VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Drops Of Blood Chapter 4

2015-04-22 - Ivan96 > Drops Of Blood
347 views | 27 komentar | nilai: 9.6 (5 user)

Di kelasnya, terlihat Naomi tengah menulis.

"Selamat pagi.." ucap sebuah suara diiringi masuknya anak anak.

"Hari ini.., kita akan dapat teman baru" ucap sang guru yang barusan masuk.

"Hh..?"

"Siapa ya?"

"Seperti apa ya dia?" bisik anak anak.

"Ayo masuk.." Sang guru mempersilahkan anak itu masuk.

Tlap..! tlap..!

Seorang anak laki laki berambut hitam berjalan memasuki ruang kelas itu.

"Dia.." gumam Naomi kaget tak percaya.

"Selamat pagi.." sapa anak itu dengan senyum ramah.

"Namaku Ukite Ru Axrai Va Neisxai, salam kenal" Ukite membungkukan tubuhnya.

"Ooo.." Anak anak menatap Ukite.

"Apa itu namanya?"

"Panjang sekali.."/"Nama macam apa itu"

"Aneh sekali" komentar anak anak.

"Aku baru tahu namanya Ukite" ucap Naomi.

"Apa itu namamu?" ucap sang guru.

"Ya..".

"Disini tidak di tulis sepanjang itu" Ibu guru itu melihat daftar absennya.

"Itu karena nama di sekolahku sebelumnya tidak menggunakan nama penuh" jawab Ukite santai.

"Hh..?"

Drops Of Blood Chapter 4 - Ketahuan
Penulis : Ivan96

Naomi hanya memandang bingung dengan ucapan Ukite.

"Oou.. begitu rupanya.." angguk gurunya mulai mengerti.

"Baiklah.. kamu boleh duduk..."

"Disana, disamping Naomi ya.." ucap gurunya.

Memang terlihat hanya Naomi yang duduk sendirian.

"Iya.." Ukitepun berjalan ke arah bangku Naomi dan duduk disana.

"Bagaimana bisa kamu.."

"Itu mudah.." jawab Ukite santai.

"Mudah..?" Naomi menatap Ukite bingung, jawabannya semakin menambah pertanyaan dalam benaknya.

Di sisi lain, di atas salah satu bangunan sekolah, terlihat Livia tengah berdiri disana"

"Apa yang sebenarnya dia lakukan.."

"Melakukan aktifitas seperti manusia.., khuhh.."

"Aneh sekali.." gumam Livia.

Kriiing...

Bel tanda jam istirahat berbunyi, anak anak mulai berhamburan keluar kelas.

Disebuah toilet, terlihat seorang anak tengah menulis pada sebuah buku hitam dengan motif cipratan darah.

"Menuliskan nama temanmu?" ucap sebuah suara tiba tiba.

"Hh..?" Dengan cepat anak perempuan itu berbalik.

"Ee.." Belum sempat Ukite bicara gadis berambut plum itu berlari pergi.

Di sisi Livia, matanya menyorot tajam, sebuah topeng dengan cipratan darah muncul di wajahnya.

"Nama baru.." gumamnya.

Tapp..! tapp..!

Terlihat Naomi tengah berjalan, terlihat wajahnya sedikit resah.

"Ke mana dia pergi" ucap Naomi dalam hati.

Disaat dirinya tengah berjalan, tiba tiba sebuah kaki menyelengkatnya hingga dirinya jatuh.

"Urhhh.."

"Maaf.." ucap seorang anak laki laki--Hideon--

"Mangkannya kanya kalau jalan hati hati" ucap temannya.--Reza--

Clapp.. bugghh..!

Seseorang menyelengkat kaki Hideon dari belakang hingga dirinya terjatuh.

"Ahhh..." teriak Hideon.

"Eehh.. maaf.." ucap Ukite.

"Kau.." kesal Hideon.

"Kamu dari mana?" ucap Naomi kembali bangun.

"Toilet.." jawab Ukite.

"Arhhhh..." teriak seorang anak begitu keras.

"Hh..?"

"Ada apa?"

"Siapa yang berteriak?"

"Suaranya dari arah sana" Anak anak berlarian ke arah sebuah kelas di lantai dua.

"Ada apa?" ucap Naomi bertanya tanya.

"Hmm.." Ukite tampaknya sudah mengerti.

Mereka lalu ikut berlari ke arah asal suara itu.

Di sebuah kelas, terlihat anak anak sudah mulai memenuhi tempat itu.

"Tidakk... tidakk..." Seorang anak laki laki terlihat tengah merangkak mundur.

"Tolong..., tolong.." teriaknya ketakutan.

"Haah.. hah.. menjauh.. menjauh..."

"Jangan mendekat.." Anak itu menangis ketakutan, disaksikan anak anak yang tak tahu apa yang sedang di hadapi anak malang itu.

"Ervana Deilira.." Livia berjalan ke arah anak itu.

"Kamu sudah berdosa.." ucap Livia, Ervana semakin berkeringat dingin, matanya melotot takut melihat Livia sudah mengangkat sabitnya.

"Kamu menyakiti orang lain dengan memukulnya.."

"Arhhh..." teriak Evana keras.

Batss..!

Livia mengayunkan sabitnya hingga mengenai pundaknya.

"Reahhh..." Ervana berlari keluar menerobos kerumunan orang.

Dengan santai Livia berjalan mendekati Ervana.

"Tolong.. dia... ada..."

"Ada...." Ervana menunjuk nunjuk Livia.

Kriittt..

Livia menyeret sabitnya, semakin membuat Ervana makin ketakutan.

Disisi lain, terlihat Naomi berusaha menerobos kerumunan.

"Uhh.. ada apa?"

"Aku juga mau lihat.." ucap Naomi.

Di tempat lain, tak jauh dari kerumunan, terlihat seorang gadis tengah berdiri dengan wajah cemas.

"Takut?" ucap sebuah suara tiba tiba.

"Hh..?" kagetnya melihat tiba tiba Ukite ada disampingnya.

"Kenyataan yang pahit terkadang membuat kita sulit mencernanya" ucap Ukite yang sudah di tinggal gadis itu lari.

"Dia itu sebenarnya kenapa ya?"

"Apa dia gila?"

"Kejadiannya seperti yang terjadi pada Heina"

"Hei.. kamu sadarlah" ucap anak anak yang menyaksikan.

"Menyakiti hati orang lain dengan mengejeknya" Livia kembali mengangkat sabitnya.

"Hh...!"

"Hah..hah... tidakk.." Ervana kini terdesak oleh pagar pengaman.

"Kumohon.."

"Jangan....."

Batss..!

Livia mengayunkan sabitnya ke arah Ervana.

"Warrrhhh..." Teriak keras Ervana terangkat keatas karena kuatnya sabetan sabit Livia.

"Hmm.."

Perlahan tubuh Ervana yang tersangkut di pagar mulai menggelosor jatuh kebawah.

Sedang jiwanya, terlihat tersangkut di sabit Livia, dan perlahan mulai pudar.

"D.dia jatuh.."

"Dia jatuh.."

"Awas awas.."

"Lihat... awas.."

"Awas dia jatuh.." Anak anak berebut untuk melihat Ervana yang jatuh kebawah.

"Hmm.. sampai segitunya ya" ucap Ukite melihat kebawah.

Dia lalu berjalan pergi ke suatu arah.

"Dia mati?" ucap Naomi yang melihat ke bawah.

Langit merah mulai terlihat di barat, bertanda hari sudah sore.

Di sebuah kamar, terlihat seorang gadis yang tengah resah, di pelukannya sebuah buku hitam dengan motif bercak darah.

Tiba tiba, sebuah sabit muncul di depan wajahnya, membuatnya kaget.

"Takutt..?" ucap Ukite di belakangnya sambil memegang sabit itu.

"Takut akan rasa bersalah, atau.." Ukite mendekati gadis itu.

"Takut seseorang mengetahui bahwa kamu ada hubungannya dengan kematian mereka" ucap Ukite di telinganya.

"Hh.."

Gadis itu semakin berkeringat dingin, jangtungnya berdegup kencang, tubuhnya seolah beku karena rasa takut.

"Hmm..!" Ukite semakin mendekatkan sabitnya ke arah wajah gadis itu.

"Pernah berpikir, bagaimana yang mereka rasakan" Sabitnya sudah hampir mengenai matanya.

"Orang orang yang namanya kamu tulis.." Bisik ukite di telinganya.

"Debgg.. debgg... debgg...!"

"Kamu takut.." Gadis itu mulai berlinang air mata, tubuhnya gemetar, sulit rasanya tetap duduk tegap.

Bersambung ke Drops Of Blood Chapter 5

Bocah Redoks
2017-02-13 08:19:45
Kenyataan pahit kadang sulit d cerna. Dan menimbulkan hal hal yg kadang d luar nalar
SHiniGami GhoUL
2017-02-04 21:05:56
Yakss... Move forward.. (Y)
Leon Lockhart
2017-01-14 15:05:04
Dialah pengguna yang lainnya '-') Ukite pasti imut '-')/
Leon Lockhart
2017-01-14 15:03:53
Dialah pengguna yang lainnya '-')
Aerilyn
2016-12-29 08:08:28
dan apa itu ukite, nama lengkapnya nya susah diingat.
Aerilyn
2016-12-29 08:07:46
tak ada pengampunan untuk orang yang berdosa.
Al Onepc
2016-10-08 20:04:30
koq ukite bisa sekolah..dan bisa di lihat semua orang..hmmmm
Arizl Kareen
2016-09-24 03:44:21
Makin seru... Tapi aku penasaran, siapa yg ngasih buku ke naomi ?
ThE LaSt EnD
2016-08-16 20:23:06
gadis itu bsa melihat ukite, tpi apa Naumi jg bsa melihat livia?
anonim1002026
2016-05-14 14:06:00
Emm baguz juga
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook