VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekolah/Neraka Chapter 3

2015-09-09 - Whiti Intheforest > Sekolah/Neraka
568 views | 33 komentar | nilai: 9.14 (7 user)

Neo merebahkan tubuhnya di lantai. Ia melepas kacamata yang dipakainya. Kedua tangannya mengusap wajahnya yang seolah tak bisa berhenti bergetar.

"Aku takut sekali Ruki." kata Neo pelan sambil menutup kedua mata yang ditutupi lengannya.

Ruki melihat teman se kamarnya itu terlihat cukup depersi.

"Satu hal yang yang hanya bisa aku lakukan saatku masih kecil adalah mendapatkan nilai ujian 100" kata Neo sembari kembali memutar memorinya pada masa lalu.

"Setiap kali aku ujian, baik itu saat SMP atau bahkan SD, nilai ujian maupun tesku selalu mendapat nilai yang baik." kata Neo memulai ceritanya.

"Masa laluku tidak sebaik yang orang lain kira atau bayangkan." kata Neo sambil menghela napas.


Sekolah/Neraka Chapter 3 - Teman
Penulis : Whiti Intheforest

Ruki mencoba mendengarkan keluh kesah teman se kamar serta sahabat barunya itu.

"Aku selalu mendapat nilai baik dalam setiap pelajaran. Selalu bisa mengerjakan soal-soal yang ada dan selalu menjadi murid teladan di sekolahku. Mungkin, bila itu terjadi pada orang lain mereka mungkin akan senang atau bahkan gembira." lanjut Neo.

"Kepintaranku ini mendatangkan berkah bagiku. Teman teman sekelasku mulai berdatangan padaku. Mereka ingin belajar dariku. Aku selalu membantu mereka menghadapi kesulitan kesulitan akan pelajaran yang sedang dihadapi."

"Saat itu adalah saat saat yang paling membahagikan bagi diriku. Di situ aku merasa dibutuhkan. Aku masih ingat ketika salah satu temanku berkata, " Wah besok kita ada ulangan matematika, tapi tenang saja, jika aku belajar dengan Neo, pasti semua akan baik-baik saja." kata kata seperti itu selalu membuatku merasa senang."

"Tapi perlahan akhirnya aku sadar bahwa ada yang tidak benar dengan ini semua. Mereka bukan." Teman." yang selama ini aku impikan. Mereka hanyalah teman-teman yang hanya memanfaatkan kepintaranku saja. Mereka hanya baik padaku saat mereka butuh. Aku tidak pernah merasa punya teman dalam artian yang sebenarnya. Teman yang ada, baik di kala senang ataupun sedih. Teman yang selalu ada di sampingmu saat engkau tertawa bersama ataupun teman yang tetap ada di sampingmu saat dirimu terluka." cerita Neo mencoba menjelaskan.

"Saat-saat itu selalu menyedihkan bagiku. Aku hanya merasa sebagai pembantu mereka. Kepintaran yang aku punya membuatku hanya dimanfaatkan sebagai alat pemuas kebutuhan mereka."

"Saat itu aku benar-benar kesal dengan kepintaran yang aku punya. Mengapa tuhan memberikan aku kepintaran. Pikiran pikiran bodoh seperti itu selalu membebani diriku sepanjang waktu." ujar Neo.

"Kenapa tuhan harus memberikan aku kepintaran jika kepintaran yang aku punya ini semakin menjauhkanku dari teman sejati."

"Saat itu aku memutuskan hal bodoh. Jika kepintaran merengut temanku maka hal yang harus kulakukan adalah membuang kepintaran itu."

"Aku mulai mencoba tidak belajar di rumah. Mulai tidak menyentuh pelajaran dan mencoba tidak mengulang pelajaran yang diberikan guru. Waktu itu aku yakin bila aku tidak pintar maka aku akan dapat teman sejati."

"Namun, kenyataan tak semanis bayangan, seberapa besar pun usaha yang kulakukan untuk tidak belajar itu semua tidak berhasil. Entah kenapa hanya dengan mendengarkan guru menyampaikan pelajaran saja aku bisa memahami semua materi yang diberikan. Dan tentu saja nilaiku tetap baik. Saat itu aku seolah tahu, bahwa ketika di dunia ini ada orang yang tidak bisa pintar maka ada juga orang yang tidak bisa bodoh seperti diriku."

Riku mencoba mendengar dengan baik cerita masa lalu Neo. Ia ingin mencoba memahami perasaan temannya itu. Ia mencoba menghayati apa yang di rasakan Neo.

"Pada saat itu akhirnya aku menyerah untuk menjadi bodoh. Aku mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpaku. Aku juga mulai menjauhi teman-teman yang hanya membutuhkan aku di saat mereka butuh saja. Temanku saat itu berkata." Hei Neo, kenapa sekarang kau menjauh dari kami, ayo ajari aku lagi." kata-kata itu sudah takku hiraukan lagi. Teman temanku yang tidak mendapatkan penjelasan yang sebenarnya dariku hanya berkata bahwa aku adalah seorang yang pintar dan sombong."

"Neo itu pelit, Neo itu sombong, Neo itu hanya belajar sendiri dan tak mau membantu orang lain. Cerita seperti itu terus berkembang hingga aku benar-benar di benci satu sekolah. Yahh, aku tahu itu semua akan terjadi. Lebih baik aku biarkan saja mereka dan menerima ini semua. Biarkan saja mereka bilang aku sombong sementara mereka tidak menjengukku saat aku sakit. Biarkan saja akhirnya mereka mengatakan aku pelit sementara saat aku butuh bantuan mereka, mereka tidak bisa. Atau biarkan saja akhirnya mereka mengatakan aku hanya peduli pada diri sendiri sementara saat aku ingin ikut mereka bermain mereka malah menolakku dengan alasan." Sebaiknya orang sepertimu di rumah dan belajar saja, Neo." yahhhh... Biarkan saja." Neo mencoba menceritakan pahitnya masa lalu yang dihadapinya. Tampak butiran air mata yang coba dibendungnya.

"Akhirnya Hidupku hanya diisi dengan belajar, belajar, belajar dan belajar. Hanya itu yang aku bisa lakukan. Belajar adalah salah satu cara pelarianku untuk menghindari kesedihan akan dunia nyata."

"Namun kehidupanku jadi sedikit berubah di pertengahan SMP. Saat itu, adik sepupuku berkunjung ke rumahku saat liburan musim panas. Ia membawa manga kesukaanya. Yahh, manga yang dibacanya adalah Pokemon. Saat itu aku berpikiran bahwa Pokemon hanyalah sebuah cerita tentang monster yang hidup berdampingan dengan manusia. Namun setelah adik sepupuku memaksaku untuk membaca manganya aku jadi sedikit terkejut. Setelah membaca, aku menyadari bahwa dunia Pokemon benar-benar luar biasa."

"Aku baru menyadari dunia yang begitu hebat dalam pokemon. Dunia di mana moster dan manusia hidup rukun saling berdampingan. Dunia di mana antar triner pokemon yang bertanding selalu tidak diikuti dengan permusuhan. Sebuah dunia yang yang sangat indah untuk di jelajahi.

"Yahh..., aku bermimpi bisa hidup di dunia itu Ruki. Itulah mengapa aku sangat mencintai Pokemon."

"Tadinya di SMA Hoshi, aku berharap menemukan dunia yang baru atau paling tidak dunia yang lebih baik dibanding masa kecilku. Namun kembali lagi, kenyataan tak semanis bayangan. Bahkan seperti katamu sekarang kita ada di neraka."

Ruki mulai paham akan masa lalu pahit yang diceritakan. Ruki mencoba mengerti apa yang dialami Neo.

"Yahh, masa lalumu benar-benar penuh kesedihan Neo."

"Aku tidak pernah mengalami apa yang kamu rasakan. Tapi perkenankan lah aku untuk mencoba membagi pemikiranku." kata Ruki mulai bercerita.

"Aku tidak sepertimu, hidupku boleh dikata cukup beruntung. Aku punya teman tman yang boleh jadi bisa disebut sebagai teman sejati. Kehidupanku di sekolah juga baik- baik saja. Aku cukup beruntung karena teman temanku tidak hanya memanfaaat kan kepintaranku saja. Jadi maaf Neo jika kamu merasa aku tidak dapat memahami perasaanmu."

"Iya tak apa Ruki, lanjutkan saja ceritamu."

"Yahh, kehidupanku di sekolah baik-baik aja, begitupula dengan kehidupanku di rumah. Keluargaku tinggal bersama dengan keluarga kakekku yang merupakan pengusaha pertanian sukses di desaku. Kakekku merupakan salah satu alumni SMA Hoshi."

"Benarkah?"

"I-iya."

"Jadi benar kata orag-orang, bahwa siswa siswi SMA Hoshi semunya suskses?"

"Aku tidak tahu jika semua, namun dari beberapa teman kakekku serta kakeku sendiri, alumni SMA Hoshi bisa dibilang cukup sukses."

"Whooa, jadi semua rumor itu benar."

"Yaa mungkin, baiklah kulanjutkan ceritaku."

"Keluarga kami cukup terpandang di desa itu. Kakekku menjadi satu satunya orang terkaya dan tersukses di desa itu. Banyak warga yang tidak mampu dipekerjakan oleh kakekku sebagai buruh di lahan pertaniannya. Kakeku dianggap penyelamat bagi mereka. Anak anak para warga kurang mampu itu juga sering bermain di sekitar areal pertanian. Namun biasanya pada sore hari aku membantu anak-anak itu belajar."

"Mereka bersemangat sekali belajar. Dalam semua keterbatasan yang menghadang, mereka berusaha dan berjuang sekuat tenaga agar bisa memperbaiki nasib dengan menenpuh pendidikan mereka. Terkadang aku sangat sedih saat mengajar mereka dan menemukan anak yang sakit namun tetap datang, " Ayo kak Ruki kita belajar lagi, masih banyak yang aku belum paham." katnya denagn semagat. Kegigihan mereka membuatku merasa tak berdaya. Aku dengan semua keberadaanku merasa sangat beruntung dibandingkan denagn mereka."

"Nah Neo, saat melihat perjuangn mereka aku sedikit mendapat pelajaran. Kita tidak bisa memilih lingkungan yang sesui dengan harapan kita. Kita mungkin saja terlahir miskin. Kita mungkin saja terjebak pada lingkungan yang kelam. Atau Kita bisa saja terhadang oleh kerasanya masalah. Namun dari kegigihan yang anak anak itu tunjukan, aku sedikit belajar, jika lingkungan tidak sesui dengan apa yang kita harapkan maka satu hal yang bisa kita lakukan adalah membuat atau mengubah lingkungan itu menjadi seperti harapan kita. Anak anak yang miskin itu tidak ingin menyerah dengan keadaan mereka, mereka ingin berjuang untuk merubah nasib seperti apa yang mereka harapkan. Mereka berjuang sekuat tenaga demi impian itu."

Neo mencoba mendengarkan dan meresapi kata-kata yang di ucapkan Ruki.

Hatinya mulai sedikit sadar dan terbuka.

Ruki mengulurkan tangannya kepada Neo.

"Nah Neo, aku tahu keadaan sekolah kita yang sekarang benar-benar gila. Semua keadaan ini tidak sesui dengan harapan kita. Oleh karena itu... Kita harus merubahnya."

Neo mencoba melihat kesungguhan hati yang diperlihatkan Ruki.

"Ayo Neo kita tidak bisa berdiam diri saja."

"Baiklah aku mulai dari awal." kata Ruki.

Ruki berdiri sambil tetap mengulurkan tangan.

Wajahnya tersenyum menatap Neo.

"Hallo, salam kenal Neo, namaku Ruki Daminte, aku berharap aku bisa menjadi teman sejati pertamamu, ayo kita ubah sekolah ini dan yang paling penting sebagai sahabatmu... Ayo kita rebut kembali Game Boymu." kata Ruki sambil tersenyum penuh semangat.

Neo tak percaya mendengar itu semua. Ia mencoba menahan air mata bahagianya.

"I-iya baiklah, ayo kita lakukan bersama." kata Neo menangis bahagia sambil membalasa uluran tangan Ruki.

Neo menjadi sedikit lega mendengar peryataan Ruki. Ia merasa untuk pertama kalinya ada yang mengerti bagai mana perasaanya. Semetara Ruki merasa senang pengalamannya dapat membantu sahabat barunya itu.

"Baiklah kalau begitu, ayo kita kembali pelajari buku merah ini." kata Ruki.

"Baiklah."

"Neo lihatlah, kita masih bisa mendapatkan poin dengan cara yang baik-baik. Misal dengan membersihkan lantai asrama saja kita bisa mendapat poin 1."

"Iya, tapi itu kecil sekali, coba kamu bandingkan dengan merusak barang yang mendapat poin 15. Aku yakin orang orang akan memilih cara kasar untuk mendapat poin lebih banyak dan cepat."

"Yahh, tapi selain itu, ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk mendapat poin yang cukup besar, cobalah buka halaman 205" kata Ruki tersenyum.

Bersambung ke Sekolah/Neraka Chapter 4

Aerosmith
2017-05-29 14:30:02
Typo.. Maksudnya Ruki.
Aerosmith
2017-05-29 14:28:06
Mantap.. Yang di ceritain Riku tadi adalah kenyataan. Mungkin setelah lulus, Riku mau mengajar nih anak-anak(miskin dan tak punya biaya sekolah).
Bocah Redoks
2017-01-13 23:32:40
mantap. pesan moral yg terkandung d dalamnya oke punya
Snow Blue
2017-01-04 18:20:40
Semangat! akan kumulai dari sini
Rifts S Granger
2016-12-24 13:04:27
waaaaah, pesannya sangat mendalam sekali hebat senpai!
Ahmadi D Killer
2016-11-09 17:34:45
next
Blackpearl Kwon Yuri
2016-10-11 10:16:48
neo teman pertama ruki yah
Kei Takashima
2016-09-18 11:20:29
11. 12 lah
Mysterious
2016-08-18 17:46:07
Hmm.. Masa lalu neo hampir mirip dengan kehidupan ku..
ThE LaSt EnD
2016-08-09 12:25:17
hmm sisi chptr renungan.. menyentuh. coba baca OS "Mayat". ini juga renungan., jk ada wkt.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook