VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 63

2016-08-19 - ibongneverland > Dragon si Pemburu Bajak Laut
181 views | 3 komentar | nilai: 8.8 (5 user)

Dragon Chapter 63 "Tujuan"

Di pinggiran dermaga, tubuh Dragon mematung, wajahnya masih terlihat kaget bercampur bingung. Di samping Green berdiri, Lucy juga terkejut. Beberapa kali Lucy menyeka keringatnya yang keluar.

"Dragon... "

Dragon menghela nafas, kemudian berbalik dan berjalan mendekati Lucy.

"Aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu Lucy," ucap Dragon menepuk bahu Lucy, melewatinya, dan tetap berjalan menjauh dari dermaga.

Lucy seketika berbalik dan berlari mengejar Dragon.

"Dra-dragon, kau putra seorang..."

"Ya, aku tahu," sahut Dragon melihat tangan kanannya yang mengepal."Aku akan tetap menepati janjiku pada kakek."

Lucy terkejut, memperhatikan Dragon lebih seksama.

"Siapapun dia, jika dia seorang bajak laut, aku pasti akan melawannya. Aku tidak akan membiarkan masa kejayaan bajak laut kembali lagi. Apa yang telah kakek lakukan selama ini, tidak boleh dinodai lagi," ucap Dragon serius.

Lucy yang menatap Dragon serius, tiba-tiba tertawa.

Dragon heran.

"Hahaha, kau kelihatan lucu jika serius, Dragon," ucap Lucy tidak dapat menahan tawanya.

Dengan wajah kesal, Dragon memilih mengacuhkan ucapan Lucy.

Di rumah salah satu penduduk Milestone, sebuah jubah Laksamana diletakkan di atas sebuah meja. Dua buah cangkir kopi panas menemani dua orang pria yang duduk sambil berbicara satu sama lain.

"Rumahmu tidak semewah kerajaan, Saitama?" tanya pria dengan rambut emasnya, Raion.

Saitama terlihat biasa, mengambil cangkir kopinya,"kau tidak berubah sedikitpun, David. Aku menyesal menjadi teman masa kecilmu."

"Hahahaha," Raion tertawa terbahak-bahak.

"Setidaknya, aku tidak pernah memanfaatkanmu, Saitama."

Saitama sedikit serius kemudian kembali biasa, "Berhentilah mengejekku, David. Aku sudah belajar dari masa laluku."

Raion tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Saitama meletakkan cangkir kopinya. Pandangannya masih tertuju ke cangkirnya.

"Apa benar, David? Tentang itu?" tanya Saitama.

"Sebaiknya kau mulai memanggilku Raion, Saitama. Paling tidak, kau tahu bahwa aku sekarang seorang Laksamana," ucap Raion sebelum menjawab pertanyaan Saitama.

"Ya, kau memang benar. Dragon adalah putra Dragon."

Saitama mendelik, tubuhnya gemetaran. Dia menatap Raion dengan serius.

Raion sendiri terlihat bingung dan menggaruk-garuk kepalanya karena merasa aneh dengan ucapannya sendiri.

"Gini, jadi bocah itu adalah putra Dragon. Ya, Black Dragon."

Saitama menyandarkan tubuhnya di kursi, senyumnya mengembang.

"Aku sudah menduga itu sejak awal bertemu dengannya," ucapnya sambil menutup matanya dengan lengan kanannya.

"Kau menangis Saitama?" tanya Raion memperhatikan air mata mengalir di pipi Saitama.

Saitama dengan cepat menyeka air matanya.

"Tentu saja tidak. Aku sudah berjanji untuk tidak menangis, Raion."

Raion kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seakan Raion memahami maksud Saitama.

"Lalu apa rencanamu selanjutnya, Raion? Aku yakin kau kemari membawa sesuatu."

Raion meregangkan tangannya, dia tersenyum dengan penuh kepuasan.

"Aku rasa, aku akan meneruskan langkah ayahku dulu, Saitama," ucap Raion.

Saitama menghela nafas," Ya, kesempatanmu 90% untuk berhasil, Raion."

"Karena itulah, aku menemuimu Saitama," sahut Raion.

Saitama mengangkat salah satu alis matanya.

Raion tersenyum kembali.

Kembali ke tempat Dragon dan Lucy.

"Kenapa juga dia menitipkan burung ini kepada kita sih?" heran Dragon sembari melirik Hawkeye yang bertengger di tangan Green.

"Ya, dia mengkhawatirkanmu. Apalagi dia juga adalah kakakmu kan?" balas Lucy.

"Tapi, kenapa juga burung itu makan ketimun!" ucap Dragon menatap Hawkeye memakan sisa ketimun yang sebelumnya dia ambil dari Dragon.

"Heleh, kau itu..." Lucy menepuk kepalanya sendiri.

Di sepanjang jalan, Dragon dan Lucy merasakan keanehan. Sebagian penduduk Milestone terlihat memperhatikan mereka berdua dengan seksama.

"Kenapa dengan orang-orang ini? Kenapa mereka melihat kita seperti ini sih?" heran Lucy merasa tidak nyaman dengan tatapan penduduk Milestone.

Dragon hanya diam.

"Atau karena kita telah menyelamatkan kerajaan mereka ya?" ucap Lucy lagi. "Hei, Dragon! Kau dengar tidak?!"

Dragon terkejut, kemudian membungkam mulut Lucy.

"Ssssttt!!!"

"Tuan Jendral!!!!" teriak beberapa ibu-ibu yang langsung berlari ke arah Dragon.

"Gawat!" Dragon panik.

Gedebuk! Gedebuk!

Dragon dikerumuni ibu-ibu sambil berteriak tuan jendral.

Lucy tertawa.

Lalu dengan cekatan, Lucy menarik tubuh Dragon dari kerumunan ibu-ibu.

Beberapa saat kemudian.

Lucy berjalan dengan wajah senang.

Dragon terlihat mengenakan balutan jubah yang menutupi hampir sekujur tubuhnya.

"Sekarang kau tahu kan, kenapa aku tidak suka dipanggil cucu jendral?" ucap Lucy senang.

Dragon memasang muka datar.

Beberapa saat mereka berjalan, Dragon memperhatikan Lucy, wajahnya terlihat memikirkan sesuatu.

"Kau kenapa Lucy?"

Lucy sontak terkejut sampai Dragon ikut terkejut.

"Apa-apaan kau ini! Aku jadi ikut kaget!" seru Dragon.

"Hahaha... Maaf Dragon," balas Lucy sambil menutupi mulutnya, tatapannya terlihat sayup ke arah Dragon. "Dragon, apa aku boleh bertanya?"

Dragon merapikan jubah yang menutup wajahnya, memasang wajah penasaran.

"Kau mau bertanya apa?"

Lucy menarik nafasnya dalam-dalam, dengan senyum manis, Lucy bertanya, "Bagaimana rasanya bertemu dengan saudaramu?"

Dragon melongo.

"Aku tidak tahu," balasnya.

"Heh???! Maksudmu Dragon!" seru Lucy dengan wajah kesal.



Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 63 - Tujuan
Penulis : ibongneverland

Di lautan lepas, sebuah armada Angkatan Laut terlihat terombang ambing ganasnya badai.

Beberapa kru kapal panik, mereka berlarian tidak karuan. Namun seseorang pemuda terlihat asik duduk di haluan kapal. Tidak ada raut wajah panik diwajahnya.

Sesaat kemudian, seorang bapak-bapak berjalan mendekati orang itu.

"El, kau tidak masuk?"

Pemuda itu memperhatikan bapak-bapak yang bertanya kepadanya.

"Jawab bodoh!" seru bapak-bapak itu sambil menendang-nendang kepala pemuda yang dipanggilnya.

"Hahaha," pemuda itu bukannya marah tapi tertawa.

"Cih! Menyesal aku marah padamu," ucap bapak-bapak dengan jubah laksamana yang dikenakannya.

Pemuda itu tersenyum lalu berdiri dan bersandar di pinggiran kapal.

"Kau harusnya menenangkan anak buahmu itu, orang tua," ucap pemuda itu dengan mengeluarkan sebuah makanan di saku celananya.

"Huff... aku tidak tahu kenapa, generasi angkatan laut tahun ini lembek sekali,"

"Hahaha, kau curhat, orang tua!" seru pemuda itu sambil tertawa terbahak-bahak.

"Sialan! Bicara denganmu atau tidak sama saja salah untukku," sahut bapak-bapak itu.

"Laksamana Karasu, apa kau yakin kita harus ke Milestone? Ba-badai ini sangat ganas, aku ti-ti..."

"kalau kau takut, turunkan sekoci dan kembali ke Benteng Merah sekarang!" sahut Laksamana Karasu, Laksamana Divisi 70 Pulau Ame.

"Ba-baiklah Laksamana! Maafkan aku!" teriak kru kapal tersebut yang langsung kembali masuk ke dalam kabin kapal.

"Kau lihat sendiri kan?" ucap Karasu sambil bersandar disamping pemuda yang diajaknya bicara.

Pemuda itu hanya tersenyum, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya.

"Apa kau yakin dia ada di Milestone?" tanya Karasu tiba-tiba.

Pemuda itu seketika terkejut lalu tersenyum," Ya, aku yakin dia sudah sampai sana."

"Aku tidak percaya, bagaimanapun mereka hanya anak kecil."

"Kau harus mulai mempercayai mereka, orang tua. Karena darah ayah mengalir deras di nadinya," ucap pemuda tersebut dengan penuh bangga.

"Kehadiranmu pasti akan membuatnya sangat terkejut, apalagi kau juga akan memberitahunya tentang dia juga kan?"

Pemuda itu tersenyum lagi, raut wajahnya sangat gembira meskipun saat itu badai sedang ganas-ganasnya menerjang kapal mereka.

"Aku membayangkan bagaimana cara seorang wanita terkejut... Hahaha... aku benar-benar geli membayangkannya."

Karasu menatap pemuda itu dengan wajah datar.

"Jadi... tujuanmu memang itu, El?"

Pemuda yang dipanggil El itu menggelengkan kepalanya.

"Bukan hanya itu, Ah aku jadi ingat. Apa Rosiante sudah membacakan suratku untuknya ya..."

"TIDAAAK!!!!!!!"

"Oe oei! Kau kenapa kapt!?" heran Juna melihat Rosinante berlari keluar dari dalam kamarnya begitu bangun dari tidurnya.

"Aku yakin, kapten sedang bermimpi sekarang, " sahut Gwen berdiri melihat Rosiante berdiri di buritan kapal.

"Kau ingat sesuatu, kapt?" tanya Kenshin yang duduk memeluk katana disamping Rosiante berdiri.

"Sejak kapan kau ada disampingku?!" Rosiante kaget sambil menoleh ke Kenshin.

Kenshin memasang wajah datar.

"Sepertinya kau sudah bangun kapten?" tanya Lily dengan senyumnya yang manis.

Rosinante membalas senyuman Lily, "Ah iya, Mix. Sepertinya seseorang datang ke mimpiku dan menghajarku karena lupa memberikan surat yang dia titipkan kepadaku."

"APAAA!!!!???"

Rosiante meringis melihat semua kru kapalnya terkejut, kecuali Kenshin dan Lily.

"Ya, dia adalah Gabriel, Guardian of Red Arm."

"Ieeee!!!" Mereka kembali terkejut, kecuali... ya kalian tahu, Kenshin yang memilih tidur dan Lily yang selalu menebar senyuman diwajahnya.

"Aku tidak tahu kalau kau dan dewa angkatan laut adalah teman masa kecil... ini menakutkan kapt," ucap Gwen dengan wajahnya yang pucat.

"Hahaha, jalan kami berbeda. Tapi kami tetap sama, kami sudah seperti saudara juga."

Rosiante lantas berjalan kembali ke kamarnya.

"Bukankah itu mustahil jika para GRA akan melepaskan kita jika bertemu nanti?" tanya Gwen lagi.

Rosinante tersenyum, "Sudah ku bilang, jalan kami berbeda, tapi tujuan kami sama."

Gwen terdiam mendapati senyuman kaptennya itu. Juna dan Eisntein hanya memperhatikan kaptennya kembali ke dalam kamarnya.

Bersambung ke Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 64

Aerilyn Shilaexs
2016-08-26 10:17:18
orang2 baru mulai bermunculan
Zunuya Rajaf
2016-08-19 08:34:36
GRA, Gabriel, spertinya dia sperti Gorosei dlm One Piece ?
Zunuya Rajaf
2016-08-19 08:32:08
lanjut sja,
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook