VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Drops Of Blood Chapter 67

2016-05-16 - Ivan96 > Drops Of Blood
234 views | 23 komentar | nilai: 10 (2 user)



Sebuah serangan tiba tiba dari Luralfi membuat Ukite menancap di langit langit dan hanya terlihat kakinya.

"Apa yang kau tulis? Keabadia? Menguasai seluruh mantra? Hah?" Luralfi tampak masih begitu tenang dengan posisinya yang jongkok dilangit langit.

"Uhhuekhh. . khukhh..hukhh. ." Terdengar suara Ukite yang seperti orang tersedak.

"Hh?" Luralfi hanya terdiam tanpa banyak komentar.

"Aduh.. Melonku jadi keluar semua" ucap Ukite yang masih belum keluar.

"Ehh..!!" kaget Luralfi, kaki Ukite tak terlihat lagi disana.

"Jadi, dimana Naomi?" tanya Ukite yang kini juga ikutan jongkok disamping Luralfi.

"Ee..!!" kaget Luralfi.

"Eee whaa..!!"

Brakk...!!

Ukite terjatuh dari langit langit ruangan.

"Aduduh.. Sakit..." Ukite memegangi kepalanya.

"Kenapa tidak gunakan mantra?!" ucap Luralfi datar, agak aneh juga sedikit kesal dengan tingkahnya.

"Hmm.." Ukite memperhatikan lantai ruangan itu.

"Apa dia melihatnya?" pikir kaget Luralfi.

"Jadi begitu ya..." Ukite kembali bangun dengan wajah serius.

"Tak mungkin dia melihatnya" pikir Luralfi.

"Dia ada diantara ruang yah.." ucap Ukite.

"Tidak terlalu salah.." jawab Luralfi dengan senyuman khasnya, senyum yang begitu tenang.

"Seperti dirimu, aku tak merasakan keberadaanmu, karena kamu juga tak disini seutuhnya" ucap Ukite, Luralfi mengerutkan dahinya, menatap Ukite tajam, namun tak lama dia kembali tersenyum.

"Kamu ternyata sedikit tahu tentang mantraku ya" ucap Luralfi.

"Tidak juga..." sangkal Ukite dengan senyum polosnya.

"Hh?" Luralfi kembali dibuat mengerutkan dahinya.

"Kamu yang memberitahuku" ucap Ukite.

"Apa?!" Luralfi semakin dibuat bingung.

Drops Of Blood Chapter 67 - Patah
Penulis : Ivan96

"Ehhh... tidak mungkin..!!" kaget Luralfi ketika melihat Ukite yang tengah duduk sambil makan melon di atas tempat tidur.

"Sejak kapan kamu melakukannya..."

"Dan ini masih dalam mantraku, seharusnya itu tak bisa... hanya satu orang yang punya ilusi sebaik itu"

"Rindy.." Luralfi menatap Ukite tajam.

"Kamu kenal Rindy?" tanya Ukite dengan wajah polosnya.

"Siapa kamu?!" balik tanya Luralfi.

"Tak hanya mempermainkanku. Kau juga memasuki pikiranku.. hanya Rindy yang bisa lakukan itu.."

"Apa ini juga ilusi?"

"Kau Rindy kan..!!" teriak Luralfi.

Grabbhh..!!

Tiba tiba saja Luralfi sudah mencekik Ukite.

"Bukan.." ucap Ukite.

Blarrddd..!!!

Ukite meluapkan auranya sekaligus, dinding dan lantai tempat itu retak.

"Hh..?!" Luralfi tersentak kaget tak mengira, jubah shinigaminya terlihat mengeluarkan asap seperti terbakar.

"Raltaize..!!" kaget Luralfi.

"Tidak mungkin... dia sudah mati... Apa kau..." Luralfi masih diterpa kebingungan.

"Ukite... hentikan..!" teriak sebuah suara.

"Hh..!?" Ukite menurunkan auranya dan menoleh kebelakang.

"Ahhah... Hahh... Semuanya terjebak dalam mantranya, jangan membunuhnya dulu" ucap Geido, keadaannya sangat buruk, jubahnya hancur, mata sabitnya juga patah.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Ukite.

"Aku tertangkap mantranya tadi.." ucap Geido.

Brachhh..!!

"Dan sekarang pun.." ucap Ukite yang kini sudah menusuk dada Geido dengan sabitnya.

"Kini aku yakin kamu bukan Raltaize.. kakek tua itu takan menyerang temannya" ucap Luralfi.

"Begitu juga dengan Ukite..!!" ucap Geido yang kini sudah dibelakan Luralfi.

"Hh..?!" Luralfi hendak menoleh, namun itu kesalahan, tinju Geido tepat menghantam wajahnya.

"Ughh..!!" erang Luralfi yang sedikit terhuyung kebelakang.

"Kau melepaskanku dengan mudah dan meninggalkan mantra pada diriku, menurutmu Ukite takan sadar itu?" ucap Geido.

"Kau sadar itu? Lalu kenapa.."

"Aku menyuruh Ukite berhenti?" potong Geido, dia tersenyum penuh arti.

"Karena bagaimanapun, aku takan menyuruhnya berhenti... yha mungkin bila alasannya lebih agak ya... Entahlah.." ucap Geido sambil tersenyum.

"Sejak awal... kau tahu Ukite akan menyerangmu?" Luralfi masih terbelit bingung.

"Tunggu... dimana Ukite?!" Luralfi baru sadar kalau Ukite tak ada.

"Menurutmu?"

"Hh..?!" Luralfi menatap Geido bingung.

Jracchh.!!

"Hukhh..!!" Mata Luralfi melotot, tubuhnya gemetar ketika tangan kiri Geido menembus dadanya.

"Kau..!!"

"Ini mantra yang bagus Ukite.." ucap Geido sambil tersenyum.

"Aghh.. Hahh.. hahh..!!" Luralfi melangkah mundur, darah berceceran di lantai kamar Naomi.

"Hh?! Darah?" bingung Geido melihat tangannya yang berlumuran darah.

"Kau ini... apa?" tanya Geido, namun Luralfi sudah lebih dulu menghilang dari tempat itu.

.

Kletakk..!!

Sebuah retakan muncul di wajah bagian kiri seseorang.

"Anak itu... apa yang sebenarnya ada dipikirannya, ini melenceng dari perhitunganku" gumam Luralfi sambil menutupi mata kirinya.

"Perhitungan mutlakku dapat dipatahkan.." Luralfi mulai menurunkan tangannya menunjukan mata kirinya yang berwarna jingga.

Diseluruh dunia, setiap orang kembali sadar, semua berjalan dengan kembali normal tanpa mereka sadari, sesuatu telah terjadi sebelumnya.

"Waktu yang seharusnya miliku, Ukite... saatnya nanti, akan kurebut kembali pena-ku.." gumam Luralfi.

"Itu bukan milikmu.." ucap sebuah suara.

"Ehh..!?" kaget Luralfi.

Tampak Ukite tengah jongkok diatas tiang rambu jalan.

"Ukite..." Luralfi menatapnya tajam.

"Jadi... diakah orangnya, Ukite..!!" Udara terasa jadi begitu panas, seseorang dengan ekspresi wajah mengerikan berjalan dari arah belakang Luralfi.

"Hh..!!?" Luralfi menatap Qiqiun.

"Ee.. Qiqiun... aku sudah lakukan tugasku.. aku mau minta maduku?" ucap Ukite.

"Tunggulah, biar kuhanguskan dulu orang ini!" ucap Qiqiun.

Api berputar di tangan kanan Qiqiun, kemudian berubah membentuk sabit besar berwarna merah layaknya besi panas.

"Apa yang kau lakukan dengan rumahku..!!" teriak Qiqiun murka.

Drannkk..!!!

Begitu cepat, Qiqiun melancarkan serangannya, namun sebuah mata sabit besar menahannya.

"Jadi kau peri iblis penjaga altar itu ya.." Luralfi menatap tajam Qiqiun.

Sritt... Driinkk..!!

Luralfi mengayunkan cambuknya menggerakan mata sabit besar yang dililit di ujungnya.

"Heii...!!" protes Ukite, ternyata mata sabit itu menancap di tiang rambu tempat Ukite.

"Sudah lama kutunggu saat ini.." ucap Luralfi dengan seringai buasnya.

"Haahaaa... tak kukira, yang kucari justru datang menghampiri.." Luralfi kembali menggerakan cambuknya mengarahkan mata sabitnya kearah Qiqiun.

"Tutup mulut busukmu itu.."

Dralllhh..!!

Hanya dengan satu tangan kirinya, Qiqiun menepis mata sabit itu hingga hanya menancap di jalanan.

"Whoaa.. waktunya kembali berhenti" ucap Ukite yang malah asik memperhatikan kota.

"Keren...!!" ucap kagum Ukite dengan mata berbinar.

"Tak mau mengakuinya?" Luralfi tersenyum penuh hinaan.

"Berhenti bicara seperti kau bisa melukaiku.."

Kretakk..!!

Qiqiun meluruskan tangannya, ternyata tangannya patah saat menepis mata sabit Luralfi tadi.

"Tubuh seperti api... tubuh yang mendekati keabadian" ucap Luralfi dengan senyum menyeringai.

Klakk...!!

"Ehh...?!" Luralfi melihat tempatnya berpijak.

"Qiqiun... ini dunia manusia loh.." ucap Ukite.

"Dan... ee.. Mereka datang.." ucap Ukite.

"Aku belum selesai" ucap Qiqiun.

"Aku juga..." ucap Ukite dengan senyum entengnya.

Luralfi hanya terdiam melihat Ukite heran dengan penuh waspada

"Kembalikan Naomi..!" Ukite tiba tiba saja sudah berdiri membelakangi Luralfi sambil mengarahkan sabitnya keleher Luralfi.

"Apa dia begitu berharga buatmu?!" Mata sabit Luralfi juga terlihat menodong tepat depan wajah Ukite.

"Yaa..." jawab Ukite tanpa berpikir.

"Seberapa berhargakah dengan pena itu?!"

"Semuanya... lepaskan mereka!" ucap Ukite.

"Jangan mengganggu Ukite... biar kubunuh dia.." teriak Qiqiun.

"Dia takan mati... dia hanyalah bagian kecil dari yang asli" ucap Ukite.

"Hh.?" Qiqiun menatap Ukite tajam.

"Sejauh mana kau tahu aku..!" Luralfi melirik Ukite tajam.

"Aaa... Itu... hmm... eee.. entahlah, aku hanya merasa begitu" jawab Ukite dengan polosnya.

"Erhh...!" geram Luralfi.

Blarrdd..!!!

Mata sabit Luralfi menancap keras pada jalanan disamping Ukite.

"Lain kali, aku akan benar benar membunuhmu..!!"

Jrashh..!!

Luralfi bergerak maju memenggal dirinya sendiri pada sabit Ukite.

"Ehh..!!" kaget Qiqiun, tak sedikitpun terlintas di benaknya dia kan lakukan itu.


Bersambung ke Drops Of Blood Chapter 68

Princess Alien
2017-02-07 14:16:10
Wah wah waktu dipermainkan.
Arizl Kareen
2016-09-25 21:10:46
Lanjut...
ThE LaSt EnD
2016-08-22 00:26:28
karakter misterius...
ThE LaSt EnD
2016-08-22 00:25:48
ku beri nila 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat". just for fan
David Lopez
2016-06-16 20:24:05
Ruralfi bertingkah seperti pengecut saat memutuskan menusuk dirinya sendiri
Snow Blue
2016-06-09 22:55:13
ukite..ukite...
Qiujote I
2016-05-26 10:05:19
Mirip, mirip, mirip banget!
Shineria of Life
2016-05-21 09:32:57
110. Ukite tetap stay clam down ya. . I like it. .
Leila Taa
2016-05-18 23:03:32
Tinggalkan jejak. Lanjut!
Kill Me 1st
2016-05-18 11:57:09
Lanjut!
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook