VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Beast Warriors Chapter 114

2015-12-22 - Tatzumaru > Beast Warriors
253 views | 15 komentar | nilai: 10 (1 user)

Ryuga lagi-lagi terpental akibat hembusan angin dari Trigger milik G. Ryuga benar-benar tak mampu menyerang ataupun mendekati musuhnya itu. Setiap anak itu mencoba untuk mendekat, G langsung menghempaskannya tanpa kompromi.

"Cih, dia selalu melakukan serangan yang sama berkali-kali. Apa yang harus kulakukan?" pikir anak itu.

Tiba-tiba sebuah cara melintas begitu saja di benaknya, "Aha! Aku punya rencana!"

Tidak mau membuang waktu, Ryuga langsung melompat menuju tempat gurunya terkapar.

"Oi, jangan tiduran di sini, guru bodoh!"

"Siapa yang lagi tiduran, dasar bodoh!" bentaknya kesal.

Satoshi bangun, "Senjata bernama Trigger itu sungguh merepotkan saja." ucap Satoshi sambil membersihkan bajunya yang kotor dengan tangannya.

"Hei aku punya sebuah rencana untuk menembus serangan anginnya itu." jelas Ryuga.

"Rencana? Apa itu?" tanyanya penasaran.

"Sini sebentar!" perintah Ryuga agar Satoshi mendekat ke arahnya.

"Wesweswes..." anak itu membisikkan sesuatu di telinganya.

"Hmm... Hmm..." Satoshi hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Melihat kedua orang itu berbisik-bisik, G berniat menyerang mereka...

"Apa yang kedua orang bodoh itu bicarakan?"

"Ah, terserah, aku akan menyerang mereka berdua!" G langsung memukul udara dengan tangan kanan dan dilanjutkan dengan tangan kirinya.

Beeessh!! Beeessh!!

Angin kencang kembali tercipta, menuju ke arah Ryuga dan Satoshi yang masih berdiskusi.

"Ya, aku mengerti!" ucap Satoshi sambil melompat ke samping untuk menghindari serangan tersebut.

Ryuga juga melompat ke samping satunya, membuat serangan G hanya mengenai batuan yang berada jauh di belakang kedua orang itu. Blaaarr!!

"Yosh! Aku mulai!!" Ryuga berlari menuju G.

"Kau mau mencobanya lagi?" gumam G meremehkan.

"Berapa kali kau mencoba pun tidak akan pernah bisa melewati tinju anginku..." G kembali siap menggunakan Triggernya.

"Ini dia!" ucap Ryuga dalam hati.

"Bagus, ini sesuai rencana!"

"Trigger Wind!!"

G lagi-lagi menyerang Ryuga menggunakan tinju anginnya.

Byuuussh!!!! Ryuga terkena telak serangan sang Jendral.

"Dasar bodoh..." gumam G dengan sombongnya.

Angin kencang itu pun akhirnya berhenti, namun tak bisa dipercaya, Ryuga masih berdiri tegak setelah terkena serangan G tadi.

"Apa!? Kenapa!?" pikir G terkejut.

Saat G memperhatikannya dengan seksama, Jendral Beast Bagian Timur itu kaget, "I-Itu?"

Ternyata kedua kaki Ryuga dipenggang erat oleh tangan Iblis bayangan yang Satoshi ciptakan.

"Sial!" G bergegas melesat ke arah Ryuga untuk menyerangnya dari jarak dekat.

"Ternyata rencanaku berjalan dengan mulus!" Ryuga langsung melempar Cerberus ke udara.

"Lakukan, orang tua!!" teriaknya saat melempar pedang besarnya ke udara.

Yah, ternyata Satoshi sudah berada di atas sana untuk menangkap Cerberus. Hap.

"Rasakaaan!!!!" teriak Satoshi.

"Sialan! Mereka menjebakku ke dalam rencananya!!" G yang terlanjur maju tak dapat menghindar tapi lelaki itu masih mampu menahan tebasan Satoshi menggunakan Triggernya.

Jbaatts!!!! Percikan api kembali tercipta dari gesekan dua senjata tersebut.

Setelah menangkis serangan itu G langsung melompat selangkah ke belakang untuk menyerang menggunakan tangan kirinya, tapi secara mengejutkan, Ryuga sudah ada di sana dan langsung menendang lengan kiri G dari bawah ke atas. Dash!!

"Timing yang tepat!" Satoshi yang ada di belakang Ryuga langsung melilit kakinya dengan tangan Iblis bayangannya.

Sementara Ryuga, ia mencoba membuat serangan pengalihan dengan melancarkan pukulannya ke arah G hingga mau tidak mau, G mundur beberapa langkah ke belakang lagi untuk menghidarinya.

"Tidak akan semudah itu mengenaiku!" sembari mundur, G melakukan serangan.

"Trigger Wind!!"

Braaatts!!!! Hembusan angin kembali menyapu mereka.

"Hahahaha..." G tertawa puas.

Di dalam terjangan angin yang begitu kuat, Ryuga terpental.

"Sekarang guru!" teriaknya.

"Yeah!" ternyata Satoshi masih berdiri dengan dibantu oleh jurus bayangannya. Lelaki berbadan besar itu memasang ancang-ancang seperti seorang pemukul dalam sebuah tim baseball, tapi bedanya ia menggunakan Cerberus sebagai pemukulnya.

Ryuga terus melesat terbawa hembusan angin menuju Satoshi, lalu dengan sekuat tenaganya, Satoshi mengayunkan Cerberus di tanganya.

Tap. Ryuga berpijak pada Cerberus, "Sekarang saatnya!"

"Ya aku tahu!" Satoshi memutar pegangan pedangnya. KLAK!

Cerberus mengeluarkan Sugetsu merah yang meluap-luap.

"Terbanglah, murid bodoh!!"

Bzziiiuuuwww!!! Bagaikan sebuah peluru, Ryuga terbang menerobos angin itu dibantu oleh pukulan Satoshi dan juga Sugetsu merah Cerberus yang membuat lesatan anak itu semakin kencang.

Beast Warriors Chapter 114 - Siapakah Dewa Kera?
Penulis : Tatzumaru

Byuuussh... Ryuga keluar dari terjangan angin kencang itu, kini anak itu tepat berada di depan wajah sang Jendral yang lengah karena begitu percaya diri akan jurusnya tersebut...

"!!!" G benar-benar tak menyangka bahwa anak itu mampu menembus tinju anginnya.

"Kau menjadi lengah karena jurusmu sendiri..."

"Makan ini!!!!"

BAM!!!! Ryuga meninju wajah pria di depannya tersebut sekuat tenaganya.

"Gyaaahh!!!!"

Serangan kejutan anak itu berhasil membuat Jendral G terlempar, menerjang beberapa batuan yang mencuat dan menghancurkannya berkeping-keping. G terus terlempar sampai menancapkannya pada bukit yang jauh di sana. Duaaarr!!!!

"Gaaaaahhh!!!!!" serangan tersebut benar-benar hampir membuatnya kehilangan kesadarannya.

"Ternyata benar, tangan ini benar-benar membuat tinjuku semakin kuat..." Ryuga memperhatikan tangan besinya.

"Tangan buatan pemberian Vida memang sangat hebat." pikirnya lagi.

"Yosh! Kita berhasil!!" teriak Satoshi kegirangan.

"Kyaaaa!!! Rambutmu guru!!!" jerit Ryuga sambil nunjuk-nujuk kepala Satoshi.

"Memangnya kenapa dengan rambut kerenku haah?" Satoshi masih belum sadar dengan kondisi rambutnya.

"Bhwahahahaha..." Ryuga tertawa terpingkal-pingkal.

"Rambutmu berdiri semuanya!! Bhwahahaha!!"

"Kyaaaahh!!!! Rambut kerenku kenapa jadi begini!!?" teriak pria itu sejadi-jadinya.

Di sisi tim medis, mereka sangat terkejut ketika tahu sosok Kera besar yang selama ini sangat mereka hormati itu ternyata hanyalah seorang manusia, lebih tepatnya seorang pemuda yang kira-kira seumuran dengan Ryuga...

"Heeehh!!? Apa maksud dari perkataanmu, Yato-senpai!?" tanya Shirui.

"Dia adalah adalah seorang pemuda penduduk desa Taimuresu yang beberapa bulan lalu memohon padaku agar menerimanya sebagai salah satu muridku untuk mempelajari sihir medis." jelasnya.

"Pada awalnya aku menolak permintaannya tersebut, tapi..."

---- Flashback ----


Brag! Brag! Brag! Bragh!

"Permisi!! Ada orang di rumah?" seorang pemuda menggebrak-gebrak pintu sebuah rumah.

Seseorang pun membukanya dari dalam...

"Kau siapa ya? Ada urusan apa menemuiku?" tanya si pemilik rumah dengan tampang lusuh dan mata sayunya, seperti orang yang baru bangun tidur.

"Benarkah kau adalah Yato, Ketua tim medis pasukan Tribal?" tanya pemuda itu.

"Ya, kau benar, aku adalah Yato. Ada keperluan apa kau mencariku, anak muda?" balas si pemilik rumah dengan nada tak bersemangat.

"Ternyata benar kaulah orangnya..." ucap pemuda itu dengan wajah yang begitu gembira.

"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu juga, Yato-san." pemuda itu tersenyum senang.

"Sudahlah, cepat katakan keperluanmu menemuiku karena aku sedang sangat sibuk hari ini..." jawab Yato dengan malasnya.

Yah, Yato memang sangat sibuk, sibuk tidur.

"Ah, maaf kalau aku mengganggumu, Yato-san, aku akan langsung ke intinya saja..."

"Kumohon, jadikanlah aku sebagai muridmu, Yato-san!" pemuda itu membungkukkan badannya.

"Murid hah?" Yato terlihat malas menanggapinya, ia malah sibuk mengupil.

"Ya, mohon jadikan aku sebagai muridmu, guru! Aku ingin belajar menjadi seorang medis..." jelas pemuda itu lagi.

Masih sambil ngupil, Yato menjawabnya, "Maaf aku tidak menerima murid dari luar bangsa Tribal."

"Tu-tunggu dulu, Yato-san..."

Tapi Yato sudah menutup pintu rumahnya serapat mungkin.

Keesokan harinya...

"Izinkan aku menjadi mu---"

"Aku tidak bisa..." Yato langsung menutup pintu rumahnya.

Keesokan harinya lagi...

"Izi---"

"Tidak!" Yato membanting pintu di depan wajah pemuda itu.

"Aku juga belum mengatakan sepatah katapun..." gumamnya lemas.

Hari keempat...

Tok! Tok! Tok!

Kali ini pintu rumah Yato diketuk dengan cukup halus, tidak seperti yang sebelum-sebelumnya menggebrak-gebrak pintu seperti orang mau ngajak ribut.

Pintu pun dibukanya dan...

"Haahh... Sudah kuduga, kau lagi..." Yato menghela napas.

Yato hendak menutup pintu rumahnya, tapi kali ini pemuda itu tidak mau gagal lagi jadi ia mengganjal pintu itu menggunakan kakinya. Braaakk!

"Whooaaa!! Sakiiit!!" teriaknya saat kakinya terjepit pintu.

"Oi, oi... Maafkan aku..." Yato membukanya kembali.

Pemuda itu memegangi ujung kakinya yang sakit, "Huwaaah... Kakiku..."

"Huwaaah... Kakiku bisa cacat kalau begini, Huhuhuhu..." pemuda itu menangis seperti seorang anak kecil.

Mendengar tangisan, para tetangga mulai berhamburan keluar, memperhatikan apa yang terjadi di sana.

Yato jadi panik, karena takut dicap sebagai orang yang tidak berprikemanusiaan, akhirnya Ketua dari tim medis itu terpaksa menolong dan membiarkan anak tersebut memasuki rumahnya.

"Hei, ayo masuk! Aku akan mengobati luka di kakimu." ucap Yato terpaksa.

"Yosh! Akhirnya kau mau menerimaku..." pemuda itu sangat senang sampai-sampai lupa dengan sakit di kakinya.

"Permisi, aku masuk!" anak itu langsung masuk saja.

"Kau hanya menipuku ya!!?" bentak Yato dengan wajah kesalnya.

Tapi mau bagaimana lagi, Yato sudah berkata seperti itu.

"Apa yang kau inginkan dariku sebenarnya, hah?"

"Aku sudah bilang kan, bahwa aku sangat ingin belajar tentang ilmu kedokteran darimu, guru." sahutnya.

"Cih, dasar sial! Kau menggunakan cara licik untuk membuatku menjadi gurumu... Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur mengatakannya."

"Yeah! Jadi sekarang aku resmi menjadi muridmu, Yato-sensei?" tanya anak itu dengan mata yang berbinar-binar.

Yato tidak menjawabnya, ia malah berdiri mengambil dua cangkir lalu menuangkan teh ke dalamnya. Sambil menuangkan teh ke dalam cangkir, Yato mengatakan sesuatu dengan wajah seriusnya.

"Sebelum aku mengangkatmu sebagai murid, aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan padamu..."

"Silakan guru, apa saja pertanyaanmu aku akan menjawabnya dengan sejujur-jujurnya!"

Mendengar anak itu sangat yakin, Yato mengambil dua buah botol kecil dari dalam saku celananya.

"Guru, apa itu?" tanya pemuda itu saat melihat botol-botol kecil yang Yato tunjukan padanya.

Yato langsung menuangkan cairan merah di dalam kedua botol itu ke dalam masing-masing cangkir yang berisi teh tadi.

"??" anak itu hanya diam memperhatikan apa yang tengah gurunya itu lakukan.

Yato menggeser dua cangkir teh itu ke hadapan muridnya, lalu...

"Pilihlah satu dan minumlah..." perintah Yato pada anak itu yang terlihat masih bingung.

"Salah satu botol yang aku masukkan tadi adalah sirup rasa apel, dan satunya lagi adalah..."

"Racun."

Sesaat suasana menjadi hening dan terasa tegang di antara kedua laki-laki itu. Pemuda itu masih terdiam sambil melihat kedua cangkir di hadapannya yang harus dipilih olehnya.

"Kenapa? Apa kau takut?"

"Jika kau merasa takut mati, ini belum terlambat bagimu untuk pulang dan jangan pernah menggangguku lagi." Yato benar-benar serius.

"Seseorang yang takut akan kematian tidak pantas menjadi seorang medis. Saat kau telah memilih untuk menjadi seorang medis, kau akan selalu di hadapkan dengan kematian, nyawa orang-orang yang kau tangani adalah taruhannya. Jika kau takut kematian, ataupun melakukan sebuah kesalahan kecil atas keragu-raguanmu, itu akan berakibat fatal pada nyawa mereka."

"Membunuh itu sangatlah mudah, tapi menyelamatkan nyawa seseorang itu sangatlah sulit..."

"Pilihlah salah satu cangkir, jika kau berhasil mendapatkan sirup rasa apel maka akulah yang akan mati dengan meminum racun. Tapi jika kau salah memilih, maka kaulah yang akan mati."

"Tentukan pilihanmu... Ini adalah tes untuk membuktikan kau layak menjadi seorang medis atau tidak." pungkasnya.

Pemuda itu masih terdiam di atas kursinya, kemudian ia tiba-tiba saja beranjak dari kursinya.

"Heh, jadi kau takut mati ya?" Yato mengejeknya.

Namun tiba-tiba anak itu tersenyum ke arah Yato sambil mengangkat jempol tangannya pada lelaki di depannya itu.

"Eh? Dia tersenyum?" dalam hatinya Yato kaget.

"Aku hanya tinggal menentukan pilihanku bukan, guru?" pemuda itu tersenyum lebar.

"Kau mengujiku dengan menyuruhku memilih antara menyelamatkan diriku atau menyelamatkan orang lain kan?"

"Baiklah..." anak itu langsung mengambil kedua cangkir itu di tangan kanan dan kirinya.

"Yah kau benar, kau lebih memilih mana? Menyelamatkan dirimu sendiri dan mengorbankan orang lain atau kau lebih memilih mati untuk menyelamatkan orang lain? Pilihlah..."

Sebelum meminum salah satu teh di kedua tangannya anak itu mengatakan satu hal pada calon gurunya tersebut, "Apapun yang akan terjadi, aku akan menjadi muridmu!"

"Menjadi murid seorang anggota medis hebat seperti dirimu!" seru anak itu.

"Anak ini..." Yato mulai sedikit menyukai anak itu.

Glek... Glek... Glek...

Sungguh mengejutkan, di luar pemikiran dari Yato sendiri. Yato benar-benar terkejut ketika melihat anak itu meminum keduanya, yah! Dia benar-benar menghabiskan kedua cangkir teh di tangannya.

"Ng!? A-Apa yang kau lakukan!!?" Yato sangat kaget.

"Ah..." anak itu menghabiskan tetes terakhirnya.

"Inilah pilihanku, guru..."

"Walaupun aku tahu jika salah satu harus dikorbankan, aku tidak akan menyerah! Aku akan menyelamatkan diriku sendiri dan juga pasienku... Aku percaya akan adanya keajaiban." ucap anak itu.

Gubraaakk!! Pemuda itu jatuh ke meja dan membuat semua yang ada di sana berantakan.

"Dasar bodoh!!" Yato bergegas membalikkan tubuh pemuda tersebut.

"Kau benar-benar orang terbodoh dan ternekat yang pernah kutemui..." Yato mengusapkan telapak tangannya dari perut ke atas berulang kali untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh anak itu.

"Apa alasanmu sampai membuatmu sangat ingin menjadi seorang medis?" Yato jadi penasaran.

Dengan suara lemah anak itu menjawab pertanyaan Yato tersebut, "Ada seseorang yang selalu saja terluka jika berada di sisiku. Aku ingin selalu melindunginya apapun yang terjadi..."

"Tapi kenapa kau sampai segitunya dengan mempertaruhkan nyawamu sendiri hanya untuk orang itu? Apakah dia seorang gadis?" Yato jadi semakin penasaran.

"Hmm... Dia gadis yang baik dan juga cantik, aku sangat menyukainya..." ucapnya.

"Begitu ya...?"

"Baiklah... Aku akan mengajarimu menjadi seorang medis hebat seperti yang kau inginkan..."

"Be-benarkah, guru?" anak itu terlihat begitu senang meski sembari menahan rasa sakit.

"Tapi ingat, aku akan mengajari semua yang kubisa padamu tapi aku tidak mau menjadi seorang guru dan murid, aku akan melakukannya sebagai seorang teman." jelasnya.

"Dan satu lagi... Jangan panggil aku dengan sebutan guru, panggil aku Yato saja." lanjutnya.

Mendengar hal itu, pemuda itu tersenyum senang.

"Terimakasih, Yato-senpai..."

Flashback Berakhir...

Dan dengan berakhirnya Flashback itu, juga mengakhiri chapter untuk kali ini.

Bersambung ke Beast Warriors Chapter 115

Aerilyn Shilaexs
2017-06-15 08:31:20
Hahaha bener-bener nekat, sampai diminu keduanya.
ThE LaSt EnD
2016-08-26 10:37:25
ku beri nilai 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat".
Aerilyn Shilaexs
2016-08-18 21:06:52
next read
Vor Deour
2016-03-19 17:52:29
Apa beast yang tak terampil saja bisa mengalahkan hampir sebagian Ranking C . Apalagi kalau kekuatannya udah diasah, pasti keren (y)
David Blueskhniczky
2016-01-22 19:38:46
K-keren... Makin seru saja nih...
Anique HyuUzumaki
2016-01-10 11:42:41
Hadeh, tambah penasaran...
Phantom Alicia
2015-12-23 17:15:44
Atau Teman si Rise itu y? Entah kenapa malah mendadak kepikiran dia
Phantom Alicia
2015-12-23 17:09:17
Baca 1/2 langsung komen kak, kera na pasti Hyde dia kan sempat menghilang dulu
anonim1000004
2015-12-23 16:52:57
keren critax bos.
djaka
2015-12-23 09:26:31
di tunggu kelanjutannya...
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook