VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Beast Warriors Chapter 108

2015-11-30 - Tatzumaru > Beast Warriors
250 views | 18 komentar | nilai: 10 (1 user)

"Bagaimana Ketua?" tanya salah seorang prajurit Tribal wanita.

"Kurasa bukan markas pusat yang mengirim binatang-binatang ini." ucap Hajime.

"Jika bukan markas pusat yang mengirim mereka, lalu siapa?" ucap prajurit wanita itu.

"Untuk saat ini Master Shin juga belum tahu, tapi dia mengatakan akan segera mengirim tim bantuan kesini. Master juga akan menghubungi semua benteng untuk mengetahui siapa dalang di balik penyerangan ini." jelasnya.

"Jadi kau tidak perlu risau akan hal ini, Miray."

Lalu si penjaga perbatasan Chibaru mendekati Hajime dan prajurit wanita bernama Miray itu.

"Gawat Ketua!" teriaknya sambil berlari ke tempat mereka.

"Oh, hai Miray-san." sapa Chibaru saat melihatnya.

Miray membalas sapaan penjaga itu dengan senyumannya.

"Kenapa, Chibaru?" tanya Hajime saat melihat kegelisahan di wajah pria tersebut.

"Dewa tidak bergerak, sepertinya dia pingsan."

"Ini bisa gawat! Para binatang itu bisa menyerangnya kapan saja saat Dewa tak sadarkan diri!"

"Kita harus melindunginya sebelum tim bantuan dari Agraft sampai!" ucap Chibaru panik.

"Chibaru-san benar, kita harus melindungi pelindung Taimuresu dari para binatang itu!" sambung Miray.

"Baiklah... Ayo kita lindungi Dewa Penyelamat kita!!" teriak Hajime.

"Ayo kita lindungi Dewa dengan segenap kemampuan kita!!" teriaknya sembari mengangkat tinjunya ke atas.

"Yeaaahh!!" pasukan Tribal mengikuti gerakan pemimpin mereka itu.

Hajime, Miray, dan Chibaru berjalan melewati kerumunan pasukannya, semuanya membukakan jalan untuk pemimpinnya tersebut.

"Kita bangsa Tribal memang hanyalah bangsa kecil jika dibandingkan dengan bangsa yang lain!" teriak Hajime masih mengangkat tangannya ke atas.

"Yeaaahh!!" seru pasukannya.

"Meski bangsa kita kecil, tapi kekuatan kita tidak bisa dianggap remeh!!"

"Tribal!! Yeaaah!!" sang pemimpin mulai meneriakan yel-yel mereka.

"Yeaaah!!" balas pasukannya yang semangatnya mulai terbakar.

"Tribal!! Tribal!!" teriak Hajime yang kini sudah berada di barisan paling depan.

"Yeaaahh!! Yeaaahh!!" lanjut pasukannya yang sudah benar-benar terbakar api semangat yang menggebu-gebu.

Untuk terakhir kali, Hajime melangkah satu langkah lebih ke depan daripada yang lainnya kemudia pria itu mulai berteriak sekencang-kencangnya, "TRIBAAAAALLL!!!!!!"

Hajime langsung berlari ke medan tempur.

"OOOOHHH... YEEAAAAAAHH!!!!" seru semuanya sambil berlari mengikuti Ketua mereka.

Beast Warriors Chapter 108 - Makhluk Bermata Empat
Penulis : Tatzumaru

Para binatang kembali bangkit setelah terhempas jauh oleh serangan Kera besar itu. Semuanya melesat menuju tempat Kera itu terkapar pingsan untuk membunuhnya...

"Habisi monyet busuk itu!!" seru si Panda sambil melompat tinggi ke udara.

Binatang-binatang yang lainnya mengikuti Panda bermata satu dari bawah.

"Habislah kau!!" Panda bersiap dengan taring yang mulai memanjang untuk menggigit si Kera.

Panda itu membuka mulutnya lebar-lebar di udara, tapi tiba-tiba Hajime sudah berada di depan wajah raksasa itu.

"Menyingkir darinya!!" teriak Hajime sambil mengarahkan tinjunya ke wajah si Panda.

JBUUAAAKK!!!!

"Rasakaaan!!" Hajime mendorong tinju di wajah Panda itu sekuat tenaganya sampai-sampai otot-otot lengannya keluar semuanya.

"Pukulannya kuat sekali...!?" gumam makhluk aneh itu tak percaya.

Wajah si Panda terus terdorong sampai menjadi cekung, "Tribaaalll oh yeaaaahh!!!"

Hajime terus mendorong wajah makhluk itu hingga menghantam tanah sampai hancur.

BLAAARRR!!! Hantaman keras itu membuat si Panda tak mampu berkutik.

Di sisi binatang lainnya, makhluk-makhluk aneh itu menghentikan langkahnya setelah melihat si Panda terkapar hanya dengan sebuah pukulan tangan kosong yang dilancarkan oleh pemimpin bangsa Tribal tersebut.

"Sial! Ternyata informasi mengenai kekuatan pasukan Tribal bukanlah omong kosong belaka! Mereka benar-benar melatih kemampuan fisiknya!" ucap manusia komodo ketakutan.

Tampak si Panda tak sadarkan diri dengan muka yang berantakan setelah mendapat serangan telak di wajahnya.

"Jangan berani menyentuh Kera itu, jika kalian tidak mau bernasib sama seperti dia..." Hajime melompat turun dari wajah si Panda.

"Jangan takut! Dia sudah kelelahan setelah menggunakan semua tenaganya untuk melakukan serangan mematikannya barusan!" ucap manusia badak bersaudara.

Dan memang benar apa yang mereka katakan tadi, Hajime terlihat sangat kelelahan setelah melakukan serangannya tadi.

"Hosh... Hosh... Aku harus mengeluarkan semuanya jika ingin mengalahkan satu dari mereka, tapi jumlah mereka terlalu banyak, bagaimana ini? Aku hanya mampu melakukan serangan tadi maksimal 3 kali." pikir Hajime dengan napas yang ngos-ngosan.

"Mungkin jika mereka binatang biasa, kami bisa menang, tapi mereka adalah prajurit Beast, ini akan menyulitkan. Jika hanya satu lawan satu kami memiliki peluang besar untuk menang namun jika seperti ini kami takkan bisa menang..."

"Tidak masalah kami bisa menang atau tidak, yang penting kami harus mampu mengulur waktu selama mungkin sampai tim bantuan dari markas pusat datang." pikirnya.

---- Beast Warriors ----


Di dalam gua yang kurang penerangan itu, Sigami berjalan menyusuri setiap inci dari jalan yang dilaluinya dengan berhati-hati...

"Aku harus berhati-hati, mungkin di tempat ini sudah banyak perangkap yang menanti siapa saja yang berani memasuki tempat ini."

"Tidak mungkin tempat senjata yang paling dicari tidak ada perangkapnya."

Tiba-tiba suara seseorang memanggilnya dari belakang, "Jendral... Tunggu!!"

Ternyata itu adalah Taro, dia berlari ke arah Sigami dengan di temani puluhan anak panah api yang mengejarnya.

Sigami menoleh, "Eh?"

"Awaaass!! Perangkap!!" teriak Taro yang langsung tiarap untuk menghindari panah api tersebut.

"Sudah kuduga..." pikir Sigami.

"Hogo Setchi!!"

Sigami berhasil menghalau semuanya dengan pelindung tanahnya.

"Apa kau tidak apa-apa, Taro?" sang Jendral bertanya.

"A-Aku tidak apa-apa... Maaf aku telah membuat anda repot." ucap Taro sambil berdiri dari posisi tiarapnya.

"Tidak masalah, justru perbuatanmu barusan telah membantuku menunjukkan bahwa tempat ini ada banyak perangkap yang menanti kita dan dengan hal itu aku bisa lebih berhati-hati lagi." jelasnya.

"Oh iya, apakah semua pasukan telah kembali?"

"I-Itu..." Taro terlihat kesal.

"Mereka semua memang tidak berguna! Mereka orang-orang pengecut!"

"Tenanglah Taro, justru itu bagus." ujar Sigami.

"Bagus? Apanya yang bagus? Harusnya mereka mengabdikan dirinya untuk melindungi pemimpin mereka, apalagi mereka pernah berhutang nyawa pada anda. Mereka benar-benar tidak punya harga diri sedikitpun, harga diri sebagai seorang prajurit Warriors!" Taro masih merasa kesal pada pasukannya yang telah meninggalkan mereka berdua.

"Itu juga salah satu caraku untuk mengetahui siapa yang benar-benar setia padaku, bukan karena perintah ataupun jabatan Jendral yang kusandang saat ini."

"Eh!? Apa maksud anda?" tanya Taro kaget.

"Aku hanya akan merekrut orang-orang yang benar-benar setia padaku, contohnya dirimu."

"Aku tidak ingin ada seorang penghianat dalam pasukan yang kupimpin. Orang-orang seperti merekalah yang berpeluang besar menjadi penghianat bila tetap dibiarkan berada dalam pasukan."

"Setelah semua ini selesai, aku akan mengeluarkan mereka dari pasukanku dan menggantinya dengan orang pilihanku."

Setelah mendengar penjelasan dari sang Jendral, Taro akhirnya bisa sedikit mengerti maksud Sigami yang sebenarnya, "Jadi... Seperti itu ya..."

"Aku mengerti..."

"Kalau seperti itu ayo kita lanjutkan perjalanan." ucap Sigami.

"Hmm... Baik, Jendral!"

Mereka meneruskan perjalanannya, dan ternyata memang banyak sekali perangkap di depan mereka dari mulai tanah berduri, dinding yang bergerak, bola batu besar yang menggelinding, pisau raksasa yang berayun di atapnya, jembatan yang dipenuhi oleh laba-laba raksasa dan untungnya mereka bisa lolos dari berbagai macam jebakan di sana.

"Haah... Haah... Kali ini apa lagi?" ucap Taro dengan napas yang terengah-engah.

Kali ini sebuah meriam besar keluar dari dalam tanah, meriam itu siap menembakkan pelurunya ke arah Sigami dan Taro...

"Meriam!?" Taro terkejut melihat betapa besarnya meriam yang berada ratusan meter di hadapan mereka tersebut.

Lubang pelurunya saja 2 kali lebih besar dari tubuh mereka dan bayangkan saja seberapa besarnya peluru yang ada di dalamnya.

JDUUUMM!!! Meriam itu mulai menembak.

"Gawat!! Itu peluru yang sangat besar!!" teriak Taro panik.

"Taro, ayo kita buat beberapa lapis tanah pelindung!" perintah Sigami.

"Ya! Aku mengerti!" Taro bersiap memunculkan beberapa dinding tanah.

"Hogo Setchi!!"

Lima dinding tanah yang ketebalannya masing-masing berkisar 1 meteran itu muncul dari dalam tanah.

Di sisi sang Jendral ia juga melakukan hal yang sama seperti apa yang Taro lakukan barusan.

"Hogo Setchi!!"

Lima dinding tambahan muncul untuk memperkuat pertahanan mereka.

Duuaaarr!!! Peluru meriam itu mulai menerobos dinding tanah yang mereka ciptakan.

3 Dinding dari 10 dinding tanah yang mereka ciptakan telah hancur, bola besi itu masih terus menerobos dinding-dinding yang ada di belakangnya.

"Sial, pelurunya masih melesat dengan sangat cepat! Apakah dindingnya mampu menghentikan bola besi itu?" Taro semakin panik.

"Kurasa dindingnya tidak akan mampu menahannya..." pungkas Sigami.

"A-Apa!!?" teriak Taro syok.

"Tapi dinding kita mampu memperlambat lesatan dari benda itu." lanjut sang Jendral.

Taro memperhatikan Sigami dari samping, "Tapi itu tetap saja! Kita akan terkena dampaknya!"

"Kau tenang saja... Aku akan menghancurkannya setelah dinding kesepuluh hancur." ungkapnya.

"Heeehh!!?" wajah Taro menjadi pucat, ia berpikir bahwa hal itu mustahil untuk dilakukan.

Tak berapa lama kesepuluh dinding itupun hancur, peluru meriam mulai melambat, tapi masih cukup untuk menghancurkan dua manusia di depannya.

"Ini masih terlalu cepat!" ucap Taro semakin panik.

"Bersiaplah!" teriak Sigami sambil mengambil ancang-ancang.

"A-APA!? YANG BENAR SAJAAA!!" Taro tak mampu berbuat apa-apa lagi.

"Bersembunyilah di belakangku!" pinta sang Jendral yang sudah siap memasang posisi tubuh condong ke depan.

Taro yang sudah bingung dan panik sejak awal langsung menuruti apa yang diperintahkan padanya. Pria itu langsung mundur jauh di belakang Sigami.

"Sial, kalau begini kami bisa tewas!" pikir Taro sambil bertiarap dan menempelkan wajahnya ke tanah.

Sementara itu, peluru meriam semakin dekat menuju Sigami yang belum juga melakukan sesuatu dalam posisinya tadi.

Booommm!!!! Suara ledakan terdengar sampai ke sebuah ruangan di mana seekor monster tengah terlelap tidur sampai membuatnya terbangun.

"Manusia serakah itu lagi ya? Kurasa mereka tidak pernah merasa jera datang ke rumahku." gumam monster bermata empat itu masih ngantuk.

Yah, dia adalah raksasa yang terkenal sebagai penjaga pulau Turk Island, Bouma si raksasa bermata empat.

Bersambung ke Beast Warriors Chapter 109

Princess Alien
2017-06-14 10:56:34
Bangsa beast itu bermacam-macam bentuk binatang.
ThE LaSt EnD
2016-08-26 10:00:18
ku beri nilai 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat".
Princess Alien
2016-08-18 19:55:19
next read
Vor Deour
2016-03-19 15:33:13
Hmm... Bouma, Kau lebih baik tidur dulu. Sebelum kau dikalahkan oleh Taro.
Big bozz
2015-12-25 10:46:37
Kasian monsternya, lagi enak2 tidur malah dibangunin
Frost Pell
2015-12-08 12:42:15
kereen, dari dulu sampe sekarang tetap keren....
Rrrrr
2015-12-06 21:24:25
Monster bermata empat ya? Jadi keinget julukan yang dberikan temen2 pas sd dulu.... Ahahaha
dragon black
2015-12-06 17:39:21
lanjut gan
Anique HyuUzumaki
2015-12-03 19:32:10
Taro... dy ampe segitunya....
djaka
2015-12-02 21:40:46
kira2 bentuknya seperti apa ya, monster bermata empat.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook