VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Beast Warriors Chapter 71

2015-05-30 - Tatzumaru > Beast Warriors
309 views | 16 komentar | nilai: 10 (1 user)

"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga toko kueh pada pelanggan yang datang.

"Haaaa.. aaahh!! Bu-bukankah k-kau ini!?" gadis penjaga toko itu terkejut.

"Ryuga Suichi!! Prajurit bertangan satu yang mengalahkan naga besar itu!?"

"A-ah.. ternyata aku lumayan terkenal ya?" Ryuga hanya mengusap kepala bagian belakangnya.

"Uwaaah.. aku tidak menyangka bahwa prajurit sehebat dirimu akan singgah ke toko sederhanaku.." gadis itu mengitari Ryuga seakan tidak percaya pemuda itu benar-benar ada di tempatnya.

"Ahaha.. aku tidak sehebat itu.." Ryuga tersipu malu.

"Kyaaah!!! Ternyata kau lebih tampan daripada di foto!!" gadis itu memeluknya dengan spontan.

"Apa kau keberatan melepaskan pelukanmu!"

"A-aku tidak bisa bernapas.." lanjutnya.

"Oh maaf.." gadis itu melepasnya.

"Hei bukankah itu Ryuga?" para pengunjung lain mulai menyadarinya.

"Haaa.. benar! Itu Ryuga-senpai!!" beberapa junior yang ada di akademi mengerubutinya.

"Bisakah aku mendapat tanda tanganmu, senpai!?"

"A-ah.. i-iya.." Ryuga kualahan menghadapi para fansnya.

"Kenapa jadi begini!? Aku hanya ingin membeli kueh saja!!" gerutunya.

Akhirnya setelah menandatangani puluhan fansnya, pemuda itu bisa bernapas lega..

"Huh.. akhirnya selesai juga.." Ryuga menghela napas panjang.

"Ini.." gadis penjaga toko itu memberinya minuman dingin.

"Ah.. terima kasih.. Eh.." Ryuga belum tahu namanya.

"Panggil saja Tsuki."

"Eh.. terima kasih Tsuki-chan."

"Oh iya, tadi kau bilang ingin memesan sebuah kueh padaku?" tanya Tsuki.

"Ah benar, aku sampai lupa. Bisakah kau buatkan aku kueh untuk acara penyambutan?"

"Tentu saja, meski umurku di bawahmu tapi aku ini sudah mendapat sertifikat dalam hal membuat kueh.." ujarnya.

"Waaah.. ternyata aku tidak salah tempat." ucapnya.

"Apakah kau mengadakan pesta penyambutan untuk pacarmu?"

"Bu-bukan! A-aku tidak punya pacar, i-itu untuk menyambut temanku." wajah Ryuga menjadi merah.

"Bisakah kau menyelesaikannya besok pagi? Aku akan datang pagi-pagi sekali untuk mengambilnya." jelas pemuda itu.

"Yah, akan kuusahakan menyelesaikannya besok pagi." ucapnya.

"Terima kasih, Tsuki-chan."

"Itu sudah menjadi pekerjaanku.." balasnya.

"Tapi aku butuh bantuanmu untuk membuatnya, apa kau bersedia?"

"Baiklah aku akan datang malam ini ke tokomu, sampai nanti Tsuki-chan!" Ryuga pergi darisana.

Beast Warriors Chapter 71 - Pesta Penyambutan
Penulis : Tatzumaru

"Hei Kimiko, kapan kau kembali dari misi?" Hayate menyapa seorang gadis seumuran dengannya.

"Oh Hayate.." gadis bernama Kimiko itu menghampirinya.

"Oh, Seliana juga ada." ucap Hayate.

"Jangan gara-gara tubuhku lebih kecil dan pendek dari Kimiko-chan kau bisa mengejekku.." ucap datar gadis bernama Seliana itu.

"Bu-bukan seperti itu, tadi kau itu berjalan di belakang Kimiko jadi aku tidak melihatmu."

"Itu hanya alasan.." potong Seliana dengan sifat juteknya.

"Heehh.. kau selalu judes seperti biasanya." gumam Hayate.

"Judes katamu!!" Seliana marah.

"A-ah.. bu-bukan.. tadi itu maksudku.." Hayate bingung harus mengatakan apa.

"Kau.." wajah Seliana menjadi menakutkan.

"Kyaaa.. dia marah!!"

"Jangan lari kau!!" Seliana mengejar Hayate mengitari Kimiko.

"Huh.. jika mereka bertemu pasti seperti ini jadinya.." Kimiko hanya bisa menghela napasnya.

"Hei kapan kalian kembali!?" teriak Ryuga dari kejauhan.

"Ini dia pahlawannya, ke mana saja kau huh!?" sapa Hayate.

"Maaf, aku baru saja ke toko kueh yang kau ceritakan padaku.." tegasnya.

"Apa kabar kalian Kimiko, Seliana?" Ryuga menyapa kedua gadis di depannya.

"Kami kembali 1 hari yang lalu. Dan bagaiman kabarmu sendiri, apakah kau sudah baikan?" Kimiko bertanya.

"Aku sudah tidak apa-apa.." jelasnya.

"Lalu tanganmu?" Seliana ikut nimbrung.

"Tanganku juga sudah membaik meski masih belum terbiasa hanya dengan satu tangan, tetapi aku tidak apa-apa.. aku sudah sembuh sepenuhnya."

"Kenapa kau tidak memesan tangan palsu saja?" Kimiko memberi usul.

"Percuma.. aku sudah pernah membujuk si keras kepala ini, tapi dia tetap tidak mau." sahut Hayate.

"Oh iya, apakah kita jadi mengadakan pesta penyambutan untuk Vida?" tanya Seliana.

"Ya tentu saja.. gadis itu akan kembali besok pagi kan?" Kimiko sangat menunggu kedatangan Vida.

"Kurasa kalian telah berteman baik selama ini ya?" ucap Ryuga.

"Apakah guru Satoshi juga akan datang ke pesta?" Hayate bertanya.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi akhir-akhir ini guru Satoshi terlihat sangat sibuk setelah diangkat menjadi ketua pasukan bersenjata yang baru." jelas Ryuga.

"Iya yah, kita jadi jarang bertemu dengan pak tua itu.." sambung Hayate.

"Tapi tenang saja, aku telah mengiriminya pesan, mungkin dia akan mempertimbangkannya.." jelas Ryuga lagi.

"Baiklah ayo kita dekorasi rumah Vida!! Kita kejutkan dia saat pulang nanti.." seru Kimiko.

"Yah!!"

Di dekat hutan desa, Taki berlatih meningkatkan keahlian pedang setelah sebelumnya dikalahkan oleh Jin..

Claaassh!! Ia membelah beberapa daun yang berguguran.

"Ini belum cukup, ini masih belum.." Taki mengaliri sisi tajam pedangnya dengan sugetsu.

Ia bersiap, menunggu daun yang berguguran kembali.

Satt. Secepat kilat pemuda itu menarik pedangnya, dan dengan waktu sepersekian detik menyarungkannya kembali.

Daun-daun itu terbelah, dan tidak hanya daun saja, pohon di belakangnya pun ikut tumbang oleh sayatan super cepat dari pemuda itu.

Bruaaaggh!!

"Kau semakin hebat saja menggunakan pedang, Takimura." seseorang muncul dari balik pohon sambil bertepuk tangan.

"Ternyata itu kau, Ringgo-sensei." ucap Taki.

Ternyata itu adalah roh Ringgo yang tengah mengamati muridnya.

"Tapi meski tebasan pedangmu sangat cepat itu percuma saja.." jelas Ringgo.

"Apa maksudmu sensei?"

"Aku bisa merasakan kebencian dan niat balas dendam di pedangmu. Semua itu tidak akan membuatmu lebih kuat dari sebelumnya, justru dendam dan kebencian itu yang akan mengalahkan dirimu sendiri."

"Rubahlah kebencian di dalam dirimu menjadi kasih sayang dan cinta, itu akan membuatmu menjadi lebih dan lebih kuat lagi daripada kekuatan kebencian.." roh Ringgo perlahan mulai lenyap darisana.

"Aku mengerti, sensei.. aku akan selalu mengingat apa yang kau ajarkan padaku selama ini." Taki kembali bersiap dengan pedangnya.

Kini ekspresinya telah jauh berbeda dari sebelumnya. Taki terlihat lebih rileks dan tenang.

"Aku merasakannya.." Slaaassh..

Tak ada yang terbelah ataupun pohon yang tumbang. Pemuda itu memasukkan pedangnya dan berniat mengakhiri latihannya.. dan ketika ia berbalik.. Braaassh!!

Semua daun yang ada di pohon itu berhamburan bagaikan tertiup angin kencang.

Taki berjalan sambil tersenyum meninggalkan tempat latihannya.

Malam harinya, Ryuga menepati janjinya untuk datang ke toko..

"Oh kau sudah datang, Ryuga-san?"

"Ah iya, maaf sedikit terlambat. Aku dan teman-temanku harus mendekorasi rumah untuk pesta penyambutan besok." jelasnya.

"Tidak apa-apa, aku juga baru akan mulai.." balas Tsuki.

"Cepatlah kemari, bantu aku mencampur semua bahan-bahannya!" sambungnya.

"Hmm.. baiklah.."

Akhirnya mereka mulai membuat kueh bersama.

"Masukkan telur dan tepungnya lalu aduk secara merata.." Tsuki memberi intruksi.

"Siap chef!" Ryuga mengikuti semua arahan gadis itu.

"Jangan lupa masukkan juga susu dan coklatnya!"

Mereka berdua benar-benar berusaha keras membuat kueh yang enak.

"Hahahaha.." Tsuki tertawa.

"Hei kenapa kau menertawaiku?" ucap bingung pemuda itu.

"Wajahmu penuh dengan tepung.. Hahaha.."

"Kau begitu senang sampai lupa kalau wajahmu juga penuh dengan coklat.. Hahaha.." Ryuga membalasnya.

"Hahahaha.." mereka tertawa bersama.

Tidak terasa adonan kueh yang mereka buat hampir matang di dalam oven.

Setelah mengembang mereka mulai menghias kuehnya dengan indah.

"Huhh.. akhirnya selesai juga.." Ryuga menghela napas.

"Ternyata membuat kueh itu melelahkan ya?"

"Hemm.."

"Apakah Tsuki-chan selalu melakukan ini setiap hari?"

"Yah seperti itulah, aku kan penjual kueh." jawabnya.

"Kau hebat ya, kalau aku pasti tidak akan sanggup, apalagi sendirian.. pasti akan sangat melelahkan." Ryuga rebahan di lantai.

"Ternyata kau itu menyenangkan ya.. sebelum aku bertemu denganmu kupikir prajurit sepertimu sangat membosankan, pemarah, angkuh, dingin, dan tidak peduli pada orang lain. Tapi setelah bicara dan mengenalmu lebih jauh, semua pikiranku tentang prajurit berubah." Tsuki ikut tiduran di samping pemuda itu.

"Benarkah itu yang kau pikirkan terhadap kami?" tanya Ryuga.

"Mmm.. dulu kakakku masuk ke akademi, setelah dia lulus dan menjadi seorang prajurit sepertimu sifatnya padaku mulai berubah."

"Kakakku menjadi seseorang yang dingin, dia selalu mengacuhkanku dan melarangku untuk mengunjunginya. Dia benar-benar berubah 180 derajat." Tsuki curhat.

"Kurasa kakakmu memiliki suatu alasan melakukan hal itu padamu." ucap Ryuga.

"Entahlah, aku juga tidak tahu kenapa dia melakukannya.." gumam Tsuki di ikuti helaan napas panjangnya.

"Uaahh.. sudah jam berapa ini!?" Ryuga tiba-tiba bangkit.

"Ini sudah larut, sebaiknya kau menginap disini saja." ujar gadis itu.

"Me-menginap!?" Ryuga gelagapan.

"Kenapa dengan ekspresimu itu? Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, kau tenang saja."

Mendengar itu Ryuga semakin salah tingkah.

"Aku hanya bercanda.." Tsuki tersenyum melihat ekspresi panik pemuda itu.

"Menginaplah disini.. aku merasa kesepian setelah kakakku meninggal dalam peperangan."

Akhirnya karena merasa kasihan, pemuda itu menuruti permintaan wanita tersebut.

Mereka rebahan di lantai sambil mengobrol. Tak terasa 1 jam mereka habiskan untuk mengobrol sambil melihat langit-langit.

"Oh iya siapa nama kakakmu itu? Siapa tahu aku mengenalnya!"

Tsuki tak menjawabnya. "Hei kenapa kau tidak menjawabku? Atau kau tidak mau menceritakannya padaku ya?" Ryuga menoleh dan ternyata gadis penjual kueh itu sudah terlelap sejak tadi.

"Ternyata dia tidur.. berarti sejak tadi aku bicara sendiri ya.. huh.. apa boleh buat." pemuda itu pun akhirnya ikut memejamkan kedua matanya.

Keesokan paginya Ryuga telat bangun, kebiasaan buruknya kumat lagi..

"Ah sial! Aku kesiangan!!" Ryuga berbalik namun Tsuki sudah tidak ada di sisinya.

"Ke mana gadis itu?"

Ryuga menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan wanita itu di atas meja bersama dengan kueh pesanan Ryuga.

"Surat?" pemuda itu langsung membacanya.

"Maaf Ryuga-san aku tidak membangunkanmu, karena pagi ini aku harus mengunjungi makam kakakku.. kuehnya aku tinggalkan di atas meja dan kuberikan sebuah hadiah di sampingnya untuk temanmu dan aku mengucapkan terima kasih padamu. Jangan lupa mampir ke tokoku yang sederhana ini kalau ada waktu." isi surat tersebut.

"Kenapa berterima kasih, harusnya aku yang mengucapkan hal itu padamu.." gumamnya.

Kemudian Ryuga bergegas membawa kueh buatannya itu ke rumah Vida.

Ryuga berlari sambil membawa kueh tersebut, tapi sialnya belum sampai ke tempat tujuan, Ryuga tersandung batu dan alhasil kueh yang telah mereka buat semalaman itu jatuh berserakan di tanah..

"Ku-kuehnya.."

Ryuga menghancurkannya, usahanya untuk memberi kejutan pada gadis itu sirna sudah.

"Apa yang kulakukan?" Ryuga sedikit kecewa dengan kecerobohannya.

Di rumah Vida, Hayate dan yang lainnya telah berkumpul disana, mereka hanya tinggal menunggu kuehnya datang..

"Ini hampir waktunya.. kenapa Ryuga belum datang juga? Kalau begini Vida keburu pulang!" ucap Hayate kesal.

"Aku rasa dia telat bangun lagi.." celetuk Ryu masih dengan sikap sinisnya.

"Jangan seperti itu, mungkin dia ada urusan lain sebentar.." bela Kinousuke.

"Apa Ryuga baik-baik saja?" Kimiko cemas.

"Kau meremehkannya ya?" ucap Seliana dengan juteknya.

"Kau pikir dia akan kesulitan hanya karena sebuah kueh? Dia itu telah membunuh naga, dia kuat.." ucapnya lagi.

Braaakk!! Juno membanting pintu dari luar.

"Dia sudah ada di gerbang desa!!" ucapnya ngos-ngosan.

"Apa!? Ini tidak akan sempat!!" Kinousuke panik.

"Sudah kubilang kan, dia itu selalu seperti ini." sambung Ryu.

"Sudahlah, ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan! Aku akan pergi mencari anak itu, kalian tolong tahan Vida jangan biarkan dia masuk sebelum aku kembali.." tegas Hayate.

"Baik!!"

Di depan gerbang, puluhan prajurit medis telah kembali dari misi kemanusiaannya..

"Huuaaa.. sudah lama kita berada diluar desa, ternyata pembangunan disini hampir sepenuhnya selesai.." Vida sangat senang bisa kembali ke desa.

Bersambung ke Beast Warriors Chapter 72

ThE LaSt EnD
2016-08-25 23:36:38
ku beri nilai 10 dan kutinggalkan jejak renungan "Mayat".
Beautiful Alien
2016-08-16 12:04:19
kenapa si pak tua itu tidak kembali ke massa nya? Kalau begitu, dia bakal bertemu dengan dirinya di masa ini?
Vor Deour
2016-03-14 21:30:11
Kakaknya Tsuki itu adalah...
Anique HyuUzumaki
2015-07-08 03:18:31
Siapa ya, kakaknya Tsuki? Jdi penasaran....
Salamander
2015-06-08 15:02:14
lanjutkan lagi vroh...
Arion
2015-05-31 19:44:47
Ok.. Lanjut suhu
maryudi
2015-05-30 21:20:29
Gaul bro
Haruhiko Vicky
2015-05-30 17:14:07
lanjutt senpai
Blaze
2015-05-30 16:14:30
Ape cuman ane disini yg bingung dgn alurnya
Phantom Alicia
2015-05-30 12:07:06
Td pas baca ke ulang 5 kali tulis ulang..
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook