VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Sekolah/Neraka Chapter 10

2015-10-15 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
412 views | 28 komentar | nilai: 8.75 (4 user)

"A-apa maksudmu, Neo?" tanya Ruki yang terkejut.

"Orang itu yang mengambil game boyku." tunjuk Neo lagi.

"Game boy yang kamu ceritakan di asrama?" tanya Ruki lagi.

"Tentu saja, dialah yang merebut game boyku, serta menghancurkan gelas dan kaus Bulbasaurku, di-dia juga yang membuang PokeDeckku." kata Neo berapi api.


Sekolah/Neraka Chapter 10 - Club Novel dan Sastra
Penulis : Whiti Intheforest

"Sepertinya anak itu anggota club Novel dan Sastra." ujar Ruki.

"I-iya, benar."

"Kalau begitu, aku daftar dulu Neo." kata Ruki sambil hendak melangkah.

"Tu-tunggu dulu!!" cegah Neo.

"Ada apa Neo, biarkan aku mendaftar sebentar."

"Bukan itu maksudku."

"Lalu apa?" tanya Ruki.

"Aku juga ingin masuk Club Novel dan Sastra." seru Neo.

"Ehhhhhh." kata Ruki kaget.

"Apa yang kamu lakukan, apa kamu yakin?" tanya Ruki ragu.

"Tentu saja, aku harus mengambil Game Boyku yang tersisa." jelas Neo.

"Bukankah katamu, dengan masuk club, ada kesempatan untuk mengalahkannya, dengan begitu aku dapat merebut game boyku kembali." lanjut Neo lagi.

"Hufft." Ruki menghela napas.

"Ada apa Ruki?"

"Makanya tadi aku tanya, apa kamu yakin, maksudku, apa kamu yakin bisa bertahan di club Novel dan sastra Neo?"

"So... Soal itu..."

"Bukannya aku meremehkanmu Neo, aku saja yang hobi dengan tulis menulis masih saja ragu dan khawatir tidak bisa bertahan." jelas Ruki.

"Ta... Tapiii..." keluh Neo.

Ruki kemudian menatap Neo. Ia meletakkan tangannya di bahu Neo.

"Tenang saja Neo, kamu tidak perlu memaksakkan diri, seperti yang pernahku katakan di asrama, aku akan menjadi sahabatmu, oleh karena itu, akan aku rebut game boymu dari anak itu." kata Ruki tersenyum.

"Ta-tapi Ruki." ujar Neo ragu.

"Tenang saja, serahkan padaku." kata Ruki lagi sambil tersenyum.

Ruki melepaskan tangannya dari bahu Neo. Namun tiba-tiba Neo mencengkram tangan Ruki.

"Tidaaakkk!!!" teriak Neo.

"Neo?" kaget Ruki.

"Tidak Ruki, aku tidak bisa lari lagi, aku harus melakukannya sendiri."

"Tapi kamu bisa..." kata Ruki.

"Aku tidak peduli." potong Neo semangat.

"Neo...?"

"Aku tidak peduli Ruki, selama ini aku sudah terlalu banyak menghindar dan menerima kesakitan yang luar biasa. Aku tidak bisa seperti ini terus, aku harus melawan. Aku tidak bisa membiarkan orang yang telah menghancurkan dan merebut hal-hal yang kusayangi begitu saja. Aku tidak boleh lari lagi Ruki. Aku tidak bisa menyerahkannya kepada orang lain, aku ingin melakukannya sendiri Ruki..." kata Neo teguh.

Ruki melihat semangat serta keberanian yang ditunjukkan Neo. Ia seperti mengerti perasaan yang saat ini sedang Neo alami. Ia mengerti tekad Neo.

"Baiklah, jika itu maumu." kata Ruki.

"Terima kasih." jawab Neo.

"Tapi degan satu syarat, kamu harus menarik salah satu kalimatmu barusan."

"Tentang apa itu?" tanya Neo.

"Kita lakukan ini bersama, tidak sendiri seperti katamu." kata Ruki tersenyum sambil mengulurkan tangan.

Neo berbinar ketika mendengar itu.

"Yahh, baiklah." katanya semangat sambil menggenggam uluran tangan Ruki.

Mereka berdua akhirnya berjalan menuju Stand berwarna biru dan bernomer 9 milik club Novel dan Sastra yang ada di hadapan mereka.

Stand itu tidak seramai club renang atau stand-stand club lain yang ada di sekitar situ, namun tetap terlihat beberapa siswa yang cukup antusias mendaftar di club ini.

"Ayo, bagi siapa saja yang ingin mendaftar ke club kami, club Novel dan Sastra, silahkan melihat lihat dulu di stand kami." kata seorang gadis dari club itu ceria.

"Ini adalah beberapa contoh cerpen yang diterbitkan di mading sekolah, club ini langganan lho mengirimkan karya, baik untuk mading ataupun majalah bulanan sekolah." jelasnya ceria dan riang.

"Ayo bergabunglah dengan kami, dan kita jadikan semua orang melihat dan mengakui karyamuuuu." lanjutnya lagi.

Neo dan Ruki mendekati stand berwarna biru itu.

"Apa kalian berminat bergabung dengan kami? apa kalian mau mendaftar? atau kalian ingin melihat lihat dulu?" tanya gadis itu sambil tersenyum kepada mereka berdua.

"Aku mau mendaftar mbak." kata Ruki langsung.

"Oohh, benarkah, baguslah kalau begitu, silahkan isi formulir pendaftaran ini." katanya lagi.

"Lalu, bagai mana denganmu." tanyanya kepada Neo.

Neo masih terlihah sedikit ragu, namun dia tetap memantapkan diri.

"A.. Aaku juj.. Jugga." katanya terbata.

"Baiklah, silahkan isi formulir pendaftaran ini."

Ruki membaca dengan seksama isi formulir yang akan ditulis di situ. Sekarang Ruki menjadi sedikit lebih waspada daripada sebelumnya, mengingat tempat ini adalah neraka. Tidak ada yang tahu apa yang bisa terjadi.

"Sepertinya tidak ada yang aneh dengan lembar pendaftaran ini, hanya berisi nama dan informasi umum, sepertinya yang satu ini aman." pikir Ruki.

Ruki dan Neo kemudian mengisi formulir pendaftaran itu.

Sambil mengisi formulir, Ruki memperhatikan anak yang ditunjuk Neo sebagai seorang perampas Game Boy miliknya.

"Sepertinya dia tidak mengenali Neo." pikir Ruki dalam hati.

"Padahal dia sempat bertatap mata dengan Neo barusan." pikir Ruki lagi.

"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu."

Ruki menutup pena yang digunakannya untuk menulis.

"Ini mbak, formulir pendaftarannya." kata Ruki.

"Terima kasih." jawab gadis itu.

"Ehh, begini mbak, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Ruki.

"Ohh, tentu saja boleh, apa yang ingin kamu tanyakan?" tanyanya ramah.

"Bolehkah aku, berkenalan dengan kakak-kakak semua yang ada di sini?"

Gadis itu sedikit kaget mendengar pertanyaan Ruki.

"Apa di bolehkan berkenalan di stand seperti ini?" tanya Ruki lagi.

Gadis itu kemudian melirik ke arah teman temanya. Mereka seperti memberi isyarat untuk mengiyakan permintaan itu.

"Mungkin mereka sedikit terkejut dengan caraku, tidak ada anak baru yang berani bertanya seperti ini pada kakak kelasnya di club yang baru." pikir Ruki.

"Baiklah." kata Gadis itu singkat.

Ruki mengulurkan tangannya.

"Namaku Ruki Daminte, senang bertemu denganmu mbak." kata Ruki sambil tersenyum.

"Aku Alice." katanya sambil membalas uluran tangan Ruki.

Tepat pada saat Alice membalas uluran tangan Ruki, Neo serta murid-murid baru di situ kaget bukan main, termasuk Ruki juga kaget saat itu. Apa yang membuat mereka kaget? Tentu saja jumlah poin yang tertera di jam tangan Alice yang tersingkap lengan bajunya akibat bersalaman dengan Ruki.

"Bagai mana bisa???" kata Neo tercengang sampai menganga.

"Tidak mungkin." kaget murid baru lainnya yang juga ingin mendaftar club ini.

"756 Poinnnn!!!" tertera jelas di jam tangan ini.

"Be.. Bebesssar sekali." kaget Ruki yang gemetar.

"Ini adalah poin terbesar pertama yang aku lihat, besar sekali." pikirnya.

Ruki benar-benar kaget hingga tidak bisa menutupi getarnya tanggannya saat bersalaman dengan Mbak Alice.

"Aku tetap harus lakukan rencanaku." pikirnya menenangkan diri.

"Senang bertemu denganmu." kata Mbak Alice sambil melepaskan genggamannya.

"Sama-sama." balas Ruki mencoba tersenyum.

Ruki kemudian beralih menuju anak yang tadi di tunjuk Neo.

"Aku harus lakukan ini." pikirnya sedikit gemetar.

"Namaku Ruki Daminte, bisa dipanggil Ruki, senang bertemu denganmu kak." kata Ruki pada anak itu sambil mengulurkan tangan.

"Aku Danish Rodwell, senang bertemu denganmu juga." katanya sambil membalas uluran tangan Ruki.

"543 Poiinnnn." kaget Neo serta Ruki.

"Jadi anak yang mengambil Game Boyku, juga mempunyai poin yang super besar." kata Neo panik.

Danish kemudian hendak menarik salamannya dengan Ruki, namun Ruki malah menggenggam tangan Danish Lebih kuat.

"Apa maksudmu?!" tanyanya sedikit meninggi.

"Ahh, supaya kakak tidak melupakan perkenalan kita." kata Ruki terseyum.

"Apa maksudmu, apa kamu mencoba mengejekku?" tanyanya mulai sedikit emosi.

"Tidak." jawab Ruki mencoba tenang.

"Lalu apa?"

"Aku hanya memastiakan Kak Danish tidak lupa denganku, soalnya... Kakak saja pasti lupa siapa anak yang kakak rebut Game boynya, jika benda penting milik orang lain saja kakak lupa, apalagi hanya perkenalan singkat kita." kata Ruki lantang sambil tersenyum.

Semua orang yang ada di Stand itu seperti tersayat mendengar apa yang di katakan Ruki. Mereka tidak menyangka kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut seorang murid baru.

"Ru... Ru.. Ruki.. Ii a.. Apa yang kamu lakukan, langsung berkata seperti itu di hadapan anak dengan poin 543" Panik Neo setengah mati.


Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 11

Bocah Redoks
2017-01-17 08:25:21
cari mati atau hanya siasat ? jadi penasaran
Ahmadi D Death
2016-11-09 17:46:36
wow tinggi banget poin alice
Dalreba
2016-10-01 19:59:44
Penasaran dgn poin Zerif. Apa dia memiliki poin tertinggi? Atau ada yg poinnya lebih tinggi dari Zerif.
Kei Takashima
2016-09-25 18:05:30
OoO
Zunuya Rajaf
2016-08-09 17:45:01
bisa dceritakan nilai poin tertinggi ktika melakukan sesuatu? misal.. melakukan A, nilai 3. melakukan B., nilai 15 dst. atau next chpter djlaskn.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-07 18:31:57
alice poinnya tinggi banget, bagaimana cara ia mendapatkannya yah. Entahlah sebaiknya kuikuti terus story nya
Islamiah Tri Adinda
2016-07-08 19:06:18
Cra berkenalannya kurang menarik untuk sma yg luar biasa
Al Onepc
2016-07-07 13:44:59
Wow tmbah mngjtkan critannya.. Lanjt trus
Akane Hagiwara
2016-06-23 15:03:39
wuihh greatt ruki >< berani,
GO KILL
2016-06-18 20:39:47
wing~ '-'
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook