VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Drops Of Blood Chapter 20

2015-08-11 - Ivan96 > Drops Of Blood
291 views | 14 komentar | nilai: 10 (4 user)

"Itu kalian kan?" ucap Ukite.

Flap.. Flapp..

Mereka melompat turun dari pohon ke hadapan Ukite.

Terlihat beberapa ekor hewan mirif kelinci, dengan bola mata merah dan tanduk pipih di kepalanya.

"Sudah agak lama ya, Ukite." ucap salah satu dari mereka, dia memiliki sepasang tanduk lainnya di atas alisnya melengkung ke arah belakang.

"Ou hai.. Kouv." sapa Ukite.

"Namaku Hkouv, sebutkan dengan benar." kesal Hkouv.

"Ahh.. Iya maaf, soalnya namamu sulit sekali." ucap Ukite.

"Harhh.. Sudahlah, ada apa?"

"Kamu tak datang untuk liburankan?" ucap Hkouv.

"Aku ingin bertemu pak tua Ranuof." ucap Ukite.

"Kamu masih belum belajar ya, panggil dia tuang Ranuof." bentak Hkouv.

"Hmm.. Tidak mau." ucap Ukite.

"Kau..!" kesal Hkouv.

"Aku sedang buru buru, kamu mau antar atau tidak?" ucap Ukite.

"Hmm.. Kami sedang bertugas, jadi biar Sitera saja yang mengantarmu." ucap Hkouf.

"Sitera, di mana dia, aku tak melihatnya?" ucap Ukite.

"Aku di sini." ucap sebuah suara.

Drops Of Blood Chapter 20 - Pertanyaan Ukite
Penulis : Ivan96

"Hh..?" Ukite membalikan tubuhnya.

Hewan mirif kelinci, dengan telinga panjang namun kepalanya lebih bundar dan di belakang tubuhnya terdapat tulang ekor panjang.

"Wahh.. Ekormu sudah panjang ya." ucap Ukite mencubit kedua pipinya.

"Uhhh.. Huhh.. Lepaskan." ucap Sitera.

"Kamu juga jadi punya taring!" Ukite membuatnya membuka mulutnya.

"Uhh.. Gajh..!" Sitera menggigit tangan Ukite.

"Warhh.. Sakit!!" teriak Ukite.

"Itulah akibatnya kalau kamu tidak sopan." ucap Sitera ngambek.

"Huu.. Maaf." ucap Ukite. Memegangi telunjuknya.

"Hmm.. Baiklah ayo." ucap Ukite.

"Hmm.. Bisakah kamu naik ke pundakku?"

"Aku sedang buru buru." ucap Ukite.

"Lariku juga cepat." ucap Sitera.

"Hmm.. Kalo gitu..!" Ukite mengangkat Sitera dan di letakannya di pundak kanannya.

"Hei..!" protes Sitera.

"Pegangan..!" Dengan cepat Ukite berlari, dia melompat dari pohon ke pohon dengan sangat cepat.

"Kamu sudah menguasai gaya bertarung wilbist ya." ucap Sitera.

"Belum.."

"Aku masih kalah dengan pak tua Ranouf." ucap Ukite.

"Dia itu kan hebat, kami semua saja belum tentu bisa mengimbanginya." ucap Sitera.

"O iya.. Aku punya mantra baru loh." ucap Sitera.

"Benarkah, mantra apa?" tanya Ukite.

"Itu, hmm.. Mirif cara bertarung wilbist, namun lebih cepat." ucap Sitera.

"Benarkah?"

Clapp..!

Ukite menghentikan lompatannya.

"Hmm..!" Sitera melompat turun dari pundaknya, dia kini berhadapan dengan Ukite.

"Hmm.. Sebaiknya jangan lengah, nanti kena pukul loh!" ucap Sitera.

"Hmm.. Ya.." ucap Ukite, pandangannya serius menatap Sitera.

Batss..!

Langkah Sitera tak terlihat di susul munculnya dua Sitera melesat dari kanan kiri Ukute.

"Hh..!?" kaget Ukite.

Drapp..!

Ukite melompat mundur menghindari sabetan ekor Sitera.

Lagi lagi, suatu yang tak di perkirakan Ukite, Sitera tiba-tiba muncul di belakangnya.

Clankk..!

Sabit putih Ukite muncul, dia menahan ayunan ekor Sitera tanpa berbalik.

"Kamu lengah..!" ucap sebuah suara.

"Aa.!" kaget Ukite menemui Sitera sudah di depan wajahnya, terlebih Sitera yang sebelumnya masih ada di belakang.

Flapp.. Darrd..!

Ukite terlempar jauh menabrak pohon terkena tendangan Sitera di dahinya.

"Benarkan!?" ucap Sitera muncul di atas tubuh Ukite.

"Hughh... Sakit sekali." Ukite memegangi dahinya.

"Bagai mana bisa kamu jadi banyak." ucap Ukite.

Di tempat lain, tampak Hairiza tengah berjalan, dia berjalan sempoyongan dengan memegangi luka di perutnya.

"Haahh.. Hahh..!" Nafasnya terengah engah kelelahan.

"Hhmm.. Inikan?" ucap Ukite, tampak dia sudah sampai di depan sebuah pohon besar.

"Iya.." angguk Sitera.

Ukite lalu berjalan ke arah lubang berbentuk segitiga di pohon itu.

Semua menjadi gelap dalam seketika, namun perlahan sebuah cahaya mulai terlihat.

"Hoo..?" Ukite kini berada di sebuah tempat dengan banyak pilar menopang tanah dan pohon.

"Sekarang rumahnya jadi bertambah banyak, bagai mana aku mencarinya." ucap Ukite.

"Semenjak itu, mereka mulai membangun rumah di atas." ucap Sitera.

"Ooo.. Jadi itu salahku ya." ucap Ukite muram.

"Hmm.. Mungkin, tapi ini jadi bagus kan?" ucap Sitera.

"Dan, rumah tuan Ranouf itu berbeda." ucap Sitera menunjuk ke suatu arah.

"Hee..? Apa itu?" Ukite melihat sebuah pilar dari lilitan akar akar dengan bunga bunga pada akar akar itu.

"Ayo..!" Sitera berjalan ke arah tempat itu.

"Di mana rumahnya?" Ukite masih memperhatikan puncak akar itu, dan memang tak ada ada pohon seperti lainnya.

"Hmm.. Di bawah." ucap Sitera, dia menyentuh salah satu bunga di sana.

Krettt..!

Akar akar itu sedikit meregang dan menunjukan sebuah pintu.

"Tuan Ranouf kini tinggal di bawah." ucap Sitera, dia hampir mengetuk pintu di sana namun pintu itu tiba-tiba terbuka.

"Aku merasa ada bau orang lama di sini." ucap sebuah suara, perlahan sosok itu keluar dari balik bayangan.

"Woaa.. Pak tua Ranouf!!" teriak Ukite berbinar, sosok itu terlihat seperti yang lainnya.

"Halo..!" sapa kelinci itu.

"Gigimu jadi lebih panjang." ucap Ukite, memang dia memiliki sesuatu mirif tanduknya dari mulutnya mengacung ke belakang.

"Dasar tidak sopan." ucap Ranouf.

"Jadi.. Ada apa?"

"Kamu tak datang hanya untuk minum Roots kan?" ucap Ranouf.

"Aa..!" Ukite hendak bicara.

"Masuklah." Ranouf masuk ke dalam.

"Khuh, baru juga mau bicara, dasar pak tua." gumam Ukite kesal.

"Ada apa kamu mencariku." ucap crowzan, tampak di hadapannya Hairiza tengah berjalan ke arahnya dengan terengah engah.

"Aku, ada sesuatu yang ingin kukatakan." ucap Hairiza.

"Hh..?" Crowzan melihat keadaan fisik Hairiza yang terluka.

"Itu..!" ucapan Hairiza terhenti, pandangannya kosong, dia terdiam membatu.

"Apa?" bingung Crowzan.

"Hei, aku bertanya padamu." ucap Crowzan yang mulai kesal karena tak di jawab.

"Kau jangan main main." Crowzan mencengkram pundak Hairiza dengan tangan kirinya.

Flepp..!

Tangan Hairiza tiba-tiba memegangi tangan Crowzan.

Srrthhh..!

Tangan Hairiza tiba-tiba memerah seperti bara dan berubah jadi abu.

"Ehh..!" kaget Crowzan, dia berusaha menarik tangannya yang ikut terbakar.

"Lepaskan sialan." Crowzan mengayunkan sabitnya menusuk dada Hairiza hingga dia terlempar ke belakang.

"Uarrrhhh..!" teriakan keras Hairiza menyertai tubuhnya yang hancur jadi abu.

"Hah.. Hah..!" Tampak Crowzan berusaha mengatur napas, pada tangan kirinya terdapat luka bakar.

"Kurang ajar..!" Wajah Crowzan menunjukan kemarahannya yang amat.

"Kau menantangku shinigami rendahan." Aura hitam pekat menyelimuti tubuh Crowzan.

"Akan kubunuh kau..!" teriak Crowzan murka.

Di tempat lain, tampak sebuah ruangan dengan meja dan kursi di sana.

"Jadi, ada apa Ukite?" tanya Ranouf.

"Apa kamu tahu, kenapa tubuh shinigami memudar." tanya Ukite.

"Ehh..!" Ranouf menatap kaget.

"Apa mungkin kamu..!" Ranouf menatap Ukite penuh khawatir.

Bersambung ke Drops Of Blood Chapter 21

Kuroko Akashi
2017-02-05 10:23:29
Yeyyy... Go to the next part..
Leon Lockhart
2017-01-17 19:38:50
Kelincinya mirip rusa ya? '-')
Princess Alien
2017-01-11 09:13:38
Kelincinya hebat.
Arizl Kareen
2016-09-25 00:48:11
Next...
ThE LaSt EnD
2016-08-20 07:18:18
ku beri nilai 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat".
Young G Raigha
2016-06-20 12:55:34
pasti ini tempat ini ukite berlatih jerusnya yang hebat.
Kurosaki Yoshimura
2016-05-14 21:02:29
eh.....??
Derry Prayoga Hanief
2016-04-01 20:53:25
komen dulu
Leila Taa
2016-03-26 13:29:01
Lnjt
Lord Athem
2016-01-01 07:35:54
izin ninggalin jejak.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook