VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Beast Warriors Chapter 115

2015-12-23 - Tatzumaru > Beast Warriors
306 views | 10 komentar | nilai: 9.5 (2 user)

Pasukan pemburu kelas A ke bukit tempat Jendral G terlempar. Terlihat kondisi G cukup parah, tubuhnya menancap cukup dalam di sana...

"G-sama!!" teriak panik semuanya.

"Sial! G-sama sampai seperti ini... Benarkah bocah itu sangat kuat?" gumam Kapten tim pemburu tidak percaya.

Yap ternyata Jendral G sudah tak mampu melakukan apa-apa lagi saat ini. Pria bertopi panjang itu tumbang tak berdaya.

"Tidak mungkin! G-sama tidak mungkin kalah semudah itu! Ada apa ini!?" semua pemburu juga tidak bisa mempercayainya.

"Bagai mana selanjutnya, Kapten Rockie Roo?" tanya salah satu bawahannya.

"..." Kapten Rockie Roo hanya diam, pria dengan tatto naga di sekitar mata kirinya itu masih syok atas kekalahan Jendralnya tersebut.

Saat mereka belum tahu harus melakukan apa, dari kejauhan Ryuga dan Satoshi berlari menuju ke tempat mereka berada.

"Rockie-sama! Anak berambut putih dan orang berwajah tua itu sedang menuju kemari, apa perintah anda tuan!?" teriak bawahannya panik.

Teriakan orang itu menyadarkan Rockie Roo dari lamunannya, " Sial! Untuk saat ini sebaiknya kita mundur kembali ke benteng timur! Lagipula G-sama sedang dalam kondisi kurang baik untuk melanjutkan pertarungan."

"Ya! Dimengerti!!" seru seluruh pasukan.

Akhirnya orang-orang dari benteng timur memutuskan untuk kembali. Dua pemburu langsung membopong tubuh sang Jendral untuk membawanya kembali.

"Woi! Kalian!!" panggil Ryuga dari kejauhan.

"Jangan lari!! Dasar pengecut!!" Ryuga dan Satoshi tidak mampu mengejar mereka.

"Sial! Mereka berhasil lolos!! Brengsek!!!!" Ryuga sangat kesal.

"Sudahlah, Ryuga... Biarkan saja mereka pergi. Lagian semua pasukan bangsa Tribal sudah sangat kelelahan. Misi tim kita untuk saat ini bukanlah untuk memburu mereka, tapi misi kita saat ini adalah untuk membantu dan mengusir para penyusup yang mencoba untuk masuk tanpa izin ke perbatasan Lore."

"Misi kita hampir berhasil, jadi jangan mengacaukannya hanya karena terbawa nafsu!" jelas Satoshi.

"Tumben guru bodohku ini benar..." ejek anak itu dengan wajah pelecehannya.

"Siapa yang kau sebut bodoh, haahh!? Kau lebih bodoh dariku!!"

"Kau itu bodoh permanen!!" teriak Satoshi sewot dengan air liur yang muncrat kemana-mana.

"Apa!? Kalau mau ngejek ngaca dulu donk!!" balas Ryuga tak terima.

"Dasar pria berwajah manula!!?" teriak Ryuga dengan air liur yang sama-sama muncrat.

Beast Warriors Chapter 115 - Identitas Asli Sang Dewa
Penulis : Tatzumaru

Pasukan Pemburu kelas A terus meloloskan diri, pasukan yang dipimpin oleh Kapten Rockie Roo itu sudah lumayan jauh dari perbatasan Lore...

"Hei, sudah turunkan aku..." pinta G dengan nada santai kepada dua anak buah yang memapah dirinya.

Kapten Rockie yang berada di barisan paling belakang sambil berjaga pun kaget, " Eh? Kau sudah tidak apa-apa, G-sama!?"

G terlihat baik-baik saja, ia malah sangat bugar, tidak terlihat seperti habis bertarung mati-matian.

G menggerakkan seluruh bagian tubuhnya tanpa rasa sakit sedikit pun yang ditunjukan.

"Waaah... Sudah lama badanku tidak terasa seringan ini..." ucapnya senang.

"Heehh!? Maksud anda?" Rockie Roo dan semua anggota tim pemburu jadi bingung melihat kelakuan pria bertopi panjang itu.

"Yah... Maksudku aku sudah lama tidak melakukan pemanasan semenyenangkan tadi." ucapnya sambil melepas beberapa pengkait yang ada pada Triggernya.

"Dia bocah yang cukup menarik, ya meskipun agak sedikit berisik sih tapi dia bisa membuatku menikmati pemanasanku. Biasanya aku sangat bosan ketika melakukan pemanasan, sebab baru sebentar saja pasti musuhku langsung tewas ataupun cacat. Tapi anak itu bisa berbeda, bukan hanya bisa menghindar, tapi dia juga bisa menemukan kelemahan Trigger dengan cara yang tidak biasa. Malah aneh menurutku..."

"Tapi ya, itulah sisi menarik darinya... Aku sangat ingin melawannya kembali suatu saat nanti." pungkasnya.

G yang sudah melepas kedua Trigger di lengannya lalu memberikannya pada dua pemburu yang memapahnya tadi, " Simpan kembali Triggerku."

Mereka menerimanya dan, " Uwoohh!!"

Gubraaak!! Kedua orang itu tersungkur ke tanah.

"U-ugh... Be-benda ini sangat berat..." wajah mereka memerah saat mencoba mengangkat sarung tangan besi G.

"A-Aku jadi berpikir... Ba-bagai mana G mampu dengan mudah bergerak ke sana-kemari menggunakan dua benda di tangannya ini ya?" mereka berdua berhasil menyimpan Trigger ke dalam petinya semula yang membutuhkan 4 sampai 6 orang untuk memanggulnya di atas pundak mereka.

"Hei, Rockie Roo, ada apa?" tanya G yang menyadari ada sesuatu yang dipikirkan oleh pria bertatto naga di wajahnya itu.

"Eh, tidak apa-apa, aku hanya bingung saja kenapa anda bisa secepat itu sembuh dari serangan yang seharusnya bisa membuat anda cidera parah itu?"

"Oh, hanya itu yang ada dipikiranmu ya? Aku kira apaan..." ucap G dengan entengnya.

"Sebenarnya serangan mereka semua tidak ada apa-apanya buatku, aku hanya berpura-pura kesakitan saja dan aku juga pura-pura tidak berdaya di saat-saat terakhir melawan bocah itu."

"A-Apaaa!?" Rockie Roo kaget mendengar pernyataan dari atasannya tersebut.

"Aku hanya ingin bersenang-senang saja..." lanjut G.

"Hahaha... Lagian kan aku sudah bilang pada kalian, bahwa aku hanya akan melakukan pemanasan untuk melemaskan otot-otot tubuhku, aku tidak berniat menyerang mereka untuk saat ini. Jika aku ingin menyerang mereka, aku bisa dengan mudah membinasakan orang-orang itu seorang diri, hanya aku sendiri saja sudah cukup." G mengambil topinya dari anak buahnya.

"Terimakasih..." G memakainya, kemudian memasang senyum licik dari balik topi panjangnya.

"Ayo kembali... Dan berikan perintah pasukan kelas C rendahan itu untuk membatalkan penyerangan..." perintah G sambil berjalan kembali ke benteng pertahanannya.

"Dimengerti, G-sama!!" Rockie Roo menyimpan tangan kanannya di dada kemudian membungkukkan badannya untuk memberi hormat.

"Trik apa yang ia pakai sebenarnya?" batin Rockie Roo.

---- Beast Warriors ----


Di sebuah tempat, tempat yang gelap entah di mana itu, seorang pemuda berjalan di sana...

Pemuda dengan rambut berwarna emas itu terus berjalan tanpa arah dan tujuan.

"Di mana aku? Tempat apa ini? Aku tidak bisa melihat apapun." gumamnya.

Di tengah kebingungan yang dirasakan anak berambut emas itu, tiba-tiba sebuah gerbang muncul di hadapannya.

"Eh? Gerbang?" pikirnya heran.

"Apakah ini jalan keluarnya?" ucapnya dalam hati.

Anak itu akhirnya memutuskan untuk membuka gerbang besar di depannya itu, namun belum sempat ia menyentuhnya, gerbang besar itu perlahan terbuka dengan sendirinya.

Kreeek...

"Ng!? Gerbangnya terbuka?" ucapnya kaget.

Dari celah gerbang yang mulai terbuka itu, cahaya yang menyilaukan membuat pengelihatan anak itu agak buram.

"Cahaya apa ini!?" pemuda itu menutupi matanya menggunakan lengan kanannya.

Tanpa berpikir panjang anak berambut emas itu langsung menerobos cahaya menyilaukan tersebut.

Setelah melewati gerbang, pengelihatan anak itu mulai membaik.

"Tempat apa lagi ini?" pikirnya sembari memperhatikan sekitar. Semua yang ada di sana berwarna putih.

Saat anak itu sibuk melihat sekelilingnya, tiba-tiba cahaya menyilaukan muncul di belakang tubuhnya. Cahaya menyilaukan itu perlahan membentuk sesosok tubuh wanita kira-kira berusia 25 tahunan berwajah cantik dengan rambut panjang terurai berwarna hitam mengenakan kimono berwarna pink yang sangat indah. Dari sekujur tubuh wanita itu memancarkan cahaya emas seperti Dewi.

"Hei pahlawan kecil, apa kau masih mengingatku?" tanya wanita itu dengan nada lembut.

"Eh, kau?!" anak berambut emas itu terkejut saat melihat wanita di belakangnya tersebut.

"Apa kabarmu, Little Hero?" tanya perempuan itu lagi dengan nada yang sama.

"K-Kau... Ma-Matsumoto-san!?" ucap anak itu masih sedikit kaget.

"Kau sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan, Little Hero..."

"Jangan memanggilku dengan nama itu lagi! Aku bukanlah seorang pahlawan. Aku hanyalah bocah yang tidak bisa melakukan apapun, aku hanya bocah bodoh yang tidak bisa menjalankan tugas yang kau berikan padaku untuk menjaganya..."

"Aku benar-benar malu padamu, Matsumoto-san." anak itu menundukan kepalanya.

"Jangan tundukkan kepalamu, aku tahu bahwa kau telah melakukan tugasmu dengan cukup baik selama ini untuk melindungi dan menjaga desa Taimuresu dari kehancuran."

"Dan aku juga tahu, kau telah melindungi putriku dengan kekuatan yang kuberikan padamu, jadi angkatlah kepalamu, Little Hero." pinta Matsumoto.

"Tidak, aku tidak bisa melakukan apapun, desa Taimuresu di ambang kehancuran dan aku malah berada di sini..." pemuda itu mulai menangis.

"Itu bukanlah kesalahanmu, semua ini adalah kesalahanku di masa lalu... Aku tidak sepantasnya memberikan beban seberat ini pada anak seusiamu, aku sangat egois, benar kan?"

"I-Itu tidak benar! Kau tidak melakukan kesalahan apa pun Matsumoto-san! Akulah yang tidak sanggup menerima kebaikanmu... Maafkan aku... Hiks..."

Wanita bernama Matsumoto itu berjalan lalu memberi pemuda itu sebuah pelukan padanya, " Maaf sudah membuatmu repot selama ini..."

"Terimakasih karena telah melindungi desaku dan juga putri sematawayangku selama ini... Kau benar-benar anak yang baik dan pemberani." ucap Matsumoto sambil melepaskan pelukannya pada anak itu.

Matsumoto menghapus air mata di pipi anak itu, " Aku mohon padamu untuk menjaga putriku sekali lagi dan lidungilah desa kami..."

"Hmm... Walau pun harus mempertaruhkan nyawa, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, bahwa selama aku masih bernapas, aku akan berusaha semampuku untuk melindungi dan menjaga desa dan putrimu." ucap pemuda itu mantap.

Mendengar kata-kata anak itu, Matsumoto merasa lega bahwa ia tidak salah pilih memberikan kekuatannya pada pemuda di hadapannya itu, Little Hero.

Matsumoto tersenyum kemudian wanita itu berkata, " Pergilah... Kembalilah ke tempat seharusnya kau berada! Mereka masih membutuhkanmu..." Matsumoto memunculkan sebuah pintu keluar untuk Little Hero.

"Terimakasih kau masih mempercayakan kekuatan ini padaku, terimakasih..." Little Hero membungkukan badannya.

Matsumoto hanya tersenyum dengan tubuh yang terurai menjadi cahaya emas kembali.

"Jaga dirimu, Little Hero." ucap wanita itu sebelum akhirnya hilang bersama cahaya emasnya.

"Aku bilang aku tidak suka panggilan itu... Tapi, jaga dirimu juga, Matsumoto-san." Little Hero membuka pintu yang diciptakan oleh perempuan itu, ia berjalan masuk kemudian menutupnya kembali. Setelahnya, pintu itu pun menghilang dengan sendirinya.

Little Hero membuka kedua matanya secara perlahan, pengelihatannya terlihat sedikit kabur namun ia masih bisa melihat orang-orang yang tengah mengerumuninya.

"Ah... Dia sadar..."

"Kenapa berisik sekali? Di mana aku sekarang?" perlahan pengelihatan anak itu mulai berangsur membaik.

Little Hero bisa melihat dengan jelas orang-orang yang masih memperhatikannya dengan tatapan heran di sana.

Little Hero terkejut saat melihat salah satu dari mereka adalah orang yang dikenalnya, " Eh? Gu-guru!?"

"Kau ini... Aku sudah bilang jangan panggil aku dengan sebutan itu, bodoh... Panggil saja Yato." jelas orang yang dipanggilnya guru itu, Yato.

"Syukurlah kau selamat, Dewa Kera." lanjut Yato sambil tersenyum.

"Aku tidak suka dengan panggilan itu, itu membuatku merasa telah mencemarkan para Dewa. Panggil aku seperti dulu saja..." ucap pemuda berambut emas itu.

Yato jadi teringat ketika dulu ia bertanya pada muridnya itu...

"Jangan panggil aku guru, aku tidak suka hal itu! Panggil aku Yato saja." Yato mengulurkan tangannya untuk membantu muridnya bangun setelah berhasil mengeluarkan racun dari dalam tubuh pemuda berambut emas itu.

Anak itu meraih uluran tangan gurunya tersebut dengan senang hati.

"Terimakasih telah menyelamatkan nyawaku, Yato-senpai."

"Eh, ah, iya... Itu juga karena aku memaksamu untuk memilihnya, tapi tidak kusangka kau akan meminum keduanya, dasar idiot."

"Hehehe..." anak itu tersenyum.

"Katakan padaku, aku harus menyebut dirimu siapa? Rambut emas kah?"

"Ah, maaf-maaf, saking senangnya aku sampai lupa memperkenalkan siapa diriku." ucap anak itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Perkenalkan... Namaku..." pemuda itu membungkukan badannya.

"Vir Cornellius J. Hugman... Kau bisa memanggilku..." kembali ke masa sekarang, " Viro saja."

Bersambung ke Beast Warriors Chapter 116

ThE LaSt EnD
2016-08-26 10:37:33
ku beri nilai 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat".
Beautiful Alien
2016-08-18 21:18:23
sudah kuduga next read
Vor Deour
2016-03-19 22:18:49
Jiah.. Ternyata si Viro toh, pantesan nggak jagain tokonya
Dadang yg terluka
2015-12-24 18:41:13
Keren
Dzibril Al Dturjyana
2015-12-24 18:17:09
nama panggilannya keren cornelius
dragon black
2015-12-24 11:37:36
lanjut terus bro
A wahyu
2015-12-24 09:14:15
Nama yang cukup panjang
Phantom Alicia
2015-12-24 02:13:28
Berarti dugaanku bener selain Hyde si Temen Rise 9
Elank hunter
2015-12-23 22:01:20
di tunggu klanjutan nya bos..
Nagato
2015-12-23 20:16:41
Pertamax Sepertinya tebakan saya benar ea senpai. . .hehe
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook