VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Drops Of Blood Chapter 10

2015-06-06 - Ivan96 > Drops Of Blood
324 views | 20 komentar | nilai: 10 (2 user)

Di tempatnya, Enzo dan Ukite masih terdiam, tampak Enzo masih berusaha mencerna ucapan Ukite.

"Aku mengerti.." ucap Enzo tiba tiba.
"Hh..?"

"Aku memang hanya pemula, aku juga sempat ragu untuk mengambil tawaran ini, namun saat aku melihat bahwa kamu adalah shinigami tingkat dua, kupikir aku bisa mengalahkanmu"

"Ternyata aku salah.." Enzo menundukan wajahnya.
"Melihat lawan hanya dari sebuah tingkatan, itu adalah kesalahan terbesarku" ucap Enzo.

"Ahh.. ya, sebenarnya itu adalah hal yang biasa" ucap Ukite.
"Kebanyakan shinigami juga selalu seperti itu, ya tapi itu memang benar sih, aku hanya shinigami tingkat dua" ucapnya lagi.

"Kenapa shinigami tingkat dua bisa melakukan Kinki dan Hinki?" ucap Enzo.

"Kinki, hinki?"
"Ahh.. itu bukan Kinki ataupun Hinki" ucap Ukite

"Hh..?" Enzo menatap bingung.
"Itu adalah gaya bertarung wilbist" ucap Ukite.

"Wilbist?" Enzo menatap kaget penuh tanya.
"Bukankah itu..!"

"Ahh.. aku ada keperluan.."

Drops Of Blood Chapter 10 - Berbeda
Penulis : Ivan96

"Apa kamu masih mau melawanku?" tnya Ukite.
"Hmm.."

"Tidak..., aku mengaku kalah" ucap Enzo.

"Hmm.. baiklah.."
"Sampai jumpa.." Ukite berlari pergi melompat ke bangunan lain.

Hari berlalu begitu cepat, perlahan kegelapan mulai menyelimuti hari, mendorong sang mentari dan menarik sang rembulan.

Di sebuah kamar, tampak seorang gadis kecil tengah mengambar sesuatu di bukunya.

"Sedang menggambar apa?" ucap sebuah suara tiba tiba.
"Hh..?" Inagi dengan cepat melihat sosok seorang anak laki laki di dekat jendelanya.

"K.kakak..!" kaget Inagi melihat kedatangan Ukite.

"Kenapa kak.."
"Aku lewat jendela" ucap Ukite memotong.

"Tapi, bagaimana kakak tahu aku tinggal disini?"
"Aku mengikutimu.." Ukite tersenyum ramah, dia lalu berjalan mendekatinya.

"Ya, sebenarnya aku kesulitan juga sih mencari rumahmu" lanjutnya.

"Hh, tapi kenapa kakak kemari?" tanya Inagi.

"Ee?"
"Apa ini gambarku?" Ukite melihat gambar wajah yang tengah di gambar Inagi.

"Uugh..!"

Dengan replek Inagi menutup lembar itu dengan kedua tangannya, wajahnya tertunduk.
"Maaf..,"

"Gambarnya jelek.." ucap Inagi pelan.
"Benarkah?"
"Menurutku ini bagus kok" Ukite memindahkan tangan Inagi.
"Aku menyukainya.." ucap Ukite.

"Hmm...!" Sejenak Ukite melihat gambar di buku itu, gambar Ukite dengan wajah tersenyum.
Terlihat sekali kalau Ukite tengah memikirkan sesuatu.

"Hei.. kamu sudah kan, sekarang giliranku"
"Boleh kan?" Ukite meminta buku itu.

"Ehh?" Inagi menatap Ukite sayu, Ukite mengambil buku dan pensil itu.

"Hmm..!" Ukite mulai membuat garis garis di buku itu, perlahan garis garis itu membentuk sebuah wajah, wajah yang riang.

"Bagus sekali.." ucap Inagi pelan.
"Hmm.. bagaimana?" ucap Ukite menunjukkan gambarnya.

"Aku membuatnya tersenyum, jadi.. kamu tidak boleh bersedih, kamu harus tetap tersenyum" ucap Ukite.
"Eeh..?" Inagi memandang gambar wajahnya yang tengah tersenyum, perlahan ekspresi wajahnyapun mulai berubah.

"Umm.." angguk Inagi tersenyum.

clik..clekk..clik..clekk..
Hari semakin malam, jam terus berputar seperti lembar buku yang terus terbuka dan memperlihatkan lembar lainnya.

Tampak Inagi tengah tertidur, dipelukannya sebuah buku yang sebelumnya di gunakan untuk menggambar.

Sekkh..!
Perlahan Ukite menarik selimutnya ke atas, menyelimuti Inagi.

"Apa mungkin ada yang seperti itu ya" Ukite memandangi Inagi.

"Manusia yang tidak memiliki itu..."
"Apa itu mungkin.."

Tap..! Tap..!
Terlihat Ukite tengah berjalan memasuki kelasnya.

"Ukite.." panggil seseorang.
"Ehh..?" Ukite menolehnya.

"Hh..?" Ukite memiringkan kepalanya memandangi gadis berambut hitam dihadapannya.
"Ee.. itu.. hmm.. maafkan aku.." Gadis itu menundukan wajahnya.

"Ahh.." Kaget gadis itu, karena saat dirinya mengangkat wajahnya, Ukite tepat di hadapannya.

"Kamu sedikit berbeda" ucap Ukite, memang saat itu rambut Naomi di ikat dua tidak di urai seperti biasanya
"Aa..?" Naomi hanya terdiam tak mengerti.

"Hhmm.." Ukite masih memandangi wajah Naomi

"A.ada apa?" ucap Naomi gugup.

Gubgg..!
Seseorang mendorong Ukite keras, dan tanpa sengaja wajah mereka yang sebelumnya dekat kini malah membuat mereka berciuman.

"Ehh...!" Tatapan Ukite kosong.

Drapp..!
Ukite segera berlari cepat keluar dari kelas.

"Apa ini.." batin Ukite, dia terus berlari ke arah toilet.

Clankk..!
Pakaian shinigaminya muncul tepat sebelum dirinya menembus pintu.

"Ini...!" Ukite melihat tangannya, tampak tangannya mengeluarkan butiran butiran cahaya.

Di kelasnya tampak anak anak tengah tertawa.

"Kalian lihat, dia lari karena malu"
"Padahal hanya mencium perempuan."
"Ahaha.."
"Dia konyol sekali" ucap anak anak menertawai Ukite.

"Ukite..!" gumam Naomi khawatir.
"Wajah itu.." Naomi teringat ekspresi wajah Ukite yang kosong.

"Hei Naomi, bagaimana rasanya di cium anak payah sepertinya"
"Ahahah.." tawa anak anak.

Klap..klap..!
Tidak berselang lama, Ukite kembali masuk ke kelasnya, ekspresi wajahnya datar.

"Ehh, Ukite..?"

"A.ada apa?" ucap Naomi gugup.

Gubgg..!
Seseorang mendorong Ukite keras, dan tanpa sengaja wajah mereka yang sebelumnya dekat kini malah membuat mereka berciuman.

"Ehh...!" Tatapan Ukite kosong.

Drapp..!
Ukite segera berlari cepat keluar dari kelas.

"Apa ini.." batin Ukite, dia terus berlari ke arah toilet.

Clankk..!
Pakaian shinigaminya muncul tepat sebelum dirinya menembus pintu.

"Ini...!" Ukite melihat tangannya, tampak tangannya mengeluarkan butiran butiran cahaya.

Di kelasnya tampak anak anak tengah tertawa.

"Kalian lihat, dia lari karena malu"
"Padahal hanya mencium perempuan."
"Ahaha.."
"Dia konyol sekali" ucap anak anak menertawai Ukite.

"Ukite..!" gumam Naomi khawatir.
"Wajah itu.." Naomi teringat ekspresi wajah Ukite yang kosong.

"Hei Naomi, bagaimana rasanya di cium anak payah sepertinya"
"Ahahah.." tawa anak anak.

Klap..klap..!
Tidak berselang lama, Ukite kembali masuk ke kelasnya, ekspresi wajahnya datar.

"Ehh, Ukite..?"

"A.ada apa?" ucap Naomi gugup.

Gubgg..!
Seseorang mendorong Ukite keras, dan tanpa sengaja wajah mereka yang sebelumnya dekat kini malah membuat mereka berciuman.

"Ehh...!" Tatapan Ukite kosong.

Drapp..!
Ukite segera berlari cepat keluar dari kelas.

"Apa ini.." batin Ukite, dia terus berlari ke arah toilet.

Clankk..!
Pakaian shinigaminya muncul tepat sebelum dirinya menembus pintu.

"Ini...!" Ukite melihat tangannya, tampak tangannya mengeluarkan butiran butiran cahaya.

Di kelasnya tampak anak anak tengah tertawa.

"Kalian lihat, dia lari karena malu"
"Padahal hanya mencium perempuan."
"Ahaha.."
"Dia konyol sekali" ucap anak anak menertawai Ukite.

"Ukite..!" gumam Naomi khawatir.
"Wajah itu.." Naomi teringat ekspresi wajah Ukite yang kosong.

"Hei Naomi, bagaimana rasanya di cium anak payah sepertinya"
"Ahahah.." tawa anak anak.

Klap..klap..!
Tidak berselang lama, Ukite kembali masuk ke kelasnya, ekspresi wajahnya datar.

"Ehh, Ukite..?"

Naomi memandang Ukite senang, namun ekspresi wajahnya berubah layu.
"Dia.." batin Naomi.

"Helo bayi.."
"Bagaimana ciumannya, itu ciuman pertamamu ya" ejek seorang anak bertubuh tinggi dengan pakaian asal.

Ukite melirikan matanya ke arah anak itu, pandangannya begitu dingin.
"Uu... kenapa?"

"Ahh tolong jangan marah, aku takut.."
"Ahahah..." ejek Hitoshi.

Tap..tap..!
Perlahan Ukite melangkahkan kakinya ke arah Hitoshi.

"Apa?" ucap Hitoshi dengan nada tinggi, wajahnya begitu jelas menantang Ukite.

"Ini, apa mungkin dia..!" batin Naomi khawatir.

"Tunggu Ukite..!" teriak Naomi, tepat sebelum Ukite menggerakan tangan kanannya.
"Uhh?" Ukite memandang Naomi seolah mempertanyakan ucapannya sebelumnya.

"Kalau kamu memukulnya, kamu bisa di keluarkan" ucap Naomi, keringat memenuhi wajahnya, rasa takut kalau Ukite justru akan marah begitu dingin di jiwanya.

"Benarkah?" tanya Ukite.
"Iya, kalau kamu berkelahi, kamu bisa di keluarkan dari sekolah"

Ukite kembali memalingkan wajahnya menatap Hitoshi.

"Kenapa hah?"
"Kau takut.." ejek Hitoshi.

"Kukira itu kamu loh" ucap Ukite polos.
"Cihh..., wajahmu itu mengesalkan sekali" ucap Hitoshi.
"Ouu.." Ukite mengangguk nganggukan kepalanya.

"Kreh.., berhenti mempermainkanku sialan" Hitoshi menarik kerah baju Ukite.
"Heh?" Ukite malah menatap Hitoshi dengan tatapan santainya.

Grebb..!
Ukite meraih kerah baju Hitoshi dengan tangan kirinya.

"Bagaimana ini.." Naomi makin panik.

"Menyedihkan..!" Ukite mendorong Hitoshi kebelakang.
"Ghh..."

"Kau.." Hitoshi menatap kesal Ukite, namun perlahan, sebuah senyum licik tersungging di wajahnya.

"Hanya itukah?" ucap Hitoshi dengan tatapan meremehkan.
"Upss, aku lupa, kalau bayi tidak bisa memukul" ucap Hitoshi memanasi Ukite.

Tatapan Ukite berubah tajam, begitu tajam menatap Hitoshi.

"Kenapa?"
"Takut ya?" Hitoshi tersenyum meremehkan.
"Atau mungkin, kamu memang tak bisa memukul" ejek Hitoshi.

"Kalau begitu biar aku saja yang memukulmu" Hitoshi mengayunkan tinjunya tepat ke pipi kiri Ukite.

"Ehh..?" Hitoshi memandang penuh tanya, Ukite bahkan tak bergerak sedikitpun.

"Menjijikkan.." ucap Ukite datar.

"Hhh..!" Hitosi tersentak, jantungnya berdegup kencang, keringat dingin bercucuran.

"Lemah sekali.." ucap Ukite melangkahkan kakinya kedepan.

"Ee...!" Hitoshi benar benar di buat beku, tubuhnya gemetar.
"K.kau.. ba-bagaimana, Ke-kenapa bisa" ucap Hitoshi gemetar.

"Ini.." Naomi menatap Ukite penuh cemas, bagaimanapun dirinya tahu kalau Ukite bukanlah manusia sepertinya ataupun Hitoshi.

Bersambung ke Drops Of Blood Chapter 11

Leon Lockhart
2017-01-15 10:56:13
Paragrafnya memang dibuat begitu atau ada kesalahan '-')
Aerilyn Shilaexs
2016-12-30 21:16:57
ada dua paragraf yang sama tuh.
Arizl Kareen
2016-09-24 23:44:48
Apa ? Butiran cahaya ? Apa itu tandanya shinigami akan mati ?
Zunuya Rajaf
2016-08-18 22:07:21
ku beri nilai 10 dan kutingalkan jejak renungan "Mayat" .just for fan
Kurosaki Yoshimura
2016-05-06 16:01:11
hmm_ _" chap ni bnyk kesalahan tapi uktie keren aku suka gaya lo uktie...
Alicia Lancaster
2016-03-30 07:28:28
Hahaha first kiss na buahahahahaha
Rinularo
2016-03-26 11:48:23
Lnjt
Derry Prayoga Hanief
2016-03-19 18:17:51
komen gw tadi kemana ya?
Derry Prayoga Hanief
2016-03-19 18:14:39
hikikomori ijin ninggalin jejak terus
Derry Prayoga Hanief
2016-03-19 18:13:52
rocky ukite terus
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook