VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 6

2015-09-22 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
532 views | 37 komentar | nilai: 9.25 (4 user)

Luar Biasa. Itu adalah kata yang mungkin bisa menggambarkan keadaan kelas yang terjadi. Di balik suramnya keadaan sekolah akibat poin poin yang menghadang, kegiatan belajar mengajar masih dijalankan dengan kualitas yang sangat baik.

Bu Furukawa sebagai wali kelas 1-B yang juga merupakan guru matematika, sedang mengajar mengenai eksponen bilangan berpangkat pada para muridnya pagi itu. Cara mengajarnya serta kualitas bahan ajaranya benar-benar luar biasa, menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu guru di SMA terbaik, SMA Hoshi.

Tidak ada yang aneh dengan cara mengajarya. Tidak ada yang aneh dengan materinya. Tidak ada yang aneh dengan standarnya. Semuanya benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai SMA terbaik di seluruh negeri. Namun, keadaan murid yang sudah hancur akibat peraturan gila yang sedang berlaku, membuat murid-murid itu tidak biasa menyerap sepenuhnya materi yang disampaikan bu Furukawa.


Sekolah/Neraka Chapter 6 - Quiz Pertama
Penulis : Whiti Intheforest

"Jadi anak anak ini adalah salah satu persaman fungsi eksponen.

jika af(x) = ap maka f(x) = p.

jika af(x) = ag(x) maka f(x) = g(x)" ujar Bu Furukawa menjelaskan di depan kelas.

Anak anak itu hanya terdiam mendengarkan pelajaran kali itu. Pikiran mereka benar-benar terbagi dan tak fokus menghadapi pelajaran kali itu. Mereka merasa bagaikan di suruh belajar di atas rel kereta di mana kereta akan menabrak mereka.

"Hmmm, aku tidak tahu jika kalian hanya diam seperti ini terus. Buktikan jika kalian memang siswa siswi terbaik negeri ini."

Bu Furukawa kemudian menuliskan sesuatu di papan tulis.

"Tentukan nilai x dari persamaan 35x-1 – 27x+3 = 0" tulisnya di papan tulis.

"Jika kalian memang merasa pantas sekolah di sini, sebaiknya salah satu dari kalian segera maju dan jawab soal ini." ujar Bu Furukawa dengan suara tinggi.

Semua murid yang mendengar itu, sedikit panik akan soal yang di berikan Bu Furukawa. Banyak dari mereka yang tidak mendengarkan penjelasan yang disampaikan Bu Furukawa sebelumnya.

"Ayo, salah satu dari kalian harus maju, atau harus ibu sendiri yang tunjuk. Jika kalian memang siswa terbaik, soal seperti ini pastilah sangat mudah."

Murid-murid itu bingung dan berbisik bisik. Ada yang bisa tapi takut maju, ada yang tidak bisa sama sekali, ada yang panik karena tidak mendengarkan penjelasan sebelumnya.

"Benar ini tidak ada yang mau maju, kalau begitu saya tunjuk ya." kata Bu Furukawa.

Murid murid itu terlihat gusar.

"Sa-saya Bu." ucap Neo sambil mengangkat tangan.

"Hmmm, jadi kamu mau maju."

"Iya Bu."

"Baiklah, silahkan."

Neo pun kemudian maju ke depan dan menjawab soal yang diberikan Bu Furukawa.

"Jawab.

35x-1 – 27x+3 = 0

35x-1 = (33)x+3

35x-1 = 33x+9

5x-1 = 3x + 9

2x = 10

x = 5" tulis Neo di papan tulis.

"Yaa, benar Sekali." kata Bu Furukawa.

"Soal mudah dan sangat sederhana seperti ini seharusnya bisa dikerjakan, Ini adalah siswa yang patut di contoh, siapa namamu?" lanjut bu Furukawa.

"Neo, Bu."

"Ya, sebaiknya kalian semua mencontoh apa yang Neo lakukan." ucap.

Bu Furukawa.

Neo pun kembali ke tempat duduk, sementara Bu Furukawa melanjutkan materi yang di ajarnya.

Semua murid mulai mencoba memfokuskan diri mereka dan melupakan permasalahan sejenak, demi dapat menangkap materi yang disampaikan Bu Furukawa.

Di tengah kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung, seseorang mengangkat tangan dan meminta izin.

"Bu-bu Furukawa, bolehkah saya izin ke kamar mandi?" tanyanya.

"Hmmm, iya, tapi kamu harus cepat kembali kemari, karena setelah ini, kita ada quiz." jawab Bu Furukawa.

"Haah, Quiz?" murid murid terkejut.

"Bagai mana ini, hari pertama sudah ada quiz?" kata murid lainnya.

"Apa kamu baca buku peraturan sekolah yang berwarna hitam, di sana berisi ketentuan nilai, mengikuti quiz dan mendapat nilai minimal 75 merupakan syarat yang harus ditempuh." bisik salah seorang murid.

"Kalau begitu saya permisi bu." kata siswa yang hendak ke kamar mandi tersebut tergesa gesa.

"Jangan kaget, bila ibu memberi quiz di hari pertama, semua serba mungkin di SMA Hoshi. Jangan menganggap kalian siswa terbaik jika menghadapi quiz saja sudah ketakutan seperti itu." jelas Bu Furukawa.

Selang bebarapa menit kemudian siswa yang izin ke kemar mandi tadi datang tergopoh-gopoh dan menunjukkan wajah panik yang luar biasa.



"Bu, semua kamar mandinya terkunci." katanya panik sambil menahan buang air kecil.

"Ehhh, benarkah, kenapa ya?" kata Bu Furukawa datar.

"Bagai mana ini bu, saya sudah tidak tahan." katanya memelas.

"Yah terserah kamu."

"Di kamar mandi kamar asrama saja." celetuk salah seorang murid memberi saran.

"Bagai mana Bu apa boleh?"

"Sudah Ibu bilang terserah kamu, jika kamu pergi sekarang maka kamu tidak akan sempat ikut quiz."

Di balik kebimbangan akhirnya anak itu menahan semampunya demi ikut quiz.

"Baiklah kerjakan soal soal yang ibu tulis di papan tulis." kata Bu Furukawa.

"Waktunya 20 menit."

Murid-murid kelas 1-B segera mengerjakan soal quiz itu semampu mereka. Wajah gusar jelas tampak pada raut raut muka mereka.

"Bu, saya benar-benar tidak bisa menahannya." kata anak yang tadi ingin ke kamar mandi itu memecah keheningan.

"Ya silahkan tinggalkan ruangan ini dan kembali ke asrama bila sudah tak tahan, tapi ya resikonya nilai quizmu nol." kata Bu furukawa kembali dengan suara datarnya.

"Ba-bagaima-nna bila aku sampai buang air kecil di celana." kata anak itu pasrah sambil berusaha keras menahan.

Seisi kelas yang sedang mengerjakan quiz benar-benar kaget dan tak tega melihat situasi tersebut.

"Hmm, boleh saja, tapi jika kamu melakukan itu akan mengotori kelas. Dan itu akan menyebabkan kamu mendapat sanksi lhoo. Makanya baca buku peraturannya." kata bu Furukawa sambil seolah tersenyum sinis.

"Kalu begitu saya akan menggunakan baju saya agar tidak mengotori lantai."

"Ohhh, benarkah? Kalau begitu terserah." jawab Bu Furukawa enteng.

Para murid benar-benar tercengang luar biasa melihat kejadian ini. Bagai mana mungkin anak itu sampai akan melakukan sesuatu yang memalukan dan merendahkan dirinya karena situasi yang menjepit.

"Teman-teman kumohon jangan lihat ke arahku." katanya lirih dengan wajah pucat pasi.

Anak itu membuka baju seragamnya dan meletakkanya di lantai tepat di bawah kedua kakinya.

"Maafkan aku teman-teman, melakukan tidakan konyol ini, kumohon maafkan aku menggangu quiz kalian, aku benar-benar tak tahan." katanya semakin parau sambil menahan isak tangis.

Akhirnya anak itu mengeluarkan air seninya. Dia membasaihi dirinya sendiri. Air itu membasahi celananya dan menetes ke baju seragam di bawahnya yang di jadikan alas.

Semua murid mencoba berpaling dan berusaha tidak melihat kejadian itu. Mereka merasa kasihan dan merasakan nasib anak itu.

"Kenapa kamar mandi di sekolah ini tertutup, bukankah fasilitas di sekolah terbaik seharusnya lengkap." pikir salah seorang anak.

"Aku kasihan sekali. Dia harus melakukan hal memalukan begitu di kelas, dan seorang guru hanya diam saja." pikir murid lain turut merasakan penderitaan.

"Kita tidak bisa melawan." pasrah murid lainnya.

"Waktu kalian tinggal 10 menit." kata Bu Furukawa tak peduli.

Semua berusaha mengerjakan soal quiz termasuk anak tadi.

10 menit pun akhirnya berlalu cepat.

"Baiklah, waktu habis ibu akan mengumpulkan quiz kalian."

"Ibu harap tidak ada yang di bawah 75."

Semua anak di kelas itu masih terdiam.

"Baiiklah, cukup sekian pelajaran pertama, kita akan sering bertemu kedapannya karena saya sebagai wali kelas kalian maupun sebagai guru matematika."

"Sebaiknya kalian baca buku peraturan sekolah yang sudah diberikan bahkan sebelum masuk sekolah, agar kejadian kejadian memalukan tidak terjadi ke depannya."

Bu Furukawa kemudian pergi meninggalkan kelas.

Sementara itu murid lainnya segera berkumpul untuk menolong anak tadi.

Mereka mencoba mengembalikan semangatnya. Siapa yang hatinya tidak hancur dan sakit ketika harus buang air kecil di celana bahkan menjadikan baju seragamnya sendiri sebagai alas agar lantai tidak kotor.



Murid murid yang lain termasuk Neo mencoba menguatkannya, sambil mengambilkan baju dan celana ganti yang ada di asrama.



Sementara itu, Ruki hanya diam saja dan melangkah keluar kelas.



"Ada apa Ruki, dari awal kamu terus saja terdiam, lalu mau kemana kamu sekarang, kita sedang dalam keadaan serius yang perlu kita diskusikan. Ada masalah peraturan, masalah Hiroshi, atau masalah barusan, atau bahkan tentang quiznya, kita harus saling maembantu dan bahkan melawan akan tindakan tindakan seperti ini." kata Neo bingung dengan sikap Ruki.



"Yaah, kita bicarakan nanti dulu Neo, dari tadi aku sedang memikirkan sesuatu, biarkan aku memastikannya terlebih dahulu." kata Ruki sambil melanjutkan langkahnya keluar kelas.

Note: Seharusnya soal matematika itu berpangkat, tapi karena ga tahu cara buat pangkat di VT, yah jadinya gitu, maaf kalau agak rancu T_T

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 7

Yukki Amatsu
2017-08-24 19:20:19
Sensasi bacanya terasa banget, aku ikut bergidik...
Jibakute
2017-03-08 21:56:28
kuberi nilai 10 karena terdapat pesan moral nya.
Night Eve
2017-01-24 04:19:23
Knapa gk pipis sembarangan aja??? Di tanah misalnya??
Bocah Redoks
2017-01-17 07:51:17
liat soalnya jadi keinget masa sekolah dulu
Ahmadi D Killer
2016-11-09 17:40:18
guru jahanam
Blackpearl Kwon Yuri
2016-10-11 10:24:03
aku belum pernah memgerjakan soal seperti itu
Dalreba
2016-10-01 19:36:45
Aku paling lemah sama matematika
Kei Takashima
2016-09-18 11:42:47
Hmmm
Mysterious
2016-08-18 20:49:56
pasti yg ngunci kamar mandi si Zeriff² itu.. kasian jadi buang air dicelana
ThE LaSt EnD
2016-08-09 13:24:24
pengarang sepertinya jago MTk. guru mengangap hal yg trjadi sbgai suatu kwajaran.. dn itu memang peraturn guru yg sdah dtetapkan.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook