VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 89

2016-11-18 - Ibong Neverland > Dragon si Pemburu Bajak Laut
172 views | 9 komentar | nilai: 9.75 (4 user)

Dragon Chapter 89 : Sang Pemburu

Sambil menelan ludah, Dragon dan Lucy memperhatikan salah satu anggota S7 yang muncul dan berjalan menuju kursi emas itu.

Orang yang tidak asing untuk Dragon dan Lucy itu berjalan dengan tenang. Rambut putihnya terlihat bersinar karena pantulan lampu dari Hunter Dome.

Shark nampak tersenyum dan tenang.

Terdengar orang-orang berbisik karena seharusnya Seven terlebih dahulu yang muncul.

"Hiyaaa!!" seseorang melompat ke tengah-tengah Hunter Dome.

"Apa yang kau lakukan? Ini masih sesi pembukaan!" teriak seorang penjaga yang bergegas menuju ke arah orang yang melompat ke tengah Hunter Dome.

Orang tersebut membawa dua buah gada dengan ujung berduri. Sambil tersenyum licik, orang tersebut mengayunkan gadanya ke petugas keamanan Hunter Dome.

Blaaak!!! Petugas keamanan Hunter Dome menghantam dinding setelah diserang pria tak dikenal tersebut.

"Seven tidak akan menampakkan batang hidungnya. Jadi aku akan menggantikannya sekarang!"

Teriakan orang itu membuat seisi Hunter Dome terdiam.

"Apa-apaan orang itu," ucap Dragon dengan wajah sebal mendengar pria itu merendahkan Seven.

"Hahaha... Kalian pasti tidak tahu jika Seven lari terbirit-birit melihatku tadi? Hahaha."

Ekspresi wajah Mark berubah, urat-urat sarafnya menegang. Mark bermaksud melompat ke tengah Hunter Dome tapi ditahan oleh Lucy.

"Tenangkan dirimu Mark!"

Mark menatap Lucy dengan wajah serius.

Lucy hanya menggerakkan kepalanya seolah berkata lihatlah ke depan.

Mark langsung melihat ke tengah Hunter Dome.

Shark dengan santai berjalan mendekati pria yang merendahkan Seven.

"Oh, kau mau menyambutku ya? Kemari kawan!" seru pria tersebut besar kepala.

Meski Shark tidak memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang, pria misterius itu memasang kuda-kuda sambil menggerak-gerakkan kedua gadanya.

Shaaaa!!!! Secepat kilat Shark menghantam perut pria misterius itu.

"Uaaaarrrhghhhh!!!" pria misterius itu langsung terkapar tidak sadarkan diri dengan mulut mengeluarkan busa.

"Lu-luar biasa..." gumam Dragon dan Lucy terkejut.

Dragon menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menepuk pundak Lucy.

"Ayo Lucy, kita harus bergegas!"

Lucy menoleh sambil menganggukkan kepalanya.

Dragon dan Lucy berlari meninggalkan tempat duduknya, diikuti Mark dari belakang.

"Sepertinya Shark memang bukan orang sembarang Lucy. Bisa jadi dia memang sekuat kakakmu," ucap Dragon sembari berlari.

"Jarang Shark memperlihatkan kekuatannya. Dan ini juga baru pertama kali aku melihat Shark menyerang untuk orang lain," potong Mark.

"Maksudmu Mark?"

Mark memperhatikan Dragon dan Lucy yang menoleh dengan wajah bingung.

"Iya, ini pertama kali aku melihat Shark menyerang bukan karena memenuhi ambisinya."

Dragon dan Lucy saling berpandangan.

"Ternyata dia punya sisi baik juga ya..."

"Sebaiknya kita tidak memikirkan tentang Shark dulu, ada yang..."

Dragon berhenti melihat Edison berusaha melepaskan diri dari kepungan petugas keamanan Hunter Dome.

"Lepaskan aku! Jangan sampai aku menjadi serius!" teriak Edison yang dipegang erat beberapa petugas keamanan Hunter Dome.

"Apa yang dia lakukan disini?" heran Dragon dan Lucy melihat Edison.

Mark berjalan melewati Dragon dan Lucy kemudian mengeluarkan sebuah benda dari saku celananya.

Petugas keamanan yang melihat benda yang dipegang Mark, langsung melepaskan Edison.

Dragon dan Lucy berlari ke arah Mark dan melihat benda yang dibawa Mark.

"Medal S7?!!!"

"Ya, kapten menyuruhku membawanya. Dia bilang kalau dia tidak suka membawa benda-benda seperti ini," jawab Mark sambil tersenyum.

Dragon dan Lucy dengan wajah datar menoleh ke Edison.

"Jadi bukan karena dia..."

"Sebaiknya kita bergegas," ajak Mark mulai berlari lagi menuju ke pintu keluar Hunter Dome.

Dragon dan Lucy menganggukkan kepalanya sambil berlari mengikuti Mark.

Edison yang tidak menyadari Dragon dkk sudah berlari keluar Hunter Dome memperhatikan petugas keamanan Hunter Dome yang berdiri diam.

"Bagus kalau kalian takut aku memperlihatkan wujudku yang asli,"ucap Edison dengan sombongnya,"Sial! Karena kalian aku tidak bisa mengejar Seven dan yang lainnya."

Saat pandangan Edison tertuju pada pintu keluar Hunter Dome, dia melihat Dragon dkk berlari.

"Hah!!! Anak-anak itu! Ba-bagaimana mereka bisa keluar duluan dari aku?" Edison terheran-heran.

Sementara itu, di dermaga timur pulau Aoi. Kapal milik Seven sudah berlabuh.

Dentuman keras terdengar hingga ke dermaga. Api membumbung dari tengah rimbunnya pohon di pulau tersebut.

"Mereka menuju ke kota Rockstar," ucap Arlaym yang berada di depan rombongan Seven dkk.

Melihat Arlaym mulai berlari, Seven dkk mengikutinya.

"Benteng terluar kerajaan Melodia, Arlaym?" tanya Seven.

Arlaym hanya menganggukkan kepalanya.


Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 89 - Sang Pemburu
Penulis : Ibong Neverland

Beberapa meter berlari, Arlaym berhenti mendadak. Dia melihat beberapa orang tergeletak di depannya.

Seven berjalan mendekati Arlaym.

"Mereka..."

"Prajurit Melodia."

"!!!!??"

"Siapa yang menyerang mereka?"

Arlaym hanya diam. Memperhatikan tubuh-tubuh tak bernyawa prajurit Melodia lalu mulai berjalan kembali.

"Arlaym?"

"Jika si bodoh itu benar-benar ada di pulau ini, sebaiknya kita segera menyusulnya. Karena yang dia hadapi bukan orang sembarangan. Bangsa Beast tidak dapat diremehkan," jawab Arlaym.

Seven menggerakkan tangannya memberi isyarat krunya untuk mulai bergerak kembali.

Rossi yang berlari disamping Seven menyalakan rokoknya.

"Si bodoh yang dimaksud Arlaym adalah Rain kan Seven?"

Seven tersenyum,"Kau benar Rossi."

"Siapapun yang menyerang para prajurit Melodia ini. Dia pasti bukan orang sembarangan, terlebih Arlaym bilang bahwa orang ini adalah bangsa Beast."

Rossi mengerutkan dahinya,"Kau sudah tahukan?"

Seven hanya tertawa.

Rossi menggaruk-garuk kepalanya, entah bingung atau merasa bodoh dengan kaptennya itu.

Puluhan mayat prajurit Melodia tergeletak di sepanjang jalan Arlaym dkk berlari. Bukan hanya prajurit saja, dengan jubahnya yang lebih bagus dapat dipastikan bahwa pimpinan prajurit Melodia itu juga bukan tandingan orang yang dimaksud Arlaym.

Seven memperhatikan Arlaym yang terkejut melihat salah satu mayat pimpinan prajurit Melodia.

"Kau kenal dia Arlaym?" tanya Seven sambil menoleh ke arah mayat yang ia maksud.

"Lohan... dia dulu salah satu pasukanku. Ternyata banyak hal yang telah berubah setelah aku meninggalkan Melodia."

"Lohan? Pria yang menjemputmu dari kapal waktu itu Arlaym?"

Arlaym hanya menganggukkan kepalanya.

Di atas bukit di pulau Aoi, seorang pria menyeret seorang wanita untuk terus berjalan.

Blaar!!!! Tidak jauh dari pria dan wanita itu, seorang pria dihajar pria yang mengenakan helm prajurit dikepalanya.

"Hahaha... Apa ini kehebatan salah satu kru bajak laut Black Dragon?" ejek pria dengan helm prajurit itu.

Sambil membersihkan rambutnya dan mengangkat pedang besarnya, pria yang baru saja dihajar tersebut menatap tajam penuh kemarahan.

"Dallas, kau membuatnya marah," ucap pria yang menyeret seorang wanita di depan pria yang ternyata Dallas.

"Haha, aku ketakutan George... Bwahahaha!" balas Dallas sambil tertawa terbahak-bahak.

"Diam kalian!" teriak pria itu sambil mengayunkan pedang besarnya.

Dallas dengan lincah mengarahkan anak panahnya ke arah pria yang menyerangnya.

"Doom Arrow!!!" muncul aura disekeliling anak panah milik Dallas yang kemudian melesat ke arah pria yang mengayunkan pedang besarnya.

Duaaarrr!!!!! Pria dengan pedang besarnya tersebut terlempar karena kuatnya serangan anak panah Dallas.

"Wahahaha! Jatuh lagi, jatuh lagi! Wahahaha," Dallas tak henti-hentinya tertawa terpingkal-pingkal melihat pria yang membawa pedang besar tersungkur di tanah.

Dengan kemarahan yang meluap-luap, pria yang terjatuh itu menggenggam erat pedang besarnya lalu berusaha bangkit sambil bermaksud mengayunkan pedangnya. Tapi seseorang menginjak pedangnya.

"Cukup, serahkan sisanya kepadaku."

Pria tersebut kaget bercampur bingung melihat orang yang menahan pedang besarnya.

Dia juga menyadari bahwa Seven dan kru Seven berdiri di belakang pria yang menahan pedangnya.

"Cih!" pria itu mengacuhkan Arlaym yang menginjak pedang besarnya.

"Terima kasih atas bantuanmu Rain, kau berhasil menahan mereka di pulau ini!" seru Seven kepada pria dengan pedang besar itu.

Rain memperhatikan Seven, berusaha tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu menoleh ke Aryalm dengan raut wajah yang berubah 180 derajat.

"Aku belum selesai dengan mereka!" seru Rain marah.

"Diamlah, kau tidak pernah belajar dari masa lalumu, bodoh!" bentak Arlaym.

Rain mendadak gemetaran. Pedang besar yang dipegangnya terlepas sendiri.

Puk! Seven menepuk pundak Rain.

"Tenang kawan. Dia Arlaym, kau tahu dia seperti apa kan?"

Rain menghela nafas sambil menggerakkan kepalanya. Lalu menganggukkan kepalanya.

Seven membantu Rain berdiri.

Arlaym menatap tajam ke arah George yang dengan paksa menyeret wanita di sampingnya.

"Aku tidak akan mengampunimu!" teriak Arlaym penuh amarah.

"Wow, sepertinya kita dapat ikan besar Dallas," ucap George terlihat santai tidak menanggapi kemarahan Arlaym,"Jadi wanita ini adalah istri sekaligus umpanmu menangkap naga ya, Arlaym?"

"Diam kau!!!!" teriak Arlaym sambil melesat ke arah George.

Bruaaak!!! George menghantam pepohonan di depannya setelah Arlaym menghantamkan pedangnya.

Bukannya kesakitan, George malah tertawa.

Dia memperlihatkan wanita yang dibawanya juga ikut menghantam pepohonan.

"Kau?!!!"

Arlaym baru menyadari bahwa istrinya, Allupi dirantai oleh George. Dan rantai itu terikat dengan tangan George.

Arlaym terlihat tidak berkutik.

Jleb! Jleb! Jleb! Beberapa anak panah menghujam punggung Arlaym.

"Argghh!!!" Arlaym kesakitan.

Dallas dengan liciknya menyerang Arlaym dari belakang.

"Kau membuat dia berlutut didepanku Dallas! Hahaha!" seru George melihat Arlaym terjatuh dengan posisi berlutut di depannya.

Seven yang melihat apa yang terjadi dengan Arlaym mulai marah. Tangan kanannya mengepal dengan erat.

Bersambung ke Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 90

SHiniGami GhoUL
2017-02-15 11:47:20
Goo and Fightt...!!!
Mr Blacky
2016-11-19 10:34:36
Bang ibong gx bosan bosan aku nunggu karyamu 😭 lanjut trus ya
Minke Opoli
2016-11-18 12:34:17
numpang bc bos, d tunggu lnjtnnya
Aerilyn Shilaexs
2016-11-18 09:43:52
luar biasa.
Rifky D Dragnel
2016-11-18 08:52:42
Setelah cukup lama akhirnya lanjut lagi
LaZiEsT SiLeNt DiZzY
2016-11-18 08:35:43
akhirnya dirilis lg.. pertarungan sengit akn trjadi..apakh Seven akn mengalahkn mreka? .. next
Mutia 4Ra
2016-11-18 06:24:38
trmksih senpai.dah mau lnjutkn crtnya.semngt trus y.d tunggu update nya *^_^*
Gangster V
2016-11-18 05:26:06
Next...
Aizawa Kaizen
2016-11-18 04:38:49
Lanjut
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook