VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 35

2016-01-24 - Adhe Kurniawan > Dragon si Pemburu Bajak Laut
324 views | 8 komentar | nilai: 9 (1 user)

Tangan Reagan yang berselimutkan petir menghajar wajah Dragon namun secara mengejutkan tubuh Dragon memudar. Reagan terkejut melihat tangannya melewati wajah Dragon, dan beberapa helai rambut Dragon berjatuhan dari genggaman tangan kirinya.

"BLUE DRAGON ARM!!" Dragon yang sudah berada di atas Reagan, mengepalkan kedua tangannya dan menghantamkanya ke punggung Reagan.

BLAAARRR!!!!!

Tubuh Reagan menghujam tanah dan menciptakan retakan pada tanah yang sangat besar.

Dragon kemudian berusaha berdiri tidak jauh dari Reagan setelah berhasil menghajarnya.

"Ka-kau..." ucap Reagan berusaha bangkit.

"Ya, pukulanmu lumayan juga, Reagan." ucap Dragon sambil mengusap darah segar yang keluar dari mulutnya.

"Ka-kau! Kurang ajar!" teriak Reagan melesat ke arah Dragon lagi.

"Hah! Aku siap untuk menerima seranganmu." ucap Dragon dengan wajah serius.

DAAKK!!!

Dragon menahan pukulan Reagan kemudian menyerang balik Reagan dengan tendangannya. Reagan berhasil menahan tendangan dari Dragon.

"Ku terlalu sombong bocah." ucap Reagan yang masih melayang bersama Dragon karena saling menyerang. Reagan menyelimuti tubuhnya dengan petir, Dragon yang melayangkan serangannya ke Reagan, terpental ke belakang sambil mengusap usap tangannya.

"Sengatan petir dari tubuhnya benar benar menyakitkan." gumam Dragon memperhatikan Reagan yang bersiap menyerangnya lagi.

BLAAARRRR!!!!

Dragon menghantam bukit lagi setelah terkena tendangan dari lutut Reagan yang sangat cepat.

Dragon berusaha bangkit, memperhatikan Reagan yang berjalan mendekatinya. Pandangan Dragon tiba tiba menjadi kabur.

"Ada apa denganku, kenapa aku tidak bisa melihat Reagan dengan jelas?." gumam Dragon sambil mengusap usap matanya.

"Apa kau menangis bocah?" tanya Reagan mengejek.

Dragon yang masih dalam posisi merangkak memperhatikan Reagan yang sudah berdiri di dekatnya dan mengeluarkan kembali petir dari telapak tangan kanannya. Reagan mengangkat tinggi tinggi tangannya dan dengan senyum penuh kemenangan, Reagan mengarahkan pukulannya itu ke punggung Dragon.

"THUNDER MILLIONS ARM!!!"

"ARRRGHHH!!!!"

Telapak tangan Reagan yang mengeluarkan petir menghantam punggung Dragon dan membuat tubuh Dragon menghujam ke tanah sampai Dragon berteriak dengan kerasnya. Terlihat darah segar keluar dari mulut Dragon juga.

Asap biru yang keluar dari tubuh Dragon berangsur angsur menghilang, dengan mata sayup Dragon mencoba melihat Reagan yang bersiap menghajarnya lagi meski terlihat kabur.

"Apa yang terjadi dengan kekuatanku ini...? Apa aku memang tidak bisa menggunakan kekuatanku ini? Sial!" gumam Dragon berusaha menggerakkan tubuhnya yang sama sekali tidak mau bergerak.

"Mati kau BOCAH!!!" teriak Reagan kembali mengarahkan telapak tangan kanan berbalut petir ke arah Dragon yang sudah tidak berdaya.

WUSSSH!!!!! JLEEEB!!!

"Arrrghhhh!!!" Reagan berteriak kesakitan setelah sebuah anak panah tiba-tiba menancap di tangan kanannya. Dengan memegang tangan kanannya, Reagan berusaha mencabut anak panah tersebut.

"Siapa yang berani menyerangku tiba tiba seperti ini?." geram Reagan menatap di sekitarnya berdiri.." Hei Pengecut! Keluar kau!"

Reagan mendekat ke tempat para pasukan kerajaan berada, dia menatap setiap pasukan kerajaan dengan wajah penuh kemarahan.

"Kalian? Siapa yang berani melesatkan anak panah kepadaku?!" tanya Reagan dengan suara mengelegar.

"Kau bodoh, hah Reagan!" seru Tokyo meskipun tubuhnya gemetaran karena takut.." bagai mana kami bisa melesatkan anak panah jika tangan kami saja tidak tampak seperti ini?."

Benar saja, tubuh pasukan kerajaan sudah terbenam sampai di bawah leher mereka. Rey yang masih berada di permukaan tentu saja tidak mungkin melakukan serangan dengan anak panah. Karena dia sama sekali tidak membawa apa pun di tangannya.

Reagan hanya terdiam sambil memperhatikan sekali lagi pasukan kerajaan yang hampir tenggelam di dalam lumpur hisap itu.

"Ya, kalian benar. Kalau begitu, aku akan habisin tikus satu itu dulu. Setelah itu membungkam mulut kalian yang besar itu." ucap Reagan sembari kembali ke tempat Dragon berada.

Di tempat Dragon, dia berusaha bangkit. Masih dalam posisi merangkak, Dragon memperhatikan tanah yang retak ditempatnya berada. Dia memejamkan matanya lagi meskipun terdengar langkah kaki Reagan mendekatinya.

"Ya, aku harus bisa mengendalikan kekuatanku ini!" gumam Dragon penuh keyakinan.

"Kita akhiri ini semua sekarang, bocah." ucap Reagan mengambil posisi sama seperti sebelumnya, mengangkat tangan kanannya lagi dengan balutan petir.

"Maaf, aku lah yang akan mengakhiri ini semua, Reagan." ucap Dragon yang kemudian berdiri. Matanya yang hitam sekejap berubah menjadi biru, sambil mengayunkan sebuah pukulan, tangannya mengeluarkan asap biru yang berubah menjadi api. Dragon melesat menuju Reagan.

"BLUE BLASTER!!!"

DUUUAAAR!!!!

Dari telapak tangan Dragon keluar cahaya biru tepat saat tangannya menyentuh tubuh Reagan yang langsung mendorong tubuh Reagan menghantam bangunan yang terbuat dari batu di belakangnya.

"Kau masih punya nyali juga, bocah!"

Dragon yang berusaha berdiri, tertawa sendiri kemudian tersenyum melihat ke arah Reagan yang berdiri memegangi perutnya setelah terkena serangan dari Dragon.

Dragon mengencangkan kepalan tangannya, " Dan ini serangan terakhir dariku!"

Sekali lagi Dragon melesat ke arah Reagan.

"Kemari kau, bocah!" teriak Reagan sombong sambil memasang kuda kuda untuk menahan serangan Dragon.

"BLUE DRAGON ARM!!!"

Api biru yang keluar dari tangan Dragon semakin besar. Kepalan tangannya melesat begitu cepatnya hingga gerakan tangan Reagan tidak bisa menahan serangan Dragon. Tepat di wajah Reagan, pukulan Dragon menghantamnya.

Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 35 - Keyakinan
Penulis : Adhe Kurniawan

" ARRRRGGHHH!!!!" teriak Reagan yang masih berdiri dengan kepala terdorong ke belakang hingga tubuh besarnya jatuh bersandar di dinding bangunan yang terbuat dari batu di belakangnya.

Dragon yang baru saja menghajarnya tidak bisa mendarat dengan benar, sehingga dia pun terjatuh di depan Reagan jatuh.

"Uhuk!" Dragon berusaha berdiri, tapi tubuhnya serasa menolak. Dragon terus bergulat dengan tubuhnya sendiri, agar bisa berdiri.

"Hahaha... Kau sudah tidak punya harapan lagi bocah. Bahkan tubuhmu menolakmu!" teriak Reagan senang.

"Aku masih punya kekuatan yang pastinya akan mengakhirmu sekarang hahaha." lanjut Reagan mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku celananya.

WUUUSHHH!!!! JLEEEBBBB!!!!

Tepat saat Reagan akan meminum cairan yang berada di dalam botol yang dibawanya, sekali lagi sebuah anak panah misterius langsung menancap tepat di jantungnya. Seketika Reagan tidak bergerak dan mati. Botol yang dibawanya juga jatuh ke tanah.

"Hosh... Hosh... Hosh...." terdengar napas berat Dragon yang akhirnya bisa berdiri dengan susah payahnya. Dragon memperhatikan anak panah yang tiba tiba muncul lagi dan mengenai tepat di jantung Reagan. Dragon kemudian memperhatikan arah dari mana datangnya anak panah misterius itu. Beberapa saat kemudian, Dragon memejamkan matanya dan jatuh tersungkur karena kehabisan tenaga.

Dari pulau yang jauhnya ber mil mil dari pulau Terrapu yaitu pulau Kyodai. Di atas sebuah bangunan yang sangat tinggi, seorang pria dengan rambut biru lurusnya yang bergoyang saat tertiup angin, berdiri dengan tenangnya dengan posisi baru saja melesatkan anak panah dari busur panah yang di bawanya.

"kau melakukannya lagi, Key? Menembakkan anak panahmu tanpa tujuan yang jelas?." heran seorang pemuda gendut yang berdiri di belakangnya sambil memakan sepiring roti yang dibawanya.

Pemuda yang ternyata Key itu membuka matanya sambil menurunkan busur panahnya.

"Kau tahu Shoma, busur panahku tidak pernah meleset. Dan yang pasti, dia tidak pernah... Tidak mengenai sesuatu." balas Key yang berjalan menuju ke dalam bangunan tinggi yang ternyata atap istana sebuah Kerajaan.

"Ka-kau benar, pangeran." ucap Shoma terbata bata sedikit ketakutan setelah Key menatapnya dengan serius dan berjalan melewatinya.

Key tiba tiba berhenti, menoleh ke arah Shoma.." jangan panggil aku pangeran, Shoma. Sampai si tua itu belum mati, aku tidak akan pernah mau mengenakan nama pangeran di depan namaku lagi."

Shoma yang ketakutan menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Key masuk ke dalam istana.

Di dalam Istana kerajaan, tepatnya di aula singgasana raja.

Srek! Srek! Srek!

Seseorang dengan jubah perang berhenti melangkahkan kakinya, memandang secarik kertas yang berada di tangannya. Wajahnya tak terlihat karena sinar matahari hanya menyinari bagian dada sampai kakinya.

"Tidak bisa dipercaya!" geram orang itu.

Secarik kertas yang dibawanya tiba tiba terbakar habis tanpa sisa. Dan kemudian orang berjubah perang itu berjalan menjauhi sinar matahari, bersembunyi di balik kegelapan ruangan aula singgasana raja tersebut.

Di sebuah bangunan besar yang tidak jauh dari dermaga, terlihat dua orang dengan jubah hitam masuk ke dalamnya. Sesampainnya di dalam, terlihat Lucy duduk di depan sebuah meja dengan kedua tangan terikat di kursi tempatnya duduk. Terlihat sebuah gulungan yang berada di atas meja, dan gulungan itu memang gulungan milik kakek Lucy, Zeff.

"Apa kau sudah memutuskannya, gadis manis?" tanya pria berjubah yang berdiri di depan meja sambil membuka tudung di kepalanya.

Lucy diam dan hanya menatap orang tersebut yang ternyata Key.

"Kau merindukanku?" tanya Key sambil mengedipkan matanya.

Wajah Lucy menjadi datar.

Key mendekatkan dirinya ke meja dan mengambil gulungan milik Zeff.

"Jadi kau tidak mau memberitahuku bagai mana caranya membaca peta harta karun ini ya?" tanya Key sekali lagi kepada Lucy.

Kali ini wajah Lucy terlihat pucat, keringatnya mulai keluar.

"Aku akan mem...."

"Tidak! Gulungan itu tidak boleh dibaca orang lain!" teriak Lucy marah sambil berontak dari kursi tempatnya diikat.

Key yang tidak meneruskan ucapannya, menatap Lucy yang terlihat marah.

"Jadi... Begitu...." gumam Key sambil tersenyum jahat.

SREEKKKK!!!!!

Gulungan milik Zeff dibuka oleh Key tepat di depan mata Lucy. Lucy yang melihatnya terdiam dengan matanya yang melebar dan pupil matanya yang mengecil.

Bersambung ke Dragon si Pemburu Bajak Laut Chapter 36

Aerilyn Shilaexs
2016-08-23 16:47:54
hm, kata-katanya belum 100% ada. Masih aja ada yang ngilang next read
Rifky D Dragnel
2016-07-24 09:18:16
Lanjutkan
David Lopez
2016-02-09 22:13:33
Kasihan Lucy diikat.. Kalau aku ada aku pasti akan menyelamatkanmu Lucy-chan tunggu saja #kenaGampar
Bikinan Mamah Papah
2016-01-24 17:07:23

Ade Aja
2016-01-24 10:13:01
Knpa key membunuh reagan mas... Apa dia bkn dri bagian kerajaan milestone..
Pillua
2016-01-24 09:20:58
Akhirnya Lucy muncul lagi.
A wahyu
2016-01-24 09:16:02
Misteri perubahan sikap Dragon belum terjawab
Lord Athem
2016-01-24 08:55:24
Apa ya isi gulungannya. . .
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook