VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 37

2016-01-26 - Adhe Kurniawan > Dragon si Pemburu Bajak Laut
344 views | 11 komentar | nilai: 10 (2 user)

" Kapten divisi 2 Bajak Laut Rubah Api." ucap Raion melanjutkan ucapannya.

"Apa??!" Morgan dan prajurit Angkatan Laut terkejut.

"Sekarang kita tahu, siapa sebenarnya biang keladi di balik para kriminal yang berada di kota Saga beberapa tahun terakhir ini." ucap Raion yakin.

"Laksamana... Bukankah Bajak Laut Rubah Api adalah Bajak Laut yang menyerang benteng Biru? Bukankah bajak laut itu sudah dibubarkan?" tanya Morgan yang masih tidak percaya dengan ucapan Raion.

"Kau benar Kapten, Bajak Laut Rubah Api adalah salah satu Bajak Laut yang menyerang benteng Biru dahulu." jawab Raion.

"Mungkinkah Bajak Laut itu kembali lagi, Laksamana? Bukankah kapten mereka juga sudah diesekusi?." heran Morgan.

"Ya, Kapten Black Fox, salah satu dari 10 Iblis Lautan. Kenyataannya, dia memiliki seorang adik kandung. Dan adiknya lah yang menggantikan posisinya sekarang, memimpin Bajak Laut Legendaris Rubah Api itu." balas Raion yang sudah berdiri di pinggiran jurang.

Morgan terdiam tidak percaya di samping Raion.

"Sepertinya kita terlambat, Dragon sudah menuju ke pulau selanjutnya." ucap Raion memperhatikan laut yang berada di dasar jurang tempatnya berdiri.

"Maaf, tuan! Sepertinya mereka dalam bahaya!" seru Tokyo yang berhasil di keluarkan dari dalam tanah, dan sedang diobati lukanya oleh petugas medis Angkatan Laut.

Raion mendekati Tokyo, lalu berlutut di sampingnya, " Maksudmu?."

"Tuan Jendral dan pangeran... Mereka...."

"Tuan Jendral dan pangeran?." heran Raion memotong ucapan Tokyo kemudian berpandangan dengan Morgan.." Bisa kau jelaskan maksudmu?."

"Oh ya, perkenalkan namaku Tokyo, aku pimpinan pasukan kerajaan Milestone ini. Kami berjuang mati – matian untuk menyelamatkan Raja dan Ratu yang sah untuk kerajaan Milestone, kami masih percaya dengan mereka daripada Raja yang sekarang…." .

"Bisa kau jelaskan saja tentang tuan Jendral dan pangerannya saja, Tokyo?" ucap Raion dan Morgan bersamaan dengan wajah datar.

"Oh iya, maaf. Tuan Jendral adalah pemuda yang menyelamatkan pangeran...."

"Apa pemuda yang kau maksud adalah pemuda dengan rambut hitam acak – acakan?." potong Raion dengan wajah serius.

Tokyo yang tidak melanjutkan ucapannya, menganggukkan kepalanya.

Raion dan Morgan kembali berpandangan satu sama lain.

"Hahaha." Raion tiba – tiba tertawa terbahak – bahak, sedangkan Morgan malah menundukkan kepalanya dengan wajah pucat.

"Bagai mana bisa bocah itu menjadi seorang Jendral kerajaan..." ucap Morgan dengan wajahnya yang sedih.

"Hahaha... Kau harus mengakui bahwa bocah itu memang bukan bocah sembarangan, Kapten." ucap Raion yang masih tertawa.

"Baiklah, kita akan mengikutinya lagi. Karena dia dalam bahaya." lanjut Raion berdiri.

"Kau tahu kalau tuan Jendral dan pangeran dalam bahaya, tuan?" tanya Tokyo yang heran." Apa tuan tahu tentang Jendral Fox juga?."

"Tentu saja, aku tahu siapa Fox sebenarnya, aku tahu dia dengan jelas." jawab Raion yang bergegas naik ke atas kudanya.

Di tempat Dragon berada, di atas kapalnya, Dragon's Claw.

"Kau bisa mengobati lukamu sendiri, Dragon?" tanya Rey yang duduk di samping Dragon.

"Ya, aku mendapat sedikit ilmu tentang medis akhir – akhir ini." jawab Dragon membalutkan sebuah perban dilengannya.

"Apa kau punya cita – cita menjadi dokter?" tanya Rey lagi.

"Tidak, aku tidak ingin menjadi dokter. Bagiku bisa menolong...."

Dragon teringat saat dulu dia dan beberapa prajurit angkatan laut terluka karena serangan bajak laut yang cukup tangguh.

"Aku tidak peduli! Bagiku bisa menolong orang lain itu lebih penting daripada memikirkan diri sendiri!" seru Bernidetta saat Zeff berusaha memintanya untuk beristirahat karena saat itu Bernidetta sedang terkena demam.

"Baiklah kalau kau ingin begitu, Detta." ucap Zeff mengangkat kedua tangannya setinggi dadanya dan telapak tangannya mengarah ke Bernidetta.

"Carikan aku Danish's Leaf sekarang, Zeff! Aku butuh banyak untuk mengobati luka bakar mereka, cepat!" teriak Bernidetta sambil mengompres kepala seorang prajurit angkatan laut.

"Ba-baik, Detta." jawab Zeff yang langsung keluar dari dalam ruang perawatan.

Bernidetta memperhatikan Dragon, kemudian berjalan mendekatinya.

"Bagai mana keadaanmu, nak?."

"Aku tidak apa – apa nek. Kau tahu sendiri, lukaku bisa cepat sembuh dengan sendirinya." jawab Dragon.

"Syukurlah kalau begitu, apa kau juga demam seperti mereka?" tanya Bernidetta sambil menaruh salah satu tangannya ke kening Dragon.." Sepetinya tidak... Kalau begitu, beristirahatlah Dragon."

Dragon menganggukkan kepalanya, kemudian Bernidetta merapikan selimut Dragon.

Kembali ke masa sekarang.

"Dragon, kau kenapa?."

"O-oh, aku teringat dengan seseorang Rey." balas Dragon sedikit terkejut karena sempat melamun.

"Siapa Dragon?."

"Nenek Bernidetta, meskipun dia galak...."

Di kota Tua, tepatnya di dalam ruang perawatan angkatan laut.

"Haciiiii...."

"Kau kenapa Bernidetta? Kau sakit?" tanya seorang prajurit angkatan laut yang sedang diobati Bernidetta.

"Tidak, aku masih sehat. Aku cuma merasa ada seseorang yang sedang membicarakan tentangku saja." jawab Bernidetta meneruskan mengobati prajurit angkatan laut tersebut.



Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 37 - Bajak Laut Era Lama
Penulis : Adhe Kurniawan

Kembali ke tempat Dragon berada, Dragon's Claw.

"Apa kau merindukan mereka, Dragon?."

"Hmm... Ya, sepertinya begitu, Rey. Tapi kakek sudah berada di surga sekarang, jadi aku tidak terlalu merindukannya." jawab Dragon sambil berdiri di samping dalam kapalnya, bersandar menatap hamparan laut yang sangat luas.

DUUUMMM!!!! DUUUMMM!!!!!

Dragon dan Rey berlari ke sisi lain kapalnya, memerhatikan ke arah suara yang terdengar sangat keras.

"Suara apa itu Dragon?."

"Aku tidak tahu, sepertinya ada pertarungan di atas laut." jawab Dragon dengan wajah serius.

Di tempat asal suara, terlihat beberapa armada angkatan laut dihadang oleh beberapa kapal bajak laut.

"Well well... Angkatan laut berusaha mendekati pulau Kyodai, apa kalian tidak tahu tempat kalian sebenarnya ya?" ucap seorang pria yang berdiri di haluan kapalnya.

Raion berjalan keluar dari dalam kapalnya, berdiri di depan haluan menatap pria yang berada di atas kapal bajak lautnya.

"Lama tidak bertemu, Red Rabbit." sapa Raion kepada pria yang berdiri di haluan kapal bajak lautnya.

"Oh ini buruk! Seorang laksamana berada di kapal angkatan laut... Semuanya mundur!" teriak pria bernama Red Rabbit itu sembari menuju ke ruang kemudi kapalnya.

"Tidak secepat itu, kawan!"

"Kecepatan penuh, kejar mereka!!!" teriak Raion memberi perintah kepada armada angkatan laut.

Sisa kapal bajak laut yang menghadang armada angkatan laut berusaha melarikan diri, beberapa di antaranya sudah tenggelam.

Kembali ke tempat Dragon dan Rey,

"Itu pulaunya, Dragon!" seru Rey menunjuk sebuah pulau yang terlihat semakin membesar.

"Dan, kapal itu…."

"Kapal milik kakakku, Dragon." sahut Rey sambil memerhatikan Dragon yang serius.

Sesampainya di dermaga pulau, Dragon dan Rey turun dari Dragon's Claw.

"Kau dikapal saja Rey." ucap Dragon kesal.

"Kau adalah jendralku, jadi kemana pun kau pergi, aku juga ikut denganmu."

Dragon menyipitkan matanya.

"Tap!"." Tap!"." Tap!"." Wushh!"

Seseorang mendekat ke arah Dragon dan Rey. Dengan cekatan, Dragon menahan serang yang tiba – tiba datang itu.

Terlihat seorang wanita dengan sebuah cadar, menatap tajam ke arah Dragon kemudian mulai menyerang Dragon lagi.

"Kau seorang wanita? Apa kau pasukan Fox juga?."

Tanpa menjawab pertanyaan dari Dragon, wanita misterius itu mengayunkan pedang kecilnya ke arah Dragon.

"Suzuki!"

Wanita misterius itu mengurungkan niatnya menyerang Dragon, kemudian memasang kuda – kuda sambil menoleh ke arah Rey.

"Pa-pangeran Rey?." terdengar suara lembut dari wanita misterius itu.

"Ya, ini aku hehe." balas Rey mendekati wanita yang dipanggilnya Suzuki itu.

Sambil membuka cadarnya, wanita misterius itu membungkuk di depan Rey, " Selamat datang, pangeran Rey." .

"Apa yang kau lakukan di sini?." tanya Rey setelah dekat dengan Suzuki.

"Aku mencari Raja dan Ratu, pangeran." .

"Hmm, cobaku tebak… kau mengikuti kakakku kan?." tanya Rey sambil meletakkan tangannya di bawah dagunya.

Suzuki tiba – tiba salah tingkah, " Pa-pangeran ngomong apa sih, te-tentu saja itu tidak benar.".

Rey tertawa kecil melihat wajah Suzuki merona.

Bersambung ke Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 38

Under1
2017-04-08 10:45:06
seperti biasa dragon diserang nantinya pasti kaget klau dragon itu jendral
Aerilyn Shilaexs
2016-08-23 21:12:38
ekhem suzuki
Rifky D Dragnel
2016-07-24 17:14:57
Bagus bagus
Lyokovich the Death
2016-02-10 12:32:52
Hebat sekali nenek itu dia menolong semua angkatan laut.. Hebat! Seperti itulah dokter sejati, kalau dokter jaman sekarang mah harus ada bayaran
Imam Rojai
2016-01-27 17:17:11
Kaizoku gari no Dragon, ini apanya Zoro ya?
Pillua
2016-01-27 09:32:26
Suzuki itu siapanya pangeran?
Bikinan Mamah Papah
2016-01-26 16:28:35

hairurrozikin
2016-01-26 12:46:27
gren k mna
Lord Athem
2016-01-26 11:14:06
Gak tau mau komentar apa. . . lanjut . . .
Lord Athem
2016-01-26 11:11:59
Suzuki
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook