VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 4

2015-09-15 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
525 views | 27 komentar | nilai: 8.67 (6 user)

"Halaman 205" tanya Neo lagi.

"Ya benar." jawab Ruki.

"Apa kamu ingat yang dikatakan Kak Zeriff saat kita di kumpulkan di lapangan?" tanya Ruki.

"Apa yang dikatakan oleh nya?" jawabnya bingung.

"Dia mengatakan sebenarnya dia baru kelas 2 alias baru satu tahun di atas kita, namun dia sudah menjadi ketua club renang."

"Ooh, ya benar, dia mengatakan itu." kata Neo ingat.

"Lihatlah di halaman ini di jelaskan hal singkat mengenai itu." kata Ruki sambil membaca buku merah itu.


Sekolah/Neraka Chapter 4 - Selamat Datang di Sekolah
Penulis : Whiti Intheforest

"Sesuai perkiraanku, semua murid SMA Hoshi harus berinteraksi agar bisa mendapatkan poin. Itu artinya tempat paling banyak untuk mendulang poin adalah asrama dan club. Di asrama dan club, para siswa dari kelas 1 sampai kelas 3 lebih banyak bertemu. Jika mereka ingin melakukan kekerasan pun akan banyak dilakukan di asrama dan club, karena di situ kita dan kakak kelas akan saling bertemu."

"Terus kenapa Ruki, kita sudah tahu gilanya sekolah ini dari awal."

"Yahh, makanya baca halaman 205. Di sini di jelaskan bahwa dalam club kita bisa mendapatkan poin yang cukup besar. Setiap kegiatan dan aktivitas yang ada di club dapat menghasilkan poin. Misal sebagai contoh di sini adalah club renang, jika ada lomba renang 100 meter maka pemenangnya akan mendapat poin."

"Tapi kenapa di sini tidak dibahas secara detail, seharusnya buku sebesar ini memuatnya?" tanya Neo bingung.

"Aku tidak tahu, tapi menurutku ada dua kemungkinan, pertama jika ditulis akan terlalu banyak macam kasus. Misal lomba masak pada club masak. Lomba fashion pada club fashion. Lomba karya ilmiah pada club science atau masih banyak kegiatan club lainnya yang menyebabkan penjelasannya tidak spesifik. Atau bisa jadi, kemungkinan kedua."

"Apa kemungkinan keduanya?"

"Yang kedua, lihatlah di paragraf yang bawah. Terkadang jika kita kalah dalam kegiatan lomba atau apa pun itu, justru kita sendiri yang akan kehilangan poinnya. Mungkin langkah ini kurang populer bagi siswa SMA Hoshi. Mereka lebih memilih cara instan dan mudah untuk mendapat poin besar. Itu menurutku Neo."

Namun Neo diam saja mendengarkan pemikiran Ruki.

"Kenapa kamu diam saja Neo, ini merupakan salah satu jalan yang bisa kita tempuh. Jika kita ingin mendapat poin tentu saja kita harus melewati beratnya kegiatan club. Di sini kita dapat mendulang poin. Walau pun ada kemungkian kita juga bisa kehilangan poin. Selain itu, kita tidak mungkin melakukan kekerasan. Mengikuti kegiatan club itu juga wajib di sekolah ini. Itu tertulis di buku peraturan resmi SMA Hoshi." jelas Ruki.

Neo yang mendengar itu masih diam saja.

"Hei Neo, kenapa kamu diam saja, apa kamu masih takut, tenang saja ayo kita lakukan bersama." ujar Ruki.

"Aku hanya sedikit berpikir setelah kata-kata yang barusan kamu ucapkan. Kamu tadi bilang, ada cara yang lebih populer. Itu berarti ada cara yang tidak populer namun tidak tertulis di sini kan." ucap Neo serius.

"I-iya."

"Aku hanya sedikit berpikir, siapa sebenarnya yang membuat buku ini, apa benar-benar buku ini dapat dipercaya." kata Neo tajam.

Ruki seperti Shock mendengar itu. Ia seperti tersadar.

"Be-benar juga. Buku merah ini berisi peraturan poin yang isinya belum tentu kebenarannya. Atau bahkan ada cara lain yang sebenarnya bisa ditempuh selain di buku ini."

"Iya, makanya aku sedikit bertanya si pembuat buku ini. Jika dia hanya ingin membuat sekolah ini seperti neraka maka buku ini lah yang tepat."

"Kita masih belum yakin kebenaran dari buku ini." kata Ruki.

"Benar, siapa yang membuat peraturan ini, pihak sekolah atau orang-orang seperti Zeriff." kata Neo.

"Hmmm, benar juga, kau cerdas Neo. Aku mengambil langkah terlalu jauh. Tapi yang jelas, kiata anggap bahwa buku ini benar dulu. Aku tidak tahu apa ada cara lain untuk mendapat poin yang tidak disebutkan di sini."

"Yahh, untuk lebih jelasnya tentang sistem poin ini, tentunya kita harus mencobanya." lanjut Ruki.

"Yahh kamu benar, jadi bagai mana dengan Club nya?" tanya Neo.

"Ya tentu saja kita tetap harus ikut club. Lagipula itu ada di buku peraturan sekolah. Jika kita tidak ikut kegiatan club maka nilai ujian kita tidak bisa keluar. Apa kamu membaca buku peraturan itu? Buku yang berwarna hitam yang diberikan kepada kita sebelum masuk ke sekolah ini."

"Yaa, aku juga baca buku peraturan itu. Mana di buku itu kita diharuskan tinggal di asrama ini selama 3 tahun dan tidak boleh pulang.

"Yahh selain itu kita benar-benar terjebak sekarang Neo. Kita sudah tidak mempunyai alat komunikasi dan kita tidak bisa keluar dari sini selama tiga tahun." kata Ruki.

"Yaah, seperti penjara neraka." pasrah Neo.

"Sudah, kita tidak perlu membahas suramnya sekolah ini, ayo kita coba lihat dan jalani lebih dahulu apa yang akan terjadi di sini."

"Ya baiklah, tapi ngomong-ngomong kamu mau ikut club apa?" tanya Neo penasaran.

"Oh, kalau soal itu sebenarnya aku mendapat permintaan dari kakekku." jawab Ruki.

"Permintaan? Permintaan soal apa?"

"Jadi begini, dahulu kakekku..."

"Brak!"

"Brak!"

"Brak!" tiba-tiba suara keras terdengar.

"Su-suara apa itu?" tanya Neo panik.

"Cepat, cepat cepat, manusia rendahan, sudah dibilang jam 9 kalian harus di sekolah. Jangan berdiam diri di asrama." sebuah suara terdengar keras.

"I-itu teman teman Zerif." Panik Neo.

"Ga-gawat kita lupa harus ke sekolah jam 9" kata Ruki.

"Ini jam berapa Ruki."

"8.45"

"Ga-gawat, cepat ganti baju." lanjut Ruki.

Ruki dan Neo segera bergegas mengganti pakaian mereka dengan seragam SMA Hoshi.

"Ayo cepat kita menuju sekolah." kata Ruki.

Ruki dan Neo yang sudah memakai seragam mereka segera membawa buku dan bergegas keluar dari kamar asrama.

Di luar kamar tampak para siswa baru yang juga terburu buru menuju sekolah akibat teriakan dari teman teman Zeriff. Mereka bersama sama berlarian menuju ke gedung sekolah SMA Hoshi.

Gedung utama SMA Hoshi, jaraknya tidak terlalu jauh dari Asrama Stella. Arah menuju sekolah di batasi oleh gerbang belakang yang berada di area belakang asrama Stella. Sehingga asrama Stella sendiri hanya memiliki 2 pintu gerbang, yaitu gerbang emas yang ada di depan asrama serta gerbang perak penghubung asrama dan sekolah.

"Ayo Neo, cepat." kata Ruki.

"Ba-baiklah." jawab Neo sambil mengancingkan bajunya.

Mereka berdua melewati gerbang perak itu dan menuju ke kompleks gedung sekolah.

Semua murid murid baru termasuk Ruki dan Neo, cukup tercengang melihat keadaan halaman belakang sekolah mereka. Dari pamadangan mata sekilas saja, terlihat kolam renang yang luas baik indoor maupun outdoor. Ada lapangan tenis dan baseball. Terlihat juga area yang cukup luas sebagai arena berbagai macam sarana olahraga. Jalanan di sekolah itu juga sangat bagus, terlihat marmer-marmer dan batu pualam menghiasi setiap langkah para murid baru itu. Taman-taman yang tampak sangat indah dan terawat bagus terlihat di kanan dan kiri jalan mengiringi perjalanan menuju gedung utama. Dan tentunya semakin jelas terlihat bangunan putih nan mewah di depan jalan itu yang menunjukkan kemewahannya sebagai gedung utama SMA Hoshi. Semua kemewahan serta fasilitas nomer wahid itu jelas menunjukkan bahwa SMA ini merupakan SMA terbaik di seluruh negeri.

"Seandainya kita tidak mengalami hal gila seperti poin ini." kesal Neo sambil melihat jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan angka 0.

"Yahh, semua fasilitas hebat ini jadi terasa hampa ketika mengetahui keadaan kita yang sebenarnya."

Mereka berdua segera menuju papan pengumuman pembagian kelas yang mana sudah dipenuhi para murid baru.

"Kamu kelas apa Neo?"

"Aku tidak bisa melihat namaku, terlalu penuh orang di sini." jawab Neo.

"Tunggu biar aku aku lihat lagi, ahhh... Aku kelas 1-B" lanjut Neo yang sudah menemukan namanya.

"Hei jangan menghalangi pandangan, jangan berdesakkan!!" teriak Ruki.

"Ruki, Ruki, Ruki... Mana ya namaku... Hmmmm, Ruki... Ruki..."

"Ahhh ini dia." kata Ruki.

"Bagai mana Ruki?" tanya Neo.

Ruki hanya tersenyum.

"Apa kita sekelas?" tanya Neo.

"Yup."

"Ahhhhhh, Syukurlah." kata Neo lega mengetahui ia memiliki teman yang ia kenal di kelasnya.

"Kalau begitu ayo kita segera ke kelas dan lihat situasinya." ajak Ruki.

"Baik."

Mereka berdua naik ke lantai 2 setelah mengetahui dari peta bahwa kelas itu berada di lantai nomer dua.

"Aku tidak percaya, kita ke lantai 2 saja bisa naik Lift." kata Neo saat berada di dalam lift.

"Yaa, sekolah ini memang tidak bisa diragukan lagi fasilitasnya."

Mereka berdua keluar dari lift, namun mereka kaget bukan main melihat kejadian di depan mereka.

"Buak!"

"Buak!"

"Buak!"

Tampak seorang murid baru sedang dipukuli.

"Makanya kalau jalan jangan diam saja, minimal hormatlah pada kami!!" teriak pemukul itu yang sepertinya kakak kelas.

Ruki, Neo dan beberapa anak yang baru saja keluar dari lift itu benar-benar kaget.

"Maaf kan aku kak, lain kali tidak akanku ulangi lagi." rintihnya.

"Buak!!" pukulan itu masih diterimanya.

"Kumohon."

"Buak!! lain kali yang sopan!!" teriaknya sambil memberikan tendangan terakhir. Kemuadian kakak kelas itu pergi begitu saja meninggalkan anak baru itu yang terkapar dilantai.

Sementara itu, ada seorang guru yang sempat melihat kejadian itu yang tiba-tiba lewat di tempat itu namun berlalu begitu saja.

Anak di samping Ruki kemudian berteriak memanggilnya.

"Pak, pak."

"Ada apa." serunya tajam.

"Bapak guru di sini kan?"

"Iya."

"Bapak lihat sendiri kan, ada pemukulan di sini, ada tindakan semena mena, ada hal gila juga di sini. Lihatlah tangan saya, jam ini..., poin ini..." katanya mencoba menumpahkan keadaan yang ada di pikirannya.

"Pak sekolah ini tidak benar, ada pemukulan di sini, bapak lihat sendiri barusan, lalu ada aturan aneh poin pak, sekolah ini tidak benar." kata anak itu lagi.

"Bicara apa kamu, bicara kok melantur seperti itu. Sekolah ini benar, saya tidak mengerti poin-poin yang kamu bicarakan dan tentunya tidak ada pemukulan di SMA terhormat seperti SMA Hoshi ini." jawab sang guru.

"Tapi bapak lihat sendiri kejadian barusan di depan mata bapak."

"Tidak, aku tidak melihatnya."

"Kenapa bapak menyangkalnya, kita semua melihat ada pemukulan di sini, dan ada kakak kelas yang semena mena."

"Maaf tapi aku tak melihatnya." guru itu masih menyangkal melihat kejadian pemukulan yang sebenarnya jelas jelas terlihat dimatanya saat itu.

"Lalu bagai mana bapak menjelaskan anak ini yang terkapar."

"Ohh, kalau itu mungkin dia gugup karena masuk SMA terbaik." jawab guru itu datar.

Semua anak yang melihat kejadian itu benar-benar kaget bukan main mendengar itu. Mereka tidak percaya seorang guru berbohong akan kejadian yang barusan dilihatnya sendiri.

"Oi..., oi..., oi.., oi.., oi.. Yang benar saja, apa apaan ini, apa guru di sini mencoba menutup mata akan kejadian ini." pikir Ruki yang masih panik dan diam tak bergerak melihat kejadian kejadian tak masuk akal kembali terjadi lagi di hadapannya.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 5

Bocah Redoks
2017-01-13 23:41:50
mengerikan
Minke Opoli
2016-11-09 17:36:48
next
Blackpearl Kwon Yuri
2016-10-11 10:20:50
bukan hanya teman sekamar, ternyata mereka juga jadi teman sekelas
Dalreba
2016-10-01 16:37:41
Bener" sekolah jahanam
Kei Takashima
2016-09-18 11:31:49
komen
Mysterious
2016-08-18 17:53:26
Oi oi oi , guru macam apa itu
ThE LaSt EnD
2016-08-09 13:05:13
bisakah jam poin itu dhancurkan..? tunggu sbentar.. spertinya guru tdk trikat poin!? mungkinkah? next chptr mungkin.
Aerilyn Shilaexs
2016-08-07 17:16:47
kejam, cuma itu yang ingin kukatakan untuk murid senior
Fujioka nagisa
2016-07-08 16:05:04
Benar2 sekolah impian ya~
Al Onepc
2016-07-07 13:02:40
Klw bolos kira" dpet poin gx ? Soalny mles liat gru kyk gitu..
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook