VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Drops Of Blood Chapter 11

2015-06-22 - Ivan96 > Drops Of Blood
366 views | 17 komentar | nilai: 10 (4 user)

"Sekarang.." Ukite mendekatkan wajahnya.

"Siapa bayinya." lanjutnya.

Degg..!

Hitoshi benar-benar di buat pucat, tubuhnya gemetar dalam takut, langkah kakinya mundur dengan langkah yang tak beraturan.

"Dia menantang Hitoshi?"

"Berani sekali dia."

"Lihat Hitoshi sepertinya ketakutan."

"Mana mungkin bodoh."

"Tidak, lihat, kakinya gemetar." ucap anak anak yang menyaksikan.

"Kau bertingkah seolah dirimu hebat." Ukite terus melangkahkan kakinya mendekati Hitoshi.

"Kau menjijikkan.." ucap Ukite pedas.

"Ehh.." Hitoshi terjatuh, kakinya tak mampu melangkah dengan benar karena gemetar.

"Kau.. Apa yang kamu inginkan."

"S. Siapa kamu sebenarnya." ucap Hitoshi ketakutan.

"Kau menyembunyikan dirimu sebenarnya dengan berulah."

"Menjaili orang lain agar kau di anggap hebat." Ukite tersenyum kecil.

"Kau.." Ukite menatapnya tajam.

"Ehh.." Hitoshi semakin pucat.

"Tidak...!"

"Menjauh... Jangan dekati aku." Hitoshi terus mundur menjauhi Ukite.

Drops Of Blood Chapter 11 - Karisma Seorang Shinigami
Penulis : Ivan96

"Tidak.. Menjauh.." Hitoshi terus mundur hingga akhirnya, tembok menahannya.

"Lemah.." ucap Ukite.

"Ehh.." Matanya terbelalak, pupil mata Hitoshi bergerak gerak.

"Kau.. Sangat.. Lemah." ucap Ukite, Hitoshi terdiam, pandangannya kosong, jiwanya seolah dihancurkan kata kata Ukite.

"Kau.." Ukite tersenyum mengintimidasi.

"Tidak... tidak hentikan."

"Hentikan!!" teriak Hitoshi.

"Menyedihkan.." ucap Ukite.

"Hentikan..."

"Uarhhh!!" teriak Hitoshi keras.

Semuanya anak di buat kaget, semua pandangan tertuju pada mereka, anak anak mulai berdatangan ke sana.

"Kenapa dia?"

"Apa dia di pukul?"

"Apa mereka berkelahi?" ucap anak anak bertanya tanya.

Tubuh Hitoshi lemas, pandangannya kosong, tubuhnya gemetar, wajahnya putih pucat.

"Tidak...!"

"Tolong... Jangan..." gumam Hitoshi lemas.

"Dia.." Naomi menatap Hitoshi.

"Aku pernah merasakannya, benar-benar mengerikan." batin Naomi.

"Ada apa ini?" seorang guru memasuki kelas.

"Apa, apa yang terjadi?"

"Apa yang kamu lakukan padanya?" Guru itu merangkul Hitoshi.

"Kamu tidak apa?"

"Hei..?" Dia berusaha menyadarkan Hitoshi.

"Eee... Heee... Hee..."

"Kumohon.." ucap Hitoshi lemas.

"Kamu, apa yang kamu lakukan?" Nsaya menatap Ukite.

"Aku tidak menyentuhnya kok!" ucap Ukite polos, Nsaya memandang ke murid murid lainnya.

"Dia masih menahannya, dia beruntung bila tidak gila." ucap Livia, tampak dirinya tengah berdiri di atas salah satu bangunan sekolah.

"Dia tidak menahannya, itu bukan yang kamu maksud." ucap sebuah suara di samping Livia.

"Aahh?" Livia menoleh ke arah shinigami di kirinya itu.

"Aku pernah merasakannya, mungkin dia sudah memilih mati daripada harus berhadapan dengannya bila dia gunakan itu." ucap Heirigrim.

"Dan.. Kau siapa?" ucap Livia.

"Namaku Heirigrim, sebenarnya beberapa waktu lalu ada beberapa shinigami sedang mencari shinigami bernama Ukite, aku berpikir kalau dia yang sedang di cari, jadi.."

"Dicari?" Livia menatap bingung.

"Aku dengar di dunia shinigami ada kota tak terikat, ya aku juga tidak tahu pasti, tapi kurasa seseorang memberikan tawaran untuknya." ucap Heirigrim.

"Tawaran.." Livia menatap Ukite yang masih di kelasnya.

Matahari terus bergulir, semakin tinggi membawa hari yang semakin terang.

"Nona Inagi.." panggil seseorang.

"Ayo Heme, cepatlah." ucap Inagi, tampak Inagi tengah berlari di kejar pelayannya.

"Nona Inagi, pelan pelan." ucap Heme.

"Yee.. Aku duluan.." ucap Inagi girang, terlihat dirinya sudah berada di taman, tempat pertama kali bertemu Ukite.

"Hhmm.." Inagi melihat kanan kiri, seolah dirinya tengah mencari sesuatu.

"Nona Inagi.." ucap Heme terengah engah karena kelehan setelah lari.

Klap.. Klap...!

Derap langkah seseorang begitu jelas terdengar di sepanjang gang.

"Hh..?" Ukite memandang ke depan, pandangannya tertuju pada seorang perempuan berambut hitam.

"Ukite..?" Livia menatap Ukite tajam.

"Hmm.. Ada apa?" tanya Ukite polos.

"Jadi benar ya namamu Ukite?" ucap Livia.

"Aku dengar ada banyak shinigami mencarimu, kenapa kamu dicari?" ucap Livia.

"Apa itu resmi?" lanjutnya.

"Maksudmu hunter?" ucap Ukite.

"Hunter?" Livia menatap Ukite penuh tanya.

"Ya, seperti mereka." Ukite mengangkat wajahnya ke atas.

"Hh..?" Livia ikut melihatnya, tampak tiga orang shinigami tengah berdiri di sana.

Batss..!

Salah seorang shinigami dengan topeng tengkorak menghadap ke belakang melompat ke arah Ukite.

"Dia.." Livia mengambil posisi siap tarung dengan sabitnya.

Jrankk..

Sabit Hade hanya mengenai jalanan, Ukite lalu mengayunkan kakinya menendang wajah Hade.

"Ughh.." Hade terdorong ke belakang.

"Lumayan juga, tapi.."

"Kalau kau tidak serius, kau bisa mati." salah seorang shinigami dengan tengkorak banteng menghadap ke kiri di kepalanya kini sudah di samping Ukite dan sudah memposisikan sabitnya di leher Ukite.

"Jangan berontak, aku hanya inginkan bukumu." ucap Ein.

"Kau juga.."

Livia memposisikan sabitnya di leher Ein.

"Hmm.. Jangan serakah, kita bisa membaginya kan?" ucap Ein menatap Livia.

"Membagi?" Livia menatap Ein tajam.

"Aku tidak menginginkan itu." ucapnya lagi.

"Kalau begitu, jangan ganggu!" salah seorang shinigami dengan topeng tengkorak retak mengarahkan sabitnya ke leher Livia.--Ease--

"Kheh.. Seperti dugaanku, dia hanyalah shinigami tingkat dua." Hade berjalan mendekati Ukite yang masih tertodong sabit milik Ein.

Di tempat lain, tampak seorang laki-laki tengah memegangi sebuah buku berwarna hitam dengan motif kepala serigala.

"Diary shinigami.." gumamnya, perlahan dirinya membuka buku itu, tampak lembaran lembaran kertas buku itu penuh dengan nama nama dan tuntutan dosa.

Pandangannya tajam, tertuju pada nama nama di tiap lembar itu.

"Hh..?" Pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah nama.

Hariki dabizreika, dia berdosa, melakukan hubungan terlarang dengan perempuan lain di belakang istrinya.

Begitulah isi salah satu tuntutan pada sebuah nama, tangan pemuda itu mencengkeram erat buku itu sebagai tanda kekesalannya.

"Hanya.. Hanya seperti itu." ucapnya dengan nada bergetar.

"Arhh..." Pemuda itu melemparkan buku itu hingga menghantam kaca besar di lemarinya.

"Hukum, hukum macam apa itu.." Pemuda itu mengepalkan tangannya, gemetar, tangannya gemetar menahan amarah.

"Kau..."

"Kau benar-benar kejam!!" teriaknya keras, pandangannya menatap kaca lemari yang retak..

Klap..!

Pemuda itu melangkahkan kakinya ke arah lemari itu, tampak bayangan dirinya yang terlihat pecah pecah.

"Tidak adil.." Pandangannya tertuju pada bayangan dirinya di cermin.

"Ini benar-benar tidak adil." wajahnya tampak menunjukkan kemarahan yang sangat.

"Hh..?" Pandangannya lalu tertuju pada buku yang tergeletak di sana, buku yang menyimpan dosa para manusia.

Di sisi Ukite, tampak posisinya benar-benar terancam, namun tampak wajah Ukite tak menunjukkan keterancaman sedikitpun.

"Sebenarnya apa yang spesial dari bukumu, hingga ada orang bodoh yang memberikan tawaran dengan harga tinggi." ucap Hade.

"Buku?" Livia menatap Hade bingung.

"Jadi yang mereka inginkan hanyalah buku Ukite." ucap Livia dalam hati.

"Lalu kenapa kalian tak menanyakannya, menangkap ikan di lautan tanpa tahu ikan apa yang di inginkan, itu sama saja menenggelamkan diri di lautan." ucap Ukite.

"Hehe... Kamu berucap seolah ikan itu adalah hiu." ucap Hade dengan wajah bercandanya, namun karena di buat buat, terlihat jadi agak aneh.

"Bagai mana bila paus?" ucap Ukite polos.

"Hh..?"

"Paus memang besar, tapi kurang ganas." ucap Hade lesu.

"Bagai mana bila paus pembunuh, aku baca di buku katanya mereka ganas loh." ucap Ukite dengan wajah konyolnya.

"Aa.. Benarkah?" Hade mulai terbawa suasana.

"Apa, apa yang dia lakukan?" batin Livia bingung.

"Berhenti bermain main, cepat serahkan bukumu!" Ein menggerak gerakan sabitnya mengancam Ukite.

"Hmm... Bagai mana ya." Ukite memiringkan kepalanya, pandangannya menyudut ke atas.

Bersambung ke Drops Of Blood Chapter 12

Bocah Redoks
2017-02-13 10:38:19
Dengan sabit di leher masih sempat bercanda. Hehh
Kuroko Akashi
2017-02-05 08:02:48
Semalam ktdran... Lnjut skrng...
Leon Lockhart
2017-01-16 21:42:45
Paus pembunuh
Aerilyn Shilaexs
2016-12-30 21:24:35
hah padahal terus aja membahas tentang ikan.
Arizl Kareen
2016-09-24 23:51:13
Kerenn... bahasa tubuhnya main banget..
ThE LaSt EnD
2016-08-19 15:10:25
ukete wlau trancm tp tampak tenang ,malah konyol, sperti apa kekuatan Ukete sebenarnya?
Kurosaki Yoshimura
2016-05-06 16:09:58
haha...disaat seperti ini dia masih bisa ngelawak jg...uktie..uktie
Kyouzo
2016-03-30 07:33:17
Hade mudah terpengaruh hajar aja mereka..
Rita En
2016-03-26 12:15:44
Lnjt
Derry Prayoga Hanief
2016-03-19 18:19:19
komen dulu baru baca
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook