VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Sekolah/Neraka Chapter 11

2015-10-20 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
447 views | 31 komentar | nilai: 8.67 (6 user)

Semua orang yang berada di sekitar stand club Novel dan Sastra benar-benar kaget luar biasa. Mereka semua diam tak berkutik. Suasana kemudian menjadi hening seolah suara mereka tercekat.

Danish memundurkan sedikit langkahnya dari hadapan Ruki.

Sementara Ruki masih menatap Danish dengan pandangan datar tanpa rasa bersalah.

Pandangan mata orang-orang di situ benar-benar terfokuskan pada Ruki dan Danish. Mereka benar-benar tidak percaya kalimat itu terucap dari murid kelas 1. Pikiran mereka seolah tidak bisa menampung peristiwa yang baru saja terjadi.


Sekolah/Neraka Chapter 11 - Perdebatan Kecil
Penulis : Whiti Intheforest

"Ba-bagai mana mungkin anak itu berani mengucapkan kalimat sindiran seperti itu pada kakak kelasnya, pada senior di clubnya dan pada anak yang jelas lebih tinggi poinnya darinya." pikir murid baru yang ada di situ.

"A-anak ini pasti akan habis oleh Danish." pikir senior di club Novel dan Sastra.

"Ohhh, jadi Ruki namamu ya." kata Danish memecah keheningan.

"Yahh." kata Ruki singkat.

"Apa kamu sadar, apa yang barusan kamu katakan?!!" kata Danish setengah berteriak.

"Yahh." jawab Ruki pendek.

Danish terlihat sangat kesal dengan sikap yang Ruki tunjukkan.

"Jadi game boy ini yang kamu permasalahkan?" tanyanya sambil.

mengeluarkan game boy yang ternyata tersimpan di saku celananya.

"Game boyku." pikir Neo terkejut melihat game boynya.

"Yahh." jawab Ruki masih dengan entengnya.

"Kau benar-benar membuatku kesal, apa yang kau mau dengan benda ini?"

"Tentu saja aku ingin merebutnya kembali, game boy ini milik temanku bukan milikmu." kata Ruki lantang.

"Dasar, tidak tahu diri!!" teriak Danish.

Namun tiba- tiba suara Alice memotong aura panas di antara mereka berdua.

"Ayo, kepada para murid baru, silahkan untuk bergabung dengan Club Novel dan Sastra, atau mau lihat lihat dulu, ayo-ayo silahkan mampir ke stand kami!!" teriaknya dengan nada ceria.

Mata Alice seolah mengisyaratkan Danish untuk mencegah amarahnya.

Sementara Neo yang melihat ketegangan sedang terbelah, segera bangkit dan menarik tangan Ruki.

"Ayo, Ruki kita segera pergi dari sini, kita sudah mendaftar." katanya cepat sambil menarik tangan Ruki menjauh dari Stand Club Novel dan Sastra.

Neo menarik Ruki dan duduk di kursi agak jauh dari stand tadi.

"Ahhh... Ahhh.. Kamu benar-benar bodoh Ruki." kata Neo sambil tersengal akibat kehabisan napas.

"Kenapa kamu membawaku lari ke sini?" tanya Ruki.

"Kenapa? Katamu?!" teriak Neo marah.

"Apa kamu pura pura bodoh, atau memang bodoh Ruki, menantang senior kita di club seperti itu?"

"Itu kulakukan untuk memastikan 2 hal." balas Ruki.

"Memastikan? apa yang ingin kamu pastikan." kata Neo yang masih marah.

"Pertama, seperti yang semua orang lihat, aku mengajak mereka salaman untuk melihat poin yang ada di jam tangan mereka karena sebelumnya jam itu tertutup oleh lengan baju yang panjang."

"Mengetahui poin mereka sangat penting Neo, mengingat kemungkinan mereka adalah pemimpin club Novel dan sastra. Paling tidak kita bisa tahu berapa poin mereka. Tadinya aku berpikir poin mereka berada di kisaran 200-300 tapi ternyata jauh lebih besar dari itu." jelas Ruki.

"Yahh, itulah mengapa aku sangat terkejut melihat poin sebesar itu, namun akhirnya aku kembali terkejut, kamu tahu karena apa? Tentu saja karena kamu mencari masalah dengan kak Danish yang memiliki poin 543" teriak Neo marah sambil mencengkram baju Ruki.

"Kenapa kita harus mencari masalah bahkan sebelum kita mengikuti kegiatan club, aku tahu anak itu yang mengambil game boyku, tapi untuk merebutnya kupikir perlu melakukan dengan cara yang lebih aman!!" teriak Neo marah.

"Tidak ada cara yang lebih aman Neo, cepat atau lambat kita pasti berurusan dengannya, kita jelas akan melawannya dan tidak akan tunduk dengannya, apalagi kita jelas jelas ingin game boymu kembali, aku pikir ini memang langkah yang tepat, bukankah kamu sendiri yang ingin game boymu kembali?"

"Ahhhh, tentu saja, tapi tidak dengan seperti ini." kata Neo panik.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi Ruki."

"Kamu baru saja membangunkan singa dengan poin 543."

"Aku tidak tahu apa yang akan singa itu lakukan kepada kita." kata Neo sambil memegangi kepalanya.

"Tenang saja Neo, kita pasti bisa, lagi pula seperti kataku tadi, langkah ini kulakun untuk memastikan game boymu tetap dalam kondisi baik."

"Apa katamu?!" tanya Neo terperanjat.

"Kamu bilang baik-baik saja, justru setelah kamu menghina kak Danish, dia akan sangat marah, lalu menghancurkan game boyku, dan booom!!! aku tidak mendapatkan game boyku kembali, lalu aku akan terjebak di club bersama dengan dia di tempat yang aku sama sekali tidak bisa bertahan, terima kasih Ruki, terima kasih Ruki, rencanamu luar biasa!!" sindir Neo yang kecewa sambil menggeleng gelengkan kepala.

"Justru ini kulakukan untuk memastikan gameboymu tetap aman Neo." bela Ruki.

"Apa katamu barusan, ohhh." kata Neo yang kecewa dan marah.

"Kamu benar-benar... Aaaah." kata Neo emosi.

"Tenangkan dirimu Neo, biar aku jelaskan." kata Ruki mencoba menenangkan Neo.

"Itu tadi memang rencanaku, selain ingin melihat poin mereka, aku ingin memastikan game boymu masih ada dan baik-baik saja."

"Jadi begini, bila kita tidak berkata atau menyatakan pada kak Danish bahwa kita ingin merebut game boynya di awal seperti sekarang ini, justru akan berbahaya." ujar Ruki mencoba menjelaskan.

Neo mulai sedikit mendengarkan apa yang dikatakan Ruki.

"Jika dari awal aku tidak bilang akan merebutnya, bisa saja ternyata kak Danish sudah membuang game boy itu, itu artinya akan sia-sia perjuangan kita di club ini bila game boynya saja sudah tidak ada bahkan sejak awal masuk club. Ternyata setelah aku menyindirnya akhirnya dia mengeluarkan game boymu yang ada di saku celananya, nah dari peristiwa itu kita tahu bahwa gameboymu masih ada pada kak danish. Lalu yang kedua, jika aku tidak berkata begitu padanya maka bisa saja kak Danish akan membuang game boymu setelah bosan memainkannya." jelas Ruki.

"Kenapa bisa seperti itu, bukannya malah setelah kamu menantang seperti tadi justru dia akan membuang game boyku, karena kesal dengan prilaku mu?" tanya Neo.

Ruki sedikit tersenyum mendengar itu.

"Tidak Neo."

"Tidak, kenapa tidak?" tanya Neo masih sedikit kesal.

"Justru karena aku menentangnya dia akan mendapat sedikit 'mainan baru'" kata Ruki.

"Apa maksudmu?" tanya Neo.

"Jika dia tahu kita akan merebut game boy itu dia pasti akan menjaganya."

"Kenapa?"

"Karena ini akan menguntungkan baginya, kita akan merebutnya oleh karena itu kita akan sering berhadapan dengannya, baginya kita akan dianggap sebagai sapi perah yang akan terus menghasilkan poin baginya."

"Jika dia membuang game boy itu, maka kita tidak punya tujuan lagi untuk mengambil game boy itu, dia akan rugi."

"Dia tidak akan membuang game boymu, percayalah." kata Ruki tersenyum.

"Entahlah, Ruki, Hufft." dengus Neo mencoba menenangkan diri.

"Kita akan dianggap sebagai bayi yang akan berusaha merebut permen yang dibawanya, jika dia tetap membawa permen itu maka dia berpikir dapat mempermainkan kita, jika dia membuang permen itu maka bayi ini tidak punya semangat lagi untuk merebutnya, dia yang akan rugi, percayalah, dia tidak akan membuang permen itu, dia tidak akan membuang game boymu." kata Ruki kembali tersenyum.

"Ahhhh..." pusing Neo sambil mengusap usap kepala dengan kedua tangannya.

Neo mencoba menenangkan diri dan berusaha menahan ketakutan dan kengerian yang akan terjadi. Namun saat Neo tersadar, ia baru menyadari Ruki sudah tidak berada di dekatnya.

"Aduhhh... Kemana lagi perginya Ruki, anak itu memang benar-benar..." kesal Neo.

Namun beberapa menit berselang, Ruki datang dengan wajah terseyum sambil membawa 2 kaleng soda dan 2 takoyaki panas.

"Ini, ambillah." kata Ruki sambil menyodorkan soda dan takoyaki itu.

"Apa ini?" tanya Neo.

"Tentu saja Soda dan Takoyaki hangat, ini akan menyegarkan kepalamu, makanlah." kata Ruki.

"Kamu masih saja tenang Ruki setelah semua ini, kamu tadi beruntung Mbak Alice memotong pertengkaranmu dengan kak Danish." kata Neo sambil mengambil soda dan Takoyaki itu dari tangan Ruki.

Ruki sedikit tersenyum mendengar itu, kemudian berbicara.

"Lihatlah Neo, keadaan di sini, semuanya baik-baik saja tanpa ada pertengkaran dan kericuhan. Kondisi di sini seperti festival, jauh dari kesan mengerikan seperti yang terjadi di depan asrama. Lihatlah, bahkan kak Zeriff yang tadi pagi seperti itu, tidak terlihat memancing masalah di sini. Acara perkenalan club di sini sepertinya di desain menyenangkan dan menjauhkan sementara dari peraturan poin. Itulah mengapa, saat aku memancing masalah dengan kak Danish, mbak Alice kemudian memecah perseteruan kita. Seolah saat ini di kondisikan untuk melupakan sejenak soal peraturan poin.

"Tapi ini hanya kesenangan semu Ruki."

"Ya kamu benar, lihatlah kakak kelas yang terlihat seolah ramah menyambut kehadiran murid baru di clubnya, seolah ada sandiwara semu yang terjadi. Begitupula dengan stand stand permainan serta makanan yang seolah dipersiapkan untuk memberikan kita kebahagian semu di awal sekolah." kata Ruki.

"Kalau aku boleh berumpama, ini seperti seorang tahanan yang diberi makan banyak sebelum dia di tembak mati." kata Neo kesal.

"Hahahahahaha." tawa Ruki.

"Kenapa kamu teryawa."

"Perummpamaanmu lucu Neo, tapi kamu benar, yah seperti itu kurang lebih."

"Yahh." dengus Neo.

"Sudahlah Neo, berhentilah kesal, seperti katamu tadi, ayo kita nikmati dulu makanan yang ada sebelum ditembak mati. Ayo makan takoyaki ini selagi masih hangat." kata Ruki tersenyum.

"Terserah kamu saja, Ruki." kata Neo sambil menusuk takoyaki itu dan memasukkan ke mulutnya.



Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 12

Bocah Redoks
2017-01-17 08:33:10
seperti tahanan yg d puaskan sebelum d tembak mati. sadisnya
Minke Opoli
2016-11-09 17:48:14
makin keren
Kei Takashima
2016-09-25 18:12:57
Begitulahhh
LaZiEsT SiLeNt DiZzY
2016-08-09 19:37:45
Ruki yg brani...eh kau punya permen sbelum q mlanjutkn crita ini?
Aerilyn Shilaexs
2016-08-09 05:14:10
gameboy nya kaya gimana bentuknya? Aku penasaran
Fujioka nagisa
2016-07-08 19:20:03
Entah mengapa, mendadak aq ngerasa udh jd kk kelas yg kejem setelah ngebaca ni chapter ._.)a
GO KILL
2016-06-18 20:49:23
nguing~
IndahL
2016-06-14 17:57:51
Kka senior ramah biar banyak yg masuk ke club mereka wkwkwk trus mungkin saja mereka di bully sepuasnya disana kisah yg menarik kak
Young G Raigha
2016-06-02 13:27:14
pembuat cerita pasti cerdas. dia dapat membuat cerita yang ada rencana yang rumit.
Rinularo
2016-03-19 04:30:40
Takoyaki makanan macam apa,, bagi dong icip2 dikit
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook