VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 12

2015-10-25 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
454 views | 32 komentar | nilai: 9 (6 user)

"Sekarang bagaimana?" tanya Neo setelah menghabiskan takoyaki panas dan soda dingin miliknya.

"Bagai mana kalau kita berkeliling dahulu Neo." ajak Ruki.

"Entahlah Ruki, aku sudah tidak mempunyai minat untuk itu."

"Kita bisa bemain permainan tradisional di sini, mau menangkap ikan mas atau permainan melempar bola, atau mau membeli permen kapas." kata Ruki menawarkan.

"Aku tidak mau Ruki." jawab Neo pedek.

"Kalau begitu bagai mana kalau kita melihat stand club lain saja." kata Ruki lagi.


Sekolah/Neraka Chapter 12 - Kejutan Lagi
Penulis : Whiti Intheforest

Namun Neo kembali menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak setuju. Ruki menyadari bahwa Neo masih marah dan dengan sikap yang ia berikan padanya. Ia jadi merasa bersalah. Ruki pun kemudian duduk di samping Neo.

"Neo, maafkan aku." kata Ruki pelan.

Neo hanya diam saja dan mengusap usap kepalanya.

"Aku tahu mungkin sikapku tadi sedikit berlebihan dan membuatmu kaget atau mungkin sangat ketakutan, jadi maafkan aku."

"Jika kamu menganggap aku bersalah tolong maafkan aku, tapi jangan bersikap pasrah seperti ini terus Neo." kata Ruki mencoba merubah suasana.

"Aku tahu mungkin caraku sedikit berlebihan dan beresiko, namun tetap percaya padaku Neo, aku yakin dengan bantuanmu, kita berdua akan bisa melewati ini. Jadi ayolah semangat lagi, beberapa menit yang lalu kamu bilang akan semangat apapaun resikonya demi mengambil barang berhargamu yang diambil." kata Ruki.

"Neo, tetaplah percaya dan semangat, jika kita sudah pasrah di hari pertama kita sekolah, maka kehidupan 3 tahun kita akan terasa berat. Oleh karena itu tetap jagalah api semangat yang ada, sebesar apa pun resikonya." kata Ruki mencoba memberi semangat.

Neo menatap Ruki Sejenak.

"Ayolah jangan kusam seperti itu, kita tentunya tidak ingin menjadi tahanan yang di tembak mati kan." canda Ruki.

Neo kemudian sedikit tersenyum.

"Yahh, mungkin kamu ada benarnya Ruki, lagipula ini adalah ujian bagiku apakah aku bisa benar-benar mewujudkan tekad yang kukatakan." kata Neo mencoba semangat.

"Yaa, tetap semangat, jalani dan pikirkan belakangan saja resikonya, yang penting terus berjuang." mantap Ruki lagi.

"Baiklah." kata Neo yang mulai semangat.

"Jadi mau kemana kita sekarang." tanya Ruki.

"Ke kelas dahulu saja Ruki, atmosfir di sini tidak terlalu sehat buatku." balas Neo.

"Ok."

Mereka berdua akhirnya meninggalkan halaman sekolah dengan status resmi sebagai anggota club Novel dan Sastra. Satu perseteruan pertama terjadi di mana Ruki menyindir kakak kelas pengambil game boy Neo dengan poin 543 yang ternyata satu club dengan mereka. Halaman sekolah itu masih meninggalkan keceriaan semu di balik cekaman dan intimidasi yang akan datang di kemudian hari. Apakah kiranya yang mungkin bisa terjadi selanjutnya di tempat ini?

"Apa yang mau kita lakukan di kelas." tanya Ruki setelah mereka berjalan mendekati kelas.

"Mungkin kita bisa mempelajari lebih dalam mengenai buku peraturannya." usul Neo.

Mereka berdua masuk ke dalam kelas. Namun kondisi kelas hanya terisi bebarapa siswa saja.

"Masih sepi di sini, mungkin mereka masih asik di halaman." ujar Neo.

"Sepertinya begitu." balas Ruki.

Ruki dan Neo lalu duduk di kursi mereka masing masing, namun tiba-tiba seorang gadis menghampiri Ruki.

"Ha-halo." katanya lembut.

Neo yang berada di depan Ruki kemudian menoleh setelah mendengar suara itu.

"Ca-cantik sekali gadis ini." kaget Neo sambil mengusap-usap kacamatanya untuk memastikan pandangan di depannya benar.

"Rambutnya panjang berwarna hitam, kulitya putih dan bersih, ia memakai syal berwana biru yang indah di lehernya, be-benar cantik." pikir Neo lagi.

"Oh, kamu kan..." jawab Ruki menimpali gadis itu.

"Tu.. Tunggu dulu." potong Neo.

"Ada apa?" tanya Ruki.

"Ja-jadi kamu mengenal gadis cantik ini?" kata Neo membisikkan kalimat itu pada Ruki.

"Ya, ampun." balas Ruki.

"Kamu yang waktu itu obat asmamu dihancurkan teman-teman Zeriff kan?" tanya Ruki memastikan.

"Obat asma?" bingung Neo dalam pikirannya.

"Iya, aku yang waktu itu." jawab gadis itu.

"Per-perkenalkan namaku Ayane Misaki, aku ke sini mau berterima kasih padamu karena sudah berusaha menolongku waktu itu, sekali lagi terima kasih." kata gadis itu sambil menundukkan kepala.

"A-aku hanya spontan saja waktu itu, tidak perlu berterima kasih." kata Ruki.

"Na-namaku Ruki Daminte, bisa dipanggil Ruki senang bertemu denganmu." kata Ruki lagi.

"Eh, iya sama sama, panggil saja aku Ayane." kata gadis itu.

"Dan ini temanku..." kata Ruki mencoba mengenalkan gadis itu pada Neo.

"Dia Neo kan?" kata Ayane.

"Eh, kamu tahu namaku." kaget Neo.

"Bukannya semua murid di kelas ini tahu namamu, kamu kan tadi yang maju dan bisa mengerjakan soal matematika dari Bu Furukawa di papan tulis." ujar Ayane.

"Hhehheheheh, benar." jawab Neo tersipu karena senang dipuji.

"Dasar Neo, sepertinya dia sudah kembali ceria." pikir Ruki.

"Jadi kamu, sekelas dengan kami ya, mohon bantuannya ya." kata Neo tersenyum.

"Iya sama sama." balas gadis itu sambil tersenyum pula.

Tampak wajah Neo yang tersipu melihat balasan itu.

Namun Neo melihat wajah gadis itu yang sedikit pucat.

"Apa kamu baik-baik saja kamu terlihat sedikit pucat?" tanya Neo.

"Itulah yangku khawatirkan, bagai mana sekarang kondisimu Ayane, bagai mana dengan asmamu, bagai mana dengan obatnya." potong Ruki yang tampak khawatir.

"A-aku tidak tahu." pasrah Ayane.

"Ruki sebenarnya ada apa?" bingung Neo.

"Saat di depan Asrama Stella tadi pagi, teman teman Zeriff akan menghancurkan obat asma yang menjadi persediaanya, aku mencoba mencegah agar obat itu tidak dihancurkan namun usahaku sia-sia, jadi sekarang aku khawatir dengan kondisi Ayane." kata Ruki menerangkan.

"Jadi maksudmu Ayane tidak punya obat sementara dia menderita asma." panik Neo.

"Iya, seperti itu kan Ayane?" kata Ruki mencoba meneruskan.

"Hanya ini yang tersisa." jawab Ayane sambil mengeluarkan inhaler atau obat semprot asmanya.

"Bukankah ini obat yang disemprotkan saat asma kambuh." tanya Ruki.

"Iya, ini untuk meredakan sesak dengan segera karena obat yang disemprotkan akan bekerja pada bronkus atau saluran pernapasan yang tersumbat atau menyempit. Namun aku hanya punya satu ini karena tersimpan di saku bajuku sehingga tidak diambil teman teman kak Zeriff. Sementara obat yang dihancurkan itu adalah obat tablet yang menjadi terapi pengobatan jangka panjangku." ujar Ayane pelan.

"Inhaler ini mungkin akan habis 10 hari lagi, dan aku juga sudah tidak punya obat terapi lagi." katanya memelas.

"Ga-gawat berarti, inhaler habis dan kamu tidak punya obat tablet lagi?" panik Neo.

"Sebenarnya yang dihancurkan itu juga hanya akan habis paling tidak 1 atau 2 bulan."

"Kenapa kamu tidak membawa persediaan untuk 3 tahun? Kita kan tidak bisa keluar dari sini selama 3 tahun." potong Ruki.

"Apa kau bodoh Ruki? Obat kan ada kadaluarsanya." jawab Neo.

"Eh? Hehehehe." senyum Ruki.

"Kalau begitu lebih baik ke UKS saja, mungkin di sana ada obat asma sementara yang bisa digunakan." usul Neo.

Namun Ayane hanya menggelengkan kepala.

"Kenapa? Apa tidak ada obat asma?" tanya Neo lagi.

Ayane kembali menggelengkan kepala sambil menahan tangis.

"Ada apa Ayane?" bingung Neo.

"Jangan- jangan..." Potong Ruki.

"Ada apa Ruki?"

"Apa kamu ingat tadi teman kita yang ingin ke kamar mandi namun terkunci, sehingga harus buang air kecil di celana?" tanya Ruki tajam.

"Tentu saja kita semua tahu." jawab Neo bingung.

"Hmmm..."

"Ada apa Ruki?"

"Hmmmm... Jika dugaanku tepat maka... Kamu tidak akan bisa mendapatkan atau menggunakan fasilitas di sekolah ini semisal kamar mandi atau UKS jika belum mencapai poin tertentu." ujar Ruki.

"Be... Benarkah itu..?" tanya Neo.

Ruki dan Neo kemudian memandangi Ayane dan menunggu jawabannya.

Ayane yang syok berusaha menahan air matanya.

"I... Iya."

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 13

Aerosmith
2017-05-29 15:22:33
Berarti, beberapa fasilitas sekolah seperti kamar mandi atau ruang UKS hanya bisa di gunakan 'senior' yang berpoin tinggi dong?
Jibakute
2017-03-24 11:51:00
ni cerita detil amet
Bocah Redoks
2017-01-17 08:40:02
om whiti memang mengesankan. ceritanya bikin tambah penasaran.
BeeZero
2017-01-05 16:34:23
smpai chapter ini,spti mmbca serial detektif,,pnasaran dn trus pnasaran,,,ok ok
Ahmadi D Killer
2016-11-09 17:50:29
poin, poin dan poin
Dalreba
2016-10-02 10:08:18
Semuanya serba poin
Kei Takashima
2016-09-25 18:21:46
Hmmhhh
ThE LaSt EnD
2016-08-09 20:47:42
sampai fasilitas sja mengunakan poin... ilmuan jenius yg bsa membuat peralatan poin itu.. pihak sekolah, sdah menentukn smuanya.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-09 05:22:07
semuanya ditentukan dengan poin, eh jadi apa sebenarnya rencana ruki?
Fujioka nagisa
2016-07-08 20:04:21
Poin memang merepotkan
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook