panik Ayane.

Ruki kemudian berusaha bangkit.

"A.. A. Yane yang le.. Bih penting, tolong bantu aku ke tempat sepi, di sini terlalu ramai, jangan sampai perbuatanku barusan diketahui o.. Orang." kata Ruki sambil terbata.


Sekolah/Neraka Chapter 16 - Percaya
Penulis : Whiti Intheforest

"Ta.. Tapi tubuhmu.." kata Ayane mencoba mencegah.

"Sudahlah.. Ini hanya listrik, tapi sengatannya benar-benar luar biasa. Tidak seperti sengatan yang sebelumnya. Untung aku tidak mati." ujar Ruki.

"Apa kamu pernah tersengat listrik ini sebelumnya?" tanya Ayane yang masih panik.

"I-iya..., sudahlah, ayo bergegas pindah." ajak Ruki mencoba bangkit.

Ayane kemudian segera membantu Ruki dan berjalan pelan menjauh dari tempat itu.

"Ahhhh... Ahhhh... Ahhh..." Ruki menghela napas saat sudah menyandarkan dirinya di dinding sebuah lorong tak jauh dari rumah sakit asrama.

"Bagai mana kondisimu sekarang Ruki.. Jangan memaksakan diri." panik Ayane.

"Hehhehhehe, tenang lah Ayane, aku tidak apa apa, seharusnya aku yang mengkhawatirkan kondisimu." kata Ruki sambil tersenyum.

"Jangan bercanda seperti itu Ruki, aku benar-benar sangat khawatir padamu, aku tidak ingin ada orang yang terluka dan mengorbankan dirinya untuk menolongku Ruki, aku tidak mau membuat orang lain menderita karena diriku, aku sudah terlalu banyak menyusahkan orang lain..." kata Ayane mengutarakan isi hatinya.

"Tenanglah Ayane, aku benar-benar tidak apa apa, setelah beristirahat sebentar, tenagaku pasti akan pulih, dan satu lagi..." kata Ruki menghentikan perkataanya.

"Ada apa? Tanya Ayane.

"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri Ayane, kamu tidak perlu merasa bersalah saat orang lain yang membantumu terluka, justru seharusnya kamu merasa senang mengetahui masih ada orang yang mau berkurban untukmu." kata Ruki pelan.

Ayane hanya diam saja mendengar hal itu.

Mendengar kisahmu yang kamu sampaikan tadi, seharusnya kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Ibumu serta adikmu mau berjuang sekuat tenaga demi dirimu, itu karena mereka benar-benar tulus menyayangimu. Mereka tidak akan berusaha dan berjuang sekuat tenaga jika mereka membencimu. Untuk itu berhenti menyalahkan dirimu, tetap bersyukur apa pun yang menimpamu dan yang pasti... Tetap berjuang untuk membalas jasa mereka." jelas Ruki sambil kembali tersenyum.

Ayane yang mendengar itu, mencoba sedikit mengerti.

"Haahh... Baiklah." kata Ayane sambil menghela napas.

Sementara itu di tempat lain, Neo sedang berada di halaman sekolah sambil merenung mengenai cara yang sebaiknya ia tempuh untuk bisa mendapatkan informasi mengenai apa yang harus dilakukan oleh anggota baru Klub Novel dan Sastra pada acara ORGAKU besok.

"Apa yang harus kulakukan?" bingung Neo sambil duduk di sudut taman halaman depan sekolah sambil mengunyah permen lolipop yang di beli dari kakak kelas sebelumnya.

"Aku harus melakukan sesuatu." pikirnya lagi.

"Mungkin sebaiknya aku melihat situasi di stand Klub Novel dan Sastra, namun sedikit berbahaya bila bertemu kak Danish." pikir Neo.

Neo mencoba bangkit dari duduknya namun tiba-tiba tubuhnya terhuyung, tubuhnya jatuh tersungkur.

"A.. Aada apa ini?" panik Neo.

Kepala Neo pusing, pikirannya berputar-putar dan pandangan yang dilihatnya mulai gelap.

"A... Apaa ini, jangan jangan...?" panik Neo sambil melihat lolipop di tangannya yang masih tersisa setengah.

"Apa... Lolipop... Ini...?" panik Neo sambil mencoba menjaga kesadarannya.

"Ga.. Gawat Ruki juga memiliki lilipop ini... Jika dia memakannya..." kata Neo yang sudah tergeletak.

Pandangan Neo benar-benar sudah mulai gelap total, napasnya mulai pelan. Dari kejauhan tampak sesosok bayangan orang yang mendekati Neo.

"Si.. Si.. Apa itu?" ujar Neo tak berdaya hingga sepenuhnya pandangannya tertutup.

Sementara itu kembali ke tempat Ayane dan Ruki.

"Eh, Ruki, ngomong-ngomong siapa itu Yordamchi?" tanya Ayane penasaran.

"Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi sepertinya Yordamchi adalah seseorang yang memiliki poin yang besar. Lihatlah anak tadi ketakutan mendengar nama Yordamchi." pikir Ruki.

"Tapi, kenapa dia memanggilmu Yordamchi?"

"Yaa, aku juga ingin tahu kenapa dia memanggilku begitu." kata Ruki.

"Sudahlah Ayane, sebaiknya kita segera kembali ke kelas, mungkin Neo sudah selesai dengan urusannya." kata Ruki sambil meregangkan kedua lengannya.

"Eh, sekarang? Apa kamu sudah pulih?" tanya Ayane heran.

"Tentu saja. Mau bukti?" kata Ruki sedikit tersenyum.

"Sudah kubilang jangan memaksakan diri, aku panik tahu ketika kamu ambruk tadi..." kesal Ayane.

"Tenang saja." kata Ruki.

Ruki kemudian melompat dari duduknya.

"Happp."

"Tu..., aku sudah kuat kan, hehehehe..." kata Ruki sambil tersenyum.

"Ihhhh, kamu ini, bikin orang khawatir terus..." ucap Ayane yang masih kesal.

"Ayolah, jangan marah seperti itu, aku sudah baik kok... Ya masih sedikit lemas, tapi ini bukan sesuatu yang mengkhawatirkan." kata Ruki mencoba menenangkan Ayane.

"Ya.. Sudah, yang penting jangan memaksakan diri..." kata Ayane akhirnya luluh.

"Heheheh, tenang saja." kata Ruki kembali tersenyum.

Mereka berdua, Ruki dan Ayane, akhirnya memutuskan untuk segera menuju ke kelas mereka untuk menunggu Neo.

"Lalu apa ada pelajaran lagi setelah pengenalan Klub di halaman sekolah selesai?" tanya Ruki saat mereka sedang berjalan mendekati kelas.

"Entahlah, aku juga tidak tahu, tapi... Sepertinya tidak, soalnya pasti murid murid sedang menyibukkan diri untuk acara ORGAKU besok." jawab Ayane.

"Lalu, bagai mana dengan tugasmu?" tanya Ruki.

"Ya, aku akan berusaha mengerjakan semampuku."

"Mau kubantu?" tawar Ruki.

"Memangnya kamu bisa?" Ayane balik bertanya.

"Ehhhh... Soal seni ya..." kata Ruki sambil garuk garuk kepala.

"Huhh..." dengus Ayane sambil masuk ke dalam kelas 1-B.

Ruki dan Ayane kemudian duduk di kursi.

"Hmmmm... Aku masih ingat soal TTSmu tadi, yang dibaca oleh Neo." ujar Ruki.

"Bentuk beraturan, 9 huruf... Hmmmm..." lanjut Ruki lagi.

"Hayoo, memangnya kamu tahu?" tanya Ayane.

"Bentuk beraturan... Sepertinya... Simetris... Tapi hmmmmm 9 huruf." Ruki mencoba berpikir.

"Teng-tong, tengtong!!" teriak Ayane.

"Apa?" tanya Ruki yang terkejut.

"Waktumu habis... Hahahaha, kamu tidak bisa menjawab..." kata Ayane senang.

"Dasar... Bikin kesal saja." ucap Ruki.

"Kamu mau tahu jawaban yang tepat?" tanya Ayane.

"Apa?"

"Bentuk beraturan, 9 huruf adalah... Jeng jeng jeng... Geometris." jawab Ayane.

"Ooo, iya benar, aku tahu itu." balas Ruki.

"Enak saja, jangan mengaku ngaku."

"Aku beneran tahu kok, kamu saja yang membatasi dengan waktu, pakai teng tong teng tong lagi."

"Dasar malah ngeles."

"Yahh, paling tidak tadi aku sudah berpikir ada metris- metrisnya gitu." kata Ruki.

Mendengar itu, mereka berdua tertawa bersama. Mencoba melepaskan kebahagian sesaat di tengah rumitnya masalah yang menghadang. Di balik tawanya, Ruki senang melihat Ayane yang mulai bisa tertawa lepas, wajahnya sudah sedikit bahagia dibanding saat awal mereka bertemu.

"Sudahlah, biar aku kerjakan tugasku sendiri saja, kamu sebaiknya juga meyelesaikan tugasmu." usul Ayane.

"Yahhh.. Kamu benar, lagi pula aku tidak tahu banyak soal seni. Lebih baik aku juga fokus menyelesaikan tugasku, mungkin ini peluang kita untuk menambah poin." jawab Ruki.

"Ya, kamu benar."

"Tapi kemana, perginya Neo, bukankah ini sudah terlalu lama?" heran Ruki.

"Seharusnya dia sudah kembali ke kelas." kata Ayane.

"Aku lupa bilang seharusnya dia hanya perlu bertanya pada anak yang mendaftar ke Klub Novel dan Sastra soal ORGAKU besok, aku khawatir jika dia kembali ke stand, dia malah mendapat masalah dengan kak Danish." kata Ruki yang mulai khawatir.

"Seharusnya Neo tidak sebodoh itu dengan bertindak ceroboh." kata Ayane.

"Ya, semoga dia baik-baik saja, tapi aku harus mencarinya, aku mulai sedikit khawatir..." kata Ruki sambil berdiri dari tempat duduknya.


Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 17

Bocah Redoks
2017-01-17 09:04:03
keadaan makin rumit
Ahmadi D Death
2016-11-09 17:59:45
lanjut..
Kei Takashima
2016-09-27 14:15:13
OoooO
Zunuya Rajaf
2016-08-09 22:03:38
sosok yg mendekati Neo, mungkin gadis itu. bohong saja dsengat, hebat sekali sistem kerja jam itu.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-09 06:02:57
apa sosok Yordamchi akan diungkap?
Akane Hagiwara
2016-06-29 06:01:59
akhirnya ayane bisa ketawa lepas eh gimana nasib neo '-'/)
GO KILL
2016-06-19 20:00:37
nyaa~ '-'
Young G Raigha
2016-06-02 17:37:29
aku yakin lolipop yang di beli neo dan ruki diberi sesuatu bukan kadaluarsa dan juga bukan racun. orang yang memberikan racun pasti ingin membunuhnya dari jarak jauh bukan mendekatinya.walaupun bukan
Rinularo
2016-03-19 09:37:10
Makin penasaran,, lanjut
gIN taka
2016-03-13 22:58:27
Ruki rela berkurban tuk ayane-chan
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook