VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Beast Warriors Chapter 112

2015-12-16 - Tatzumaru > Beast Warriors
284 views | 15 komentar | nilai: 10 (1 user)

Tatsuya, Rise dan Taruma membawa dua keranjang yang penuh dengan apel menuju ke pasar untuk mereka jual ke toko buah yang ada di pasar...

"Oh iya Takuma-kun, tunggu di sini sebentar."

"Ah, ya..." jawabnya.

Rise menghampiri sebuah toko obat-obatan, toko milik keluarga Viro.

"Um... Selamat siang paman." sapa gadis pada bapak-bapak dengan rambut jarang yang menjaga toko itu.

"Ah... Ternyata Rise-chan, selamat siang." balas pria berkacamata itu ramah.

"Kau mau mengantar apel-apel hasil panen kakekmu ya?"

"Ya, begitulah paman. Hehe..." Rise tersenyum kecil.

"Beruntung sekali kakekmu punya cucu semanis dan sebaik dirimu, hah... Beda sekali dengan putra bodohku itu! Dia bisanya hanya main dan main saja terus." jelasnya.

"Itu tidak benar paman, Viro sebenarnya anak yang baik." Rise membelanya.

"Haha... Anak bodoh itu hanya baik padamu saja, sedangkan padaku, ayahnya sendiri, disuruh jaga toko saja dia selalu bolos. Coba kau lihat saja sendiri! Anak itu membolos lagi hari ini, dia tidak pulang dari pagi. Hahh... Memang dasar anak yang tidak bisa diandalkan."

"Jangan berprasangka buruk dulu padanya paman, mungkin Viro ada urusan penting sampai-sampai melupakan tugasnya." Rise terus membela sahabat dari kecilnya itu.

"Aku kenal dia dari kecil, jadi aku tahu kalau dia bukanlah anak nakal seperti anak-anak zaman sekarang. Yah meskipun dia selalu menghilang, tapi Viro adalah anak yang bisa dipegang janjinya. Dia akan selalu menepati janjinya pada siapapun." sambung perempuan itu.

"Haha... Kurasa kau benar, dia memang jarang sekali di rumah, dia lebih sering bertemu denganmu daripada aku, tapi kau benar, meski si bodoh itu selalu membuat masalah tapi kata-katanya bisa dipercaya." akhirnya ayah Viro yang sempat kesal kini mulai tersenyum berkat kata-kata dari Rise.

"Oh, siapa itu?" tidak sengaja ayah Viro melihat Tatsuya yang sedang bermain bersama Taruma di jalan.

"Apakah dia kekasihmu?" ayah Viro menggodanya.

"Kyayayaya!! I-Itu bukan seperti apa yang kau pikirkan paman!!!" Rise gelagapan.

"Tidak perlu malu... Kalian berdua sangat cocok kok..." godanya lagi.

Digodo seperti itu pipi Rise memerah, " Ya-yayayaya kau salah paham paman!! Bu-bukan seperti it..."

"Yosh!" ayah Viro memegang pundak gadis itu dengan kedua tangannya.

"Saran dari paman nyatakanlah perasaanmu sebelum semuanya terlambat." ayah Viro langsung memutarkan tubuh gadis itu menghadap ke arah Tatsuya, lalu pria itu mendorongnya pelan.

"Semangat!" ucapnya sembari mengangkat kepalan tangannya untuk menyemangati.

Rise hanya dapat tersenyum malu ke arah ayah Viro yang sudah salah paham.

"Sampai jumpa lagi paman!" teriak Rise sambil berlari menuruni tangga di depan toko.

Beast Warriors Chapter 112 - Trigger
Penulis : Tatzumaru

"Apa sudah selesai?" Tatsuya bertanya.

"E-eh... Ya!"

"Ada apa denganmu? Kok jadi gugup begitu?" ucap Tatsuya lagi.

"Eng-enggak kok! Aku baik-baik saja. Ayo kita lanjutkan!" Rise berjalan dengan gerakan kaku seperti robot.

"Eh? Kenapa dengan perempuan itu??" Tatsuya kebingungan.

"Whoofft!!" panggil Taruma yang ada di depannya.

"Ya aku tahu, Taruma." Tatsuya kembali berjalan di belakang Rise.

Markas pusat pertahanan utama bangsa Beast...

"Oh, begitu ya... Maaf sudah mengganggu." Goffy menutup panggilan dari box hitam.

"Benteng utara, benteng barat dan benteng selatan mengatakan tidak pernah mengerahkan pasukannya untuk menyerang ataupun hanya sekedar berkunjung ke perbatasan Lore..." jelas Goffy pada sang pemimpin.

"Begitu ya? Jadi perkiraanku benar..." ucap Shin yang masih memeriksa surat permohonan izin dari tiap-tiap benteng pertahanan.

"Ternyata Joker mulai berulah lagi." tegasnya.

"Tapi kan kita belum memastikannya sendiri Master." potong Goffy.

"Tidak ada yang perlu dipastikan, Goffy... Jendral G memang sudah mengibarkan bendera perang padaku sejak lama, jelas terlihat dari surat-surat permohonan izin misi darinya, selama beberapa bulan ke belakang tidak pernah ada satu pun surat permohonan yang dia kirimkan ke pusat. Dia dan pasukannya melakukan misi tanpa seizin dariku, itu sudah membuktikan bahwa Jendral G dan pasukannya berencana untuk menentang peraturan-peraturan yang telah aku buat selama menjabat sebagai pemimpin tertinggi di markas pusat."

"Ya aku tahu akan hal itu, tapi ada baiknya jika kita konfirmasi dulu mengenai masalah seserius ini, agar tidak ada rumor ataupun gosip murahan yang tersebar ke penjuru desa, atau bahkan sampai ke luar desa." saran Goffy.

"Kalau soal itu kau tenang saja."

"Karena tanpa sepengetahuannya aku telah menyusupkan seorang mata-mata di dalam pasukannya dua bulan yang lalu. Kita hanya tinggal menunggu informasi darinya." jelas Shin.

"Oh, begitu ya..." Goffy merasa sedikit lega.

Di perbatasan Lore, hutan yang berada di luar perbatasan itu saat ini benar-benar menjadi kawah yang memiliki diameter begitu luas setelah sebelumnya prajurit wanita bernama Miray mengamuk dan menghajar Jendral G habis-habisan tanpa memberi sedikit pun kesempatan pada lawannya untuk membalas...

"Mi-Miray-sama bisa menjadi semenakutkan ini hanya gara-gara terprovokasi oleh luka kecil yang didapatkan oleh Ryuga-sama." ucap Shirui dengan wajah yang selalu terlihat malu, padahal malu-maluin.

"Kurasa pesona seorang idola sungguh mampu menghipnotis seseorang sampai mencapai batas maksimalnya, atau juga bisa melampauinya..." sambung wanita berkacamata itu.

"Yah kau benar Satty-san, aku setuju denganmu..." timpal Yato dengan mimik muka yang masih syok berat melihat kekuatan Miray.

Di sisi G, pria itu masih terkapar belum bergerak sedikit pun dari tempatnya terbaring lemah...

"Sial! Baru kali ini aku mendapat serangan telak di awal pertarungan." G berusaha menggerakkan kaki dan tangannya, namun tubuhnya tidak mau merespon.

"Tubuhku masih mati rasa, aku belum bisa merasakannya, hahaha... Dasar sial!"

"Dia wanita yang cukup merepotkan. Aku berani bertaruh setelah ia mengerahkan semua kekuatannya pada satu serangan tadi juga membuat kerja tubuhnya tidak stabil saat ini." pikir pria berambut pirang itu.

Dan memang benar apa yang ada di pikiran G, kondisi fisik perempuan itu sangat kelelahan sampai-sampai berdiri pun tak mampu.

"Ukh... Tu-tubuhku..."

"Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku..." kaki Miray gemetar, dan perlahan wanita itu sudah tidak mampu menahan tubuhnya lebih lama lagi.

"Miray-sama!!?" semuanya terkejut saat Wakil Ketua mereka hampir roboh.

"Hahaha... Apa yang kulakukan? Mau terlihat keren di depan Ryuga-sama tapi malah mempermalukan diriku sendiri..." dengan gerakan lambat, tubuh Miray perlahan semakin condong jatuh ke depan.

"Benar-benar payah... Menyerang membabibuta tanpa berpikir panjang terlebih dahulu."

Salah satu binatang siap mencabik tubuh tak berdaya perempuan itu.

Tetapi sebelum prajurit wanita itu menyentuh tanah, secepat kilat Ryuga menangkap pinggang Miray menggunakan lengan kirinya. Grap.

"Eh?" Miray langsung menoleh ke arah Ryuga yang sudah siap dengan Cerberus di tangan kanannya.

"Ryuga-sama..." perempuan itu begitu senang ketika tahu sang idola lah yang menolongnya.

Ryuga mengalirkan Sugetsu merahnya pada Blade of Cerberus, lalu anak itu menarik lengannya ke belakang dengan posisi siap menusuk.

"Aku akan mencabik-cabik tubuh kecilmu, bocah!" teriak binatang itu.

"Kau terlalu memaksakan dirimu, Miray-san."

"Kyaaaa!! Ryuga-sama mengkhawatirkanku!! Iyaaaahh!!" jerit wanita itu dalam hati.

Ryuga berputar membelakangi musuhnya yang sudah berada beberapa meter sambil membalik ujung pedangnya ke belakang.

"GRRRRRRHHH!!! MATI KAUUU!!!" makhluk itu menebaskan cakarnya dengan kekuatan penuhnya.

Traaank!! Ryuga menahannya dengan Cerberus tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Hantaman keras antara Cerberus dan tebasan binatang itu menghancurkan cakarnya sendiri.

"A-APAAA!!?"

"Maafkan aku karena terpaksa melakukannya pada bangsaku sendiri..."

Batts!! Ryuga menusuk lawannya tepat menembus dada makhluk tersebut.

"Gahh..." rintihnya saat pedang besar itu berhasil menembus bagian tengah dadanya.

Ryuga memutar pegangan pedangnya. CKLAK!

Setelah memutar tombol rahasia pada pedang itu, Sugetsu merah pada Cerberus mulai berkobar dengan hebatnya, Sugetsu merah itu mulai bergolak di dalam tubuh makluk itu.

"Whoooaarrhh!! Apa ini!!?"

"S-s-sial!!" makhluk itu berusaha mencabut Cerberus dari dadanya, namun bagaikan terkunci, ia tak mampu untuk melepasnya.

"Blood Breaker!!!!"

Setelah mengembang dan menguap, tubuh binatang itu meledak lalu hancur tak tersisa. Bzzzzzttt!! Booommmbb!!!

"Wohooww... Amazing..." tak disangka G sudah mampu menggerakkan tubuhnya untuk berdiri bahan pria itu memberikan tepuk tangan untuk Ryuga.

"Di-dia!!? Mu-mustahil bisa sembuh secepat itu!?" ucap tak percaya orang-orang.

"Ternyata aku terlalu meremehkan wanita itu dan juga bocah sepertimu..."

G berjalan mengambil topi panjangnya, " Kali ini aku akan serius menghadapimu."

G memakai kembali topinya, kemudian pria itu mengangkat tangannya ke atas lalu menjetikkan jarinya memberi sebuah isyarat pada pasukannya.

"Apa yang dia rencanakan?" pikir Satoshi.

"Bawa kemari senjata itu!" perintah Kapten pemburu kelas A pada pasukannya.

"Baik!"

Dua pemburu mengangkat peti senjata milik sang Jendral. Terlihat kedua orang itu sangat kesusahan ketika membawa peti yang berat itu.

BLAGH! Mereka menjatuhkannya tepat di samping sisi kiri Jendral G.

"Benda itu sangat berat." jelas mereka.

Tanpa berlama-lama, G langsung membuka peti itu, kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam sana.

"Sudah lama aku tidak menggunakan Triggerku setelah perang besar yang pertama..." G mengeluarkan dua sarung tangan besi dari dalam peti tersebut.

Snap. Pria itu memakainya di kedua lengannya.

"Senjata apa itu?" Ryuga belum pernah melihat senjata berbentuk sarung tangan besi seperti milik Jendral G.

"A-Aku tahu itu!" ucap salah satu prajurit Tribal kaget.

"Apa kau mengetahuinya, paman?" tanya Ryuga.

"Itu adalah senjata milik leluhur kami..." potong Miray yang sudah agak merasa baikan.

"Apa kau bisa berdiri, Miray-san?" tanya Ryuga lagi.

Hanya dengan sebuah pertanyaan Miray tiba-tiba langsung merasa sembuh, " Humm... Aku bisa Ryuga-sama..."

Padahal dalah hati perempuan itu mengatakan, " Kyaaaaa!! Kenapa aku tidak pura-pura masih sakit, padahal itu tadi peluang emasku supaya aku bisa dipeluk lebih lama oleh Ryuga-sama tercintaku... Dasar payah..."

Miray langsung pundung di sebelah anak itu.

"Kau kenapa Miray-san?"

"Ah, iya-iyay... Aku tidak apa-apa, Ryuga-samaku, Eh maksudku Ryuga-sama..."

"Oh iya... Tadi kau bilang senjata itu adalah warisan dari leluhur kalian kan?" tanya Ryuga lagi.

"Hmm..." angguk wanita itu.

"Bisakah kau jelaskan padaku?" tanya anak itu lagi.

"Itu..."

"Senjata itu bernama Trigger, dan senjata itu juga termasuk salah satu senjata legendaris yang banyak dicari orang."

"Heeehh!? Sarung tangan besi buluk itu adalah senjata legendaris!?" Ryuga benar-benar tidak tahu.

"Buluk?" ucap Miray dalam hati.

"Jika saja orang lain yang mengatakan hal itu, pasti sudah kuhajar sampai mati tapi untungnya Ryuga-samaku yang bilang jadi aku bisa memaafkannya..." pikir prajurit wanita itu.

"Ya, Trigger adalah senjata legendaris yang kekuatan dan kekerasannya setara dengan Cerberus milik Ryuga-sama. Dan kau juga harus berhati-hati pada kemampuannya menciptakan pemicu angin dari setiap pukulannya." jelasnya.

"Oh, begitu ya? Makasih atas informasinya." Ryuga langsung bersiap dengan Cerberusnya.

"Aku akan membantumu, Ryuga-sama..." Miray menawarkan diri untuk membantunya menghadapi G.

"Aku menghargai niat baikmu, tapi sebaiknya kau diobati dulu..."

"Hei paman, bisakah kalian antar Miray-san ke tempat anggota medis?"

"Umm, yah! Serahkan pada kami!" pungkasnya.

"Kau obati dulu lukamu baru setelah kau disembuhkan, kau boleh membantu seperti yang lainnya."

"Umm... Baiklah..." ucap Miray setuju.

"Ayo Wakil Ketua!" ajak dua prajuritnya.

Mereka bertiga pun menuju ke tempat para medis.

"Aaaaah... Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaanku, Iyaaaahh!" Miray kegirangan.

Sementara dua prajurit di belakangnya merinding ketakutan, " Pe-penyakit demam idolanya kumat lagi!"

"Ja-jangan terlalu dekat! Itu sangat berbahaya..." bisik prajurit satunya dengan wajah yang sudah basah oleh keringat dingin.

Kembali ke tempat Ryuga dan G...

"Senjata legendaris harus dilawan dengan senjata legendaris juga..." Ryuga berjalan sambil menenteng pedang besarnya di pundak sebelah kirinya.

Di sisi G, pria itu membenturkan kedua Triggernya satu sama lain. Diiink!!

"Akan kuperkenalkan dirimu dengan Triggerku... Gehehe..."

Bersambung ke Beast Warriors Chapter 113

Aerilyn Shilaexs
2017-06-15 08:59:28
Penyakit idolanya memang sangat berbahaya, pastilah jangan dekat-dekat.
ThE LaSt EnD
2016-08-26 10:36:38
ku beri nilai 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat".
Aerilyn Shilaexs
2016-08-18 20:41:39
next read
Vor Deour
2016-03-19 16:19:26
Miray.. aku idolamu #Plak
David Blueskhniczky
2016-01-20 19:39:18
Next senpai Tatzumaru.. (y)
djaka
2015-12-20 00:01:01
selanjutnya, pertarungan senjata legendaris...
Anique HyuUzumaki
2015-12-19 20:27:18
Miray saingannya Vida tuh...
anonim999958
2015-12-18 14:23:56
lanjutkan
dragon black
2015-12-17 12:07:39
di tunggu kelanjutan nya
Phantom Alicia
2015-12-17 08:25:21
Wew, ini makin menyebalkan! Next kak Tatzu!
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook