VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 9

2015-10-11 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
500 views | 26 komentar | nilai: 8.4 (5 user)

"Sepertinya semua anak memang sedang berada di halaman, Ruki." tanya Neo.

"Yahh, sepi sekali di sini, mereka semua pasti sudah berkumpul di halaman." kata Ruki sambil berjalan menuju lift untuk turun ke halaman.

"Apa kita akan baik-baik saja?" keluh Neo berat.

"Hmm, apa maksudmu?"

"Bukankah tadi pengumuman berkata bahwa semua murid diharuskan berkumpul di halaman sekolah." jelas Neo.

"Iya, Neo, lalu apa yang membuatmu risau?" bingung Ruki.

"Apa kamu sedikit lupa ruki, bukankah mengikuti club di Sekolah ini wajib, itu artinya, para murid baru kelas 1 berkumpul di sana semua, begitu juga para senior kita yang memandu dan menerangkan kegiatan club."

"Itu artinya semua murid akan berkumpul." lanjut Neo lagi.

"Apakah kamu mengkhawatirkan akan terjadi hal mengerikan seperti yang terjadi di depan asrama?" tanya Ruki.

"Tentu saja, sekarang jumlah muridnya lebih banyak, mungkin akan terjadi hal yang besar."

"Yahh, mungkin saja." jawab Ruki pendek.


Sekolah/Neraka Chapter 9 - Halaman Sekolah
Penulis : Whiti Intheforest

Neo yang melihat perilaku Ruki, sedikit sadar.

"Apa Ruki masih memikirkan peristiwa tadi ya, dia kelihatan tidak fokus." pikir Neo.

Mereka berdua hanya diam saja saat berada di dalam lift.

"Biarkan dulu Ruki penuh dengan pikirannya." pikir Neo.

Beberapa saat kemudian mereka keluar dari lift dan segera menuju halaman.

Namun saat itu Ruki seolah sudah kembali dari dunia pikirannya.

"Ahh, maafkan aku Neo, aku hanya sedikit melamun." kata Ruki sambil tersenyum.

"Ohh, ya, tidak apa apa." kata Neo.

"Ya, aku jadi tidak terlalu menanggapi ke khawatiranmu, tapi tenang saja, semuanya akan baik-baik saja." kata Ruki kembali tersenyum.

"He'em." jawab Neo sambil melangkah keluar gedung sekolah.

Mereka berdua merasa kaget dengan keadaan halaman gedung sekolah SMA Hoshi, halaman itu sangat luas terhampar di depan gedung sekolah. Mungkin besarnya kurang lebih sebesar lapangan sepak bola. Di halaman itu tampak ratusan siswa dari kelas 1 hingga kelas tiga ramai riuh berkumpul di halaman itu.

"Woww' kata Neo tercengang.

"Luas sekali ya Neo." kata Ruki tak kalah kagetnya.

Namun perhatian mereka segera beralih dari luasnya halaman ke keadaan halaman itu.

"Bagai mana kamu menggambarkan keadaan di depan kita?" tanya Ruki.

"Seperti Festival." jawab Neo yang kembali tercengang lagi.

Benar, seperti festival. Itulah gambaran yang saat ini terlihat di halaman depan gedung SMA Hoshi itu. Banyak sekali pernak-pernik menghiasi halaman. Mulai dari lampion, hiasan karton maupun balon-balon yang diikatkan di tiang tiang. Di situ banyak stand stand berjubel yang berisi penjelasan dan pendaftaran anggota club. Selain stand club yang sedang menarik minat para murid baru, terdapat pula stand penjual makanan bahkan stand permainan tradisional yang berhadiah pun ada. Benar-benar seperti festival musim panas.

"Ternyata, kamu sedikit meleset Neo." kata Ruki.

"Ahh, keadaaannya memang menyenangkan dan meriah sekali seperti festival, tapii..."

"Yahh, ada tapinya." kata Ruki menimpali.

Mereka berdua masuk ke dalam untuk melihat lebih dekat stand-stand yang berdiri di sana.

"Ya, tapi... Keadaan di sini memiliki aura yang mencekam." ujar Neo rilih.

Keadanan dan kondisi di halaman itu memang Riuh dan ramai. Namun keberadaan kakak kelas senior yang turut berada di tempat itu seperti mengintimidasi para murid baru. Belum lagi di mana keadaan anak-anak kelas 2 dan 3 yang memiliki poin berbeda beda di jam tangan yang mereka kenakan. Tentunya hal ini membuat murid baru cemas. Keadaan ini mungkin mirip bila digambarkan dengan keadaan di mana saat seseoarang berada di dalam kandang singa di mana kandang tersebut dihiasi dengan pita ulang tahun.

"Jadi bagai mana sekarang Neo? Tanya Ruki.

"Entahlah, aku tidak punya ide, sebaiknya kamu dulu saja yang mendaftar Ruki, kamu kan sudah jelas mau daftar Club Novel dan sastra." usul Neo.

"Yahh, kamu benar, sebaiknya kita lihat denah stand yang ada di tengah lapangan dahulu, biar lebih jelas." ujar Ruki memutuskan.

"Ya baiklah."

Mereka berdua berjalan menuju papan denah stand yang dimaksud. Namun tiba-tiba mereka mendengar sedikit keributan di salah satu Stand.

"Itu kak Zeriff." kata anak anak yang berkerumun.

Salah satu stand terlihat ramai dibandingkan dengan stand yang lain. Stand yang paling ramai itu, tidak salah lagi adalah stand club renang. Apa yang menjadi penyebabnya? Tentu saja Zeriff sang ketua club renang yang membuat heboh di asrama.

Saat itu, Zeriff berdiri dengan gagahnya di atas podium di depan stand club renang yang cukup besar dibanding dengan stand stand yang lain. Zerif berdiri tegak dengan baju seragam yang terbuka, oleh karena itu terlihat jelas perut atletisnya. Selain itu celana renang panjang yang ketat serta kacamata renang yang menempel di kepalanya memberikan kesan yang sangat kuat sebagai ketua dari club renang yang diketuainya.

"Bagi para murid baru yang ingin menjadi anggota dari club renang, silahkan mendaftarkan diri di stand kami." katanya lantang.

Murid baru yang ada di sekitar situ pun kemudian berbisik bisik.

"Bagaimana, kamu mau ikut club renang?"

"Tapi sepertinya mengerikan." bisik murid lainnya.

Zeriff mencoba menyerukan seruannya kembali.

"Jika ada di antara kalian yang merasa tidak suka denganku, atau merasa marah denganku, ini kesempatan yang bagus untuk melawanku. Bergabunglah dengan club renang dan kalahkan lah aku, hahahahaha." tawanya penuh semangat.

Neo dan Ruki hanya memandang dari kejauhan peristiwa itu.

"Tidak, ada yang perlu kita lakukan di sini Ruki." kata Neo.

"Kamu tidak mau gabung dengan club renang nih." tanya Ruki.

"Aku tidak sanggup bila harus bersama orang seperti itu." jawab Neo.

"Tapi, aku yakin tetap akan banyak anak yang akan mengikuti club renang?

"Kenapa bisa begitu?" tanya Neo penasaran.

"Bergabung dengan club renang memiliki keuntungan dan kerugian."

"Apa keuntingan dan kerugiannya?"

"Kerugiannya dulu, jika kamu bergabung dengan club renang dan.

tidak mampu bertahan, maka kamu akan tersiksa luar biasa karena jatuh di tangan orang seperti zeriff dan teman temannya. Lalu keuntungannya adalah, jika kamu bertahan dan mampu bersaing dengan Zeriff maka poinmu akan naik secara cepat."

"Yah kamu benar, semakin tinggi resiko maka keuntungan juga semakin besar."

"Ya, tapi kamu tidak harus kuat dan menang melawan Zeriff untuk bertahan." kata Ruki tersenyum.

"Hah, bagai mana caranya?" tanya Neo Penasaran.

"Caranya Dengan menjadi anak buahnya ataupun menjadi anjing bagi Zeriff, seorang anjing yang akan selalu menuruti apa yang dikatakan tuannya, yah, tuan Zeriff." kata Ruki tajam.

"Pi-pikiranmu liar sekali." kata Neo kaget.

"Ya, jangan kaget Neo, hal seperti ini pasti akan banyak terjadi. Jika kamu tidak bisa menaklukkan musuh cara paling mudah adalah dengan menjadi budaknya."

"I-iya."

"Mungkin itu yang saat ini coba di pikirkan para murid baru." ujar Ruki mengutarakan pemikirannya.

"Ya pikiranmu ada benarnya juga."

"Sudah-sudah sebaiknya kita segera melihat denah saja." putus Neo.

Mereka berdua akhirnya menuju ke tengah halaman,

Namun, tiba-tiba seorang gadis menghampiri mereka. Wajahnya pucat. Tangannya gemetaran sambil menggenggam beberapa lolipop di tangannya.

"Kalian berdua." panggilnya pelan dengan gemetaran.

"Ada apa?" tanya Neo kaget.

"Kumohon, beli permen ini ya dik, mbak mohon dengan sangat." katanya dengan wajah memelas dan pucat.

"Kumohon, belilah, tolonglah mbak." katanya memelas.

Gadis itu tampaknya adalah anak kelas 2.

Ruki melihat poin di jam tangan gadis itu yang hanya memiliki poin 20.

"Kecil sekali." pikir Ruki.

"Untuk anak kelas 2, poinnya sangat kecil, apa yang terjadi padanya?" pikir Ruki lagi.

"Kumohon belilah, hanya 100 yen." katanya semakin memelas sambil menahan tangis.

"Apa yang terjadi dengan mbak ini?" bingung Neo.

Namun Neo sontak teringat kata kata yang barusan dikatakan Ruki. Jika kamu tidak bisa bertahan di club maka kamu akan tersiksa luar biasa.

"Apa mbak ini juga...?" pikir Neo.

"Kumohon, hanya 200 yen untuk kalian berdua, itu akan menyelamatkan hidupku." isaknya sambil meneteskan sedikit air mata yang mulai menetes.

"Perlakuan apa yang diterimanya hingga bisa seperti ini." panik Neo yang juga merasa kasihan.

"I-ini, uangnya ambilah." kata Neo segera mengeluarkan uang.

"Semoga ini bisa membantumu, mbak." kata Neo.

Ruki juga memberikan gadis itu uang.

"Ini, semoga mbak baik-baik saja." kata Ruki turut prihatin sambil menerima lolipop.

Gadis itu sangat berterima kasih pada mereka berdua dan segera pergi berlalu.

"Mengerikan sekali, apa yang kira kira terjadi padanya?" tanya Neo pada Ruki.

"Entahlah, yang jelas peristiwa seperti ini akan sering terjadi, dan mungkin akan menimpa kita." kata Ruki.

"Yahhhh." kata Neo cemas sambil menghembusakan napas dan menenagkan diri.

Mereka berdua segera menuju papan denah Stand dan melihat sekilas.

"Stand Club Novel dan sastra bernomer 9" kata Ruki.

"Ya, itu yang berwarna biru." Tunjuk Neo kepada tenda stand yang tidak terlalu jauh dari situ.

Mereka berdua segera melangkahkan kaki menuju tempat itu.

"Standnya tidak seramai club renang ya?" tanya Neo.

"Tentu saja, lagi pula novel bukanlah club yang populer."

Mereka berjalan mendekati stand itu, namun ketika akan sampai, tiba-tiba Neo berteriak.

"O-orang itu!!" teriak Neo sambil menunjuk anak di stand itu.

"Orang itu kenapa?" tanya Ruki yang kaget dan bingung.

"O... Orang ituuu." gagapnya lagi.

"Iya, kenapa Neo?" tanya Ruki lagi.

"O-orang i-itu yang mengambil Game Boyku!!" teriak Neo.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 10

Yukki Amatsu
2017-08-24 20:37:13
Dari sini, revenge-nya udah dimulai...
Jibakute
2017-03-09 18:24:36
buset ane bayangin sesuatu yang mengerikan
Bocah Redoks
2017-01-17 08:19:28
seperti kandang singa yg di hiasi pita ulang tahun. perumpamaan yg mengerikan. walaupun sebenarnya tidak mengerikan bila tidak ada singanya
Ahmadi D Killer
2016-11-09 17:44:52
lnjt
Kei Takashima
2016-09-25 18:00:47
Ooo
ThE LaSt EnD
2016-08-09 17:31:34
ow ya jam tngan pd umumnya dtangan kiri, kn? coz sering liat ada yg pakai dtngan kanan.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-07 18:21:32
siapa yah yang ditunjuk neo, mmh mungkin aku harus membaca chapter selanjutnya
Fujioka nagisa
2016-07-08 18:26:47
Game :'v
Al Onepc
2016-07-07 14:27:12
ngantuk..soalny blum tdur siang. lol
Al Onepc
2016-07-07 13:38:23
Gx kuat ane bcanya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook