VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Beast Warriors Chapter 116

2016-01-04 - Tatzumaru > Beast Warriors
284 views | 22 komentar | nilai: 10 (1 user)

Setelah mendapat perintah yang dikirim melalui sinyal Beast oleh Kapten Pemburu Rockie Roo pada pasukan kelas C supaya menghentikan penyerangan, akhirnya perbatasan Lore bisa sedikit bernapas lega...

"Oi, oi... Kalian mau kemana!?" Ryuga hendak mencegah para binatang itu pergi, namun lagi-lagi seseorang menghentikannya dengan memegang pundak anak itu dari belakang.

"Sudah biarkan mereka pergi, itulah misi kita." ucap orang yang menepuk pundak Ryuga tadi, Kororu.

"Tapi kan guru..."

"Jangan membantah, sebaiknya untuk saat ini kita bantu orang-orang Tribal membawa yang terluka kembali ke desa agar bisa secepatnya ditangani. Terlalu banyak prajurit yang terluka dalam pertarungan tadi, anggota tim medis yang terbatas tidak akan sanggup menangani mereka semua, jadi kita harus secepatnya membawa mereka kembali ke markas bangsa Tribal." jelasnya.

"Ya aku mengerti, guru." ucap Ryuga dengan wajah yang sedikit kecewa karena tidak bisa mengejar G dan pasukannya untuk mengorek informasi mengenai motif penyerangan yang mereka lakukan.

"Aku akan menemui Hajime-san untuk menanyakan apa yang terjadi, sementara kau, Satoshi, dan Ryu tolong bantu membawa prajurit yang terluka. Dan untuk Vida, biarkan gadis itu membantu bagian medis menangani orang-orang yang masih belum dibawa ke desa."

"Apa kau mengerti?"

"Hmm... Aku mengerti, guru!"

Ryuga berlari menuju Satoshi yang sedang memapah seorang prajurit yang terluka parah, "Oi, guru... Di mana si pemarah itu?"

"Eh, maksudmu Ryu? Dia ada di atas sana!" jawab pria bertubuh besar tersebut.

"Oi, Ryu! Cepat turun! Bantu aku dan guru Satoshi membawa yang terluka kembali ke markas utama bangsa Tribal!"

Beast Warriors Chapter 116 - Siapa Berikutnya?
Penulis : Tatzumaru

Laboraturium rahasia di bawah tanah...

"Ada apa anda memanggilku, Jin-san?" tanya Tomozaki yang baru saja sampai di tempat rahasia milik Jin.

"Tempatmu lumayan bagus juga untuk menyendiri hah? Aku baru pertama kali ini datang ke tempat ini."

"Jendral Warriors bagian barat yang baru, Jendral Tomozaki..." ucap Jin sambil mengutak-atik sesuatu di meja operasi.

"Selamat atas kenaikan pangkat anda, Tomozaki... Atau lebih enak aku panggil Jendral?"

"Sudahlah jangan bertele-tele! Aku sangat benci dengan orang yang suka bertele-tele." jelasnya sambil memandang tubuh eksperimen yang tergantung di dinding.

"Hahaha... Kau orang yang suka to the point yah? Aku suka orang sepertimu, Jendral." balas Jin.

"Panggil saja Tomozaki, aku tidak terbiasa dipanggil dengan sebutan Jendral sebelumnya..."

"Oh iya, apakah mayat ini adalah salah satu eksperimen gilamu, Doktor Jin?"

"Hahahaha... Lucu sekali kau memanggilku Doktor... Panggil aku Jin saja. Dan untuk pertanyaanmu barusan itu, dia adalah eksperimen yang paling mengagumkan daripada eksperimen-eksperimen yang pernah aku buat sebelumnya."

"Oh, begitu ya?" jawab Tomozaki tidak peduli.

"Dulu namanya adalah EX-2, tapi setelah aku mengembangkannya, EX-2 kuganti menjadi X-1." pungkas Jin sambil tersenyum khas seorang penjahat.

"EX-2, X-1 atau apalah, aku sama sekali tidak peduli... Tapi, entah kenapa saat aku melihat wajahnya membuatku teringat akan seseorang." Tomozaki memicingkan matanya sembari terus memperhatikan X-1 di sana.

"Seseorang hah? Kurasa X-1 memang mirip seseorang." sambung Jin dengan wajah yang terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

"Apa kau tidak penasaran dengan X-1?" Jin bertanya.

"Ya, terserahlah... Aku sama sekali tidak tertarik dengan hasil percobaan seperti ini." lanjutnya.

"Benarkah? Hahahaha... Tapi untuk percobaanku yang satu ini kau pasti akan tertarik." Jin berbalik sambil memegang sebuah tangan palsu yang terbuat dari akar.

"Apakah kau memintaku datang kemari untuk menunjukkan itu padaku?" tanya Tomozaki serius.

"Bukankah hanya tinggal beberapa hari pasukanmu akan bergerak? Jadi pasti kau memerlukan ini, Tomozaki." Jin tersenyum licik.

Kemudian Tomozaki menerima tangan akar buatan Jin dan bertanya sebuah pertanyaan padanya, "Pasti ada harganya bukan?"

Mendengarnya Jin lalu tersenyum licik, "Hahaha... Memang tidak ada yang gratis di dunia ini."

"Ya-ya... Cepat katakanlah! Aku sudah merasa tidak nyaman berada di tempat ini." serobot Tomozaki.

"Hehehe... Benar-benar langsung ke intinya yah... Baiklah, bayarannya cukup mudah dan gampang..." Wajah Jin jadi serius dan terlihat sangat menyeramkan.

"Ha-hawa mengerikan apa ini!?" Tomozaki tiba-tiba merasa sesuatu yang mengerikan ada di setiap penjuru ruangan itu. Saking mengerikannya perasaan itu, sampai membuat tubuh Tomozaki tak mampu bergerak meskipun ia menginginkannya.

"Kau hanya perlu membawakanku sampel darah seseorang, hanya itu saja." lanjut Jin dengan ekspresi yang sudah kembali seperti semula.

Hawa mengerikan yang dirasakan Tomozaki tiba-tiba saja menghilang setelah Jin mengucapkan permintaan yang harus dipenuhi olehnya itu.

"Sial! Perasaan itu jauh lebih mengerikan ketimbang milik Tatsuya waktu itu..." pikir di benaknya.

"Orang ini benar-benar ilmuan gila yang sangat berbahaya..."

---- Beast Warriors ----


Desa Taimuresu, pasar di pusat desa...

Tampak Rise sedang melakukan transaksi pembayaran di toko buah. Sementara Tatsuya dan Taruma, pemuda itu sedang melihat-lihat toko perlengkapan yang jaraknya tidak begitu jauh dari toko buah.

Saat anak itu melihat-lihat beberapa perlengkapan untuk bertarung, ia jadi teringat ketika dulu masih kecil sekitar berumur 7 tahunan. Saat itu, Tatsuya sedang berjalan bersama adiknya Ryuga. Di perjalanannya mereka tidak sengaja melihat sebuah toko peralatan tempur di seberang jalan.

Tatsuya kecil mengajak Ryuga untuk melihat-lihat toko itu. Mereka dengan polosnya main masuk saja untuk melihat-lihat.

Setelah berada di dalam, Tatsuya begitu antusias, anak itu langsung berlari kesana-kemari untuk melihat benda-benda seperti pedang, perisai, armor, panah, tombak, dan sebagainya yang dipajang di toko tersebut.

"Whooaaah... Semuanya keren-keren... Benarkan, Ryuga?" ucap kagum Tatsuya dengan mata yang berbinar-binar.

"Hei, kenapa kau tidak menjawabku, Ryuga?" bentak Tatsuya sembari menoleh ke Ryuga yang sejak tadi berjalan di belakangnya.

Tapi saat anak itu menoleh, ternyata adiknya sudah tidak ada di belakangnya. Ryuga hilang.

"Eh? Ryuga! Kau di mana!?" panggilnya cemas karena di sekitar sana tidak terlihat tanda-tanda adiknya tersebut.

Tatsuya sangat cemas waktu itu, ia mencari sampai keluar toko, tapi tetap anak berambut putih itu tidak menemukannya.

"Di mana kau, Ryuga! Jangan main-main! Nanti kita bisa diomeli ibu!" teriak Tatsuya.

Tidak lama, ternyata Ryuga berada di depan kaca sebuah toko yang menjual berbagai macam kueh dan roti.

Plak!! Tatsuya menggeplak kepala adiknya itu.

"Aduh! Sakit kak!"

"Dasar anak bodoh! Jangan menghilang seenaknya begitu! Aku jadi khawatir bodoh!" bentak Tatsuya.

"Maafkan aku..." ucap Ryuga menyesal.

"Sedang apa kau di depan toko roti hah? Apa kau lapar?"

"Kalau kau lapar bilang donk jangan pergi seenaknya saja!"

"A-ah, tidak kak, aku tidak lapar kok... Aku hanya melihat-lihat saja..." ucapnya.

"Aku hanya ingin bisa membuat kueh yang enak saja."

"Kenapa harus buat? Kita bisa meminta ibu untuk membelikannya bukan? Kenapa harus repot-repot membuatnya?"

"Harusnya kau itu mencari beberapa senjata di toko tadi bukannya malah belajar membuat kueh. Bukankah beberapa minggu lagi kita harus masuk akademi militer untuk belajar menjadi seorang prajurit hebat seperti ayah? Jadi jangan buang waktumu untuk melakukan hal-hal yang tidak perlu seperti membuat sebuah kueh."

"Ya aku tahu kalau menjadi prajurit juga hal penting, tapi..."

"Aku hanya ingin membuat kueh untuk ulang tahun ibu nanti." jawab Ryuga dengan polosnya.

"Bodoh, bukannya tadi sudah kubilang bahwa kita tinggal beli saja."

"Tidak kakak... Untuk kali ini aku ingin membuatnya dengan tanganku sendiri untuk salam perpisahan dengan ibu karena jika kita masuk akademi nanti, kita tidak akan bisa bertemu ibu. Kita hanya bisa mengunjungi ibu dalam waktu 3 bulan sekali saja, jadi wajar kalau aku mau membuat hari ulang tahun ibu kali ini menjadi sangat berkesan." jelasnya.

Mendengar ketulusan hati adiknya tersebut, Tatsuya merasa tersentuh dengan niat sang adik dan pada akhirnya, mereka berdua sepakat untuk belajar cara membuat kueh. Anak-anak lugu itu akhirnya meminta pada si pemilik toko roti agar mau mengajari mereka berdua cara membuat kueh yang lezat.

"Whoooft!!" gonggongan Taruma menyadarkan Tatsuya dari kenangan masa lalunya.

"Ah, maaf Taruma tadi aku melamun... Ayo kita kembali!" ajaknya.

"Whooft! Whooft!" Mereka pun keluar dari toko tersebut.

Bruuaakk!! Seseorang terlempar menghancurkan sebuah peti kayu yang tidak jauh dari toko yang Tatsuya masuki tadi.

"Kau tidak apa-apa?" Tatsuya bergegas membangunkan orang itu.

"Ada apa paman, kenapa kau sampai terlempar kemari, siapa yang melakukannya?" Tatsuya penasaran.

"Me-mereka adalah segerombolan pemabuk yang mengaku-ngaku sebagai keamanan pasar dan meminta uang keamanan setiap minggunya pada pemilik kios-kios seperti kami. Uh..." jelas kakek itu.

"Jadi mereka preman ya?"

"Ya bisa dibilang begitu..."

"Apakah tidak apa-apa kalau aku menghajar mereka? Bukankah mereka preman yang selalu meresahkan?" ucap Tatsuya.

"Ya... Kami akan senang jika ada seseorang yang bisa memberi mereka pelajaran." jelas si kakek.

"Baiklah..." Tatsuya meregangkan jari-jari tangannya.

"Sudah beberapa hari aku tidak bertarung. Mungkin aku bisa melemaskan otot-ototku sekarang." Tatsuya berjalan menuju toko si kakek, dan ternyata toko itu adalah toko buah yang menjual buah apel Rise.

"Kyaaa!!" Rise menjerit saat kedua tangannya dijagal oleh orang-orang yang melemparkan kakek itu keluar.

"Brengsek! Dasar bajingan-bajingan tengik..." amarah Tatsuya tersulut saat tahu gadis itu jadi tawanan mereka.

"Bos, di luar ada pemuda yang menatap kita dengan wajah yang marah." lapor anak buahnya.

"Siapa dia? Berani sekali bocah ingusan itu menatap ke arah kita!"

"Apa dia tidak tahu bahwa ini adalah wilayah kekuasaan kita?"

Bos preman yang bertubuh besar penuh dengan bekas luka jahitan itu keluar dari toko ditemani oleh anak buahnya yang lumayan banyak itu, sekitar 20 orang berwajah sangar khas seorang preman pasar.

"Takuma! Larilah!!" teriak Rise di belakang sana.

"Mereka orang-orang yang sangat kejam! Tidak segan-segan untuk memberi siapa saja bekas luka menggunakan pisaunya!" teriak Rise lagi.

"Aah... Jadi anak brengsek itu kenalanmu ya? Di mana si tukang obat temanmu itu? Kenapa hari ini kau dikawal oleh bocah yang kelihatan lemah ini?" ejek si bos.

"Tapi wajahnya lebih menakutkan yang ini sih dibanding dengan si bocah tukang obat itu... Gahahaha..." mereka menertawainya.

Namun bukannya gentar Tatsuya justru tersenyum, "Hehehehe..."

"Dasar bocah brengsek! Kenapa kau tertawa hah!?" sang bos kesal melihat ekspresi anak itu.

"Lucu saja mendengar ucapan kalian saat menilai orang dari tampilan luarnya saja..." balas Tatsuya masih tersenyum santai.

"Seperti pepatah mengatakan..."

"Jangan menilai buku dari sampulnya."

Dengan kecepatan kilat Tatsuya sudah memukul rahang bagian bawah si bos preman sampai beberapa gigi depannya rontok akibat serangan tersebut. Buuaagh!!!!

"Se-sejak kapan dia..." pikir heran anak buahnya.

Bruuaakk!! Bos preman jatuh tepat menghantam tempat sampah hingga penyok.

Sementara Tatsuya menyeringai dengan tatapan mengerikannya.

"Siapa berikutnya?"

Bersambung ke Beast Warriors Chapter 117

ThE LaSt EnD
2016-08-26 10:40:34
ku beri nilai 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat".
Beautiful Alien
2016-08-18 21:20:28
next read
Mysterious
2016-06-19 13:44:59
seri ternyata (y)
Vor Deour
2016-03-19 22:28:35
Tatsuya... Kau lebih keren saat berada di Destroyer
Phantom Alicia
2016-02-09 10:38:09
Lagi vakum kah? Kelihatan na begitu..
One For All
2016-01-30 22:08:21
ceritanya bagus ..... Kenapa gak dilanjutin, ditunggu kelanjutannya mas bro
David Lopez
2016-01-26 09:06:57
Next kakah
Akimoto Salman
2016-01-16 15:09:10
Wew keren
Samut
2016-01-15 06:50:51
Lanjut kn broo,, lama ga mampir komen,,
Herry F Yohanes
2016-01-11 15:13:01
Nice story kak (y) udah sampe chap 116 pula .. wajib dikasih jempol (y)
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook