VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 15

2015-11-09 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
436 views | 30 komentar | nilai: 8.67 (3 user)

Neo kemudian bergegas meninggalkan kelas 1-B.

"Sebaiknya kita juga segera pergi Ayane." ajak Ruki.

"Apa kita mau mengunjungi fasilitas kesehatan itu?" tanya Ayane.

"Tentu saja, kita harus memastikan, syarat apa yang dibutuhkan untuk bisa mendapat fasiilitas itu." balas Ruki.

"Hmmmm... Baiklah... Tapi penjaganya sedikit menyeramkan, Ruki." kata Ayane khawatir.

"Tenang saja." kata Ruki mencoba menenangkan.

"Kalau begitu ayo." ajak Ayane keluar dari ruangan kelas.

"Tapi sebelum itu, ada baiknya kita mengecek kamar mandi dulu, aku sedikit penasaran." ujar Ruki.

"Baiklah."


Sekolah/Neraka Chapter 15 - Rumah Sakit Asrama
Penulis : Whiti Intheforest

Mereka berdua kemudian keluar dari kelas itu dan mencoba mencari di mana kamar mandi terdekat yang ada di sekitar kelas mereka.

"Di mana ya, kamar mandinya?" bingung Ayane.

Mereka terus berjalan hingga menemukan sesuatu yang tampak seperti kamar mandi.

"Apa ini?" tanya Ayane bingung.

"Se-sepertinya ini kamar mandinya, lihatlah... Ada tanda laki-laki dan perempuan." jawab Ruki.

"Tapi, pintunya saja semegah pintu ruang kelas kita." kata Ayane sedikit kagum.

"Yahhhh... Hmmmm... Mau mencoba membukanya." tanya Ruki menawarkan.

"Duh... Kamu saja Ruki." jawab Ayane takut.

Ruki kemudian melangkah mendekati pintu kamar madi itu dan mencoba membuka pintunya.

"Cklekk."

"Ahhh..." kaget Ayane.

"Terkunci." kata Ruki.

"Yahh.. Kukira itu tadi suara pintu yang terbuka."

Ruki kemudian mencoba membuka pintu kamar mandi perempuan yang ada di sebelahnya, namun sayang, hasilnya tetap terkunci.

"Sepertinya benar bahwa kamar mandi di sini terkunci." kata Ruki.

"Iya, aku jadi sangat kasihan membayangkan bagai mana paniknya teman kita tadi yang harus pipis di celana." kata Ayane perihatin.

"Lalu... Bagai mana caranya supaya kita bisa masuk?" ujar Ruki sambil berpikir.

"Sepertinya pakai poin juga... Sama seperti di rumah sakit asrama."

"Iya, tapi berapa minimal poin yang kita butuhkan untuk bisa menggunakan kamar mandi." kata Ruki sambil memegang erat kedua tangannya.

"Hmmm..." bingung Ayane mencoba berpikir.

"Sepertinya kita tidak bisa mendapatkan petunjuk di sini. Tidak ada apa pun yang tertulis di sini dan pintu benar-benar terkunci." pasrah Ruki.

"Kalau begitu mau menunggu orang yang bisa masuk ke dalam sini?" tanya Ayane.

"Sebaiknya nanti saja, lebih baik kita bergegas menuju rumah sakit/fasilitas kesehatan itu dahulu, aku sangat khawatir dengan kesehatanmu." balas Ruki.

Ayane kemudian hanya mengangguk setuju. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk segera berjalan ke kompleks asrama.

"Apa kamu tidak apa apa dengan udara luar seperti ini Ayane?" tanya Ruki saat mereka sudah keluar dari gedung sekolah dan berada di halaman belakang sekolah.

"Tenang saja, aku sudah pakai Syal kok, udara di musim semi seperti saat ini tidak terlalu kencang." jawab Ayane sambil memamerkan syal birunya.

Mereka berdua berjalan sambil melihat halaman belakang sekolah yang sangat indah. Memandangi jalanan yang penuh dengan batu pualam ataupun sekedar memandangi fasilitas olahraga yang tak berhenti mengundang decak kagum. Namun, Ayane memandang Ruki yang di sebelahnya tampak gelisah dari tadi semenjak keluar dari gedung sekolah.

"Ada apa Ruki, kamu kok celingak celinguk seperti itu? Tanya Ayane yang merasa heran.

"Eh.. Tidak apa apa." jawab Ruki yang kaget.

Namun Ruki yang masih celingak celinguk seperti itu terus membuat Ayane penasaran.

"Ada apa sih Ruki? Kamu kok seperti itu? Apa kamu masih terkagum kagum dengan mewahnya fasilitas yang ada? Tanya Ayane lagi.

"Eh-eh tidak kok tidak ada apa apa."

Namun jawaban menggantung Ruki membuat Ayane malah semakin ingin tahu.

Ayane kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Ruki.

"Apa jangan- jangan kita sedang diawasi?" tanyanya dengan suara berat.

"Waaaaaaaaaa...!!!!" kaget Ruki sampai terjatuh akibat wajah Ayane yang terlalu dekat.

"Duhhh... Kamu ini Ayane... Bikin kaget saja." ujar Ruki sedikit kesal.

"Makanya di jawab ada apa?" tanya Ayane yang sekarang ikut kesal.

"Sudah aku bilang tidak ada apa apa."

Kerena malas menaggapi akhirnya mereka melanjutkan jalan mereka. Hingga beberpa saat kemudian Ruki terlihat tersenyum.

"Wa... Kenapa Ruki tersenyum, sebenarnya apa sih yang dari tadi dia pikirkan." bingung Ayane dalam hati.

Namun karena enggan membuat suasana berubah, Ayane segera melupakan hal itu. Ia tidak ingin membuat masalah dengan orang yang akan menolong dan membantu dirinya. Mereka kemudian membuka pintu gerbang asrama yang berwarna perak itu dan segera masuk ke dalam kompleks asrama.

"Lalu di mana fasilitas kesehatan itu Ayane?" tanya Ruki setelah melewati gerbang besar itu.

"Ada di sebelah sana, tidak jauh kok... Ayo ikuti aku." katanya sambil melangkah.

Ruki kemudian mengikuti langkah Ayane hingga Ayane berhenti di sebuah gedung yang cukup besar.

"Waaaa... Apa ini tempatnya Ayane?" kata Ruki takjub sambil memandang gedung yang ada di hadapannya.

"Iya." jawab Ayane singkat.

"Jadi ini fasilitas kesehatannya... Menajubkan." kata Ruki.

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam fasilitas kesehatan itu.

Ruki memasukkan tangannya ke dalam saku celananya agar poin di jam tangannya tidak terlihat. Mereka berdua kemudian melangkah menuju ke resepsionis yang ada di depan mereka. Tampak beberapa orang yang ada di situ memandangi Ruki dan Ayane dengan wajah sinis.

"Hmm... Jadi kamu kembali lagi ke sini?" tanya seorang siswa yang berada di meja resepsionis itu mengenali wajah Ayane.

Ayane hanya diam saja dengan wajah yang sedikit takut.

"Ternyata kamu tidak kapok juga ke sini." katanya lagi dengan wajah meremehkan.

Namun, beberapa detik kemudian ia tersadar mengenai keberadaan Ruki.

"Ohhh.. Jadi begini caramu.." kata Anak itu lagi.

"Jadi kamu bersama Yordamchi sekarang?" tanya Anak itu lagi.

Ayane dan Ruki tampak bingung dengan perkataan anak itu barusan.

"Haah.. Yordamchi siapa itu?" bingung Ruki dalam pikirannya.

Ruki ingin bertanya siapa itu Yordamchi namun dia mencoba sedikit nekat dan mencoba sesuatu.

"Yahhh, Aku adalah Yordamchi." kata Ruki percaya diri walaupun tidak tahu siapa itu Yordamchi, tapi ia merasa instingnya kali ini dapat membantunya.

"Ohhh... Benarkah kalau begitu kenapa kamu menyembunyikan poinmu?" tanya anak penjaga resepsionis itu dengan lantang.

Ruki sedikit kaget dengan pertanyaan itu, ia kemudian mencoba berpikir cepat. Memaksa otaknya utuk berputar hebat dan menyelesaikan masalah itu.

"Siapa Yordamchi? Kenapa anak ini memanggilku Yordamchi? Apakah Yordamchi ini berpoin tinggi?" pikir Ruki panik.

"Apa kamu bohong padaku?" tanya anak itu kembali sedikit brteriak.

"Heheheheheheh." tawa Ruki tiba-tiba.

"Kamu lucu sekali." lanjut Ruki lagi.

"Apa kamu bilang, apa kamu mengejekku?" katanya berubah marah.

"DIAMMMMM...!!!" teriak Ruki tiba-tiba.

Ayane, anak penjaga resepsionis itu serta Anak lain yang berada di ruangan itu tampak terkejut.

"Apa kamu berani melawanku." tanya Ruki dengan nada tinggi.

Melihat Ruki yang berubah menjadi marah sedikit menyiutkan nyali anak itu.

"Jadi kamu benar-benar Yordamchi?" tanya anak itu pelan.

"Tentu saja." jawab Ruki masih dengan suara tinggi.

"Ma... Ma.. Mafkan aku kalau begitu tolong jangan sengat dengan listrik..." katanya berubah memelas.

"Ka.. Kalian boleh masuk jika poin ka.. Kalian minimal 100" kata anak itu ketakutan.

"Silahkan lewati pemeriksaan di ruang selanjutnya." kata anak itu lagi.

Ruki yang sudah mendapat informasi yang diinginkan segera cepat mengakhiri sandiwara ini.

"Aku sudah malas dengan atmosfir di sini, biarkan saja dia dengan orang lain." kata Ruki sambil melangkah keluar dari tempat itu.

Ayane yang dari tadi hanya tercengang kemudian mengikuti Ruki keluar.

Namun, setelah berjalan agak jauh dari tempat itu, sebuah hal mengerikan terjadi.

"Brukkkkkk...!!!!" tiba-tiba Ruki jatuh tersungkur.

"Rukiiiiii!!!" teriak Ayane.

"Ada apa Ruki? Apa yang terjadi padamu." tanya Ayane yang panik.

"Hehhehehe, tentu saja ini akibatnya... Inilah akibatnya jika aku menentang anak berpoin lebih tinggi daripada aku. Tentu saja aku yang mendapat sengatan listrik itu. Untung dari tadi aku bisa menahannya dan tidak tersungkur di depannya. Sandiwara ini sukses Ayane. Walau pun entah bagai mana aku tidak bisa membohongi sistem listrik ini yang entah asalnya dari mana.

"Jadi dari tadi!!" teriak Ayane khawatir.

"Hehehehe... Tenang saja Ayane, yang penting misi kita sukses dan mendapat informasi. Yang bisa masuk dan mendapat fasilitas kesehatan adalah bila poinmu 100... Heheheheh..." jawab Ruki yang kemudian tergeletak lemas.


Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 16

Aerosmith
2017-05-29 16:15:02
Wah.. Tipikal pria sejati.
Bocah Redoks
2017-01-17 08:57:35
sok keren sich
Minke Opoli
2016-11-09 17:57:23
siapa yordamci ?
Dalreba
2016-10-02 10:24:02
Ternyata berbohong juga tersengat listrik
Kei Takashima
2016-09-25 19:15:54
komen
ThE LaSt EnD
2016-08-09 21:54:02
cara yg cerdas disaat trpojok. tpi brhsi.. Ruki mendpat kesimpulan baru lg.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-09 05:55:10
ruki hebat bisa menahan sengatan listrik, meskipun untuk sesaat saja
Al Onepc
2016-07-08 20:55:17
Bnar" Ruki ini,gx tau apa itu yordamchi tpi........
Fujioka nagisa
2016-07-08 20:31:05
Nyahaha.. Greget ye bentaknya XD
Akane Hagiwara
2016-06-29 05:50:39
huwaa...ruki keren kalo marah xD anak tadi langsung ketakutan :'v 100 poin '-'
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook