VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Beast Warriors Chapter 97

2015-09-17 - Tatzumaru > Beast Warriors
274 views | 12 komentar | nilai: 10 (1 user)

Wilayah tenggara Kalastery, Desa Agraft..

Satoshi telah sampai kembali ke Desa, kini pria itu tengah berada di ruangan Master Shin untuk melaporkan tentang misi yang dijalankannya.

"Bagaimana?" tanya Shin yang sedang duduk sambil minum teh panas, saking panasnya sampai teh yang telah masuk ke dalam tenggorokannya itu keluar lagi dari mulutnya sangat deras.

"Ah, panasss.."

"Apa anda baik-baik saja, Master?" Satoshi langsung mengelus-elus punggung pria itu.

"Tidak apa-apa, sudah, sudah." katanya sembari mengelap tehnya yang tumpah ke meja.

"Oh iya, bagai mana misinya, apa kalian berhasil menemukan makhluk Gnome bernama Jibon itu?"

"Umm.. Maaf, kami gagal menyelesaikan tugas. Mungkin memang kami belum siap untuk menerima misi ranking S ini." jawabnya merendah.

"Mmm.. Gagal ya? Huh.. Ya sudahlah. Ini memang tugas yang cukup berat, mungkin tim Eagle pun jika diberikan tugas ini akan gagal." ujarnya.

"Yah aku tahu itu."

Setelah selesai membersihkan noda di atas mejanya Shin kembali menempati kursinya, " Destroyers memang bukan tim sembarangan, mereka adalah tim papan atas di dalam kerajaan. Mereka sama seperti tim Sevenwolf di kubu kita. Kedua tim itu mungkin memiliki kemampuan yang setara." jelas Sang Master.

"Oh iya, aku sampai lupa.. Di mana anggota timmu yang lain?"

"Umm.. Anu.. Sebenarnya.."

Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sakit kemiliteran, Ryu, Juno, Vida, Kimiko dan Seliana tengah duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan wajah yang terlihat tegang.

Tak lama kemudian, Dokter dari bagian medis keluar dari ruangannya. Dengan wajah yang cemas, Vida menghampiri si Dokter dan langsung menanyakan keadaan dari pasien yang dirawatnya.

"Bagai mana keadaan teman-teman kami, Dok? Mereka akan baik-baik saja kan? Tidak ada yang serius?"

"Kalian tidak perlu khawatir, Takimura-kun dan Kinousuke-kun hanya mendapat luka kecil. Teo-kun mendapat beberapa jahitan di perut, tapi dia akan kembali pulih dalam beberapa hari ke depan. Sementara Hayate-kun, lukanya benar-benar parah.."

"Perutnya robek besar sekali, kurasa senjata yang digunakan untuk menusuk anak itu lumayan besar. Dia kehilangan banyak sekali darah, jadi kurasa, anak itu akan siuman kira-kira 1 atau 2 minggu.."

"Apakah separah itu Dok?" tanya Seliana yang tampak begitu sangat cemas ketika mendengar nama pemuda itu.

Beast Warriors Chapter 97 - Keluarga
Penulis : Tatzumaru

"Yah, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Kalau begitu, aku pamit untuk memeriksa pasien lainnya."

"I-Iya, terimakasih, Dokter."

Kemudian Sang Dokter pun pergi menuju ruangan lainnya.

Vida memegang pegangan pintu ruangan, bersiap membukanya perlahan. Klek!

"Ayo kita masuk." ajaknya.

"Mmmm.." angguk semuanya lalu melangkahkan kakinya memasuki ruang perawatan.

Di dalam, keempat pemuda itu berada di atas ranjangnya masing-masing.

"Permisi.." ucap Vida dan yang lain ketika memasuki ruangan itu.

"Oh, ternyata kalian datang menjenguk kami, teman-teman." ucap Kinousuke yang tengah duduk dengan tubuh penuh perban di atas ranjangnya yang masih tetap bisa tersenyum.

"Iya, kami sangat khawatir ketika mendengar hal ini." jelas Vida.

"Apakah kau juga mengkhawatirkan keadaanku, Ryu-senpai? Aku jadi terharu.." sambung Taki yang baru saja keluar dari dalam toilet di ruangan itu.

"Cih, untuk apa aku mengkhawatirkanmu!" bentaknya sewot.

"Aku cuma takut kau tidak bisa membayar hutang-hutangmu padaku saja!" lanjutnya.

"Kau sungguh perhatian pada kami, aku jadi ingin nangis." ucapnya dengan muka sedih yang dibuat-buat.

"Jangan pasang wajah itu! Aku ke sini bukan untuk menemui kalian, aku hanya ikut-ikutan mereka saja!" ucap Ryu sembari melirik ke arah Vida dkk.

"Heee!? Kau menjadikan kami sebagai kambing hitam!" teriak Vida kesal.

"Hei, ini rumah sakit bukannya pasar, jadi pelankan sedikit suara jelek kalian yang seperti kaleng rombeng itu. Telingaku bisa hancur lama-lama.." lerai Juno yang sebenarnya lebih mirip sebuah ledekan.

"Heh!?" Ryu melirik ke arah Juno dengan tatapan anehnya.

"Kaleng rombeng kepalamu! Justru bentuk kepalamulah yang mirip seperti helm tentara militer!" pikir Ryu kesal.

"Oh iya, apakah dia akan baik-baik saja?" Vida berjalan menuju ranjang tempat anak itu terbaring tak sadarkan diri.

Perempuan itu hanya diam sambil memandangi temannya itu yang belum juga sadar.

"Tentu saja.. Dia bukanlah anak yang lemah. Hayate yang kukenal adalah anak yang kuat." ucap Kinousuke.

"Apakah Destroyers yang telah melakukan ini padanya?" tambah gadis itu masih berdiri di sisi ranjang Hayate.

"Secara teknis bukan, tapi menurut Satoshi-san, Ryuga lah yang telah melukainya tanpa sengaja."

"Apa!! Ryuga!?" teriak Kimiko spontan dan langsung menutup mulutnya dengan tangan.

"Benarkah Ryuga yang telah melakukannya?" tanya Vida memastikan.

"Ya, itu benar. Ryuga berniat menyerang Tatsuya, tapi gara-gara kemampuan yang didapatnya dari tangan Dewanya membuat serangan anak itu malah mengenai Hayate." ungkap Kinousuke pada teman-temannya.

"Dasar si Ryuga itu! Selalu melakukan hal-hal yang ceroboh." samber Ryu.

"Oh begitu ya.." gumam wanita itu yang masih tetap di posisinya.

"Lalu.." Vida meneruskan kata-katanya yang terhenti sejenak, " Dimanakah Ryuga saat ini?"

"Kalau itu.. Aku juga tidak tahu, sebab kami semua pingsan saat tiba di rumah sakit ini." jelas Taki.

"Jangan bilang bahwa anak itu pergi sendiri menemui Tatsuya?"

---- Beast Warriors ----


Batts!! Ryuga benar-benar mengayunkan Cerberusnya.

"..."

"Hah!? Kenapa kau tidak melakukannya, sialan!?" Tomozaki membentaknya.

Ternyata Ryuga mengayunkan pedangnya tepat di samping kepala lelaki itu tanpa melukainya sedikitpun.

"Ada apa huh? Apa kau terlalu pengecut untuk melakukannya?" ejeknya.

"Tidak ada gunanya membunuh musuh yang sudah tidak bisa apa-apa lagi. Lagi pula aku tidak punya masalah ataupun urusan denganmu."

"He!? Apa-apaan sikapmu itu, huh!? Kau terlihat seolah-olah sedang mengejek dan meremehkanku.." sifat arogan orang itu mulai muncul kembali.

Ryuga mengulurkan tangannya untuk memberikan pemuda itu bantuannya, " Ikutlah denganku, kami memiliki seorang ahli medis yang handal. Dia bisa menyembuhkan lukamu dengan sangat cepat."

"Cih.. Sudah kubilang aku tidak butuh belas kasihanmu itu!" pria bergaya funk itu masih konsisten dengan ucapannya sebelumnya.

"Kau sangat keras kepala ya? Sudah ikut saja!" bentak Ryuga.

"Tidak mau ya tidak! Aku lelaki yang pantang menarik kembali kata-kata yang kuucapkan. Apa kau mengerti!"

"Shh.. Orang ini..!!" gumam Ryuga kesal sambil mencabut pedangnya di tanah dan menyimpannya kembali di belakang punggungnya.

"Sudah, pergilah kau! Jangan urusi aku! Aku bisa mengobati luka-lukaku sendiri." Tomozaki mencoba untuk bangkit dengan tangannya sendiri.

Meski ia harus sedikit berusaha bangun dengan susah payah, tapi ia pun berhasil melakukannya walaupun ia baru bisa duduk saja.

"Jangan memaksakan diri.." ucap Ryuga yang masih mengulurkan tangan untuk memberi bantuan padanya.

"Jangan terlalu berharap kau.." Tomozaki langsung bangkit sembari menepis uluran tangan anak itu. Plak!

Tomozaki berjalan sambil memegangi lengan kanannya yang sudah tidak ada. Lelaki itu terus berjalan dengan menahan rasa sakit.

"Tunggu!" Ryuga mencoba menghentikannya pergi, dan ternyata Tomozaki menghentikan langkahnya.

"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"

"Apakah kau akan kembali ke Destroyers? Bukankah mereka telah membuangmu! Lalu untuk apa kau ingin kembali ke sana!?"

Tomozaki hanya diam mematung namun beberapa saat kemudian, ia menjawabnya.

"Untuk apa kau mencampuri urusanku? Memangnya siapa kau?" bentaknya.

"Kau hanyalah seorang bocah bodoh yang selalu ditipu oleh kakaknya sendiri. Apa kau tidak merasa bahwa semua ini sungguh menyedihkan?"

Sekarang giliran Ryuga yang diam mematung tanpa mengatakan apapun.

"Apa kau tidak menyadari ada yang aneh di antara hubungan kalian?" Tomozaki melanjutkan kata-katanya.

"Aku memang bodoh.." ucapnya.

"Heh? Akhirnya kau sadar juga?"

"Ya, aku ini memang bodoh dalam arti sesungguhnya.."

"Aku benar-benar bodoh karena selalu mempercayai dia, tapi.." Ryuga berhenti sejenak.

"Tapi apa!? Kau juga bingung menjawabnya bukan? Hah, sudah kuduga.." Tomozaki berniat kembali berjalan, tapi tiba-tiba..

"Tapi.." ucap Ryuga melanjutkan yang tadi.

"Terserah, aku sudah tidak peduli lagi." lelaki itu sudah tidak mau mendengarnya lagi, ia melanjutkan berjalan.

"Tapi.. Aku lebih memilih menjadi orang bodoh, ketimbang aku tidak mempercayai keluargaku sendiri." ucapnya.

"Eh?" Tomozaki berhenti, pemuda itu langsung berbalik namun ternyata Ryuga sudah pergi menuruni tebing.

"Keluarga huh?" Tomozaki kembali terdiam.

"Semua yang kau katakan benar, aku akan kembali ke sana tapi bukan untuk pulang, melainkan.." ia kembali berjalan.

"Untuk melakukan sesuatu yang sejak dulu aku tidak berani melakukannya." Tomozaki tersenyum dan menghilang di kegelapan hutan.

Di perkampungan kecil, banyak sekali warga biasa yang melintas di sana termasuk gadis yang sempat diselamatkan Tatsuya.

"Oh, ternyata itu kau, Rise-chan." sapa seorang pemuda penjaga toko obat-obatan di tempat itu.

"Selamat malam, Viro-kun." balasnya.

"Kenapa malam-malam seperti ini kau datang ke sini? Apa kau sudah kangen padaku ya? Hehehe.." pemuda penjaga toko bernama Viro itu tersipu malu.

"Heee!? Apa-apaan kau ini! Aku datang ke tokomuhanya ingin membeli obat penghilang rasa sakit dan antiseptik saja."

Tiba-tiba Viro kaget, " Eh! Apakah kau sakit? Atau terluka?"

Pemuda itu langsung memeriksa setiap inci tubuh wanita itu, ia terlihat begitu mengkhawatirkan wanita tersebut.

"Hei! Apa-apaan kau ini?" bentak gadis itu ketika Viro mengelilinginya untuk mencari luka pada tubuhnya.

"Bagian mana yang sakit? Cepat katakan padaku!"

"Sepertinya tidak ada luka?"

Viro menggaruk-garuk kepalanya, " Aneh.. Baru kali ini aku menemukan penyakit yang seperti ini.."

Viro memeriksa denyut nadi perempuan itu, " Tanda-tandanya normal.. Kau sehat-sehat saja.." jelasnya kebingungan.

"Ini benar-benar penyakit yang langka.. Tapi tenang saja, aku akan.." Plak!

"Duh.. Kenapa tiba-tiba kau memukulku?" Viro meringis kesakitan.

"Sakit, kan?" bentak Rise kesal.

"Jika ada orang berbicara dengarkan dulu sampai tuntas!"

"I-Iya.. Maaf.."

"Lalu jika kau tidak sakit, apakah kau beli obat itu untuk kakekmu?"

Bletakk!! Sekali lagi Rise memukulnya.

"Hiiih.. Sakit tahu!" teriaknya.

"Obat itu bukan untukku ataupun untuk kakek!"

"Lantas, untuk siapa? Bukankah kalian hanya tinggal bertiga bersama Taruma?" tanyanya.

"Obat ini untuk seorang pengelana yang telah menyelamatkan nyawaku.."

Bersambung ke Beast Warriors Chapter 98

Aerilyn Shilaexs
2017-06-13 12:43:58
Kaleng rombeng? Sejeldk itukah.
ThE LaSt EnD
2016-08-26 09:47:52
ku beri nilai 10 dan ku tinggalkan jejak renungan "Mayat".
Aerilyn Shilaexs
2016-08-18 10:40:10
next read
Vor Deour
2016-03-17 23:02:42
Jiah... Rise x Tatsuya
Anique HyuUzumaki
2015-11-21 12:12:44
Makin seru nih!
Phantom Alicia
2015-09-20 08:38:54
Pengelana? Jiah Tatsuya jadi pengelana?
Dadang yg terluka
2015-09-19 12:05:14
Keren
A wahyu
2015-09-18 07:13:09
Si Tatsuya dapet perhatian nih
David Blueskhniczky
2015-09-18 06:01:03
Boleh aku ngikuti cerita senpai gak? Bagus ceritanya #plak
Adhe Kurniawan
2015-09-17 22:30:22
Haha, aku yakin maksudnya Rise-chan adalah Tatsuya. Hehe. Ijin ninggalin jejak gan
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook